Semakin malam rumah baru bertipe semi minimalis itu tampak semakin ramai. Tamu-tamu sang dokter terlihat datang silih berganti dan sebagian dari mereka tampak puas dengan makanan yang disajikan oleh sang tuan rumah, terutama ketiga dokter muda terdekat Rhea yang masih bertahan di sana. Dari kejauhan, Windy yang memperhatikan tingkah laku para dokter ini yang tidak jauh berbeda seperti layaknya orang biasa, merasa geli dan tertawa sendiri. Dalam benak gadis itu selama ini kalau para dokter tersebut selalu jaga image, ternyata kalau bergabung dengan komunitasnya, mereka ini sama seperti yang lain. “Chef Satya, temen-temennya Dokter Rhea itu lucu-lucu ya, ternyata sama juga kayak kita-kita. Masa dari tadi bolak-balik nambah makanan mulu! Laper apa doyan?” ujar Windy sambil tersenyum geli dan

