MY GIRL | 6

3093 Words
Sebuah motor matic hitam terlihat berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana. Seorang gadis berkemeja navy terlihat turun dari boncengan belakang kemudian melepaskan helm hijau dari kepalanya. Ia memberikan helm tersebut pada driver ojek online kemudian disusul dengan memberikan uang sebagai ongkosnya. Tak lupa juga ia mengucapkan terimakasih. Setelahnya gadis yang bernama Bianca itu melangkah memasuki pekarangan rumah. Langkah kakinya terus membawanya menuju pintu utama, menaiki beberapa undakan anak tangga di teras. Namun langkahnya terhenti begitu sedikit lagi ia akan mencapai pintu utama. Ia menoleh kemudian memundurkan langkahnya. Bianca sedikit membungkukkan badan lalu kedua tangannya mengangkat sebuah tanaman dalam pot berukuran sedang yang nampaknya terlihat layu. Seperti baru mengingat sesuatu gadis itu mendecakkan lidah sebal. Ia baru ingat kalau pagi tadi sebelum berangkat bekerja ia lupa untuk menyiram tanaman Dewa. Karena pagi tadi ia sudah terburu-buru jadi ia lupa untuk menyiramnya. Padahal kemarin ia menyiram tanaman itu sebelum berangkat bekerja. Dan sekarang tanaman tersebut layu, bagaimana ini, besok Dewa akan pulang. Ia pasti akan marah melihat tanamannya layu. Terlebih lagi tanaman tersebut salah satu tanaman kesukaan Dewa. Bianca sendiri tidak tahu apa nama tanaman tersebut tetapi Dewa pernah mengatakan kalau ia sangat menyukai tanaman itu. Dan walaupun ukurannya yang tidak terlalu besar tetapi harga tanaman tersebut cukup mahal. Bagaimana kalau tersebut mati dan nanti Dewa memintanya untuk menggantinya? Ya Tuhan, sepertinya uang tabungan Bianca sedang terancam sekarang. Bianca kembali meletakkan tanaman tersebut kemudian buru-buru masuk ke dalam rumah. Ia langsung melepaskan tas dan sepatunya begitu saja kemudian menuju tempat pencucian, mengambil ember yang ia isi dengan air. Lalu membawanya ke halaman depan dengan gayung ditangan kirinya. Sambil berjongkok gadis itu menuangkan air dari gayung ke beberapa tanaman Dewa yang ada di sana. Padahal ia hanya lupa menyiramnya hari ini saja tetapi semua tanamannya terlihat layu. Tanaman yang manja pikirnya. Sambil terus menuangkan air pada tanaman-tanaman milik Dewa ia berdoa semoga saja tidak ada salah satu dari tanaman tersebut yang mati. Dewa pasti akan memintanya mengganti dengan tanaman yang baru, belum lagi ia juga masih memiliki hutang karena belum mengganti tanaman Dewa yang pernah mati sebelumnya. Bianca tahu tanaman-tanaman yang dibeli Dewa memiliki harga yang tidak murah. Dan jika ia harus mengganti lagi tanaman Dewa sepertinya itu akan menguras uang tabungannya. Bisa-bisa ia tidak bisa membeli barang incarannya karena harus mengganti tanaman Dewa. Selesai menyiram tanaman Dewa ia kembali masuk ke dalam. Tak lupa juga ia mengunci pintu. Gadis itu menyimpan kembali ember dan gayung di tempat pencucian kemudian menuju kamar. Ia menghempaskan tubuhnya yang terasa lelah setelah seharian bekerja ke ranjang tidurnya. Tangannya meraba-raba kasur mencari remote AC kemudian menekan tombol on. Semeriwing rasa sejuk dari AC langsung membuatnya memejamkan mata. Baru saja ia akan menjemput mimpinya namun indera pendengarannya langsung menangkap suara adzan maghrib yang berkumandang. Bianca pun bangkit dari rebahannya kemudian mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian, gadis itu sudah terlihat segar dan wangi dengan balutan kaus dan celana piyama yang memang selalu menjadi setelan sehari-harinya jika berada di rumah. Ia sedang duduk di sofa ruang tengah dengan tatapan yang menatap lurus ke layar tv dan tangannya yang bergantian mengambil keripik kentang di toples lalu memasukkannya ke dalam mulut. Bianca menutup toples tersebut kemudian menghela nafas, ia sudah hampir menghabiskan setengah toples tetapi perutnya masih terasa lapar. Di rumahnya tidak ada makanan karena ia belum mengisi kulkasnya kembali. Ingin membeli makanan keluar pun rasanya malas. Tidak ada cara lain selain memesan makanan secara online. Gadis itu pun langsung menyambar ponsel dan membuka aplikasinya. Saat jemari tangan Bianca sedang menscroll mencari menu makanan yang tepat untuk makan malamnya, ponsel yang berada ditangannya justru berdering. Menandakan ada yang menelepon, tertera nama Dewa di layar ponsel yang membuatnya harus melebarkan mata untuk memastikan kebenaran tersebut. Refleks Bianca membenarkan posisi duduknya kemudian berdehem kecil sebelum akhirnya menggeser ikon berwarna hijau dan menempelkan ponsel ke telinga. “Halo” “Saya cuma mau memastikan kalau kamu menyiram tanaman saya secara rutin” Bianca berdecak, apa tidak ada kalimat yang lebih manis lagi selain kalimat barusan yang dijadikan kalimat pembuka oleh pria itu. Bahkan Dewa tidak menjawab sapaannya. “Hmm, iya” “Oke. Besok saya akan pulang, kita akan lihat apakah tanaman saya mati atau tidak” Mampus gue, batin Bianca. Kalau besok Dewa melihat tanamannya layu karena tidak ia siram, bagaimana reaksi pria itu. Ah, Bianca paling tidak suka jika dihadapkan dengan situasi seperti ini. “Nggak usah pulang, tinggal di sana aja” Terdengar suara tawa Dewa dari sebrang sana. “Kamu nggak kangen sama saya?” “Cih, kepedean!” Bohong. Padahal sebenarnya Bianca merasakan sedikit rindu dengan Dewa. Rumah yang selama dua bulan selalu diisi dengan celotehan Dewa, obrolan dan canda tawa mereka mendadak sunyi dan sepi saat pria itu tak ada. Dan Bianca ingin waktu cepat berlalu agar Dewa bisa cepat kembali ke rumahnya. “Yasudah kalau begitu saya tutup dulu” “Oke” jawab Bianca seakan sangat menyetujui hal itu padahal kenyataannya ia masih ingin mengobrol dengan Dewa walaupun hanya melalui telepon. Saat Bianca menjauhkan ponselnya dari telinga terdengar suara Dewa yang kembali bersuara. “Tunggu dulu” Gadis itu pun kembali menempelkan ponsel ke telinga. “Kenapa?” “Jangan lupa kunci pintu—banyak barang berharga di kamar saya” Ya Tuhan, Bianca hampir saja dibuat senang begitu mendengar kalimat awal yang diucapkan Dewa. Ia menganggap itu seperti perhatian kecil yang diberikan Dewa namun begitu mendengar kalimat selanjutnya Bianca langsung dibuat kesal olehnya. Bahkan ia sampai membuang nafas melalui mulut saking kesalnya. Ia mengingatkan untuk mengunci pintu karena takut barang-barang berharganya hilang. Sungguh lucu. “Terimakasih sudah mengingatkan!” Bianca langsung memutus sambungan telepon. *** Sebuah pajero berwarna hitam terlihat memasuki pekarangan sebuah rumah mewah dua lantai. Seorang pria tampan berkemeja putih dengan blue jeansnya terlihat duduk dibalik kemudi dengan kacamata hitam yang bertengger dihidung mancungnya. Ia terlebih dulu memarkirkan mobilnya di belakang sebuah mobil sedan berwarna hitam. Setelahnya ia mematikan mesin mobil, mencabut kunci sebelum akhirnya keluar mobil. Dewa, pria itu. Ia melangkah menuju pintu utama kemudian membuka pintu kekar bercat putih tersebut. Kakinya melangkah masuk ke dalam seraya melepaskan kacamata hitam yang ia gunakan. Dewa mengedarkan pandangan mencari seseorang yang begitu disayanginya. Namun rumah nampak sepi, kalau hari libur dan sepagi ini ia bisa meyakini bahwa papanya pasti sedang berolahraga tetapi dimana sosok wanita yang begitu dicintainya? Wanita pertama dalam hidupnya, wanita yang telah memberinya kehidupan, wanita yang telah melahirkannya dan merawatnya sampai sebesar ini. Siapa lagi kalau bukan Utari—mamahnya, wanita yang begitu dicintai Dewa. Bahkan ia rela melakukan apapun untuk kebahagiaan sang mamah. Pria itu tidak menemukan mamahnya dimana pun, di ruang tengah, di kamar, di dapur bahkan di kamar mandi sekali pun. Sekarang ia sedang menuju halaman belakang, ia berani menjamin mamahnya berada di sana. Dan benar saja kan, ia melihat mamahnya di sana tepatnya sedang duduk disebuah kursi taman bercat putih sambil membaca majalah. Di rumahnya yang besar dan mewah Utari memang memiliki halaman belakang yang luas. Sebagian besar ditanami oleh tanaman bunga dan tanaman-tanaman lainnya. Semua tanaman yang ada di sana ia sendiri yang menanamnya. Kalau sudah begini terlihat jelas kan kalau Dewa menuruni mamahnya yang ternyata menyukai tanam-menanam seperti ini. Bahkan diantara banyaknya ruangan di rumah besar tersebut Utari paling senang menghabiskan waktunya di halaman belakang. Ia selalu merasa refresh dan hatinya terasa tenang walau hanya dengan memandangi tanaman-tanamannya itu. “Aku cariin ternyata di sini” Dewa melingkarkan tangannya memeluk bahu sang mamah Utari menoleh sekilas kemudian mencebikkan bibirnya. “Masih ingat jalan pulang kamu” Senyuman terukir diwajah tampan Dewa. Ia tahu mamahnya sedang menyindir dirinya karena sudah dua minggu Dewa tidak pulang ke rumahnya. Sebelum menyewa kamar di rumah Bianca, Dewa memang tinggal di apartemen. Namun tiap kali libur ia akan pulang ke rumah orang tuanya. Tetapi semua berbeda setelah ia tinggal di rumah Bianca, ia jadi jarang pulang ke rumah orang tuanya. Karena setiap kali libur, itu akan menjadi jadwalnya dan Bianca akan bersama-sama membersihkan rumah. Dan jika memang ia pulang ke rumah orang tuanya itu pun hanya sebentar. Terlebih lagi saat ini Dewa merasa semakin betah tinggal di rumah Bianca. Jadi sekalipun ia memiliki waktu luang untuk pulang ke rumah orang tuanya, rasanya ia malas. Karena hatinya lebih menginginkan untuk berada di sana, bersama dengan Bianca. Ada apa dengan Dewa? Mengenai Dewa dan keluarganya, ia terlahir dari keluarga yang kaya raya. Papanya sama seperti dirinya, pebisnis sukses yang memiliki perusahaan besar. Perusahaannya pun sudah memiliki anak cabang di beberapa kota dan sangat terkenal di dunia perbisnisan. Bahkan Dewa mempelajari dunia bisnis dari papanya, ia bisa sukses seperti sekarang pun karena masukan dan nasihat-nasihat yang selalu diberikan papanya. Dewa merupakan anak bungsu dari dua bersaudara. Ia memiliki kakak laki-laki yang merupakan seorang dokter bedah di salah satu rumah sakit ternama di Jakarta. Namanya Barry yang baru saja menikah dua tahun lalu dan sekarang ini istrinya tengah mengandung buah hati pertama mereka. Barry sendiri sudah tidak tinggal bersama dengan orang tuanya, begitu menikah ia langsung memboyong istrinya ke rumahnya sendiri. Mereka hanya datang berkunjung saat hari libur. “Aku pulang pake bantuan google maps, makanya nggak nyasar” Dewa tertawa kemudian berpindah menjadi duduk di samping mamahnya Utari menoleh sambil ikutan tertawa. “Kamu dari apartemen?” “Nggak, aku dari Malang terus langsung ke sini” “Ngapain ke Malang?” “Ya urusan kerjaan dong mah” Perempuan paruh baya itu menepuk pelan paha putranya. “Jangan kerja terus, ingat umur kamu udah berapa. Mamah juga mau melihat kamu menikah” Dewa mengambil tangan mamahnya kemudian menggenggamnya erat. “Iya. Mamah tenang aja sebentar lagi aku nikah” “Memang sudah punya calon?” Pria itu menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Belum” Sontak Utari menarik tangannya dari genggaman Dewa. “Kalau begitu ngapain pake bilang sebentar lagi mau nikah” “Kan ucapan itu doa mah” “Yasudah kalau begitu mamah amin-kan doa kamu barusan” Senyuman terlukis diwajah Dewa disusul dengan dirinya yang merebahkan kepalanya dibahu sang mamah. Senang sekali rasanya masih bisa bermanja-manja dengan sang mamah walaupun usianya sudah sebesar ini. Ia hanya bisa berharap mamahnya selalu sehat dan berumur panjang sehingga mereka bisa terus seperti ini. *** Tepat pukul sembilan Dewa tiba di rumah Bianca, tadi ia memang hanya mampir sebentar ke rumah orang tuanya. Lain kali ia akan lebih lama lagi berada di sana atau mungkin ia akan mencari waktu agar bisa menginap di sana. Dewa sudah keluar dari mobilnya dan tujuan utamanya adalah langsung mengecek satu per satu tanaman-tanamannya yang beberapa hari ini ia tinggalkan. Pria itu menekuk lututnya berjongkok melihat tanamannya yang terlihat layu seperti tidak disiram. Pasti Bianca tidak menyiramnya dan sejak awal Dewa sudah bisa menebak semuanya akan seperti ini. Dewa pun bangkit berdiri kemudian menuju pintu utama. Ia membuka handle pintu yang ternyata masih dikunci, beruntung ia membawa kunci cadangan sehingga membuatnya bisa membuka pintu tersebut. Dewa sudah berada di ruang tengah, ia mendecakkan lidah kesal dengan kedua tangan dipinggang dan mata yang diedarkan ke sekitar. Ruangan terlihat berantakan dengan beberapa bungkus makanan ringan dan minuman di sekitar sofa, bantal-bantal sofa yang berjatuhan, kulit kacang yang berserakan di lantai dan sebagainya. Ini sama seperti saat pertama kali ia menginjakkan kakinya di rumah tersebut hanya ini tidak terlalu parah. Pria itu sangat-sangat yakin bahkan ia berani menjamin bahwa saat ia tinggal selama beberapa hari Bianca tidak membersihkan rumahnya sama sekali. Bagaimana untuk membersihkan rumah kalau dimintai tolong untuk menyiram tanaman saja tidak ia lakukan. Baru tiga hari saja ia pergi rumah sudah seperti ini apalagi jika ia harus bepergian dalam waktu lama. Ah tidak, Dewa tidak bisa membayangkan hal tersebut. Dewa melangkahkan kakinya menuju kamar Bianca. Tanpa perlu membuang energi dengan mencarinya di ruangan mana pun, ia sudah sangat yakin kalau gadis itu pasti masih tertidur. Tidak ada Dewa di rumahnya saat hari libur seperti ini tentu menjadi kesempatan emasnya untuk bisa bangun siang. Karena biasanya walaupun hari libur Dewa sudah membangunkannya pagi-pagi hari untuk membersihkan rumah. Sudah bukan lagi mengetuk tetapi Dewa menggedor pintu kamar Bianca berkali-kali. Tak lama berselang pintu terbuka menampilkan sosok Bianca dengan rambut yang berantakan seperti singa, wajah yang masih mengantuk dan jangan lupakan selimut yang tersampir di bahunya. Dewa menggeleng-gelengkan kepala melihat pemandangan di depannya terlebih saat melihat Bianca menggaruk-garuk tengkuk lehernya dengan mata yang terpejam. “Cuci muka dulu sana” ia menarik tangan Bianca agar gadis itu keluar dari kamar kemudian mendorongnya ke kamar mandi Begitu selesai, sekarang di sinilah Bianca berada. Di sofa ruang tengah dengan keadaan yang sudah lebih baik, rambutnya sudah ia ikat walaupun dengan asal. Wajahnya nampak segar setelah terkena air. Ia duduk di sofa dengan kedua kaki yang dinaikkan ke atas. Bianca benar-benar baru sadar bahwa yang menggedor-gedor pintu kamarnya tadi adalah Dewa begitu ia selesai mencuci wajahnya. Ia jadi tidak berani membayangkan bagaimana bentuk rupanya begitu ia membukakan pintu kamarnya saat Dewa menggedor-gedor pintu kamarnya tadi. Memalukan yang pasti. “Kamu nggak bersihin rumah selama saya pergi?” Bianca mencebikkan bibir. Terkadang ia bingung dengan isi kepala Dewa yang sepertinya hanya terisi dengan tanaman dan membersihkan rumah. Saat kemarin menelepon yang pertama dibahas menyiram tanaman dan sekarang saat pulang yang pertama dibicarakan pun membersihkan rumah. “Saya kan kerja” “Ya tapi untuk membersihkan sampah makanan kamu sendiri masa nggak bisa. Lihat, sekarang jadi banyak semut karena sampah kamu itu” ia menunjuk ke arah lantai dimana terlihat banyak semut yang sedang mengerubungi sisa-sisa makanan ringan yang berserakan di lantai Tanpa berkata apa-apa lagi Bianca langsung bangkit dari duduknya kemudian memunguti bungkusan makanan dan botol minuman di sekitarnya. Setelah itu ia menuju dapur dan membawa sapu yang ia gunakan untuk menyapu remahan makanan ringan yang berserakan di lantai. Karena merasa sudah selesai gadis itu berniat untuk kembali ke kamar namun ucapan Dewa menghentikan langkahnya. “Cepet ganti baju” Bianca menoleh. “Mau kemana?” “Beli sarapan” Lima belas menit kemudian Bianca sudah berganti kostum dengan celana training hitam dan hoodie berwarna kuning dengan gambar tweety di bagian belakangnya. Melihat gadis itu memakai hoodie seperti itu membuatnya terlihat begitu menggemaskan. Dan sialnya Dewa mengakui itu. Ia sudah berada di dalam mobil Dewa yang katanya akan mengajaknya untuk membeli sarapan. Terserah Dewa saja ingin mengajaknya kemana, ia benar-benar mengantuk dan ingin melanjutkan tidurnya kembali. “Tanaman saya layu” Mata Bianca yang semula akan terpejam terpaksa harus ia buka kembali begitu mendengar ucapan Dewa. Ia menoleh. “Saya sudah siram kok, setiap hari” “Tapi tadi saya lihat tanamannya layu” Dewa menoleh sekilas “Mungkin kurang pupuk” ucap Bianca mencari alasan Dewa hanya tersenyum tipis kemudian kembali fokus melajukan mobilnya. Bianca pun mengurungkan niatnya untuk tertidur kembali dan lebih memilih memperhatikan jalanan yang nampak lengang saat dihari libur seperti ini. Tak lama berselang Dewa menghentikan mobilnya membuat Bianca menoleh ke arahnya lalu menatap ke sekitar. Tak ada tempat makan atau pun penjual apapun yang bisa mereka jadikan untuk tempat sarapan. Bianca kembali menatap ke arah Dewa yang sedang menatap ke arah spion di sampingnya kemudian malah memundurkan mobilnya. Penasaran dengan apa yang dilihat pria itu Bianca pun menoleh. Dan sekarang mobil Dewa telah berhenti tepat di depan sebuah lahan dengan berbagai macam tanaman-tanaman hias di sana. Terdapat sebuah papan bertuliskan menjual tanaman hias. Sepertinya Bianca tahu apa tujuan Dewa menghentikan mobilnya. “Kamu masih ingat kan kalau kamu punya hutang ke saya?” “Hah?” Dewa tersenyum seraya melepaskan seatbeltnya. “Ayo turun” Jangan bilang kalau Dewa ingin menagih hutangnya pada Bianca sekarang. “Ya Tuhan, apa lagi ini” gadis itu membenturkan pelan kepalanya ke kaca jendela mobil Gadis itu sudah duduk di salah satu kursi plastik yang ada di sana. Dewa sendiri entah berada dimana, mungkin sedang melihat-lihat tanaman hias bersama dengan si bapak penjual. Dan sepertinya feeling Bianca benar kalau saat ini Dewa sedang menagih hutangnya. Hutang karena ia telah membuat tanaman Dewa mati waktu itu. Untung saja saat ini Bianca membawa dompet walaupun isi dompetnya tidak banyak. “Saya mau membeli yang ini” Dewa datang dengan membawa tanaman dalam pot berukuran sedang. Bianca tidak tahu nama tanaman tersebut. Tanaman yang hanya berupa daun tebal kehijauan dengan tepinya yang berwarna kuning. Daun tersebut berukuran panjang dan kaku dengan ujungnya yang meruncing. Menurutnya tanaman tersebut terlihat biasa saja, Tidak memiliki daya tarik apapun, jadi apa yang membuat Dewa ingin membelinya. “Yaudah beli aja” jawab Bianca santai “Kamu punya hutang kan ke saya, jadi ini kamu yang bayar” Bianca menoleh. “Hutang apa?” tanyanya pura-pura Senyuman terlukis diwajah tampan Dewa yang membuatnya semakin terlihat tampan. Sontak Bianca mengalihkan pandangan enggan melihat senyuman itu. “Kamu pernah membuat tanaman saya mati dan berjanji akan menggantinya. Anggap saja ini sebagai gantinya” “Berapa harganya?” “Satu daunnya lima ratus ribu” “Apa? Lima ratus ribu satu daun?” Dewa menganggukkan kepala seraya tersenyum. Bianca kemudian menghitung jumlah daun pada tanaman tersebut. Tiga daun, yang berarti satu juta lima ratus ribu rupiah. Tanaman hanya berupa daun meruncing seperti ini kenapa bisa mahal sekali. Bahkan Bianca sama sekali tak menyukai tanaman itu. “Jadi ini harganya satu juta lima ratus? Nggak, saya nggak mau” Bianca menggelengkan kepala “Hutang harus dibayar” Bianca bangkit dari duduknya. “Saya tahu tapi ini kemahalan, uang saya mana cukup. Lagipula tanaman kamu yang mati bukan seperti ini kan” “Ya memang beda jenisnya tapi tanaman saya yang mati lebih mahal dari ini” Ternyata masih ada tanaman yang lebih mahal dari tanaman dihadapannya ini. Apa Dewa memang hobi membeli tanaman yang berharga cukup mahal? Jangan-jangan semua uangnya ia gunakan untuk membeli tanaman. Bianca harus bagaimana ini? “Nggak bisa delapan ratus ribu aja?” Melihat bapak penjualnya datang Dewa menoleh. “Delapan ratus bisa nggak pak?” Si bapak penjual menggelengkan kepala. “Nggak bisa. Ini kan satu daunnya lima ratus ribu, ada tiga jadi sejuta lima ratus” “Yaudah patahin aja daunnya, dibikin satu daun aja jadi kan cuma lima ratus” ucap Bianca Bapak penjual tertawa sementara Dewa melotot tajam ke arahnya. “Ini ada yang kecil cuma dua daun, lima ratus ribu aja” “Butuh berapa lama pak supaya bisa sebesar ini?” tanya Dewa seraya menunjuk tanaman berukuran sedang “Yaa lama atuh, perawatannya juga harus betul-betul, pupuknya juga harus rutin” “Yaudah yang kecil aja pak” Dewa menoleh. “Loh? Saya kan maunya yang ini” ia menunjuk tanaman satunya “Yang punya hutang siapa?” “Kamu” “Jadi suka-suka saya mau membayar hutangnya dengan apa. Yang terpenting kan lunas” “Kok gitu?” Bianca hanya menoleh kemudian tersenyum. Sial! Senyumnya manis, batin Dewa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD