MY GIRL | 4

3599 Words
Bianca melepaskan pulpen ditangannya kemudian menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi seraya menghela nafas. Hari ini pekerjaannya begitu banyak hingga benar-benar membuat tubuhnya terasa sangat lelah. Gadis itu melirik jam dinding di ruangannya, sebentar lagi jam kerjanya berakhir. Ia pun mematikan laptop kemudian merapihkan beberapa laporan di meja lalu menyimpannya di sudut meja. Walaupun pekerjaannya belum selesai ia akan membereskannya besok. Kemudian gadis itu menyambar tas, memasukkan ponsel ke dalam tas. Lalu melepaskan jepitan di rambutnya dan mengikatnya menjadi kuncir kuda. Setelah bercermin dengan cermin ajaibnya ia bangkit dari kursi dan berjalan keluar ruangan. Ia ingin segera tiba di rumah, ingin segera merebahkan tubuhnya yang terasa sudah sangat lelah ke kasur empuknya. Baru membayangkannya saja sudah membuat Bianca makin mempercepat langkahnya. Ruangan Bianca yang berada di lantai dua membuatnya harus menuruni banyak anak tangga untuk bisa ke lobby lantai satu. Sebenarnya bisa saja ia menggunakan lift tetapi biasanya jika sore begini maka lift akan penuh. Dan akan lebih menghemat waktu jika ia menuruni anak tangga. Dengan satu tangan memegang besi pembatas tangga Bianca menuruni anak tangga sebelum akhirnya terdengar sebuah suara yang memanggil namanya. Gadis itu menghentikan langkahnya kemudian menoleh dan sedikit mendongak melihat seseorang yang memanggilnya. Rupanya itu dokter Reza yang terlihat sedang menuruni anak tangga dengan cepat agar bisa menghampiri Bianca. Ya, dokter Reza memang sudah mengenal Bianca. Semua bermula saat suatu hari Bianca sedang berada di meja pendaftaran, ia sedang mengobrol dengan salah satu perawat di sana. Dan rupanya tak berselang lama dokter Reza ikut bergabung, siapa yang menduga kalau saat itu dokter Reza mengajak Bianca berkenalan. Dan setelah hari itu tiap kali bertemu dengan Bianca, dokter Reza tidak pernah tidak menyapa sekalipun. Ia selalu menyapa Bianca diiringi dengan senyuman manisnya. Dokter Reza memang tampan dan senyumannya menawan tetapi tetap saja Bianca tidak memiliki ketertarikan seperti perawat-perawat lainnya. Entah karena apa. “Dokter Reza? Ada apa dok?” Dokter Reza tersenyum. “Mau pulang?” Bianca mengangguk seraya menyelipkan juntaian rambutnya ke belakang telinga. “Iya. Dokter perlu bantuan saya atau gimana?” Pria itu menggelengkan kepala. “Nggak kok. Kamu dijemput atau bawa kendaraan?” “Oh kebetulan saya naik ojek online” “Mau saya antar, kebetulan saya juga mau pulang” Refleks Bianca menggerakkan tangannya. “Nggak usah dok, saya sudah pesan ojek online. Kasihan kalau di cancel” “Oh begitu, yasudah hati-hati di jalan” Bianca menganggukkan kepala. “Ya, saya duluan dok” Bohong, Bianca berbohong. Sebenarnya ia belum memesan ojek online bahkan mengeluarkan ponsel dari tas saja belum ia lakukan. Ia yang membaca gelagat dokter Reza dari pertanyaannya tadi yang sepertinya ingin menawari tumpangan langsung terlintas ide tersebut. Entah kenapa ia sendiri tidak tahu mengapa harus menolak tawaran dokter Reza. Tetapi yang pasti Bianca hanya tidak ingin mendengar gosip mengenai dirinya dengan siapapun di tempatnya bekerja, termasuk dengan dokter Reza. Begitu sudah berada di lobby rumah sakit Bianca semakin mempercepat langkahnya berharap ia tidak bertemu lagi dengan dokter Reza. Namun saat ia akan mencapai pintu utama rumah sakit ada seseorang yang mencolek bahunya. Refleks Bianca menoleh dan betapa terkejutnya ia saat melihat seseorang yang berada di sampingnya saat ini dengan senyuman diwajahnya. Dewa. “Kamu? Kok di sini?” Sebenarnya sampai saat ini Bianca tidak pernah memanggil nama Dewa. Karena jujur saja ia masih bingung harus memanggilnya dengan sebutan apa. Ingin memanggil langsung namanya pun rasanya tidak sopan. Dan ia juga sudah berniat untuk menanyakan hal ini pada Dewa tetapi sayangnya ia selalu lupa untuk bertanya. “Abis jenguk sekertaris yang dirawat di sini” “Kenapa nggak bilang kalo mau ke sini?” “Penting banget gitu harus bilang ke kamu” Bianca tertawa. “Penting lah. Kalo tahu kamu mau ke sini aku jadi bisa nebeng pulang” Mendengar jawaban Bianca pun membuat Dewa tertawa kemudian melanjutkan langkahnya dengan Bianca di sebelahnya. Dewa memang baru saja menjenguk sekertarisnya yang dirawat di rumah sakit tersebut dan saat ia keluar dari lift tanpa sengaja ia melihat Bianca yang berjalan menuju pintu utama. Dan sekarang di sinilah mereka berada, di dalam mobil Dewa dalam perjalanan pulang. Suasana dalam mobil hening setelah tadi Dewa menceritakan bagaimana kondisi sekertarisnya yang sudah membaik. Dan setelah membicarakan hal tersebut keduanya pun kembali bergelut dengan pikiran masing-masing. Bianca memilih menatap keluar jendela melihat padatnya jalanan Jakarta disaat jam pulang kantor seperti ini. Namun saat ia teringat sesuatu ia langsung menoleh ke arah pria di sampingnya. “Mampir ke toko kue Mayra dulu ya” Sontak Dewa langsung menoleh. “Mau ngapain?” “Ya beli kue lah. Kayaknya udah lama nggak makan browniesnya Mayra” Dewa tidak menanggapi ucapan Bianca lagi. Ia sedang berusaha menormalkan detak jantungnya, entah kenapa tiap kali mendengar atau pun mengetahui ia akan bertemu dengan gadis itu maka jantungnya langsung berdetak lebih cepat. Sambil terus melajukan mobilnya Dewa berharap saat bertemu dengan gadis itu nanti ia tidak terlihat gugup. Walaupun begitu Dewa merasa senang karena sebentar lagi akan bertemu dengan Mayra. “Kamu tahu toko kue Mayra? Padahal aku belum kasih tahu arahnya loh” Ucapan Bianca membuat Dewa kembali tertarik ke dunia nyata. Karena terlalu sibuk dengan pikirannya ia sampai lupa untuk berpura-pura menanyakan lokasi toko kue Mayra. Walaupun sebenarnya ia sudah hafal dengan tempat tersebut tetapi untuk di depan Bianca harusnya ia berpura-pura tidak tahu. Kalau sudah begini Dewa harus bagaimana, ia harus cepat mencari alasan agar gadis di sampingnya tidak curiga. “Kan kamu pernah kasih tahu aku beberapa waktu lalu. Waktu itu kita lewatin jalan ini terus kamu kasih tahu aku toko kue-nya Mayra” Bianca tampak berpikir. “Oh ya? Aku pernah kasih tahu soal itu ke kamu? Kok aku lupa ya” ia tertawa “Daya ingat kamu di bawah rata-rata” Dewa menoleh sekilas sambil tertawa Dalam hati pria itu bersyukur karena Bianca percaya dengan jawabannya. Walaupun di sisi lain ia merasa bersalah karena membohongi sekaligus membodoh-bodohi gadis di sampingnya. Bianca gadis yang sanga baik dan tidak seharusnya ia melakukan ini padanya. Dewa benar-benar merasa seperti pria b******k sekarang. Beberapa menit kemudian mereka sudah tiba di toko kue Mayra. Bianca turun lebih dulu sementara Dewa sedang memarkirkan mobilnya sekaligus menormalkan detak jantungnya. Ia juga harus menyiapkan diri untuk bertemu dengan Mayra. Dari luar toko kue tersebut tidak terlalu ramai dengan pengunjung, mungkin karena hari sudah sore. Hanya ada beberapa pengunjung yang sedang memilih kue dan beberapa lagi yang sedang duduk menikmati kuenya. Bianca mendorong pintu kaca, dengan senyuman lebar diwajahnya ia berjalan menghampiri sahabatnya yang berdiri di balik meja kasir. “Mayra” Gadis dengan khimar abu-abu itu mengangkat wajahnya kemudian tersenyum ke arah Bianca sambil keluar dari meja kasir. “Assalamualaikum Bianca” koreksinya Bianca yang memang sudah terlalu sering mendapat koreksian dari sahabatnya hanya menyengir memamerkan barisan giginya yang putih dan rapih. “Waalaikumsalam Mayra” “Baru pulang kerja? Gadis itu menganggukkan kepala. “Iya, terus kangen sama brownies buatan kamu makanya mampir ke sini” ia tersenyum Mayra tidak menanggapi ucapan Bianca karena tanpa sengaja matanya melihat sosok Dewa yang baru saja melewati pintu masuk tokonya. “Kamu sama Dewa?” Mendengar nama Dewa membuat Bianca sedikit menolehkan kepalanya. “Oh iya, tadi nggak sengaja ketemu di rumah sakit. Dia abis jengukin sekertarisnya” Dewa sudah berdiri di belakang Bianca. Sesekali ia menatap ke arah Mayra dan tanpa sengaja gadis berhijab itu pun melirik ke arahnya. Sebelum akhirnya Mayra kembali menundukkan pandangannya gadis itu sempat menganggukkan kepala sebagai sapaan pada Dewa. Pria itu yang baru pertama kali mendapat sapaan dari Mayra refleks membalas anggukan kepalanya. Namun kemudian ia bertanya-tanya, benar Mayra baru saja memberikan sapaan padanya—walaupun hanya sebatas itu. Sedikit kemajuan. Ah tidak, apa hal sekecil itu bisa disebut kemajuan? “Yaudah ayo pilih browniesnya” Mayra menarik tangan Bianca untuk memilih brownies Sementara Bianca sedang memilih brownies ditemani Mayra. Dewa lebih memilih mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi kosong yang ada di sana. Matanya tak lepas memperhatikan kedua gadis itu—Bianca dan Mayra. “Duh Ra, gimana dong brownies buatan kamu enak semua. Aku bingung mau yang mana” Mayra tersenyum. “Yaudah dibeli semuanya aja” “Ih kamu mau aku gendut” “Seorang nutritionist pasti tahu caranya diet” “Kamu nyindir aku?” Gadis bergamis yang senada dengan warna khimarnya itu tertawa kemudian menunjukkan lagi salah satu varian baru brownies buatannya pada Bianca membuat gadis itu semakin bingung harus membeli yang mana. *** Di Sabtu sore, Bianca terlihat sedang berada di kursi teras depan rumahnya. Kedua lututnya ia naikkan ke atas kursi yang kemudian ia tekuk, badannya sedikit ia miringkan ke sebelah kanan dengan tangan kanan yang menopang kepalanya dan tangan kiri yang sedang memainkan ponsel—menscroll up akun instagramnya. Merasa tidak ada yang menarik gadis itu meletakkan ponsel di meja sampingnya kemudian pandangan matanya mengarah pada taman kecil yang berada di depan rumah. Sebenarnya Bianca menyebutnya bukan taman tetapi halaman. Halaman yang awalnya terlihat gersang dengan beberapa pohon yang berada di dalam pot namun tidak terawat. Terlihat layu, daunnya kering berjatuhan bahkan sampai ada yang mati. Namun begitu Dewa tinggal di rumahnya halaman tersebut terlihat lebih hidup. Dan Bianca mengakui itu. Karena pria itu merawat halamannya dengan baik, Dewa membuang semua tanaman yang sudah mati. Ada beberapa tanaman yang berhasil ia selamatkan, ada juga beberapa tanaman yang baru ia beli. Bianca sendiri tidak menyangka, seseorang seperti Dewa ternyata menyukai hal seperti tanaman-tanaman hias. Sering kali setelah pulang kantor atau pun malam hari ia melihat Dewa yang sedang menyiram tanaman-tanamannya. Karena memang ia hanya mempunyai waktu luang saat malam hari maka ia akan menyiram tanamannya pada malam hari. Pernah saat Dewa harus keluar kota karena pekerjaan selama beberapa hari, sebelum berangkat ia meminta tolong agar Bianca rutin menyirami tanamannya. Tetapi karena memang ingatan gadis itu yang payah, Bianca melupakan hal itu. Yang akhirnya membuat salah satu tanaman Dewa mati dan beberapa yang lainnya layu. Bianca sempat meminta maaf saat itu dan berjanji akan mengganti tanaman Dewa yang mati dengan membelikannya yang baru. Namun sampai saat ini Bianca belum menepati janjinya itu. Lamunan Bianca buyar saat di depan wajahnya ia di hadapkan oleh secarik kertas berwarna kuning yang biasa dikenal dengan tiket menonton bioskop. Terlebih dulu ia memperbaiki posisi duduknya kemudian tangannya mengambil tiket tersebut sambil menoleh ke arah Dewa. “Maksudnya? Kamu mengajak saya nonton bioskop?” Dewa berjalan melewati Bianca kemudian mendaratkan b****g di kursi satunya. “Jangan ge-er. Tadi ada teman saya yang memberikan itu” “Tapi ini tiketnya cuma dua, kalo saya ajak Mayra kasihan Ocha kalo saya ajak Ocha kasihan Mayra” Pria berkaus putih itu menoleh. “Yasudah kalo begitu saya temani” Sontak Bianca menoleh kemudian tertawa. “Bilang aja kalo dari awal kamu mau mengajak saya nonton” Melihat Bianca tertawa membuat Dewa ikutan tertawa. “Loh saya kan cuma mau menemani kamu yang nggak punya teman untuk menonton” “Ya ya ya, suka-suka kamu aja” Bianca mengangguk-anggukan kepala Beberapa jam kemudian, Dewa sudah rapih dengan kemeja hitam lengan panjang dan celana panjang berwarna cappucino. Ia keluar kamar sambil menggulung lengan kemejanya sampai siku lalu mengangkat wajahnya sekilas melihat ke arah kamar Bianca dimana pintunya masih tertutup rapat yang menandakan bahwa gadis tersebut belum selesai bersiap-siap. Sambil menunggu Bianca ia memutuskan untuk menunggunya di sofa ruang tengah kemudian mengeluarkan ponsel guna mengusir rasa bosannya sambil menunggu. Sementara itu di kamar Bianca, gadis itu sedang memoles wajahnya dengan skincare yang selama ini tergeletak begitu saja di meja rias. Ya, seperti perempuan di luar sana Bianca pun membutuhkan skincare untuk merawat wajahnya. Namun ia hanya menggunakannya saat diawal-awal saja karena lama kelamaan ia merasa malas memakai itu semua. Beruntung wajahnya tidak bermasalah selama ia tidak menggunakan skincare itu. Dan sekarang sekitar sudah sejak dua minggu lalu Bianca kembali menggunakan skincarenya. Entah karena hal apa. Begitu langkah terakhirnya memoles bibirnya dengan lipstick selesai, ia langsung bangkit berdiri kemudian mematut sekali lagi penampilannya di cermin. Ada rasa menggelitik dalam perutnya begitu menyadari bahwa ia akan pergi menonton bioskop bersama dengan Dewa terlebih lagi saat mengingat bagaimana pria itu mengajaknya tadi. Apa Bianca boleh mengatakan kalau hal semacam ini adalah kencan? Begitu selesai Bianca langsung menyambar sling bag-nya kemudian berjalan keluar kamar. Terdengar suara pintu yang dibuka diiringi dengan semerbak wangi harum parfum yang sepertinya mulai dihafal oleh Dewa. Pria itu menoleh dan dalam sepersekian detik ia matanya seakan terpaku memandang Bianca. Gadis itu memakai jeans hitam ditimpali dengan kaus putih yang kemudian dibalut dengan outer longgar berwarna navy. Ada yang berbeda dengan gadis itu, Bianca sedikit mengcurly rambutnya dibagian bawah membuat rambutnya terlihat lebih bervolume. Rambut sepunggungnya ia jepit setengah dengan jepitan. Dengan sling bag dan flat shoes hitam yang semakin mempercantik penampilannya. Jujur saja Dewa seperti melihat Bianca dalam bentuk yang berbeda. Selama hampir dua bulan tinggal bersama ia sudah terlalu sering melihat Bianca dengan setelan kaus dan celana piyama favoritnya. Dewa juga sudah biasa melihat gadis itu dengan setelan kerjanya. Namun ia jarang sekali melihat Bianca berpenampilan seperti ini. Karena biasanya jika ia mengajak gadis itu keluar untuk membeli makanan atau ke supermarket, ia hanya menggunakan hoodie saja. Dan sepertinya Dewa baru menyadari kalau gadis yang sering kali ia anggap aneh itu ternyata gadis yang cantik. Walaupun ia tahu kalau semua perempuan pasti cantik tetapi Bianca berbeda. Lebih cantik mungkin. Melihat Dewa yang hanya terus menatapnya membuat Bianca menjadi salah tingkah. Ia menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal kemudian berdehem pelan. Beruntung pria itu langsung tersadar yang kemudian langsung mengalihkan pandangannya. “Mau berangkat kapan?” tanya Bianca Dewa bangkit dari duduknya. “Kalo emang udah selesai yaudah berangkat sekarang aja” Gadis itu menganggukkan kepala kemudian berjalan lebih dulu dengan Dewa di belakangnya. *** “Kamu ngerti nggak sama jalan cerita filmnya? Kok saya nggak ngerti ya” Itu yang diucapkan Bianca begitu film selesai diputar dan lampu kembali dinyalakan. Dewa menoleh dengan tatapan yang aneh. “Gimana kamu mau ngerti kalo di tengah film kamu malah tidur” “Oh ya? Masa sih?” Dewa berdecak. “Nggak usah pura-pura” “Kayaknya saya ketiduran” Bianca tertawa Ini bukan pertama kalinya Dewa menonton film dengan seorang perempuan. Ini sudah sekian kalinya tetapi baru kali ini ia mendapatkan seorang perempuan yang menonton film bersamanya malah ketiduran saat film sedang diputar. Biasanya Dewa yang akan tertidur tetapi sekarang malah berkebalikan. Bagaimana Dewa tidak bisa menyebut kalau gadis itu aneh. Baru saja tadi ia memuji kalau Bianca gadis yang cantik—walaupun hanya dalam hati—tetapi sekarang gadis itu sudah menunjukkan kembali keunikannya. Mereka sudah keluar dari teater bioskop, saat ini Bianca sedang berdiri menunggu Dewa yang masih berada di toilet. Karena malam ini malam Minggu maka bioskop terlihat lebih ramai dari biasanya bahkan Bianca sendiri sampai pusing melihat banyaknya orang yang berlalu lalang disekitarnya. Ia jadi berpikir apa semua orang yang akan bermalam Minggu memilih pergi ke bioskop sehingga membuatnya menjadi ramai seperti ini. Sekali lagi Bianca menoleh ke arah pintu toilet pria kemudian mencebikkan bibir. Dewa lama sekali, ia sudah pegal menunggu dan ia juga ingin segera pergi dari tempat ini. Saat gadis itu kembali menolehkan kepalanya ke depan ia melihat seorang pria dengan wajah yang sudah familiar untuknya berjalan menghampirinya sambil menggandeng tangan seorang wanita dengan pakaian yang cukup sexy menurut Bianca. Itu Ryon yang entah bersama dengan siapa. “Hai Bi, di sini juga. Sama siapa?” Bianca tersenyum tipis. “Sama seseorang, sekarang lagi di toilet” “Oh gitu, kenalin Monica—pacar baru” ucapnya disertai senyuman yang menurut Bianca terlihat menyebalkan Wanita bernama Monica itu mengulurkan tangan mengajak kenalan Bianca pun membalas uluran tangan tersebut sambil mengucapkan nama. Setelah itu Bianca melihat kalau Monica mengatakan pada Ryon kalau ia ingin ke toilet. Ryon menganggukkan kepala sambil tersenyum ke arah Monica. Mual, Bianca membuang wajah melihat hal tersebut di depannya. “Sekarang kamu tahu kan apa yang membuat aku lebih memilih Monica dibanding kamu” Dahi Bianca berkerut bingung. “Maksudnya?” Ryon tidak menjawab, ia hanya menggerakkan kedua tangannya seperti sedang membentuk body seseorang. Kemudian setelahnya ia tertawa dan Bianca tidak bodoh untuk tidak mengerti hal tersebut. Ia mengerti maksud Ryon, ia yang lebih memilih Monica dibanding dirinya karena Monica memiliki bentuk body yang lebih aduhai dibanding dirinya. Dan juga Monica itu sexy tidak seperti dirinya, itu yang paling penting bagi Ryon. Bianca menarik salah satu sudut bibirnya. “Dasar m***m!” Mendapat u*****n dari Bianca justru malah membuat Ryon tertawa sebelum akhirnya pergi. Bianca jadi berpikir kalau mantan pacarnya itu sudah tidak waras. Bisa-bisanya ia dulu pernah berpacaran dengan pria seperti itu. “Yang tadi itu siapa?” Gadis itu menoleh begitu mendengar suara Dewa. “Nanti saya ceritain kita pergi dulu dari sini” refleks Bianca menarik tangan Dewa untuk segera pergi dari bioskop Dan sekarang di sinilah mereka berada, di salah satu restoran yang mereka jadikan untuk tempat mereka makan malam. Dewa melirik ke arah Bianca dengan rambut yang sudah dikuncir kuda menyisakan anak-anak rambutnya yang membingkai wajah tengah mengunyah makanannya sambil melihat sekeliling restoran yang terlihat ramai. Beberapa menit lalu gadis itu mengatakan akan menceritakan mengenai pria yang tadi dilihat Dewa mengobrol dengannya saat di bioskop. Tetapi sampai saat ini gadis itu masih bungkam. “Jadi, siapa cowok tadi?” akhirnya Dewa memulai lebih dulu Bianca menghentikan kunyahannya kemudian menatap Dewa sebentar. “Mantan pacar” “... Dulu sempet pacaran terus putus karena dia lebih memilih perempuan lain. Dan tadi dia mau pamer pacar barunya, dia bilang alasannya lebih memilih perempuan itu karena body dan keseksiannya” Bianca menarik salah satu sudut bibirnya lalu menggeleng-gelengkan kepala. “Nggak abis pikir aja ternyata otaknya se-m***m itu” Mendengar cerita Bianca barusan Dewa mengangguk-anggukan kepala mengerti. Sambil menikmati makannya ia menanggapi cerita gadis di depannya. “Seharusnya kamu bersyukur bisa bebas dari cowok kayak gitu. Karena cowok kayak gitu nggak bisa mencintai kamu dengan tulus dan saya kasihan dengan perempuan itu dia dipilih hanya karena hal seperti itu” “Betul. Sedikit pun saya nggak menyesal putus dengan dia justru saya menyesal pernah pacaran dengan cowok gila seperti dia” Dewa tersenyum. “Sepertinya kita punya cerita yang sama” “Oh ya? Apa itu?” *** Jam menunjukkan pukul sepuluh malam Bianca dan Dewa sudah berada dalam perjalanan pulang. Suasana mobil yang hening membuat mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Namun tak lama berselang Bianca yang sebelumnya menatap keluar jendela secara tiba-tiba meminta Dewa menghentikan mobilnya. “Stop stop stop!” Refleks Dewa menginjak pedal remnya. Beruntung kondisi jalanan sepi sehingga tidak ada mobil yang menabraknya dari belakang. Dewa kemudian menepikan mobilnya. “Kenapa sih?” Bianca sedikit menolehkan kepalanya. “Saya mau makan martabak itu” Dewa pun ikut menolehkan kepalanya. Beberapa meter di belakang mereka terlihat sebuah ruko penjual martabak. Dewa