"Jangan! Jangan! Jangan ke sana! Abi awas! Jangan ke sana! Jangan! Awas! Awas! Hati-hati ... awas! Aku mohon ... jangan ke sana! Abi jangan ke sana …."
Malam itu seorang laki-laki tampak tidur dengan gelisah, kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri sambil meracau dan menyebut nama seseorang, peluh pun membanjiri wajah dan tubuhnya. Bibirnya yang merah merekah terus saja meracau, mengigau sesuatu yang tidak jelas.
"Jangan Abi! Jangan ke sana! Aku mohon ... jangan ke sana! Abiii!"
Abisatya Darmais berteriak sekencang mungkin dan terbangun dari tidurnya sambil menyebut sebuah nama dengan napasnya yang terengah-engah, peluh membanjiri sekujur tubuh dan wajah. Napasnya memburu. Laki-laki itu baru sadar kalau ia baru saja mengalami mimpi buruk.
"Satya! Satya ...! Satya! Lihat sini ... ini aku, Abi!"
Satya menoleh ke sosok yang berdiri di depannya yang memanggil-manggil namanya sedari tadi. Dari suaranya Satya merasa familiar dengan suara sosok ini, karena dia tidak lain adalah Abiwara Darmais—saudara kembarnya yang kembar identik, perbedaan mereka hanya terletak pada tangan kidal yang sering digunakan dalam beraktivitas.
"Abi? Kamukah itu? Kamu nggak kenapa-kenapa? Kamu baik-baik saja, ‘kan?" tanya Satya heran sambil mengucek-ngucek matanya karena tidak menduga kalau saudara kembarnya ada di depannya kali ini. Apalagi suasana kamar yang gelap, membuatnya tidak bisa melihat sosok laki-laki itu dengan jelas. Abisatya kemudian turun dari ranjang dan berjalan menghampiri Abi yang masih berdiri di ujung ranjang. "Kamu bener nggak kenapa-kenapa, Bi? Tadi aku mimpi tentang kamu. Dalam mimpiku, kamu itu kecelakaan waktu mau pulang ke rumah. Kamu bener nggak apa-apa, ‘kan? Hhh … syukurlah kalau begitu," lanjutnya lega sambil mengguncang-guncang lengan Abi yang hanya terdiam menatapnya dengan wajah yang pucat pasi.
"Kamu harus nolong aku, Sat! Cuma kamu yang bisa nolong aku! Aku mohon, bantu aku!"
"Bantu kamu? Bantu soal apa? Aku nggak ngerti? Tapi apapun itu, aku pasti akan bantu kamu, Bi! Tapi tunggu … tunggu, kenapa kamu bisa ke sini? Bukannya kamu baru punya bayi? Kenapa kamu tinggal? Dia baru sebulan, ‘kan?" tanya Satya heran, karena saudara kembarnya ini tinggal di kota lain—Jakarta—sementara dia tinggal di Bandung. “Terus tadi minta bantuan apa?” Satya masih tidak mengerti maksud saudara kembarnya yang minta bantuan padanya, tepat pada saat itu benda pipih warna hitam dengan bentuk persegi panjang yang berada di atas nakas di samping ranjang, berdering nyaring. Satya pun menoleh. "Sebentar aku terima telpon dulu ya!"
Satya lalu beralih ke ranjang lagi untuk mengambil ponsel tersebut. Pada layar depan tertera nama ibunya yang memanggil. Digesernya tombol hijau ke arah kanan yang ada di layar ponsel sambil duduk di tepi ranjang. "Yaa, Bu. Ada apa? Tumben pagi-pagi gini telpon? Ada kabar apa, nih?"
["Satya, apa kamu bisa pulang, Nak?"] tanya Bu Mayang dengan suaranya yang parau di ujung sana. Satya bisa merasakan kalau ada sesuatu yang tidak beres yang sedang terjadi di keluarga besarnya, begitu mendengar suara sang ibu yang seperti menahan tangis.
"Memangnya ada apa, Bu? Semuanya baik-baik saja, ‘kan? Semuanya sehat-sehat saja, ‘kan?" Satya berusaha menghibur dirinya sendiri dengan meyakinkan diri, kalau tidak terjadi sesuatu apapun di rumahnya.
["Abi ... Abi! Abi, saudaramu …."]
"Abi? Abi kenapa, Bu? Ibu! Ibu ... Abi kenapa? Abi kenapa, Bu?"
Di ujung sana suara Bu Mayang tidak terdengar lagi, yang ada hanya suara desiran angin dan suara orang bercakap-cakap yang terdengar lamat-lamat di kejauhan. Tak berapa lama kemudian terdengar suara telpon yang jatuh dan semua orang berteriak memanggil nama Bu Mayang yang rupanya pingsan sebelum menjawab pertanyaannya.
["Hallo! Hallo ... Kak Satya! Ini aku, Mirza!"]
Satya sudah menduga kalau ada sesuatu yang tidak beres yang terjadi di rumahnya sana, karena kali ini Mirza—adiknya—yang ngobrol dengannya melalui ponsel. "Yaa, Mirza, ada apa? Ibu kenapa?" tanya Satya panik.
["Ibu pingsan, Kak! Tapi Ibu sudah dibawa ke kamar. Kebetulan ada beberapa tetangga yang datang ke rumah. Kakak besok bisa pulang, ‘kan? Ini penting, Kak!"] Satya hanya terdiam, menyimak ucapan adiknya. ["Kak Abi, Kak. Kak Abi baru saja kecelakaan dan … meninggal!"]
"Deg!"
Satya menoleh ke sosok yang berdiri di ujung ranjang tadi, yang sempat ngobrol dengannya beberapa saat yang lalu dan meminta bantuan, tapi saat dia menoleh, sosok itu sudah tidak ada. Satya pun tercengang. Lalu siapa tadi yang ngobrol dengannya dan meminta bantuan?
"Apa? Kamu bilang apa, Mir? Abi meninggal? Kapan?" tanya Satya panik.
["Satu jam yang lalu, karena kecelakaan!" ] Satya melirik jam yang menempel di dinding, saat ini jam dua pagi, itu artinya Abi mengalami kecelakaan pada jam satu pagi tadi, saat dirinya tidur dan mimpi buruk.
"Kenapa Abi pulang malam-malam? Bukannya, ini sudah lewat tengah malam?"
["Dia baru pulang dari pesta bujang bareng temen-temennya, Kak. Salah satu temannya ada yang mau menikah. Dalam perjalanan pulang, dia mengalami kecelakaan."]
Abisatya mengepalkan tangan dengan keras dan meninjunya ke ranjang dengan rasa kesal dan marah. Dia tidak menduga kalau saudara kembarnya begitu naif, mau saja diajak oleh teman-temannya untuk menghadiri pesta bujang, padahal istrinya baru saja melahirkan, putrinya pun belum genap satu bulan. Namun, laki-laki itu sadar kalau semua ini bukan salah Abiwara. Mereka berdua bagaikan sekeping mata koin yang mempunyai sisi gambar yang berbeda. Abiwara dan Abisatya mempunyai sifat yang berbeda, Abiwara lebih lemah lembut, penuh kasih sayang dan welas asih, selalu positif thinking sama semua orang, sedangkan Abisatya, orangnya keras, pemarah, keras kepala dan suka berkelahi.
"Semua ini memang bukan salahnya, karena Abi selalu tidak ingin mengecewakan teman-temannya," batin Abisatya dalam hati.
["Kak! Kak Satya! Kakak bisa pulang besok, ‘kan?"] Suara Mirza membuyarkan lamunan Satya akan saudara kembarnya.
"Okee, Mir. Besok aku pulang! Kapan dimakamkan? Karena mungkin aku sampai Jakarta agak siang, karena aku harus ijin dulu sama Boss-ku."
["Okee, nggak masalah, Kak. Aku yakin Ibu dan Kak Rhea pasti nungguin Kak Satya datang, baru nanti makamin Kak Abi. Kami tunggu, Kak. Hati-hati di jalan! See you!"]
Mirza lalu mematikan sambungan telpon mereka. Abisatya termenung sesaat dan memikirkan sosok Abiwara yang menemuinya tadi, sebelum Bu Mayang menelpon. "Abi, di mana kamu? Apa yang ingin kamu katakan? Bantuan apa yang kamu inginkan dariku?" batinnya penasaran.
♥♥♥
"Vin, aku mohon, kasih ijin seminggu. Karena aku harus pulang, aku harus menghadiri pemakaman saudara kembarku," pinta Satya penuh harap pagi itu, saat menemui pimpinannya di ruang kerja yang didominasi warna hitam dan putih. Sebagai seorang pimpinan perusahaan, Davina Gunadhi ingin menunjukkan karakternya yang tegas melalui warna kesukaannya, hitam dan putih. Namun, kodratnya sebagai seorang perempuan juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Davina tetap ingin menonjolkan sisi feminin yang manja melalui rangkaian bunga-bunga segar yang di letakkan di sudut-sudut ruang kerja plus beberapa lukisan koleksi pribadi yang menempel di dinding.
"Nggak bisa, Sat ... aku cuma bisa ngasih kamu ijin tiga hari saja, karena minggu depan, hotel kita sudah dibooking untuk acara pernikahan anaknya Pak Sunarman," sahut Davina, anak pemilik hotel yang ditugasi mengurus hotel tersebut sambil mencondongkan wajahnya ke depan.
Abisatya mendengkus kesal sambil mengusap tengkuknya seraya berkata, "Tiga hari ...? Nggak bisa, Vin! Aku harus berada di rumah selama tujuh hari, menemani ibuku. Beliau pasti sangat sedih sekali, apalagi yang meninggal ini saudara kembarku sendiri, apa nggak ada dispensasi sedikit pun?"
"Tapi kamu ini chef andalan kami, Sat! Aku ingin kamu yang masak pas acara pernikahan anaknya Pak Sunarman." Davina pun tetap pada pendiriannya sebagai pimpinan.
"Vin, please ... hotel ini punya banyak chef handal! Bukan cuma aku saja! Bahkan hotel kamu ini punya chef import! Kenapa kamu nggak makai mereka saja?" sahutnya kesal. "Lagian, selama ini, aku jarang libur, ‘kan? Baru kali ini aku mau libur panjang, tapi kenapa dipersulit? Aku mohon, Vin. Jangan persulit aku, please ...."
"Kalau gitu, aku ikut!"
"Apa? Kamu ikut?" sahut Satya kaget dan tertegun sesaat. "Please, Vin. Belum saatnya kamu ikut."
"Tapi, Satya. Aku ini pacarmu, aku juga ingin ketemu dan kenalan sama keluargamu," rengek Davina sambil memegang tangan laki-laki itu yang berada di atas meja dan meremasnya lembut.
"Belum saatnya, Vin. Waktunya belum tepat, saat ini keluargaku sedang berduka, jadi aku nggak mau mengganggu suasana berkabung mereka. Kapan-kapan saja. Aku janji suatu saat nanti aku pasti akan ngenalin kamu ke mereka, tapi kalau saat ini, lebih baik, jangan! Aku mohon, Vin …."
"Ya udah, kalau gitu kamu dapet ijin cuma tiga hari!" ujar Davina ketus sambil menghempaskan tangan Satya dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kerja dengan ekspresi wajahnya yang cemberut. Davina paling tidak suka kalau ditolak seperti ini, apalagi oleh orang yang sangat dicintainya.
"Apa ...? Tiga hari? Okee, baik. Kalau gitu aku resign mulai sekarang! Permisi!"
"Eeeh, kamu mau kemana? Jangan marah gitu dong, Sayang …." Davina segera menghentikan Satya, saat laki-laki itu berdiri dan hendak pergi keluar dari ruang kerjanya. "Kamu nggak bisa gitu dong, Sayang," bujuk Davina manja sambil menghampiri sang kekasih dan berdiri di depannya. "Kamu itu, nggak bisa resign gitu aja, kamu ‘kan sudah tanda tangan kontrak sama hotel ini," lanjutnya sambil melingkarkan lengan di leher laki-laki yang hanya terdiam terpaku.
Harus Davina akui, sejak awal, kali pertama Abisatya melamar kerja di hotel milik keluarganya ini, dirinya sudah jatuh hati sama laki-laki ini. Cukup lama Davina mencoba menaklukkan chef yang selalu memanjangkan rambutnya—nyaris menyentuh bahu—sejak tiga tahun yang lalu, sejak laki-laki itu bekerja di hotel. Bahkan tanpa sungkan, Davina mencoba mengutarakan perasaannya terlebih dulu.
"Kalau kamu nggak ngijinin aku pulang selama tujuh hari, lebih baik aku resign. Aku nggak peduli sama semua kontrak kerja itu, kalau ada sanksi atau penalty, akan aku bayar. Yang penting aku bisa pulang, terserah kamu, kasih ijin atau nggak," sahut Abisatya tak kalah ketus sambil melepas tangan Davina dengan perasaan kesal.
Kalau boleh jujur, Abisatya sebenarnya tidak begitu mencintai Boss Lady-nya ini. Dia hanya merasa iba dan menghargai kegigihan perempuan ini dalam mendekati dirinya sekian lama dan mencoba mencuri perhatiannya. Laki-laki itu sebenarnya lebih menganggap Davina sebagai teman atau atasannya, bukan sebagai pacar.
"Satya, Sayang. Jangan gitu dong, gitu aja marah, sih? Oke deh, aku kasih kamu ijin pulang satu minggu atau tujuh hari! Tapi inget, hanya tujuh hari, ya! Setelah itu kamu harus segera balik ke Bandung! Deal?" ujar Davina sambil mengulurkan tangannya ke depan dan menatap kedua bola mata sang pujaan hati yang berwarna coklat.
Abisatya menyambut jabatan tangan Davina seraya berkata, "Oke, deal! Kalau gitu, aku pergi dulu, ya!" sahutnya sambil mencium pipi gadis itu sekilas, kemudian bergegas berlalu dari sana.
"Eh, Satya ... tunggu!"
Satya lalu berhenti saat hendak membuka pintu ruang kerja dan menoleh ke perempuan itu. "Ada apa lagi?"
Gadis itu berjalan menghampiri dan melingkarkan lengannya lagi di leher laki-laki itu dengan gayanya yang manja. "Aku turut berduka cita atas meninggalnya saudara kembarmu dan tolong, sampaikan salamku untuk keluargamu, ya. Dan ah ya, satu lagi ... hati-hati di jalan! Jangan lupa telpon aku kalau sudah sampai di sana, ya," rengek Davina manja sambil memberikan kode seperti orang menelpon dengan tangannya yang ditempel di telinga.
Abisatya hanya tersenyum kecil dan mengangguk pelan. Perlahan Davina menundukkan kepala laki-laki itu agar mendekat padanya lalu dikulumnya bibir merah itu dengan lembut. Abisatya pun membalas ciuman perempuan itu sambil melingkarkan lengannya di pinggang sang gadis yang mengenakan setelan blazer dan rok span selutut yang warnanya senada—hijau botol. Bau parfum aroma bunga yang manis, menguar dari tubuhnya yang padat, sesaat membuatnya terlena. Namun, dia tidak ingin terbuai terlalu lama dengan perempuan ini. Ada yang lebih penting yang harus diselesaikan segera, yaitu pemakaman saudara kembarnya.
♥♥♥
"Satya, kamu datang, Nak!" sapa Bu Mayang parau begitu melihat kehadiran putranya di rumah duka—di rumah Abi dan Rhea.
Saat itu rumah duka sudah ramai oleh para tamu yang datang untuk menghadiri pemakaman Abiwara. Selain teman-teman sejawat Abiwara yang datang, teman-teman kantor Rhea yang berprofesi dokter dan beberapa klien besar juga ikut hadir di acara pemakaman itu. Karena bagaimanapun juga Abiwara Darmais adalah seorang arsitek yang cukup ternama dan selalu bisa memenuhi keinginan klien, baik klien besar maupun kecil. Abiwara tidak pernah membeda-bedakan mereka. Maka tak heran bila rumah duka itu di penuhi oleh banyak pelayat yang ingin memberikan penghormatan terakhir untuk laki-laki yang sangat rendah hati ini. Beberapa orang dari para tamu yang datang yang belum mengenal Abisatya sebagai saudara kembar Abiwara, langsung tercengang dan berbisik-bisik sambil melirik ke arah laki-laki itu. Abisatya sudah biasa dengan situasi yang seperti ini, karena memang tidak ada yang bisa membedakan dirinya dan Abi.
"Ibuuu ...."
Abisatya segera memeluk Bu Mayang yang menangis sesenggukan di pelukan putranya, Laki-laki itu pun ikutan menangis. Cukup lama ibu dan anak ini saling menangis, membuat para pelayat yang hadir di sana jadi ikutan terharu, terutama Rhea, mantan istri Abiwara yang terduduk di dekat jenazah ditemani oleh Bu Hamida—ibu kandungnya. Abisatya merasa tidak seharusnya Abiwara pergi secepat ini di usianya yang baru menginjak kepala tiga, tapi apa mau dikata takdir berkata lain.
"Satya, Abi, Abi ... Abi sudah nggak ada, Sat," ujar Bu Mayang parau sambil melepaskan pelukannya dan menunjuk ke jenazah putranya yang berada di tengah ruangan dengan tangannya yang bergetar. Satya mengangguk sebagai tanda mengerti sambil mengusap matanya yang sembap dan melihat jenazah Abiwara yang terbujur kaku, ditutupi selembar kain batik. Abisatya lalu menghampiri jenazah itu, sementara Bu Mayang kembali duduk di tempatnya semula.
Aroma bunga mawar dan melati menguar di udara, memenuhi ruangan yang berukuran 4 x 3 meter itu. Ruang tamu yang dulu begitu hangat, kali ini terasa kosong dan hampa, apalagi saat disulap sementara sebagai tempat peristirahatan terakhir untuk jenazah si empunya rumah, sebelum menuju ke pemakaman. Suasana duka terasa begitu kental di ruangan yang dihiasi beberapa foto keluarga. Laki-laki itu tidak suka suasana seperti ini.
"Bi, aku udah datang. Aku akan nganter kamu ke tempat peristirahatanmu yang terakhir," bisiknya lirih di telinga jenazah sambil duduk bersimpuh di sebelah jenazah. "Katakan padaku, Bi. Apa yang ingin kamu katakan?" lanjutnya sambil menatap wajah yang pucat pasi, dihiasi senyuman yang manis. Abiwara memang suka tersenyum, beda dengan dia yang pemarah, hingga ajal menjemput pun, laki-laki itu tetap mengulas sebuah senyuman yang teramat manis, seolah-olah tidak ada hal-hal yang buruk yang menimpa dirinya.
Entah mengapa, tiba-tiba saja ada sesuatu yang menggerakan hati Satya, untuk mendongak dan menatap ke arah Rhea—istri Abiwara—yang duduk bersimpuh di dekat jenazah sambil terisak dan melantunkan ayat-ayat suci untuk sang suami. Saat itu Abisatya melihat sosok Abiwara berdiri di belakang Rhea dengan senyumannya yang khas, Abisatya pun tercengang. Sosok Abiwara terlihat begitu jelas dan nyata, sosok itu tersenyum padanya, sebuah senyuman yang begitu damai, apalagi terlihat ada seberkas sinar yang menyinari sekujur tubuhnya.
"Apa benar seperti yang dikatakan oleh banyak orang dan mitos yang berkembang di masyarakat, apabila ada sebuah urusan yang belum selesai di dunia, maka roh atau jiwa dari orang yang sudah meninggal itu masih akan terus bertahan di dunia, hingga urusannya selesai?" batinnya penasaran.
♥♥♥♥