Siang itu, ruangan ball room yang begitu luas, tiba-tiba berubah menyempir dan sesak saat laki-laki yang berdiri di depannya bicara blak-blakkan dan spontan, mengutarakan perasaannya tentang Dokter Rhea Shaquitta. Abisatya Darmais hanya bisa terdiam, tubuhnya pun terpaku dan tak mampu bergerak hingga lidahnya pun terasa kelu. Dia tidak menyangka kalau Dokter Evan Permadi akan bertanya seperti ini padanya. Sementara beberapa dokter lainnya termasuk Rhea tampak sudah menikmati menu makan siang mereka. Ada yang duduk di kursi-kursi yang ditata di pinggir ruangan, ada pula yang berdiri dan ada pula yang masuk ke dalam ball room utama, untuk menikmati makanan mereka di sana. Abisatya masih saja terdiam sambil mengedarkan tatapannya ke seluruh ruangan, beberapa pelayan hotel tampak sibuk menge