sendiri tidak tahu apa spesialnya martabak tersebut sampai Bianca meminta untuk makan di sana. Terlebih saat ia melihat wajah gadis itu yang seperti sedang memohon padanya membuat Dewa mau tak mau langsung memundurkan mobilnya. Padahal sebelumnya Bianca mengatakan kalau ia sudah kenyang dan tidak ingin makan lagi. Tetapi sekarang gadis itu justru memesan satu porsi martabak rasa coklat kacang yang sudah di hidangkan di hadapan mereka. Awalnya Dewa berinisiatif agar mereka menikmati martabak tersebut di rumah saja namun gadis itu menolak dan mengatakan ingin makan di sana. Lagi-lagi Dewa dibuat bingung dengan Bianca. Begitu martabak sudah disajikan di meja mereka Bianca tak langsung menyantapnya. Ia hanya terus memandangi martabak tersebut membuat Dewa semakin bingung melihatnya. “Kenapa nggak dimakan?” “Kamu tahu nggak, diantara banyaknya penjual martabak yang ada di Jakarta ini menjadi martabak favorit saya” “Kenapa begitu?” Bianca mengangkat wajah kemudian menatap Dewa. “Karena dulu sewaktu kecil saya sering kali makan martabak di sini bersama dengan orang tua saya” Mendengar jawaban Bianca barusan sepertinya Dewa mulai mengerti dengan maksud gadis itu. Tempat ini menyimpan kenangannya bersama dengan orang tuanya. Kemudian Bianca nampak mengedarkan pandangan ke sekitar. “... Dulu tempatnya belum seperti ini cuma tenda seperti penjual nasi goreng. Dulu juga yang jual itu bapaknya tapi sekarang bapaknya sudah nggak ada dan turun temurun ke anaknya. Dari kecil saya itu suka banget sama martabak coklat kacang, hampir setiap hari sebelum ayah saya berangkat kantor saya selalu bilang kalau pulang nanti beli martabak” Ia bercerita dengan pandangan menerawang ke depan dan tangan yang terlipat di atas meja. “... Bahkan terkadang disaat saya tidak mengatakan itu ayah saya selalu pulang dengan membawa martabak. Sesekali kami akan makan langsung di sini. Pernah suatu hari karena ayah saya lembur ayah lupa membelikan martabak, saya menangis sampai akhirnya ketiduran” Gadis itu mengakhiri ceritanya dengan senyuman tipis diwajahnya. Dari pancaran matanya Dewa bisa melihat kalau Bianca sedang merindukan sosok kedua orang tuanya. Ia juga bisa melihat kedua mata gadis itu yang berkaca-kaca. Sebenarnya ada apa antara Bianca dan orang tuanya? Dan dimana orang tuanya sekarang? “Ceritakan saja semuanya, saya nggak keberatan mendengarkan” Bianca menatap Dewa kemudian tersenyum. “Terimakasih. Yaudah sekarang makan martabaknya, kamu harus coba. Ini enak” ia mengambil satu potong kemudian mendorong piring ke arah Dewa Melihat Bianca sekarang seperti melihat sebuah teka-teki yang sulit dipecahkan. Gadis itu seperti menyembunyikan suatu hal besar dalam hidupnya yang tidak ingin ada orang lain yang mengetahuinya. Bianca dan orang tuanya, itu akan menjadi teka-teki besar untuk Dewa. Dan saat ini melihat gadis itu yang sudah lahap menikmati martabaknya, Dewa sangat tahu bahwa ia hanya sedang berakting bahwa ia baik-baik saja. Padahal jauh dalam lubuk hatinya ia sedang hancur karena dengan menikmati martabak dan berada di tempat ini justru membuatnya kembali teringat dengan kenangan yang begitu berarti dalam hidupnya. Lihat saja sejak tadi gadis itu terus memandang ke arah lain enggan memandang Dewa dan matanya terus berkedip seakan sedang menghalau sesuatu yang akan keluar dari matanya. Sebenarnya kamu kenapa Bianca?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD