“Kamu tidak mengantar Violet? Bagaimana bisa? Kamu saya gaji untuk ikuti dia kemanapun dia pergi. Kamu tahu kan dia ceroboh. Kalau saya tau dia tidak pergi dengan kamu, saya tidak akan membiarkan dia pergi. Ini sudah malam, dan dia belum pulang.” Tio hanya mampu menunduk menerima kemarahan Alvaro.
“Maaf Tuan, tadinya saya ingin mengantar Violet, tapi dia melarang.”
“Yang gaji kamu saya, bukan dia. Jadi yang harus kamu dengari adalah saya.” Nyali Tio langsung ciut mendengar ucapan Alvaro.
“Kamu minta yang lain mencari Violet, jika dia sudah datang, panggil saya.” Alvaro langsung pergi dari hadapan Tio.
Tio mengela nafas gusar, kemana gadis itu? Ada-ada saja kerjaannya.
***“Aaaaaaa gue senang banget, akhirnya bisa belanja juga. Makasih ya Vii.” Elis memeluk Violet senang dengan tangan penuh belanjaan. Rasanya ia benar-benar puas hari ini berkeliling mal seharian. Memasuki toko demi toko, memilih barang demi barang tanpa memikirkan harga karena ia dan Karin cukup memilih barang yang mereka suka dan Violet lah yang bertugas membayarnya. Benar-benar hari yang indah bagi seorang wanita. Tidak sia-sia ternyata tadi ia beralasan tidak enak badan agar bisa pulang cepat dari kantor majalah fashion tempat ia bekerja.
“Sama-sama, lagian bukan gue ini yang bayar.” Violet terkikik mengingat sudah berapa banyak uang Alvaro yang ia habiskan hari ini. Salah Alvaro juga rasanya, kenapa ia menawarkan kartu kreditnya, padahal tadi Violet hanya berniat untuk lihat-lihat saja.
“Alvaro kaya banget ya Vii. Dari pada dia gak tau uangnya mau dikemanain, lebih baik dia bantuin bayar hutang negara deh,” ucap Karin. Violet dan Elis terbahak mendengarnya. Namun ada benarnya juga, jika Violet jadi Alvaro, ia juga akan bingung akan dibuat apa uang sebanyak itu.
“Eh, ke club ya. Udah lama nih kita gak kesana,” usul Elis. Karin langsung mengangguk antusias setuju. Pasalnya mereka sudah tidak lama pergi ke club. Jangan heran, tiga bersahabat ini bisa dikatakan ‘anak gaul’ Jakarta. Mereka dulu biasa menghabiskan malamnya dengan clubbing atau terkadang juga pergi ke bar. Mereka disana terkadang hanya sebatas turun ke dancefloor untuk bersenang-senang, atau terkadang juga minum jika sedang dalam keadaan jenuh. Tapi jujur mereka sangat jarang minum, apalagi Violet. Violet kurang suka rasa alkohol yang sangat menyengat di tenggorokannya. Violet tampak berpikir sejenak. Tadi ia sudah janji pada Alvaro untuk tidak pulang malam. Sementara sekarang sudah cukup malam karena terlalu asyik belanja dan lupa waktu.
“Ya udah deh, tapi kita ganti baju dulu. Gak mungkin kita pakai baju gini,” balas Violet akhirnya. Sepertinya sudah kepalang tanggung. Ini sudah malam, jadi tak ada salahnya untuk bersantai sejenak di club. Kalaupun Alvaro marah kan sudah sekalian. Setelah mereka bertiga sepakat, Violet, Elis dan Karin pun langsung bersiap-siap untuk pergi ke salah satu club favorite mereka di daerah Jakarta.
***Violet berjinjit memasuki mansion Violet. Setelah menutup mulut satpam yang menjaga gerbang agar tidak banyak berkomentar atau menanyakan apa pun tentang dirinya yang pulang hingga tengah malam, kini Violet tetap harus waspada karena pasti masih ada pelayan mansion yang bangun.
“Violet...... kamu kemana aja?” Tanya Rika hampir saja memekik jika Violet tidak mengisyaratkan ia untuk memelankan suaranya. Ia membukakan pintu untuk Violet, bahkan sedari tadi ia sudah menunggu di depan pintu untuk menunggu Violet. Mansion benar-benar dibuat heboh oleh kehilangan gadis itu yang pergi entah kemana.
“Sstttt jangan berisik Kak.”
“Kamu dari mana aja sih? Semuanya pada nyariin kamu.”
“Violet” Tio yang melihat kehadiran Violet di depan pintu langsung menyusul gadis itu dengan tergesa-gesa.
“Kamu dari mana aja? Abang udah cariin kemana-mana, kamu bikin khawatir aja. Tuan Alvaro udah marah-marah, kamu tega banget sama abang. Bikin abang dimarahi tuan Alvaro,” omel Tio meluapkan kekesalannya.
“Bang, pelan dong ngomongnya. Entar Alvaro dengar. Iya... iya.. Violet minta maaf. Alvaro biar jadi urusan Violet deh, sekarang Violet mau ke kamar dulu, bye. ”
“Violet! Ikut saya,” ucapan Violet terpotong dengan suara berat yang biasanya menenangkan, namun kini terdengar sangat tegas dan penuh intimidasi.
Violet menoleh ragu ke arah asal suara. Terlihat Alvaro sedang berdiri tidak jauh darinya. Violet menelan ludah saat melihat Alvaro berjalan dan seperti yang Alvaro bilang tadi, ia harus mengikutinya. Violet melirik Rika dan Tio dengan tatapan sendu seolah meminta pertolongan. Rika dan Tio hanya membalas dengan mencibir seolah-olah meledek gadis itu, mereka benar-benar sudah dibuat geram dengan tingkah gadis itu. Dengan gontai Violet terpaksa mengikuti langkah Alvaro yang sepertinya akan menuju lantai tiga mansion itu.
“Kita mau kemana? Ke ruang kerja lo? Oh... atau kita mau ke kamar lo? Aaaaaa akhirnya.. yuk buruan.” Violet malah terlihat lebih bersemangat menaiki tangga, sementara Alvaro hanya menatapnya datar.
Ternyata Alvaro mengajak Violet menuju teras di balkon lantai tiga mansionnya. Meskipun angin malam cukup terasa menusuk karena ini sudah tengah malam, namun menurut Alvaro ini adalah tempat yang paling tepat untuk berbicara dengan gadis nakal ini. Ia tidak ingin ada satu pun pelayannya yang mendengar.
“Kok kita malah kesini?” Tanya Violet. Alvaro masih tetap diam sembari menatap gadis itu tajam membuat nyali Violet menciut. Sepertinya Alvaro benar-benar marah.
“Ini sudah jam berapa?”
“Jam 1,” balas Violet pelan setelah melihat jam di ponselnya.
“Bukannya tadi saya sudah bilang sama kamu jangan pulang malam? Dan sekarang kamu pulang tengah malam. Kamu dari mana saja?”
“Dari belanja ke mal.” Alvaro terlihat tertawa kecil dengan seringai sinisnya mendengar jawaban yang seharusnya Violet lontarkan pada balita yang akan mempercayai ucapannya dan bukan padanya.
“Club GX?” Alvaro berucap dengan nada seolah-olah menebak. Padahal sebenarnya ia sudah tahu bahwa tebakannya benar. Sebenarnya Alvaro sudah tahu sejak beberapa jam yang lalu dari orang suruhannya. Namun ia tidak ingin menyuruh orang itu untuk membawa Violet pulang, ia ingin Violet sendiri yang pulang. Lagi pula ia mendapatkan info bahwa Violet dan teman-temannya hanya berjoget- joget untuk bersenang-senang dan tidak menyentuh alkohol sama sekali.
“Kok lo tau?” Tanya Violet heran.
“Oh... lo kirim orang buat mata-matain gue ya? Kok lo gak sopan banget, itu kan privasi gue.” Alvaro mengernyitkan dahinya mendengar gadis itu malah terlihat menyudutkannya.
“Itu hak saya. Kamu tinggal disini dan semua yang berhubungan dengan kamu menjadi urusan saya.” Violet menggeleng tidak setuju dengan ucapan pria tampan yang terkesan mengatur hidupnya itu.
“Sorry ya, gue gak pernah minta tinggal disini. Lo yang bawa gue kesini! Dan gue gak suka lo mengganggu privasi gue!” Violet berteriak meluapkan kekesalannya.
“Pelankan nada suara kamu.”
“Gak mau! Terserah gue!”
“Saya tidak mau lihat kamu keluar dari rumah ini kecuali bersama Tio dan bodyguard yang akan mengawal kamu mulai besok. Sekarang pergilah ke kamar dan beristirahat.” Alvaro berlalu dari hadapan Violet, sementaraViolet dibuat melongo oleh keputusan Alvaro yang mendadak itu.
“Alvaro Adelio Cetta!” Langkah Alvaro terhenti saat gadis itu memanggil namanya dengan lengkap disertai nada tegasnya. Violet menghampiri Alvaro dengan nafas yang memburu.
“Lo sadar gak sih gue kayak gini gara-gara lo? Lo bawa gue paksa kesini setelah itu lo kurung gue di dalam istana ini, sementara lo sibuk sama kerjaan lo. Lo pikir gue boneka yang lo letakin disini buat hiasan sementara lo sibuk dengan kerjaan? Lo gak adil!” Gadis itu meluapkan isi hatinya pada Alvaro. Nafasnya naik turun karena meneriaki Alvaro.
“Kalau lo gak bisa memperlakukan gue seolah gue memang ada di rumah ini, lebih baik lo bilang. Gue masih ingat jalan ke apartemen gue yang lama,” ucap Violet dengan nada datar kemudian berlalu dari hadapan Alvaro yang hanya diam membeku. Ia tidak menyangka gadis yang biasanya selalu bertindak konyol itu bisa meledak-ledak seperti itu. Apa ia berlebihan? Namun ia melakukan semua ini untuk menjaga Violet, dan menurutnya inilah cara yang tepat.