MY GIRL | 7

2260 Words
Di sebuah ballroom hotel yang berukuran sangat luas terlihat sudah dihadiri oleh para tamu. Meja-meja bundar serta kursi yang mengelilingi meja sudah tertata rapih di sana, sebuah panggung berukuran sedang terlihat di bagian paling depan ballroom. Pelayan berseragam hotel nampak berseliweran membawa nampan berisi kan minuman menawarkan pada para tamu yang datang. Sebagian besar tamu yang datang adalah pria berjas rapih dan perempuan-perempuan yang nampak cantik dengan balutan dressnya. Kebanyakan dari mereka merupakan orang-orang yang sudah terkenal dan wara-wiri dalam dunia perbisnisan. Ya, karena saat ini tepatnya di ballroom hotel ini sedang diadakan acara ulang tahun perusahaan Dewa. Ia mengundang semua karyawannya untuk hadir juga mengundang kolega-kolega bisnis yang bekerja sama dengan perusahaannya. Sang bintang utama, pemilik perusahaan—Radewa Gevandra Nugroho nampak begitu gagah dan tampan dalam balutan jas hitam dengan sebuah kemeja berwarna putih ditimpali dengan dasi berwarna silver. Perempuan mana pun yang meliriknya pasti akan enggan mengalihkan tatapannya. Bahkan sejak tadi ia masih menjadi perbincangan hangat diantara karyawan-karyawan wanita yang turut hadir dalam acara tersebut. Sejak menginjakkan kakinya di ballroom tadi sedikit pun Dewa belum mendaratkan bokongnya di kursi. Ia terus berkeliling menyambut para tamu yang sudah menyempatkan waktu untuk hadir di acara ulang tahun perusahaannya. Acara seperti ini memang rutin ia adakan tiap tahunnya. Dan Dewa selalu bersyukur karena setiap tahunnya acara berjalan dengan lancar dan tamu pun banyak yang datang. Ia berharap kali ini pun begitu. Dewa baru saja selesai menyapa kolega bisnisnya yang datang dari Bogor. Saat ini ia sedang berdiri di samping panggung memperhatikan tamu-tamunya yang datang. Dari kejauhan ia melihat Edo yang berjalan ke arahnya. Edo kemudian terlihat membisikkan sesuatu pada Dewa membuat dahi pria itu berkerut. Setelahnya mereka berjalan bersamaan dengan Edo yang berada di depannya. “Itu orangnya Pak. Daritadi saya lihat wanita itu terus celingak-celinguk seperti mencari seseorang. Bapak kenal dengan dia?” Kedua sudut bibir Dewa tertarik membentuk senyuman manis begitu melihat sosok wanita yang dimaksud Edo. Dari kejauhan tepatnya di dekat pintu masuk, Dewa melihat seorang wanita yang terlihat begitu cantik dengan balutan dress brokat selutut berwarna mocca. Warna yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Rambut wanita itu dibentuk sedemikian rupa sehingga menambah kecantikan sang wanita. Make up di wajahnya dibuat flawless agar tak terkesan mencolok namun tetap tidak menghilangkan sisi kecantikannya. Justru semakin menambah kecantikannya. Cantik, puji Dewa dalam hati. Matanya masih terus memandang ke arah wanita itu yang nampak mengusap-ngusapkan tangan ke lengan satunya dengan mata yang terus diedarkan mencari seseorang. Dewa tahu wanita itu pasti sedang mencari dirinya. Karena wanita itu adalah Bianca. Ia memang mengundang Bianca untuk hadir dalam acara ulang tahun perusahaannya. Dewa sendiri tidak mengerti mengapa dirinya harus mengundang Bianca, hanya saja hatinya mengatakan begitu. Ia hanya menginginkan gadis itu hadir diacaranya tersebut. “Mencari saya?” Mendengar sebuah suara yang sudah dihafal olehnya membuat gadis itu menoleh. Refleks ia menghembuskan nafas lega karena akhirnya ia bertemu dengan seseorang yang ia cari sejak tadi. Bianca sudah dua puluh menit berada di sana tetapi tak menemukan Dewa. Ingin mencari pun rasanya ia bingung harus mencari kemana sementara disana terlihat begitu banyak orang. Orang-orang penting yang terlihat begitu asing bagi Bianca. Hanya Dewa satu-satunya orang yang ia kenal di sana. Terlebih dulu Bianca memukul lengan pria itu dengan clutch yang ia bawa. “Kamu kemana saja sih? Kaki saya sudah pegal, terus berdiri dari tadi” Dewa tertawa yang membuat Bianca merutukinya dalam hati. Bukannya apa, pasalnya pria itu nampak terlihat makin tampan saat ia tertawa ditambah dengan balutan jasnya yang Bianca yakini pasti berharga mahal membuatnya makin terlihat gagah dan keren tentunya. “Kan sudah disediakan kursi, kenapa nggak duduk” “Saya nggak kenal siapa-siapa di sini, semuanya asing” “Kamu kan kenal saya” “Iya cuma kamu yang saya kenal di sini” Senyuman tersungging lagi diwajah tampan Dewa. Kemudian pria itu memberikan lengannya pada Bianca seakan meminta gadis itu agar menggandeng lengannya. Bianca mendongakkan sedikit kepalanya menatap Dewa dengan tatapan bertanya. “Menjadi pasangan saya malam ini?” Bianca tersenyum seraya menganggukkan kepala kemudian tangannya langsung menggandeng lengan Dewa. Mereka berjalan di antara keramaian dengan Dewa yang terus mengumbar senyum menyapa para tamunya, Bianca pun ikut tersenyum walaupun terlihat begitu kaku. Ia bahkan bisa merasakan debaran jantungnya menggila hanya karena ia menggandeng lengan pria di sampingnya. Sontak dengan keberadaan Bianca di sisi Dewa membuat mereka menjadi pusat perhatian di acara tersebut. Semua mata memandang ke arah mereka, terlebih para karyawan wanita yang memandang iri ke arah Bianca. Mereka jadi penasaran dengan sosok Bianca yang menurutnya begitu beruntung bisa menjadi pasangan Dewa. “Kamu akan menyapa semua tamunya? Ini terlalu banyak, kaki saya pegal” ucap Bianca begitu mereka begitu selesai menyapa kolega bisnis Dewa “Ikuti saja” jawab Dewa singkat namun langkahnya terhenti dengan pandangan lurus ke depan. Bianca yang berada di sisinya hanya menatap pria itu bingung. “Kamu masih ingat dengan perempuan bernama Laura yang pernah saya ceritakan?” Dahi Bianca mengernyit. “Hah?” “Mereka berjalan ke arah kita sekarang” Sontak Bianca menoleh dan beberapa jarak di depannya terlihat seorang perempuan dengan dress pink soft, rambut yang terurai nampak menggandeng lengan pria berjas abu-abu. Bianca tidak bisa memungkiri bahwa perempuan itu memiliki wajah cantik ditambah dengan bodynya yang seperti model. Siapa namanya tadi, Laura. Sepertinya Bianca pernah mendengarnya, tetapi siapa perempuan itu. Ah, Bianca mengingatnya sekarang—dia mantan pacar Dewa. Menyadari bahwa perempuan itu pernah menjadi kekasih Dewa membuat Bianca memperhatikan perempuan bernama Laura itu dari atas hingga ke bawah. Nyaris sempurna. Sementara Dewa sedang saling menyapa dengan si pria berjas abu-abu. Kalau Bianca tidak salah, pria berjas abu-abu ini adalah pacar Laura sekaligus saingan Dewa dalam dunia perbisnisan. Jadi dulu saat Dewa dan Laura sempat berpacaran. Namun akhirnya Laura memutuskan hubungan mereka lalu lebih memilih bersama dengan si pria berjas abu-abu itu. Padahal Laura mengetahui bahwa pria itu saingan berat Dewa tetapi rupanya hal tersebut tak membuat Laura mundur. Ia tetap memilih si pria berjas abu-abu. Dan sejak saat itu Dewa semakin tak menyukai pria yang bernama Leon itu. Dulu Dewa pernah mengatakan kalau ia dan Bianca memiliki cerita yang sama. Dan ternyata yang ia maksud seperti ini. Bianca ditinggalkan oleh pacarnya karena lebih memilih perempuan lain yang lebih seksi sementara Dewa ditinggalkan oleh pacarnya karena lebih memilih pria lain yang lebih kaya. Bukankah mereka seperti memiliki cerita yang sama? Sama-sama ditinggalkan. “Ini siapa?” tanya Laura melirik ke arah Bianca Dewa menoleh sekilas kemudian menarik lengannya dan berpindah menjadi merangkul pinggang Bianca. Membuat detak jantung gadis itu semakin liar. “Kenalkan ini Bianca” Bianca tersenyum seraya mengulurkan tangan berkenalan dengan Laura dan Leon. “Pacar kamu?” tanya Laura lagi penasaran Tak ada jawaban dari Dewa, ia hanya tersenyum. “Kalau begitu kami tinggal dulu, silahkan menikmati hidangan yang tersedia” Saat ini Dewa dan Bianca sedang berada di dekat panggung. Bianca nampak duduk di kursi karena kakinya sudah terasa sangat pegal ditambah lagi dengan heels yang ia gunakan. Gadis itu nampak memegang sebuah gelas dengan minuman warna merah yang terlihat tinggal setengah. Sementara Dewa berdiri di depan Bianca dengan tangan yang memegang gelas minuman dan tangan satunya dimasukkan ke dalam saku celana. Sambil sesekali meneguk minumannya pandangan Dewa terus mengarah ke Bianca. Perlu ia akui kalau malam ini gadis itu terlihat begitu cantik dan berbeda dengan biasanya. Sepertinya ia memang tidak salah mengundang gadis itu. Bahkan sejak tadi banyak pasang mata yang juga mengarah ke arahnya terutama mata para pria. Dan Dewa tidak menyukai itu, Bianca pasangannya malam ini. Tak boleh ada pria lain yang melirik ke arahnya. “Dewa!” Mendengar namanya dipanggil membuat Dewa membalikkan badan. Ia melihat rombongan keluarganya datang yang terdiri dari sang papa, mamah lengkap dengan abang dan kakak iparnya. Terlebih dulu Dewa memberikan gelasnya pada pelayan yang lewat di depannya. Surya—sang papa tersenyum pada putra bungsunya kemudian memeluknya singkat seraya mengucapkan selamat karena telah berhasil memimpin perusahaan selama beberapa tahun ini. Tentu ia bangga dengan putranya itu. Setelahnya bergantian dengan mamah dan juga abangnya. Bianca yang merasa bingung dengan kehadiran orang-orang tersebut hanya bisa menatap mereka dari balik tubuh Dewa yang menghalangi pandangannya. “Tadi di jalan kita kejebak macet mak—“ Ucapan Utari terpotong karena Barry menarik tangan adiknya agar ia bergeser. “Siapa yang lo umpetin di belakang?” Karena Dewa yang bergeser sontak Bianca langsung bangkit berdiri dengan sebelumnya meletakkan gelas minuman di kursi yang tadi ia duduki. Gadis itu menatap satu per satu orang-orang yang ada di hadapannya kemudian tersenyum kikuk seraya menganggukkan kepala sebagai sapaan. “Ini siapa Dewa?” tanya Utari yang begitu kaget melihat keberadaan Bianca dibalik tubuh Dewa Gina—kakak iparnya tersenyum. “Bawa pacar cantik begitu kok diumpetin sih” “Ini pacar kamu?” tanya Utari lagi Belum sempat Dewa menjawab Utari sudah menarik tubuh Bianca agar lebih mendekat kemudian memperhatikan wajah gadis itu yang terlihat gugup. “Cantik sekali. Siapa nama kamu?” “Bianca, tante” jawabnya tersenyum “Oalah namanya juga cantik seperti wajahnya. Saya Utari, mamahnya Dewa, ini papanya Dewa. Kalo yang ini Barry, kakaknya Dewa dan ini Gina, istrinya Barry” Utari memperkenalkan keluarganya satu per satu pada Bianca Masih dengan senyuman diwajahnya gadis itu menatap mereka satu per satu seraya menganggukkan sedikit kepalanya. Kemudian ia melirik Dewa yang sedang menggaruk tengkuk lehernya yang sudah pasti tidak gatal. “Kamu pacarnya Dewa?” tanya Utari untuk kesekian kali “Maah—“ Utari menatap tajam Dewa. “Diam kamu. Mamah sebel ya sama kamu, punya pacar secantik ini nggak pernah dikenalin ke mamah” Baru saja Dewa akan membuka mulutnya untuk bersuara namun interupsi dari Edo yang memintanya untuk bersiap-siap karena sebentar lagi ia harus memberikan speech-nya di panggung. “Yaudah kamu siap-siap sana biar Bianca sama mamah” Wanita paruh baya itu langsung menarik tangan Bianca mengajaknya pergi. Bianca hanya pasrah saja namun setelah beberapa langkah ia kembali menolehkan kepalanya menatap ke arah Dewa yang juga sedang menatapnya. Pria itu hanya tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya seakan memberikan isyarat kalau semuanya akan baik-baik saja. *** “Keluarga saya berisik ya?” “Hah?” Bianca menoleh ke pria di sampingnya yang sedang menyetir. Saat ini mereka memang sedang dalam perjalanan pulang. Dewa menoleh sekilas. “Keluarga saya berisik ya?” ulangnya lagi Gadis itu menggelengkan kepala. “Nggak kok, keluarga kamu harmonis. Keliatan hangat dan kekeluargaan, saya suka. Apalagi mamah kamu kayaknya kami bisa akrab” ia mengakhiri ucapannya dengan tersenyum Jujur saja Bianca senang melihat keluarga Dewa. Keluarga tersebut terlihat begitu harmonis dengan Utari yang terlihat begitu banyak bicara berbeda dengan Surya yang jarang sekali bicara. Keberadaan Barry yang terkadang senang menggoda mamahnya membuat suasana semakin hidup. Dan Gina yang sedang hamil diperlakukan seperti permaisuri oleh Utari semakin membuat hubungan diantaranya terjalin begitu erat. Keluarga itu begitu hangat, begitu manis. Dan Bianca iri melihat hal tersebut. Ia juga ingin memiliki keluarga seperti itu. Tetapi sayangnya ia tidak bisa, keluarganya jauh dari kata harmonis, keluarganya jauh dari kata hangat bahkan juga sangat jauh dari kata manis. Keluarganya berantakan, kacau balau. Itu sebabnya begitu bertemu dengan keluarga Dewa tadi rasanya Bianca langsung merasa nyaman berada diantara mereka. Ia seperti mendapatkan keluarga baru yang selama ini selalu ia idam-idamkan dan rasanya Bianca ingin berlama-lama diantara mereka. Dewa tersenyum mendengar jawaban Bianca. “Lapar nggak? Makan dulu ya” “Boleh, saya juga lapar” Karena hari yang sudah larut malam mereka pun akhirnya memutuskan untuk makan di salah satu penjual nasi goreng pinggir jalan yang sebelumnya pernah mereka datangi. Bianca sudah duduk berhadapan dengan Dewa di depannya. Sambil menunggu pesanannya datang Bianca menatap ke arah jalan raya yang nampak lengang. Mungkin karena sudah hampir tengah malam membuat jalanan menjadi sepi. Hembusan angin malam membuatnya tanpa sadar melipat kedua tangannya di atas meja kemudian mengusap-ngusapkan lengannya. Dewa yang sedang fokus dengan ponsel sontak melirik ke arah gadis itu begitu melihat gerakan tangan Bianca. Hampir tengah malam begini menggunakan dress seperti itu sudah pasti akan terasa dingin. Ia meletakkan ponsel kemudian membuka jasnya dan memberikan pada Bianca. “Pakai nih supaya nggak dingin” Bianca menoleh kemudian tersenyum seraya menerima jas Dewa. “So sweet” Pria itu pun ikut tersenyum seraya menggulung lengan kemejanya sampai sesiku sementara Bianca memakai jas Dewa yang sudah pasti terlihat kebesaran di tubuhnya. Kemudian gadis itu bertopang dagu. “Abang kamu itu punya perusahaan juga kayak kamu?” Dewa ikutan bertopang dagu. “Bukan, bang Barry itu dokter bedah. Kalo kak Gina dulunya karyawan di kantor aku tapi resign setelah menikah” “Oh ya? Jadi abang kamu nikahin karyawan kamu? Kok bisa sih?” “Ya bisa, waktu itu bang Barry lagi main ke kantor terus nggak sengaja ketemu kak Gina, katanya sih suka pada pandangan pertama. Dan setelah itu bang Barry jadi sering main ke kantor buat deketin kak Gina terus mereka pacaran dan nikah deh” “Kamu cuma dua bersaudara?” Pria itu melepas topangan dagunya. “Iya” “Enak ya punya kakak, saya cuma sendiri—anak tunggal” “Paling disayang dong” Bianca melepas topangan dagu kemudian menarik salah satu sudut bibirnya. “Nggak juga, justru saya dilupakan” Dahi Dewa mengernyit mendengar jawaban Bianca. “Maksudnya?” Bersamaan dengan datang bapak penjual nasi goreng mengantarkan pesanan mereka. Bianca tak lupa mengucapkan terimakasih kemudian mengambil sendok siap menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya. “Selamat makan. Padahal tadi saya udah makan diacara kamu tapi sekarang masih aja lapar” Dewa hanya memandangi gadis itu yang selalu akan seperti ini tiap kali sudah menyinggung mengenai keluarganya. Ia jadi semakin penasaran sebenarnya apa yang terjadi dengan Bianca dan keluarganya sehingga membuat gadis itu seperti enggan mengingatnya kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD