“Lihat deh kak, kalungnya bagus banget kan.” Violet memamerkan kalung pemberian Alvaro kepada para pelayan. Para pelayan yang melihatnya hanya mampu menahan liur agar tidak jatuh karena melihat kalung yang sangat indah itu. Mereka mulai berandai-andai jika mereka memiliki kalung seperti itu, pasti akan sangat membahagiakan.
“Iya bagus. Tapi nih ya Violet, apa gak berlebihan tuan Alvaro udah beliin kamu mobil, belanjain mah biasa aja kak, Alvaro mah kaya,” balas Violetsantai.
“Eh tapi Violet, sebenarnya perasaan kamu sama tuan Alvaro itu gimana sih? Kalau kakak lihat kamu selalu aja godain dia, tapi kamu gak pernah kelihatan serius,” ucap Rika mengutarakan rasa penasarannya.
Violet dibuat terdiam sejenak mendengar pertanyaan Rika. Pertanyaan yang sebenarnya sangat sederhana, namun mengapa tiba-tiba terasa sulit untuk dijawab. Violet bangkit dari atas ranjang dan berjalan menuju jendela. Ia merenung sejenak sebelum akhirnya menjawab.
“Aku suka sama Alvaro, ya walaupun aku kelihatan gak serius, tapi aku benaran suka kok sama Alvaro. Aku gak ngerti sejak kapan, tapi jujur rasanya mudah banget jatuh ke pesona Alvaro. Tapi satu hal yang jadi masalahnya sekarang kak.” Violet berubah menjadi sendu. Rika dan Puri yang saat ini sedang berada di kamar Violet menatap gadis itu penasaran.
“Apa?” Tanya Puri ingin tahu.
“Dianya dingin banget. Ngomong aja kayak lagi mau pidato kelurahan, baku banget.” Violet sebenarnya sudah mulai frustrasi dengan sikap dingin Alvaro padanya. Memang Alvaro sering kali menunjukkan perhatian padanya, namun ia merasa Alvaro melakukannya hanya untuk formalitas. Maklum saja Violet merasa ia masih sangat muda, sedangkan Alvaro berperilaku padanya seolah-olah ia sudah sangat tua dan menjaga wibawa namun malah terkesan jaim bagi Violet. Padahal Alvaro bagi Violet masih sangatlah muda dan sesuai jika disandingkan dengan dirinya.
“Kamu nyalahin tuan, kamu aja ngomongnya nyablak banget. Pakai lo gue, gak ada manis- manisnya,” ledek Rika. Violet mencibir merasa tidak ada yang salah dengan panggilannya itu.
“Benar tu Violet, kamu harus ngomongnya lebih manis, biar tuan luluh,” saran Puri. Violet berpikir sejenak, memikirkan apakah itu cukup berpengaruh untuk sikap Alvaro selanjutnya padanya?
“Hmmm... boleh juga, entar deh aku coba. Pokoknya, aku mau bikin Alvaro jatuh cinta sama aku. Oh atau mungkin dia udah jatuh cinta tapi pura-pura cuek? Lagian siapa yang gak jatuh cinta sama Violet. Lihat aja, aku bakal bikin dia ngaku kalau dia cinta sama aku,” tekad gadis itu. Rika dan Puri saling berpandangan dan melemparkan tawa kecil mendengar semangat gadis itu yang menggebu-gebu.
“Violet... Violet... kamu harus lihat ini.” Violet, Rika dan Puri sontak menoleh ke ambang pintu kamar Violet saat mendengar suara Jeni. Jeni tiba-tiba masuk ke dalam kamar Violet sembari membawa sesuatu di tangannya. Saat sudah sampai di hadapan Violet, ia langsung memperlihatkan yang ia bawa.
“OMG!!!” Mulut Violet terbuka sempurna melihat apa yang dibawa Jeni. Rika dan Puri yang merasa penasaran langsung ikut bergabung dengan mereka. Mereka berdua langsung memberikan respons yang tidak jauh berbeda saat melihat sesuatu yang tak lain adalah majalah harian.
“Ini benaran aku? Sama. Alvaro?” Violet mengucapkan dengan nada agak ragu pada kalimat akhirnya. Bagaimana bisa ia dan Alvaro masuk ke dalam majalah harian ternama itu dan menjadi berita paling panas?
“Aaaaaaaaa setelah hidup bertahun-tahun, akhirnya aku masuk majalah juga. Ya ampun, untung foto aku cantik disini walaupun diambil secara diam-diam,” Violet memekik heboh. Jeni yang merupakan orang yang membawa kabar ini sempat dibuat kaget oleh respons Violet yang di luar dugaan. Ia kira Violet akan kaget, kesal, atau bahkan marah. Namun ia malah terlihat sangat girang.
“Mana judulnya gini lagi, masa aku dibilang pacar Alvaro, kan jadi mau,” gadis itu terkikik geli menyadari apa yang baru saja ia katakan. Rika yang saat itu posisinya paling dekat dengan Violet langsung mencubit pipi gadis itu gemas. Bisa-bisanya ia bersikap centil pada saat-saat seperti ini.
“Tuan Alvaro udah tahu belum ya?” Tanya Puri, sebenarnya ia yakin tidak ada satupun yang tahu jawabannya karena saat ini Alvaro sedang di kantor.
“Ya pasti tahu lah, pasti dia sekarang lagi kesenangan juga kayak aku,” balas Violet.
“Masa sih? Tuan Alvaro gak pernah loh diberitain di majalah tentang perempuan gini. Biasanya tentang prestasinya aja,” timpal Rika pula.
“Ya makanya itu Kak, aku ini pembawa keberuntungan. Buktinya semenjak sama aku langsung ada kan beritanya,” balas Violet bangga. Rika, Puri, dan Jeni hanya mampu saling bertatap, kurang yakin dengan penuturan Violet. Apalagi melihat sifat Violet dan Alvaro yang sudah sangat berbeda. Pasti respons mereka tentang berita ini juga sangat berbeda.
“Violet.” Violet dan ketiga pelayan itu sontak sama-sama menoleh ke arah ambang pintu saat mendengar suara yang terdengar berat khas pria itu memanggil nama Violet. Rika, Puri dan Jeni langsung bangkit dari ranjang Violet saat melihat Alvaro lah yang datang. Mereka sama-sama menunduk takut karena ketahuan duduk di ranjang Violet. Mereka merasa tidak sopan karena melakukan hal itu, meskipun sebenarnya Violet membebaskan mereka untuk melakukan apa pun di dalam kamarnya. Namun tetap saja mereka harus menjaga sikap di hadapan Alvaro.
“Kenapa?” Tanya Violet.
“Ikut saya,” ucap Alvaro yang terdengar seperti sebuah perintah. Alvaro kemudian melangkah menjauhi kamar Violet. Violet menautkan alisnya bingung, untuk apa Alvaro menemuinya? Bukankah Alvaro sudah pergi ke kantor? Merasa penasaran, akhirnya Violetpun langsung bergegas menyusul Alvaro yang sudah terlebih dahulu pergi ke lantai tiga mansion miliknya itu. Sepertinya ia akan membawa Violet ke ruang santai yang berada di lantai tiga.
***
“Kamu kok udah pulang? kangen ya sama aku? Makanya aku diajakin ke kantor dong, kan bisa nemanin kamu,” ucap violet menggoda Alvaro. Ia sebenarnya merasa geli saat mencoba untuk merubah panggilannya pada Alvaro agar lebih terdengar manis. Namun tidak ada salahnya mencoba, tidak begitu buruk.
Alvaro yang merasakan ada yang berbeda dari cara gadis itu berbicara dengannya memilih untuk diam sejenak. Kenapa tiba-tiba gadis ini berbicara begitu manis padanya? Ah lupakan! Ia pulang ke rumah dengan sebuah tujuan, dan ia harus mengutarakan tujuannya itu saat ini juga. Ia tidak punya banyak waktu, sudah banyak pekerjaan lain yang menunggunya.
“Mulai hari ini, kamu bisa kembali tinggal di apartemen kamu,” ucap Alvaro terdengar tenang. Violet sempat tak berkedip beberapa saat untuk mencerna ucapan Alvaro. Kembali ke apartemen? Itu tandanya ia diusir?
“Ma... maksud lo?” Violet mencoba meminta penjelasan. Baru ia ingin mencoba bersikap manis layaknya wanita pada umumnya, namun tiba-tiba saja Alvaro mengucapkan kalimat yang seolah mengusirnya.
“Seperti keinginan kamu, kamu bisa kembali ke apartemen, tapi masih tetap dalam pengawasan saya. Apartemen kamu sudah di tata ulang oleh suruhan saya dengan barang-barang yang baru agar kamu lebih nyaman.” Violet menggeleng tidak paham dengan maksud Alvaro. Dulu ia sangat gencar memaksa Violet untuk tinggal dengannya, namun sekarang tiba-tiba saja ia menyuruh Violet untuk kembali ke apartemennya.
“Gue gak paham deh, maksud lo apa sih? Kenapa sekarang dengan seenaknya lo nyuruh gue buat balik ke apartemen saat gue udah mulai merasa nyaman disini?”
“Kamu disini sama disana gak ada bedanya kan? Apalagi sebentar lagi saya ada proyek baru di luar negeri dan itu akan membuat saya sangat jarang di rumah. Dari pada kamu protes lagi, lebih baik sekarang saya membebaskan kamu untuk menjalani hidup kamu seperti dulu tapi tetap dalam pengawasan saya. Bersiaplah, saya akan mengantar kamu,” jelas Alvaro.
“Seenaknya banget ya lo. Tapi fine! Gue bakal pergi dari sini.” Violet langsung berlalu dari hadapan Alvaro dengan emosi yang sudah mulai tersulut. Ia merasa dipermainkan. Bisa-bisanya pria tampan yang dipuja-pujanya itu berubah menjadi pria yang sangat menyebalkan. Violet sudah bertekad dalam hati bahwa ia akan membuat Alvaro menyesal sudah menyuruhnya Violet. Ia pastikan secepatnya Alvaro lah yang akan membawanya kembali ke rumah ini. Sebenarnya ia ingin sekali menolak, bisa saja ia tidak mau pergi dan tetap berada disini. Namun Alvaro pasti akan memandangnya rendah, atau mungkin Alvaro akan berpikiran kalau ia tetap berada disana karena tidak ingin kehilangan kemewahan yang baru saja ia rasakan. Tidak! Violet tidak ingin Alvaro berpikir seperti itu, meskipun sering menggoda Alvaro, namun ia merasa masih punya harga diri. Apalagi sejak kecil ia hidup berkecukupan, jadi menurutnya harta Alvaro tidak begitu menggiurkan. Namun jika ia pergi, itu artinya kesempatan ia untuk mendekati Alvaro hilang sudah? Ah Violet mulai merasa pusing memikirkannya.
Violet mengentak-entakkan kakinya memasuki kamar. Ia dibuat kembali melongo saat memasuki kamar dan melihat Rika, Puri dan Jeni sedang membereskan barang-barangnya untuk dimasukkan ke dalam koper. Sepertinya Alvaro sudah menyiapkannya secara matang untuk mengusir ia dari rumah ini.
“Aaaaaaaaa ngeselinnnnn...!!!” Pekik Violet. Ia menghempaskan badannya diatas ranjang dan membenamkan wajahnya pada bantal. Rasanya ia ingin menangis sekencang-kencangnya. Namun Violet bukanlah gadis yang cengeng, apalagi yang ia rasakan sekarang lebih ke arah kesal dari pada rasa sedih. Ia memukul-mukul kasur empuk itu untuk meluapkan kekesalannya.
“Violet...” panggil Rika sendu. Jujur ia merasa sangat sedih saat mendapat kabar dari salah satu pelayan yang menyampaikan perintah Alvaro untuk membereskan barang-barang Violet bahwa Violet akan kembali ke apartemennya dan tidak akan tinggal di mansion itu lagi.
Violet mendongakkan wajahnya menatap Rika. Melihat wajah sedih Rika, ia langsung bangkit dan berhamburan ke pelukan Rika. Puri dan Jeni yang melihat itu langsung ikut bergabung untuk berpelukan.
“Aaaaaa Violet gak mau pergi. Alvaro jahat banget sih. Tapi gensi kalau tetap disini padahal udah disuruh pergi. Violet pasti bakal kangen banget sama kalian semua,” rengek Violet. “Kakak juga bakal kangen banget sama tingkah konyol kamu.”
“Tuan Alvaro ada-ada aja nih, masa Violet disuruh pergi.”
“Gak papa deh Kak,
“Tuan Alvaro ada-ada aja nih, masa Violet di suruh pergi.”
"Aku pergi dulu sekarang, tapi Violet janji akan balik lagi,” ucap Violet meredakan kesedihan mereka semua. Ketiga pelayan kesayangan Violet itu pun melepaskan pelukannya. Violet tersentak kaget saat melihat mereka semua meneteskan air mata, sebegitu sayangnya mereka dengan Violet?
“Jangan nangis dong, ntar Violet ikut nangis. Air mata Violet kan mahal kayak air kelapa, jadi malas keluarinnya,” canda Violet. Mau tidak mau mereka semua tertawa.
“Ya udah, ini barang-barang kamu,” ucap Rika memberikan sebuah koper besar berisikan pakaian Violet padanya.
“Tas-tas sama sepatu-sepatu mahal yang dibeliin Alvaro udah dimasukin juga gak kak?” Tanya Violet.
“Itu emangnya mau dibawa juga?”
“Ya iya lah Kak, masukin semua. Karena dia udah berani ngusir aku, aku bakal bawa semua barang-barangnya. Bahkan kartu kredit dia yang masih sama aku aja aku bawa. Lihat aja aku bakal kuras uang tabungannya sampai dia mau balikin aku kesini lagi.”
“Ishhhh.. kamu ini, masih sempat-sempatnya kaya gitu.” violet hanya mengangkat bahunya tidak peduli.
Setelah benar-benar memasukkan semua barang-barangnya ke dalam koper, violet pun langsung bergegas pergi. Ia sempat melirik kamar mewahnya sejenak sebelum pergi. Ia pasti akan merindukan saat-saat bersantai di kamar ini. Setelah merasa puas, ia langsung melangkah menemui Alvaro. Ia akan memberitahu Alvaro bahwa ia tidak ingin diantar, ia bisa pergi sendiri. Lagi pula ia ingin Alvaro tahu bahwa kini ia benar-benar sedang marah.
Alvaro menatap Violet yang berjalan gontai menuruni anak tangga. Terlihat Rika, Puri dan Jeni di belakangnya yang sedang membawakan koper miliknya. Alvaro terus menatap gadis itu yang tampak bersedih. Apakah keputusannya sudah benar? Apakah usul Demon akan membuat hidupnya tenang? Setelah mendapat majalah harian hari ini, keputusan seperti inilah yang dapat Alvaro ambil untuk tetap membuat hidupnya dan gadis itu tenang. Ia tidak yakin jika hidupnya dan Violet akan tetap tenang tanpa intaian para wartawan setelah berita berjudul ‘Pengusaha Alvaro Adelio Cetta tertangkap kamera sedang bersama seorang gadis, kekasihnya?’ Meskipun kabar itu belum bisa diyakini publik karena tidak ada pengakuan darinya, namun pasti itu akan tetap menjadi pembicaraan yang sangat panas. Belum lagi jika nanti media memburu Violet dan meminta penjelasan pada violet. Itu akan sangat merepotkan dan mengganggu hidupnya.
Namun bagaimana jika gadis ini pergi? Sadar atau tidak, Alvaro merasa rumahnya yang selama ini hanya menjadi tempat ia tidur sudah mulai berubah sejak gadis itu ada disini. Ada saja tingkah konyolnya yang membuat Alvaro tanpa sadar tersenyum. Bahkan hanya dengan membayangkan tingkahnya saja Alvaro sudah dibuat terkikik geli. Pasti mansion mewahnya akan terasa sunyi setelah kepergian gadis itu. Tapi ia harus melakukan ini. Sebenarnya Alvaro memiliki cara kedua, tapi ia merasa masih ragu apa rencana keduanya bisa berjalan dengan lancar.
“Lo gak usah antar gue, gue bisa pulang sendiri,” ucap violet memecahkan lamunan Alvaro. Ternyata violet sudah berada di hadapannya.
“Biar saya antar saja.”
“Gak usah! Meskipun gue bukan jelangkung, gue bisa pulang tanpa diantar,” balas Violet ketus.
Violet menatap wajah Alvaro sejenak. Ah rasanya ia sudah ketergantungan wajah tampan ini. Bagaimana jika ia tidak bisa lagi menatap wajah Alvaro. Tanpa sadar violet melangkah mendekati Alvaro. Ia ingin melihat wajah tampan Alvaro dari dekat, meskipun ia yakin ini bukan terakhir kalinya ia melihat Alvaro, namun setidaknya ia ingin menghafal wajah Alvaro. Agar saat ia rindu, ia cukup memejamkan mata dan bayangan Alvaro akan selalu ada. violet merasa dirinya benar-benar melow saat ini. Entah sadar atau tidak, tangan violet terulur mengelus pipi Alvaro. Sepertinya pesona Alvaro benar-benar membuat violet lupa diri.
Alvaro yang melihat apa yang sedang dilakukan gadis ini padanya hanya mampu terdiam, merasakan elusan tangan mulus milik Violet di pipinya. Pandangan sendu gadis itu seolah memintanya untuk menahan gadis itu pergi. Alvaro merutuki dirinya yang tiba-tiba mengambil kesimpulan dalam hati bahwa Violet luar biasa cantiknya saat dilihat dari dekat seperti ini. Entah kenapa rasanya ia ingin sekali menarik gadis itu ke dalam pelukannya, ia penasaran bagaimana rasanya membungkus tubuh mungil itu dengan tubuhnya yang lebih besar, terasa hangatkah? Lagi-lagi Alvaro merutuki dirinya, ia langsung mengalihkan pandangannya dari violet. Pada saat itu jugalah Violet tersadar dari apa yang baru saja ia lakukan. violet langsung menjauhkan tangannya dari wajah Alvaro dan mundur beberapa saat. Ia memaki dirinya sendiri yang menjadi begitu agresif saat bersama Alvaro. Tidak ingin dirinya dikuasai oleh alam bawah sadarnya, Violet memutuskan untuk pergi secepatnya.
“Gue pergi,” hanya itulah yang mampu dikatakan gadis itu sebelum akhirnya benar-benar melangkah pergi. Melihat langkah Violet, Alvaro tiba-tiba saja menggapai salah satu tangan gadis itu membuat langkahnya terhenti.
“Tetaplah disini, saya ingin kita menikah.”