Di sebuah rumah, lebih tepatnya di ruang tengah terlihat tiga orang gadis yang duduk di lantai bersandar pada sofa dengan banyak cemilan dan minuman yang ada di depan mereka. Mereka adalah Bianca, Mayra dan Ocha yang sedang menonton dvd drama Korea yang baru saja dibeli Ocha. Hari ini mereka memang janjian untuk menonton bersama di rumah Bianca tentunya dengan sebelumnya memastikan kalau Dewa akan pulang larut malam. Itu syarat mutlak dari Mayra.
Bianca, Mayra dan Ocha—tiga serangkai yang sudah bersahabat sejak duduk di bangku kelas satu SMA. Selama tiga tahun berada di kursi sekolah menengah atas itu mereka selalu bersama. Sampai-sampai banyak yang menyebut mereka cewek paket karena tiap kali ada Bianca maka disitu ada Mayra dan Ocha begitu juga sebaliknya.
Melisa Pranindya atau yang lebih sering dipanggil Ocha. Sebenarnya akan lebih pas ia dipanggil dengan nama Icha tapi sayangnya ia tidak mau. Katanya nama Icha sudah biasa dan ia ingin yang sedikit berbeda sehingga memilih nama Ocha untuk nama panggilannya. Ocha, gadis cantik berambut sepunggung kecoklatan, tinggi dan body-nya pun bagus. Tetapi sayangnya gadis itu selalu merasa kalau ia gendut dan sering kali meminta Bianca untuk mengatur pola makan dietnya. Padahal menurut Bianca sahabatnya itu tidak gendut atau pun kurus, pas katanya.
Diantara mereka bertiga Ocha yang paling sering asal kalau berbicara. Apa yang ada dipikirannya itu pula yang akan ia ucapkan. Selain itu ia juga yang paling berani dan sedikit tomboy. Saat SMA dulu mereka bertiga sering kali mendapat hukuman dari guru karena mengikuti Ocha. Misalnya bolos saat jam pelajaran, memanjat gerbang sekolah karena terlambat, tidak mengumpulkan tugas, berada di kantin saat praktik kimia dan lain sebagainya.
Sedangkan Mayra, ia berkebalikan dengan Ocha. Namanya Mayra Azzahra, gadis berhijab yang memutuskan berhijrah saat duduk di bangku kuliah. Entah apa yang membuatnya memilih berhijrah karena Mayra saat SMA dulu jelas berbeda dengan Mayra yang sekarang.
Dulu Mayra masih mau jika diajak untuk bolos, memanjat gerbang, tidak mengerjakan tugas atau pun sebagainya oleh Ocha. Tetapi sekarang jika Ocha atau Bianca memintanya melakukan sesuatu yang melanggar maka ia akan langsung menolaknya. Bahkan tak segan-segan jika melanggar hal yang dilarang oleh agama, ia akan langsung mengeluarkan sebuah hadist. Kalau sudah begitu baik Bianca dan Ocha bisa apa.
Mayra gadis yang cantik, lemah lembut dan sholehah juga tentunya. Suaranya sangat merdu saat membaca Al Quran. Diantara mereka bertiga Mayra lebih sering berperan sebagai penasihat terlebih saat Ocha berbicara sesuatu yang salah. Tak jarang juga mereka berdua akan berdebat karena suatu hal. Namun Ocha akan langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat jika Mayra sudah menyangkut pautkannya dengan hadist. Mayra memang sosok yang sangat agamis, berbeda dengan Bianca dan Ocha. Meskipun begitu mereka tetap bersahabat dengan baik. Tak jarang tiap kali Ocha dan Bianca mempunyai masalah, orang pertama yang akan mereka mintai saran adalah Mayra.
Lulus SMA mereka berkuliah namun di kampus yang berbeda. Bianca dengan jurusan ilmu gizinya, Mayra dengan jurusan ekonomi dan Ocha dengan jurusan hukum. Walaupun mereka berbeda kampus tetapi hubungan mereka tak merenggang sedikit pun. Tiap akhir pekan mereka selalu menyempatkan untuk bertemu, entah untuk menonton bioskop, berjalan-jalan ke mall atau sekadar bersantai-santai di rumah Bianca. Ya, rumah Bianca memang sudah seperti basecamp bagi mereka.
Setelah lulus kuliah dan sampai dengan saat ini disaat mereka sudah memasuki dunia kerja, mereka masih bersahabat dengan baik. Sekarang ini Ocha sudah berprofesi sebagai fotographer, sangat menyimpang memang dengan jurusan kuliahnya. Tetapi mau bagaimana lagi, ia merasa nyaman dan senang dengan pekerjaannya saat ini. Sementara Mayra ia memiliki sebuah toko kue. Selain cantik, lemah lembut dan sholehah, ia juga jago dalam hal membuat kue. Sungguh Mayra ini cerminan istri yang diidam-idamkan seorang ibu mertua.
Mereka selalu merasa ada yang kurang tiap kali dalam satu minggu mereka tidak bertemu. Walaupun terkadang mereka sulit mengatur waktu karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing tetapi sebisa mungkin mereka menyempatkan waktu untuk bertemu. Seperti sekarang contohnya. Bagi Bianca, mereka adalah orang-orang terpenting dalam hidupnya. Sahabat terbaiknya yang selalu ada disaat dirinya susah atau pun senang. Bahkan saat Bianca berada di titik terpuruk dalam hidupnya mereka selalu setia menemani.
“Bi, emang Dewa pulang jam berapa?” tanya Ocha
Bianca yang sedang mengupas kuaci menoleh. “Biasanya sih jam tujuh udah pulang tapi tadi katanya lembur jadi pulangnya agak malem”
“Kamu udah sedeket itu Bi sama dia?” sambar Mayra
“Ya lo pikir aja Ra tiap hari ketemu, tinggal bareng begini gimana nggak deket coba” sahut Ocha
Jawaban Ocha memang ada benarnya dan Bianca sendiri tidak memungkiri hal tersebut. Dua minggu berlalu yang itu artinya sudah satu bulan mereka tinggal bersama di atap yang sama. Ia tidak bisa menampik bahwa hubungan keduanya makin dekat. Mereka cukup terbilang sering menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama. Entah terkadang Bianca yang memulai atau pun Dewa yang memulai.
“Satu bulan tinggal bareng lo nggak mau bikin drama gitu Bi?” sambung Ocha lagi
“Drama apa?”
Mayra dan Bianca menoleh ke arah Ocha menunggu jawaban gadis itu. “Ya misalnya pura-pura lampu kamar lo mati, atap lo bocor atau apa gitu”
“Biar apa?” tanya Bianca tak mengerti dengan maksud ucapan Ocha
Ocha mencebikkan bibirnya. “Biar lo bisa bobo bareng sama Dewa” ia menyengir
Sontak Bianca hampir saja tersedak kulit kuaci mendengar jawaban Ocha. Sedangkan Mayra langsung beristighfar mendengarnya. “Astaghfirullah Ocha!”
Melihat reaksi dua sahabatnya Ocha langsung tertawa. Ia hanya bercanda mengatakan hal seperti itu tetapi sepertinya Bianca dan Mayra menganggapnya serius. Tetapi ia merasa lucu juga mengerjai sahabatnya seperti ini terlebih lagi Mayra terlihat begitu syok sampai-sampai ia seperti ingin mengeluarkan hadist untuk Ocha.
Sementara itu diwaktu yang bersamaan namun tempat berbeda. Tepatnya di sebuah ruangan luas yang berada di lantai tertinggi sebuah gedung terlihat seorang pria yang masih betah berada di kursi kebesarannya. Sebuah jas hitam sudah ia lepaskan dari tubuhnya yang ia sampirkan pada lengan sofa yang ada di sana. Lengan kemeja sudah ia gulung sampai siku dengan simpulan dasinya yang juga sudah mengendur.
Dewa, pria itu. Ia masih terlihat begitu serius menatap layar laptop di depannya. Beberapa kertas dan file terlihat berantakan di atas mejanya. Biasanya tiap kali lembur begini ia akan dibantu oleh sekertarisnya. Tapi sayangnya saat ini sekertarisnya sedang terbaring lemah di rumah sakit karena demam berdarah membuat Dewa harus menyelesaikan semuanya sendiri.
Pria itu menghela nafas sembari menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Matanya terpejam dengan salah satu tangannya yang bergerak memijit pelipisnya. Seharian bekerja benar-benar membuatnya merasa sangat lelah. Rasanya ia tidak sanggup jika harus meneruskan pekerjaannya, masih ada hari esok. Ia juga manusia biasa yang membutuhkan istirahat dan makan tentunya. Ya, Dewa merasa lapar.
Ia merapihkan mejanya, mematikan laptop kemudian menumpuk filenya menjadi satu. Kemudian Dewa bangkit berdiri, ia menyambar ponsel beserta kunci mobil. Tak lupa juga mengambil jasnya di sofa lalu berjalan keluar ruangan menuju mobilnya yang berada di basement. Satu hal yang menguntungkan jika ia harus lembur seperti ini. Jalanan tidak terlalu macet seperti jam pulang kantor pada umumnya. Jika memang macet itu pun hanya karena lampu lalu lintas.
Setengah jam kemudian Dewa sudah tiba di rumah Bianca, ia memarkirkan mobilnya di garasi. Kemudian mematikan mesin mobil dan bersiap turun dengan satu tangan yang memegang jas miliknya. Pria itu membuka pintu utama kemudian menutupnya lagi. Ia melangkah masuk ke dalam sambil memijit tengkuk lehernya yang terasa pegal dengan tangan kanannya.
Begitu tiba di ruang tengah langkahnya terhenti saat matanya tanpa sengaja melihat sosok dua orang gadis yang sedang duduk di lantai dengan cemilan di depan mereka. Dewa mengenal mereka—Mayra dan Ocha. Ocha yang masih menatap ke arahnya sementara Mayra sudah menundukkan wajah menjaga pandangannya. Sekilas Dewa melirik ke arah layar tv yang menayangkan sebuah drama Korea. Seketika Dewa merasa gugup karena ia benar-benar tidak tahu kalau ada Mayra dan Ocha di sana. Ia sendiri tidak mengerti mengapa dirinya harus gugup, apa mungkin karena ada Mayra?
Tidak tahu harus bagaimana Dewa hanya bisa menganggukkan sedikit kepalanya sebagai sapaan pada Ocha yang juga dibalas demikian oleh Ocha. Lalu pria itu memilih langsung masuk ke dalam kamarnya. Tetapi tunggu, ia tidak melihat Bianca di sana? Dimana sebenarnya gadis itu?
“Tuh kan dia udah pulang, aku kan udah ajak kamu pulang daritadi” ujar Mayra dengan suara pelan
“Yaudah yuk kita pulang”
Mayra dan Ocha langsung membereskan barang-barang mereka kemudian memasukkannya ke dalam tas. Kemudian tak lupa juga mereka memunguti sampah-sampah cemilan mereka. Disaat yang bersamaan Bianca yang baru saja dari kamar mandi mengernyitkan dahi bingung saat melihat kedua sahabatnya nampak sedang beres-beres.
“Kalian mau kemana?”
“Pulang. Laki lo udah pulang tuh” jawab Ocha sekenanya
“Hish kalo ngomong suka asal” Bianca menarik rambut Ocha yang membuat gadis itu tertawa
Sementara di dalam kamar, Dewa duduk di tepi ranjang kemudian melepaskan dasi dan menarik keluar ujung kemejanya. Tangan kanannya bergerak meraba d**a kirinya dimana ia merasakan detak jantungnya yang berdetak cepat karena melihat sosok Mayra tadi. Debaran itu masih sama seperti beberapa tahun lalu. Dan debaran itu masih menjadi milik orang yang sama.
Ya, Dewa menyukai Mayra. Bahkan sejak lama, sejak mereka berada di kampus yang sama. Dulu Dewa adalah kakak senior Mayra di kampus namun sayangnya Mayra tidak menyadari hal itu karena memang ia tidak mengenal Dewa. Dewa yang melihat Mayra sebagai sosok perempuan yang sholehah yang selalu menjaga jarak dengan lawan jenisnya tidak tahu bagaimana caranya ia harus mendekati gadis itu sampai akhirnya ia memutuskan untuk memendam perasaannya.
Setelah lulus kuliah Dewa tetap memendam perasaannya dan tidak lagi bisa melihat Mayra meskipun dari kejauhan. Satu sampai dua tahun berlalu ia berhasil melupakan Mayra dengan hadirnya sosok lain yang mengisi hatinya. Dewa sempat berpacaran dengan kekasihnya sebelum akhirnya mereka putus karena kekasihnya memilih pria lain. Satu tahun kemudian ia kembali dipertemukan oleh Mayra, saat itu sedang mengantarkan ibunya membeli kue di sebuah toko. Dan siapa yang menduga kalau ternyata toko kue tersebut milik keluarga Mayra.
Perasaan yang dulunya tertimbun kembali muncul ke permukaan. Rasa itu kembali menyelimuti hatinya. Keinginan untuk mendekati gadis itu kembali dirasakan Dewa namun lagi-lagi ia tak tahu bagaimana caranya. Saat itu hampir setiap hari setiap pulang kantor Dewa selalu ke toko kue tersebut, ia hanya berdiam diri di dalam mobil memandangi Mayra yang cekatan melayangi pengunjung.
Sampai pada akhirnya Dewa melihat sosok Bianca dan Ocha. Bukan hanya sekali tetapi cukup sering melihat mereka bersama dengan Mayra. Dari situ Dewa menyimpulkan bahwa mereka adalah sahabat dekat Mayra karena mereka terlihat begitu akrab. Suatu hari Dewa melakukan hal yang menurutnya sangat konyol, ia membuntuti mobil yang membawa tiga gadis itu yang rupanya menuju rumah Bianca.
Begitu tiga gadis itu memasuki rumah Bianca, Dewa langsung keluar dari mobilnya. Ia memandangi rumah Bianca dan tanpa sengaja matanya melihat sebuah selembaran yang tertempel di tembok gerbang rumah tersebut. Dalam selembaran tersebut tertulis,
Terima Kamar Kost Putri
Fasilitas: AC (√), Televisi (√), Kulkas (√), Jemuran (√), Dapur (√), Kamar mandi (√), Garasi (√). Kamar nyaman, aman, tentram dan damai. Hubungi : Bianca (0812345679)
Ide gila langsung muncul dalam benak Dewa begitu ia membaca selembaran tersebut. Mungkin dengan menyewa kamar di rumah salah satu sahabat Mayra ia bisa dekat dengan gadis itu. Misalnya dengan meminta bantuan sahabatnya untuk mendekati mereka. Secara mudah dan gamblangnya anggap saja ia memanfaatkan Bianca untuk bisa dekat dengan Mayra. Begitu kan?
Tetapi tidak, Dewa tidak ingin seperti itu. Ia tidak ingin terlihat seperti pria jahat yang memanfaatkan orang lain demi untuk kepentingannya sendiri. Tidak, Dewa bukan pria seperti itu. Masih banyak cara untuk bisa mendekati Mayra. Dan saat itu Dewa tidak menjalankan ide gilanya, ia langsung pergi dari rumah Bianca namun dengan membawa selembaran tersebut.
Beberapa bulan kemudian disaat perasaannya semakin menggebu untuk Mayra namun otaknya juga buntu tidak tahu harus melakukan apa. Dewa kembali mengambil selembaran yang ia simpan dan tanpa berpikir lagi ia langsung menghubungi nomor Bianca. Seperti yang sekarang diketahui, Dewa sedang melakukan ide gilanya. Lihat saja apa yang nanti terjadi, bagaimana reaksi Bianca jika ia mengetahui semuanya?
***
Keesokan paginya Bianca sudah rapih dengan setelan kerjanya, ia keluar kamar kemudian menuju meja makan. Di sana sudah tersaji dua piring nasi goreng yang tadi ia buat untuk menu sarapannya bersama dengan Dewa. Tetapi tidak seperti biasanya pria itu belum keluar kamar di jam segini. Sambil meletakkan tasnya di kursi Bianca melirik ke arah pintu kamar Dewa yang masih tertutup rapat. Apa ia harus mengetuknya dan mengajaknya sarapan bersama?
Saat Bianca masih sibuk dengan pikirannya terdengar suara pintu yang dibuka. Tanpa menoleh Bianca sudah tahu kalau itu adalah Dewa. Buru-buru gadis itu langsung duduk di kursinya dan mulai menyantap nasi goreng. “Wow nasi goreng” ujar Dewa begitu melihat sepiring nasi goreng untuknya
Sebenarnya baru satu minggu ini Bianca sesekali menyiapkan sarapan untuknya dan juga Dewa. Hal ini bermula saat Dewa yang juga menyiapkan sarapan untuknya. Walaupun hanya roti yang diolesi selai cokelat tetapi entah kenapa Bianca merasa senang. Belum lagi terkadang tiap pulang kantor Dewa selalu membawa makanan atau pun lauk untuk makan malam mereka. Jadi menurut Bianca tak ada salahnya kalau mulai sekarang sesekali ia akan menyiapkan sarapan atau pun makan untuknya dan juga Dewa.
Pria itu sedang menikmati sarapannya kemudian melirik ke arah Bianca. “Tadi malam teman kamu langsung pulang?”
“Hm”
“Mereka nggak nyaman karena ada saya? Terutama teman kamu yang berjilbab itu”
Sebenarnya Dewa sedang mencari tahu alasan kenapa selama ini Mayra seperti selalu menghindari dirinya. Karena bukan hanya tadi malam mereka langsung pulang begitu Dewa tiba di rumah, sebelumnya pun demikian. Padahal setiap kali ada mereka di rumah Bianca, Dewa merasa senang dengan harapan ia bisa ikut bergabung mengobrol dengan mereka. Walaupun target utamanya tetap Mayra.
Bianca menatap Dewa. Otaknya jadi bertanya-tanya apa mungkin Dewa menyadari hal tersebut. Gadis itu terlebih dulu menelan nasi gorengnya kemudian menjawab pertanyaan Dewa. “Maksudnya Mayra? Bukannya nggak nyaman tapi Mayra memang selalu menjaga jarak dengan lawan jenisnya”
Dewa mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. “Oh begitu, ya saya mengerti”
“Kamu nggak kerja?” tanya Bianca begitu menyadari Dewa yang masih memakai kaus dan celana pendek
“Berangkat siang”
“Karyawan macam apa yang bisa mengatur jadwal masuk kantornya”
Mendengar hal tersebut Dewa tersenyum. “Saya bos-nya, jadi saya bebas mengatur jadwal masuk kantor”
Kunyahan dimulut Bianca berhenti mendengar ucapan Dewa. “Bos? Yang benar saja” ia tertawa meremehkan
“Kenalkan Radewa Gevandra Nugroho—CEO Pratama Group” ia mengulurkan tangan seperti mengajak berkenalan
Bianca tertawa kemudian melepaskan sendok di tangannya lalu memukul tangan Dewa. “Nggak usah mimpi”
Melihat hal tersebut Dewa pun ikut tertawa kemudian bangkit dari kursinya pergi meninggalkan dapur. Bianca sendiri tidak tahu apa yang ingin dilakukan pria itu, ia hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum simpul kemudian kembali menikmati sarapannya. Rasanya tidak mungkin jika seorang Dewa yang sekarang ini menyewa kamar di rumahnya adalah seorang CEO dari perusahaan besar. Sungguh mustahil.
Namun lagi-lagi kunyahan di mulut Bianca terhenti saat sebuah kertas kecil seperti kartu nama yang tiba-tiba berada di depan wajahnya. Bianca membaca nama yang tertera di sana bahkan ia sampai mengambil kartu nama tersebut dan melebarkan matanya untuk memastikan bahwa matanya tidak salah. Radewa Gevandra Nugroho—CEO Pratama Group. Kemudian gadis itu menolehkan kepalanya ke samping menatap Dewa yang berdiri di sampingnya dengan wajah sombong dan tangan terlipat di d**a.
“Ini beneran?”
Dewa kembali duduk di kursinya. “Silahkan cari di google, CEO Pratama Group—saya bisa pastikan nama saya yang akan muncul dalam pencarian tersebut”
“Wow” gumam Bianca setelah menelan nasi gorengnya. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menatap kartu nama di tangannya lalu menatap pria di depannya. Bianca benar-benar terkejut luar biasa dengan hal tersebut. Suatu hal yang ia pikir mustahil justru menjadi fakta sekarang. Bianca mengambil gelasnya kemudian meneguknya sampai setengah. Melihat reaksi Bianca yang menurutnya berlebihan membuat Dewa tertawa.
“Kamu beneran CEO, pemilik dari perusahaan besar itu?” tanya Bianca lagi
Dewa menganggukkan kepala mantap. “Iya, saya pemilik perusahaan itu”
“Kalo kamu pemilik perusahaan kenapa kamu menyewa kamar di sini? Nggak mungkin seorang pemilik perusahaan besar nggak punya rumah atau pun apartemen” tanyanya dengan mata yang memicing
Kali ini gantian kunyahan Dewa yang terhenti. Ia tidak pernah berpikir Bianca akan menanyakan hal tersebut setelah ia mengetahui siapa Dewa yang sebenarnya. Tetapi Dewa tidak akan mengatakan yang sejujurnya, itu sama saja cari mati. Ia harus terlihat biasa saja, tidak boleh gugup. Terlebih dulu Dewa meneguk air putihnya sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Bianca.
“Saya memang mempunyai rumah tapi sedang dalam tahap pembangunan dan kebetulan apartemen saya pun jauh dengan kantor yang akhirnya membuat saya memilih menyewa kamar di sini”
Gadis itu mengangguk-anggukan kepala tanda ia menerima jawaban Dewa. “Kalo saya tahu dari awal soal ini biaya sewa kamar akan saya naikkan tiga kali lipat”
Bianca menaikkan jari telunjuk dan jari tengahnya tepat di depan wajah Dewa. Sontak Dewa tertawa karena merasa ucapan dan apa yang dilakukan gadis itu tidak sinkron. Ia mengatakan akan menaikkan biaya tiga kali lipat tetapi jari tangannya menunjukkan dua. Bagaimana mungkin Dewa tidak tertawa melihatnya.
“Jarinya kurang satu” Dewa menaikkan jari manis Bianca sehingga menjadi tiga
Gadis itu yang baru menyadari hal tersebut pun langsung tertawa begitu juga dengan Dewa. Walaupun terkadang Bianca suka berpenampilan aneh dengan pakaiannya Dewa tidak bisa memungkiri bahwa terkadang Bianca bisa menjadi gadis yang lucu. Seperti sekarang contohnya.