MY GIRL | 5

2366 Words
Dewa baru saja tiba di kantor, dengan sebelah tangan yang menenteng tas laptop ia berjalan memasuki lobby kantor sambil sesekali menganggukkan kepala membalas sapaan para karyawannya. Dewa bukanlah seorang bos yang dingin, pelit senyum, jutek atau pun kejam. Justru sebaliknya ia dikenal sebagai bos yang baik, tegas, murah senyum, ramah dan tampan pula tentunya. Itu sebabnya ia banyak memiliki penggemar pada kantor terutama karyawan-karyawan wanita yang mengantri ingin menjadi pacarnya. Namun Dewa tidak akan pernah main-main jika ada salah satu karyawannya yang melanggar aturan. Terlebih ia juga sangat mengutamakan kedisplinan di kantornya. Jika ia mendapatkan sebuah laporan yang menyebutkan ada karyawannya yang sering terlambat datang maka ia akan langsung menindaklanjutinya. Ia paling tidak suka dengan orang-orang yang tidak disiplin. Lift khusus tersebut berhenti di lantai paling tinggi kantornya, yang mana di lantai tersebut hanya diperuntukkan untuk ruangannya saja. Dewa melangkah keluar lift kemudian berjalan menuju sebuah pintu besar bercat coklat tua. Di depan ruangannya terlihat sebuah meja yang diperuntukkan untuk Edo—sekertarisnya. Ya, sekertarisnya memang seorang pria dan itu permintaan khusus darinya. Sebelumnya Dewa pernah beberapa kali memiliki sekertaris perempuan namun sekarang ia tidak mau lagi. Ia seperti merasa kapok tidak ingin memiliki sekertaris perempuan. Karena sekertaris perempuan yang sebelumnya selalu saja berusaha menggodanya. Dewa yang memang tak ingin memiliki hubungan apapun dengan sekertarisnya pun langsung memecat sekertarisnya dan meminta dicarikan sekertaris yang baru dengan syarat seorang pria. Dan Edo yang ternyata temannya saat sekolah dulu sudah bekerja dengannya selama tiga tahun. Awalnya Dewa sama sekali tak mengetahui kalau Edo melamar di kantornya sebagai sekertaris dan Edo pun tidak mengetahui kalau kantor tersebut milik Dewa. Mereka baru menyadari begitu keduanya bertemu setelah Edi diterima sebagai sekertaris Dewa. Selama tiga tahun bekerja bersama dengan Edo, Dewa sendiri merasa nyaman. Karena Edo sangat mampu diajak bekerja sama, cekatan, teliti dan terkadang ia juga sering mencetuskan ide-ide yang sebelumnya tak terpikirkan oleh Dewa. Dan Dewa merasa diantara banyaknya sekertaris yang pernah bekerja dengannya Edo-lah sekertaris terbaiknya. Ia harap Edo akan seterusnya menjadi sekertarisnya. Dewa yang sudah duduk di kursi kebesarannya menoleh begitu pintu ruangannya diketuk. Ia pun menginterupsi seseorang dibalik pintu untuk masuk. Edo membuka pintu kemudian melangkah masuk dengan membawa beberapa file map di tangannya. “Selamat pagi Pak, ini beberapa laporan yang harus diperiksa dan ditanda tangani” Pria itu menerima beberapa file map tersebut. “Terimakasih Do” “Saya juga mau menginformasikan kalau—“ Dewa mengibaskan tangannya. “Masih terlalu pagi untuk bahas pekerjaan, duduk dulu” Edo tersenyum lebar. “Asik, friend mode on nih Pak?” “Iya friend mode on. Duduk situ” Kemudian Edo langsung duduk di kursi hadapan Dewa dengan meja besar nan kekar yang berada diantara mereka. Kalau friend mode on seperti ini maka mereka akan melupakan sejenak mengenai pekerjaan. Dan memilih mengobrol santai dengan gaya bahasa non formal bahkan terkadang mereka bernostalgia mengenai masa-masa sekolah dulu. Ya, seperti seorang teman pada umumnya. Namun jika friend mode off maka Edo akan bersikap hormat layaknya sekertaris pada bossnya. Dan mereka akan kembali menggunakan bahasa formal membahas mengenai pekerjaan. “Mikirin apaan sih?” Edo bertanya begitu melihat Dewa yang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu Dewa menghela nafas. “Udah dua bulan tapi masih nggak ada kemajuan” “Soal cewek yang namanya Mayra itu?” Dewa mengangguk Selain bertugas sebagai sekertarisnya terkadang Dewa juga sering curhat pada Edo termasuk tentang Mayra. Namun Edo juga mengetahui kalau selama dua bulan ini Dewa sedang berusaha menjalankan misinya dengan cara menyewa kamar di rumah Bianca. Ia sebenarnya sungguh menyayangkan begitu tahu Dewa harus memanfaatkan orang lain demi untuk kepentingan dirinya sendiri. Seperti tidak ada cara lain pikirnya. Tetapi mau bagaimana lagi Edo pun mengetahui setelah Dewa menyewa kamar di rumah Bianca selama satu minggu. “Perasaan lo ke Mayra gimana?” Pria yang lengkap dengan setelan jasnya itu menatap Edo. “Gue nggak ngerti sama perasaan gue. Gue masih ingin berusaha mendekati Mayra tapi gue nggak tahu caranya. Sementara Mayra selalu jaga jarak sama gue, Mayra seakan bikin benteng besar diantara gue dan dia” “Lo mau tahu cara yang tepat buat bisa dapetin Mayra?” Dewa mengangkat kedua alisnya seakan bertanya “... Taaruf. Kirim proposal taaruf lo ke Mayra” jawab Edo membuat Dewa menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. “Perempuan kayak Mayra nggak akan mau diajak pacaran. Lo mau deketin gimana pun ya dia pasti akan jaga jarak sama lo. Dia pasti mencari kekasih yang halal dan jalan satu-satunya lo harus taaruf sama dia” “Gue tahu tapi gue masih harus mikir-mikir lagi buat ngelakuin itu Do” “Terus kalo lo sama Bianca gimana?” “Gue makin deket sama dia” Sontak Edo tertawa membuat Dewa langsung menoleh ke arahnya. “Ini yang lucu nih, niat mau deketin Mayra tapi deketnya sama Bianca” “k*****t! Lo nggak usah ketawa, terus gue harus gimana sekarang?” “Yang tadi gue bilang kalo lu mau cara cepet ya lo kirim proposal taaruf lo ke Mayra tapi itu juga belum tentu Mayra terima taaruf lo. Tapi kalo lo masih ragu jalanin dulu aja yang sekarang” Edo tersenyum “... Jadi, Bianca atau Mayra?” tanya Edo dengan senyuman meledek Dewa menatap Edo. “Sialan! Friend mode off!” Mendengar kalimat terakhir Dewa buru-buru Edo bangkit dari duduknya. “Baik Pak. Kalau begitu saya kembali ke meja saya” Sementara itu di waktu yang bersamaan namun tempat berbeda, Bianca terlihat sedang menikmati se-cup kopi paginya di kantin rumah sakit. Ia duduk di salah satu kursi dengan kedua tangannya yang sibuk memainkan ponsel. Pagi ini ia terlihat begitu cantik dengan dress batik selutut berwarna dasar kecoklatan dengan rambutnya yang seperti biasa selalu ia jepit setengah dan flatshoes cream terlihat kontras dengan kakinya yang putih. Gadis itu tersenyum begitu membaca balasan dari Ocha pada grup chatnya bersama dengan Mayra dan Ocha. Tidak biasanya memang grup chat tersebut sudah ramai dipagi hari seperti ini. Ini semua karena Ocha yang baru saja mengadu kalau driver ojek online yang baru saja ia naiki memiliki wajah tampan. Bahkan saking tampannya menurut Ocha ia sampai tidak rela jika harus turun dari boncengan motor driver ojek online tersebut. Ada-ada saja memang. Saat Bianca sedang sibuk berbalas chat dengan dua sahabatnya ia dikejutkan dengan sebuah suara yang menyapanya. “Selamat pagi Bianca” sapa dokter Reza sambil mendaratkan bokongnya di kursi hadapan Bianca Refleks Bianca yang sebelumnya sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan memundurkan tubuhnya kemudian tersenyum kikuk. “Pagi dok” Dokter Reza yang juga membawa se-cup kopi menyeruput kopinya kemudian menatap Bianca sambil tersenyum. “Nggak sarapan?” “Udah kok tadi” Bianca mengedarkan pandangan ke sekitar melihat suasana kantin yang cukup ramai. Ia sangat malas dengan keadaan seperti ini dimana ia harus berada satu meja yang sama dengan dokter Reza disaat suasana kantin ramai seperti ini. Seperti yang diketahui dokter Reza salah satu dokter famous di rumah sakit yang setiap gerak-geriknya selalu menjadi pusat perhatian orang-orang di rumah sakit. Lihat saja beberapa orang yang berada di sana sudah menatap ke arah mereka sambil sesekali berbisik. Sial! Bianca membenci itu, ia benci menjadi bahan gosip orang lain. Baru saja Bianca akan membuka suara untuk pergi lebih dulu namun dokter Reza lebih dulu membuka suaranya. “Selesai kerja nanti kamu ada acara?” “Kenapa memangnya?” “Bisa temani saya sebentar?” Gadis itu tersenyum. “Kebetulan pulang nanti sudah ada yang menjemput saya” “Pacar kamu?” Lagi-lagi Bianca tersenyum kemudian sebelah tangannya mengambil cup kopinya. “Saya duluan ya dok, nggak enak udah diliatin yang lain” ia pun pergi meninggalkan dokter Reza sendiri Sepeninggal Bianca dokter Reza hanya bisa menghela nafas lesu kemudian menyeruput kopinya dengan malas. Gagal lagi usahanya dalam mendekati Bianca. Sedangkan Bianca, gadis itu berjalan cepat menuju ruangannya. Begitu sudah di ruangannya ia menghempaskan bokongnya di kursi seraya menghembuskan nafas lega. Lega karena ia bisa terbebas dari dokter Reza yang sedang berusaha mendekatinya. Bianca tahu dokter Reza adalah dokter paling tampan, famous yang banyak disukai perawat di rumah sakit tersebut. Tetapi menyadari kalau dokter Reza sedang berusaha mendekatinya sama sekali tak membuat Bianca tertarik sedikit pun karena sejak awal ia memang tak tertarik dengan pria itu. Lagipula ia juga malas jika harus menjadi bahan gosip orang-orang di rumah sakit. Karena bisa saja gosip yang beredar berkebalikan dengan fakta yang ada misalnya Bianca yang berusaha mendekati dokter Reza. Dan juga ia berbohong pada dokter Reza tadi dengan mengatakan kalau sudah ada yang akan menjemputnya pulang kerja nanti. Padahal nyatanya tidak begitu. Sudah ia katakan bukan kalau ia tidak tertarik dengan dokter Reza jadi ia pun tidak terlalu ingin menanggapi pria itu. Jadi daripada ia mengecewakan dokter Reza pada akhirnya lebih baik ia sedikit memperjelas semuanya diawal. Membayangkan semua orang membicarakan tentang dirinya karena hal itu saja membuatnya bergidik ngeri. Bianca tidak ingin seperti itu, ia hanya ingin bisa bekerja dengan tenang tanpa ada gosip-gosip atau pun berita tak mengenakan tentang dirinya. Itu saja. *** Jarum pendek pada jam menunjuk ke angka tujuh sementara jarum panjang mengarah ke angka lima. Bianca yang sudah tiba di rumah terlihat sedang berada di ruang tengah sedang menikmati semangkuk es krim sambil menonton tv. Ia melirik jam dinding sekali lagi kemudian menoleh ke arah pintu utama biasanya dijam segini Dewa sudah pulang. Tetapi sekarang pria itu belum menunjukkan tanda-tanda kepulangannya. Gadis itu memasukkan sesendok kecil es krim rasa vanilla ke dalam mulutnya. Sebenarnya ia sedang memakan es krim milik Dewa. Saat ke supermarket kemarin masing-masing dari mereka memang membeli es krim, rasa strawberry untuk Bianca sementara rasa vanilla untuk Dewa. Dan es krim milik Bianca pun belum habis tetapi entah kenapa ia ingin merasakan es krim rasa vanilla walaupun sebenarnya ia sudah tahu bagaimana rasanya. Tak lama berselang indera pendengarannya menangkap sebuah suara deru mesin mobil. Bianca sudah bisa menebak kalau itu pasti Dewa. Buru-buru ia meletakkan mangkuk es krimnya di meja kemudian mengikat ulang rambutnya agar sedikit lebih rapih. Tak lupa juga ia merapihkan sedikit kaus yang ia gunakan. Lalu kembali mengambil mangkuk es krim saat terdengar suara pintu yang dibuka. Bianca sendiri tidak tahu mengapa ia harus melakukan hal tersebut. Ia hanya melakukan apa yang ingin ia lakukan saja. Dewa melangkah masuk ke dalam dan hanya melirik Bianca sekilas kemudian masuk ke dalam kamar. Dahi Bianca mengkerut, ada apa dengan pria itu? Biasanya tiap kali baru pulang kantor ia menyempatkan untuk menyapa Bianca. Tetapi sekarang langkah pria itu terlihat seperti terburu-buru. Kalau begitu untuk apa Bianca harus merapihkan penampilannya tadi. Melihat pintu kamar Dewa yang terbuka begitu saja membuat naluri keingintahuan Bianca berada di tingkat paling tertinggi. Ia jadi penasaran apa yang sedang dilakukan pria itu. Bianca pun meletakkan mangkuk es krimnya di meja kemudian bangkit dari sofa dan berjalan perlahan ke arah kamar Dewa. Ia sedikit melongokkan kepalanya mengintip pria itu. Sontak mata Bianca melebar dengan mulut yang sedikit terbuka begitu melihat apa yang sedang dilakukan Dewa di sana. Pria itu sedang menata pakaiannya ke dalam koper yang ia letakkan di atas ranjang. Dewa juga nampak memasukkan beberapa barang-barangnya ke sana. Sebenarnya Dewa ingin kemana? Apa ia ingin segera pindah dari rumah Bianca? Tidak. Tidak boleh. Dewa tidak boleh pindah. Ada perasaan tidak rela jika memang hal itu yang terjadi. Tetapi memang Bianca siapa bisa melarang pria itu untuk tidak pindah. Dewa hanya seseorang menyewa kamar di rumahnya. Jika suatu saat ia ingin pindah dari sana itu memang sudah menjadi haknya. Tetapi sayangnya Bianca sudah sangat senang dengan keberadaan Dewa di rumahnya. Bagaimana ini? “Ehem!” Dewa yang sedang sibuk dengan kegiatannya menoleh begitu mendengar suara deheman seseorang. Di sana, di ambang pintu ia melihat Bianca yang berdiri dengan sebelah bahu yang menempel pada kusen pintu. Perlu Dewa mengakui kalau sekarang ini penampilan Bianca saat di rumah sudah lebih baik dari sebelumnya. Ia yang dulunya hobi memakai kaus yang sudah belel, sudah tipis, kebesaran begitu pun dengan celana piyamanya. Kini sudah tidak lagi, walaupun ia masih senang dengan setelan seperti itu. Tetapi kaus dan celana piyama yang digunakan gadis itu terlihat lebih bagus dan cocok untuk dikenakan olehnya. Lebih terlihat rapih kalau menurut Dewa. Rambut gadis itu yang sebelumnya selalu berantakan juga sekarang lebih sering terlihat rapih. Ada apa sebenarnya dengan Bianca? “Mau kemana?” Dewa menoleh sekilas. “Mendadak besok harus ke Malang. Jadi malam ini saya harus nginep di apartemen sekalian juga mau ada yang dibahas dengan sekertaris saya” Tanpa disadari Bianca menghela nafas lega mendengar jawaban Dewa. Ternyata tak seburuk yang ia pikirkan. Tetapi apa yang ia katakan tadi, menginap di apartemen bersama dengan sekertarisnya. Sepertinya ini lebih buruk. “Menginap di apartemen? Bersama sekertaris kamu?” Pria itu nampak menghentikan kegiatannya kemudian menatap Bianca. “Sekertaris saya itu laki-laki” Untuk kedua kalinya Bianca menghela nafas lega. Tetapi kenapa pula ia harus merasa lega setelah mengetahui kalau sekertaris Dewa adalah seorang laki-laki. Apa ia tak suka melihat Dewa berdekatan dengan perempuan lain? Sepertinya begitu. “Berapa lama di Malang?” “Tiga hari” “Cepet banget. Kenapa nggak seminggu aja di sananya?” Dewa menoleh. “Nanti kalo kamu kangen sama saya gimana?” Bianca mengalihkan pandangannya. “Kege-eran” Tak lama berselang Dewa sudah selesai mengemasi barang-barangnya. Ia berjalan keluar sambil menarik kopernya dengan Bianca yang mengekori di belakang. Sebenarnya Dewa tidak minta diantar sampai teras tetapi memang gadis itu saja yang ingin mengantarnya. Bianca berdiri di teras memperhatikan Dewa yang sedang memasukkan kopernya ke dalam mobil. Kemudian pria itu masuk ke pintu kemudi dan mulai menyalakan mobil. Dewa kemudian terlihat menurunkan kaca jendela mobilnya. Ia menoleh kemudian menggerakan tangannya meminta Bianca menghampirinya. Seperti langsung terhipnotis Bianca pun menuruni beberapa undakan anak tangga di teras menghampiri Dewa. Ia berdiri di samping mobil pria itu. “Apa?” Pria itu tersenyum. “Saya titip tanaman saya, kalo sampai ada yang mati lagi. Kamu harus menggantinya dua kali lipat” Ck! Bianca mendecakkan lidahnya sebal. Ia pikir Dewa akan mengatakan sesuatu hal yang romantis atau pun manis. Misalnya seperti hati-hati di rumah, hubungi saya kalau ada apa-apa. Tetapi memang harus Dewa mengatakan hal tersebut pada Bianca? Sepertinya tidak karena mereka tidak lebih hanya sebagai pemilik dan penyewa kamar. “Buruan sana pergi!” Bianca memukul pintu mobil Dewa Sontak pria itu tertawa melihat wajah kesal Bianca sebelum akhirnya ia melajukan mobil keluar pekarangan rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD