Chapter 8

2510 Words
“Ih kak Puri, aku masih ngantuk. Aku baru tidur tiga jam. Nanti aja deh bangunin aku kalau udah mau makan siang,” racau Violet dalam tidurnya. Ia menggeliat di dalam selimut saat merasakan guncangan di bahunya. Ia berdecap kesal dengan mata tertutup saat merasa selimutnya ditarik. Ia meraba-raba untuk mencari selimutnya dan menarik selimut itu kembali untuk menutupi tubuhnya dari dinginnya pendingin ruangan. “Bangun.” Violet sontak membuka matanya saat mendengar suara yang ia yakini bukan suara Puri yang selalu membangunkannya setiap pagi. Violet terduduk saat melihat Alvaro lah yang tengah berdiri di pinggir ranjang. Sedang menatapnya dengan tangan yang ia lipat di depan d**a. “Lo... lo ngapain disini?” Tanya Violet heran. “Cepat mandi, setelah sarapan kita jalan-jalan,” ucap Alvaro sukses membuat kedua mata Violet membulat. Apa ia sedang bermimpi? “Viil!” Violet terjaga dari lamunannya. Ia sedang tidak bermimpi. Alvaro kini sedang berdiri di hadapannya, tidak menggunakan setelan jas seperti biasanya. Namun menggunakan celana jeans, kemeja hitam lengan pendek yang sangat pas menutupi tubuh kekarnya. Ah benar-benar tampan. “Saya tunggu di ruang makan.” Violet mengangguk sebagai jawaban sementara Alvaro berjalan keluar dari kamar Violet. Sebelum benar-benar keluar, Alvaro sempat melirik kondisi kamar Violet yang sangat mengenaskan. Belanjaannya kemarin tergeletak di lantai begitu saja. Ada yang masih berada di dalam tas belanjaan, namun ada juga yang sudah keluar. Sepertinya kemarin Violet benar-benar menggunakan kartu kredit yang ia gunakan dengan sangat baik dan maksimal. Buktinya pagi ini Alvaro sudah mendapatkan pemberitahuan tagihan kartu kredit hampir 500 juta. Sepeninggalnya Alvaro, Violet memukul-mukul pipinya memastikan bahwa yang baru saja masuk ke kamarnya adalah Alvaro. Ia tiba-tiba tersenyum sendiri mengingat Alvaro akan mengajaknya untuk berjalan-jalan. Ah jarang sekali saat-saat seperti ini. Sepertinya ada gunanya juga ia marah-marah dengan Alvaro kemarin. Violet terkekeh geli saat menyadari bahwa sebenarnya tadi malam ia tidak sepenuhnya marah, ia hanya ingin bebas dari amarah Alvaro sehingga memilih untuk marah terlebih dahulu. Meskipun begitu Violet memang tidak suka dengan cara Alvaro memperlakukannya. Namun sepertinya Alvaro bisa dimaafkan karena akan mengajaknya jalan-jalan hari ini. Violet teringat sesuatu, tiba-tiba saja gadis itu melompat dari ranjangnya dan langsung berdiri di depan cermin. Ia menghela nafas lega saat melihat dirinya tidak terlalu buruk di pagi hari. Jika ia tahu lebih awal bahwa pagi ini Alvaro akan datang ke kamarnya, pasti ia akan berdandan dulu sebelum tidur. Violet terkikik memikirkan hal itu. Ia pun akhirnya langsung pergi ke kamar mandi untuk bersiap- siap pergi dengan Alvaro. ***“Kita pakai mobil lo yang ini?” Tanya Violet saat Alvaro berjalan menuju mercinya.  “Iya, emangnya kenapa?” “Gue gak mau ah. Gue gak mau disopirin. Gue mau kita berdua aja yang pergi.” Alvaro menautkan alisnya mendengar permintaan Violet yang terdengar aneh baginya. “Terus yang nyetir siapa?”  “Ya elo lah.” “Saya gak biasa nyetir.” “Gimana sih, pokoknya gue gak mau pergi pakai mobil itu dan pakai sopir. Lebih baik gak usah pergi aja.” “Ya udah, kamu mau naik mobil yang mana?” Akhirnya Alvaro mengakhiri perdebatan itu dengan mengalah. Tidak ada gunanya juga sepertinya berdebat dengan gadis ini. Violet langsung tersenyum semringah karena merasa menang dari Alvaro. “Lambo lo yang warna merah.” Mendengar permintaan Violet, Alvaro pun meminta kunci lamborghininya pada Tio yang sedari tadi ada bersama mereka. Tio hanya menggeleng pelan melihat sikap gadis itu yang seperti tidak ada takutnya pada Alvaro. “Oh iya, lo jangan marah-marah sama bang Tio. Yang salah kan gue,” ucap Violet mengingat kejadian kemarin. “Kalau tidak mau ada yang dimarahin karena kamu, maka jaga sikap,” balas Alvaro santai kemudian berlalu dari Violet. Violet mencibir menangkap nada sindiran dari ucapan Alvaro. Ia langsung menyusul Alvaro menuju garasi. “Asyikkkkk... gini dong, jalan-jalan. Hidup itu harus seimbang antara kerja sama senang-senang,” ucap Violet. “Seimbang? Emangnya hidup kamu yang sudah seimbang? Cuma senang-senang aja kan?” “Lo nyindir gue?’ “Enggak, cuma mau ralat kata-kata kamu aja.” Lagi-lagi Violet mengerucutkan bibirnya. Sepertinya Alvaro sangat suka menyindirnya. “Gue tinggal kerja, entar kangen lo,” gumam Violet pelan. “Kamu ngomong apa?” Tanya Alvaro saat menyadari Violet mengatakan sesuatu. “Bukan apa-apa, yuk pergi. Yeayyyyy jalan-jalan,” gadis itu bersorak gembira kemudian memasuki mobil disusul oleh Alvaro. Violet benar-benar merasa antusias bisa pergi dengan Alvaro. Jarang-jarang ia bisa seperti ini. Ia akan membuat Alvaro merasa ketagihan pergi dengannya. ***“Aaaaaaaa gue senang banget, disini barang-barangnya bagus banget. Oh iya, makasih ya udah mau beliin gue kalung juga. Berlian Cetta itu memang keren, pantas aja lo kaya,” ucap Violet sumringah sembari mengelus-elus kalung yang melingkar indah di lehernya. “Kamu bisa ambil perhiasan Cetta dimanapun dan kapanpun kalau kamu mau.” Senyum Violet makin merekah mendengar penawaran Alvaro yang terdengar begitu menggiurkan. Violet menahan kikikannya melihat Alvaro, pengusaha kaya raya itu kini sedang membawa tas belanjaannya yang sangat banyak itu mengitari mal. Sepertinya hanya ia yang berani melakukan itu pada Alvaro. Lagi pula Alvaro tidak menolak sama sekali, jadi tidak ada salahnya. Tadinya mereka sempat bingung akan jalan kemana, apalagi Alvaro memberikan kebebasan kepada Violet untuk pergi ke tempat yang ia inginkan. Namun karena Violet memang sangat suka dengan mal, akhirnya mal menjadi tujuan mereka. Tentu saja ia pergi ke mal yang berbeda dengan yang ia datangi dengan kedua sahabatnya kemarin. Alvaro tak heran jika gadis itu memilih mal. Meskipun ia belum lama ini tinggal seatap dengan gadis itu, namun ia sudah sangat hafal bahwa yang diinginkan gadis itu hanya belanja. Meskipun sebenarnya Alvaro tidak suka pergi ke mal karena ia tidak terlalu suka keramaian, namun sebagai permintaan maafnya kepada Violet ia hanya pasrah dibawa gadis itu ke mal. “Lo itu harusnya berterima kasih sama gue, karena gue dengan senang hati mau bantuin habisin uang lo. Lo pikir kalau uang lo disimpan aja, bakal beranak. Lo itu harus belanja, senangin hidup lo,” ucap Violet. “Saya udah belanja kemarin,” balas Alvaro. Violet mengernyitkan dahinya. Jadi saat kemarin ia pergi berbelanja, Alvaro juga pergi berbelanja? Ah kalau tahu begitu, lebih baik ia ikut Alvaro saja. Pasti bisa dapat lebih banyak. “Lo belanja dimana? kok gak ngajak gue. Lo beli apa?” Tanya Violet penuh keingin tahuan. “Beli hotel,” balas Alvaro santai. Saat kalimat itu keluar dari mulut Alvaro, dengan otomatis langkah Violet terhenti. Ia kembali memutar ucapan Alvaro tadi di otaknya. Alvaro menyebut membeli hotel itu berbelanja? Ya Tuhan, kepala Violet terasa pusing memikirkannya. “My rich man,” ucap Violet pelan menggeleng-gelengkan kepalanya. Alvaro yang melihat gadis itu berhenti mendadak langsung menyadarkan Violet dari lamunannya hingga gadis itu kembali berjalan. “Habis ini kita kemana lagi?” Tanya Violet. “Kamu udah siap belanjanya?” Gadis itu berpikir sejenak, melihat tas belanjaan di tangan Alvaro dan mencoba mengingat-ingat apakah ada yang terlewatkan. Sesaat kemudian gadis itu mengangguk menandakan bahwa ia sudah selesai berbelanja. “Ya udah kita pulang.” “Haaaaa??? Jalan-jalannya gini doang? Gak seru banget. Gue gak mau pulang!” “Terus kamu mau ngapain lagi?” “Gimana kalau kita nonton?” Usul Violet. “Kita nonton di rumah aja.” “Ihhhh... gak mau, kita nonton di bioskop aja. Ya... ya... ya...” Violet menatap Alvaro dengan tatapan memohon berharap Alvaro luluh. “Ya sudah, kita bawa barang-barang kamu ke mobil dulu.” Violet mengangguk setuju. Dengan bersemangat Violet memeluk lengan Alvaro untuk berjalan beriringan dengannya. Sebenarnya Alvaro ingin protes karena Violet yang sedang bergelayut di lengannya ini sedikit menyulitkan dirinya yang sedang membawa banyak belanjaan untuk berjalan. Namun jika ia melarang, gadis itu pasti akan protes dan ia sedang sangat malas mendengar omelan gadis itu. Akhirnya yang Alvaro lakukan adalah pasrah. Violet tampak begitu puas saat melihat tatapan para gadis yang secara terang-terangan menatap Alvaro dengan tatapan memuja kini menatapnya dengan begitu iri. Dengan bangganya Violet menyandarkan kepalanya pada bahu Alvaro ingin membuat mereka semua semakin tahu diri untuk tidak menatap Alvaro dengan lapar seperti itu. ***Violet memasuki studio bioskop dengan begitu bersemangat. Satu box besar popcorn karamel sudah berada di tangannya sementara tangan yang lain sedang memegang minuman bersoda. Ia dan Alvaro duduk di tempat duduk mereka menunggu film bergenre animasi favorit Violet itu diputar. Alvaro sempat protes dengan pilihan film Violet karena ia lebih suka action, namun karena Violet terus saja merengek agar Alvaro memesan tiket film animasi itu, lagi-lagi Alvaro hanya bisa pasrah dan mengikuti. “Kok sepi banget?” Tanya Violet heran. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat duduk di dalam bioskop yang kosong dan hanya ada mereka berdua. “Padahal ini filmnya bagus banget loh. Ramai juga yang nonton, tapi kok disini gak ada? Studio yang lain kayaknya penuh,” ucap Violet lagi merasa heran. “Aku udah pesan satu bioskop ini buat kita. Jadi gak bakal ada orang lain,” balas Alvaro dengan pembawaan santai khasnya. Violet membulatkan matanya. Jadi Alvaro menyewa satu studio ini? Ini agak berlebihan. “Lo apa-apaan sih? Gue kan cuma minta beliin tiket 2, bukan semuanya gini. Masa kita berdua aja,” protes Violet. Ia baru sadar jika saat ia meminta Alvaro pergi membeli tiket sementara ia pergi membeli camilan, ternyata Alvaro bukan hanya membeli 2 tiket, namun satu studio. “Tidak usah banyak protes. Duduk yang benar dan menontonlah,” ucap Alvaro memfokuskan pandangannya ke depan. Violet mengerucutkan bibirnya kemudian ikut melihat layar besar di hadapannya. Filmnya ternyata sudah mulai. Gadis itu kembali terlihat antusias menonton film itu. Merasa filmnya kurang menarik, Alvaro pandangannya ke arah lain, lebih tepatnya melihat wajah Violet yang samar-samar terlihat dari pantulan cahaya layar, cantik juga. Ia melihat wajah gadis itu yang terlihat serius menonton. Sesekali ia terlihat tersenyum, tertawa, bahkan kesal sesuai dengan adegan apa pun yang sedang ditampilkan dalam film itu. Ternyata Violet terlihat masih ke kanak-kanakan dilihat dari sisi manapun. Alvaro tersenyum kecil saat melihat gadis itu tersenyum, meskipun ia sedang tidak tersenyum padanya. Alvaro merasa aneh pada dirinya sendiri, kenapa ia melakukan semua ini untuk Violet? Tidak ingin larut dalam pikirannya yang bahkan tidak ia mengerti itu, Alvaro kembali mengalihkan pandangannya menatap layar, sepertinya mau tidak mau ia harus menikmati film ini. Setelah sekian lama, akhirnya Alvaro dapat bernafas lega saat film yang membosankan itu selesai juga. Alvaro langsung berniat untuk pulang, namun saat ia melirik ke samping ternyata Violet sedang tertidur. Ada-ada saja, bukankah tadi ia sangat antusias untuk menonton? Namun mengapa sekarang ia malah tertidur pulas. “Viii,” panggil Alvaro Gadis itu masih diam tidak bergeming. “Vii, filmnya udah habis,” coba Alvaro sekali lagi membangunkannya. Namun Violet masih belum juga membuka matanya. Dengan ragu tangan Alvaro terulur menepuk pelan pipi Violet yang membuat gadis itu menggeliat kecil. Takut jika tepukannya malah membuat pipi gadis itu terasa sakit, Alvaro memilih untuk mengelusnya saja. “Vi,” panggil Alvaro lagi. Ia mendekatkan wajahnya pada Violet agar Violet lebih bisa mendengar. “Apaan sih...” Violet hanya meracau tanpa membuka matanya. “Filmnya sudah selesai, kita pulang sekarang,” ucap Alvaro. Perlahan Violet terlihat membuka matanya. Violet menatap Alvaro dengan kata yang sayu. Tanpa berniat untuk bangkit dari posisinya, Violet malah menarik bahu Alvaro dan bersandar begitu nyaman disana. “Bentar lagi deh Alva, gue masih ngantuk banget. Janji deh lima menit aja.” Violet kembali menutup matanya. Alvaro akhirnya memilih untuk diam. Membiarkan Violet tertidur dengan bersandar di bahunya. Alvaro mengernyitkan dahinya saat tangan Violet seperti menggapai-gapai tangannya. Sepertinya ia kedinginan, maklum saja isi studio ini hanya mereka berdua, tentu saja pendingin ruangannya lebih terasa dingin. Untuk menghentikan tangan Violet, Alvaro memilih untuk menggapai tangan gadis itu. Merasa ia sudah mendapatkan tangan Alvaro, Violetpun menggenggam tangan Alvaro erat. Avaro melirik gadis yang masih terpejam itu dengan ekor matanya. Kenapa apa pun yang dilakukannya tidak pernah bisa Alvaro tolak? Padahal Alvaro sudah sangat terbiasa menolak wanita, terlebih lagi Angel. Terjadi keheningan beberapa saat, hingga pada akhirnya Alvaro memutuskan untuk membalas genggaman tangan Violet dan menunggu hingga gadis itu benar-benar bangun. ***Violet berjalan di belakang Alvaro mengikutinya menuju ruangan Alvaro yang berada di lantai atas gedung perusahaan. Violet sebenarnya cukup kesal, ia kira hari ini benar-benar akan ia habiskan hanya dengan Alvaro. Namun ternyata Alvaro tetap memiliki pekerjaan. Sebenarnya Alvaro tidak berniat untuk pergi ke kantor hari ini, namun ada file penting yang harus ia tanda tangani sehingga setelah pulang dari mal tadi mereka langsung pergi ke kantor milik Alvaro. Jika bukan karena ia sudah merasa senang karena Alvaro mengajaknya jalan-jalan hari ini, pasti Violet sudah marah karena kencannya terganggu. Namun mengingat bagaimana sikap manis Alvaro tadi menunggunya hingga ia bangun sembari menggenggam tangannya membuat Violet melupakan kekesalannya hingga kini gadis itu senyum-senyum sendiri. “Gue kan udah bilang hari ini gak mau diganggu,” ucap Alvaro saat memasuki ruangannya. Ternyata Demon sudah menunggunya disana. “Sorry Bro, tapi lo harus tanda tangan ini sekarang biar bisa langsung gue urus. Minggu depan kan lo akan ikut perebutan tender lagi,” balas Demon. Alvaro mengangguk paham kemudian membaca sekilas berkas-berkas yang dibawa oleh Demon kemudian menandatanganinya. “Violet ya?” Tanya Demon saat melihat Violet sedang berdiri tidak jauh dari mereka sembari memainkan ponselnya. Pasalnya Violet bingung harus melalukan apa, akhirnya memainkan ponsel adalah pilihannya. Violet mendongak kemudian mengangguk sembari tersenyum. “Berhubung Alvaro kayaknya gak ada niat buat ngenalin kita, jadi gue memperkenalkan diri aja. Gue Demon, sahabat sekaligus orang kepercayaannya Alvaro di kantor,” ucap Demon memperkenalkan diri. Alvaro yang sedang tadi fokus pada berkasnya melirik Demon sejenak. Narsis sekali. “Hai kak Demon, gue Violet,” ucap Violet. “Manggil Demon pakai kakak, kenapa sama saya enggak?” Tanya Alvaro heran. “Kalau sama lo kan maunya manggil sayang,” balas Violetpelan yang hanya dapat didengar olehnya sendiri. “Ya gak papa dong terserah dia, iya gak Vi?” Violet mengangguk mendukung ucapan Demon. “Ya udah, gue keluar dulu deh ya. Nanti kalau udah selesai telefon aja,” ucap Violet kemudian berlalu dari ruangan Alvaro. Demon tersenyum melihat kepergian gadis itu, cantik ternyata. Ia kembali menatap Alvaro. “Al,” panggil Demon. “Apaan?” “Mau sampai kapan Violet tinggal di rumah lo?” Tanya Demon. Mendengar pertanyaan Demon yang menurutnya aneh itu membuat Alvaro menutup berkasnya dan menatap Demon. “Emangnya kenapa?” “Ya bukan kenapa-kenapa. Tapi coba lo pikir deh, lo itu pengusaha muda yang paling sukses di Indonesia. Bukan hanya karier lo sebagai pengusaha yang jadi perhatian, tapi juga kehidupan pribadi lo. Lo pernah mikir gak sih, gimana kalau media tahu sekarang lo tinggal serumah sama cewek? Mungkin sekarang gak ada yang tahu, tapi cepat atau lambat pasti bakal ada yang tahu. Apalagi sekarang lo udah mulai berani jalan berdua sama dia, ya gue rasa sedikit banyaknya nanti bakal ganggu privasi lo,” ucap Demon menjelaskan pemikirannya selama ini. Alvaro tampak berpikir sejenak, kenapa ia tidak memikirkan tentang hal itu sebelumnya? “Lebih baik lo pulangin dia aja deh. Lo kan bisa nyewa orang buat ngawasin dia. Kalau masalah biaya hidup, lo pasti bisa deh penuhi kebutuhan dia,” usul Demon. Sebagai sahabat dan juga bawahan Alvaro, tentu Demon ingin yang terbaik untuk Alvaro. “Ntar deh gue pikirin.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD