Chapter 2 - sosok itu

2050 Words
"Rhe, aku turut berduka atas kematian Abi, kamu yang tabah, ya," ujar Abisatya saat semua orang sudah meninggalkan makam itu, hingga tersisa hanya dia dan Rhea yang masih bertahan di sana. "Terima kasih, Kak Satya. Terima kasih kamu sudah datang. Mas Abi pasti sangat senang, begitu tahu kamu bisa datang menemuinya," sahut Rhea sambil tersenyum tipis dan mengusap ujung matanya yang berair, memandangi nisan yang bertuliskan nama Abiwara Darmais yang dihiasi taburan bunga-bunga aneka warna. Abisatya hanya terdiam dan lagi-lagi melihat sosok Abiwara yang berdiri di bawah pohon sambil memandang ke arah mereka, sepertinya ada sesuatu yang ingin diutarakan oleh saudara kembarnya itu. "Apa yang ingin kamu katakan, Bi? Kenapa kamu selalu datang menemuiku?" batin Abisatya sambil menatap ke sosok yang mirip Abiwara. "Kak, Kak Satya. Kak ... Kak Satya!" Abisatya kaget saat ada seseorang memegang pundaknya, laki-laki itu pun menoleh dan menatap ke samping dengan ekspresi wajahnya yang bingung, ternyata Rhea yang menepuk pundaknya. "Ada apa, Rhe?" "Kak Satya ngelamun? Dari tadi, aku perhatikan, kamu hanya terdiam sambil menatap ke arah pohon itu, makanya aku nepuk pundakmu. Ada apa?” tanya Rhea heran. “nggak baik ngelamun di pemakaman. Ini pemakaman, Kak." Abisatya mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. "Ayok, kita pulang!" Mereka berdua bergegas berlalu meninggalkan pemakaman, menuju ke mobil. Bau wangi bunga kamboja yang berguguran di tanah bercampur dengan berbagai macam dedaunan kering, tidak mengurangi aroma harumnya. Area pemakaman itu memang cukup luas, di kanan dan kiri mereka, tampak beberapa nisan dengan bentuknya masing-masing, bahkan ada yang diberi pagar sebagai pembatas dengan makam yang lain. Abisatya dan Rhea berjalan bersisian di antara nisan-nisan tersebut, aura magis terasa begitu nyata bagi mereka berdua, apalagi area pemakaman sudah mulai beranjak sepi, hanya ada segelintir orang yang berada di sana. Dari jauh tampak Adham dan Beno—teman sekantor Abiwara—sedang menunggu mereka di dekat mobil. "Rhea, aku turut berduka atas meninggalnya Abi, suamimu. Abi seharusnya nggak meninggalkan kita secepat ini, apalagi kalian berdua baru saja punya anak," ujar Adham sambil menjabat tangan Rhea erat, seolah-olah memberikan dukungan dan kekuatan ke perempuan itu. Rhea hanya mengangguk kecil dan tersenyum. "Terima kasih, Kak Adham." "Rhe, kalau kamu butuh bantuanku, apapun itu, kabari aku. Aku akan selalu ada untukmu. Kamu harus ingat itu, aku akan selalu ada untukmu. Kamu adalah istri sahabat kami, jadi sudah sepantasnya kami melindungi dan membantu kamu." Adham berusaha meyakinkan Rhea atas kesungguhannya. Namun, entah mengapa, Abisatya yang sedari tadi terdiam dan berdiri di belakang perempuan itu, merasa apa yang dikatakan oleh teman sekantor saudara kembarnya ini tidak tulus dan penuh basa-basi. Tiba-tiba saja Abisatya jadi tidak suka dengan kedua laki-laki yang tidak melepas kacamata hitamnya itu, padahal dia tidak punya masalah apa pun dengan mereka berdua. Abisatya kenal dengan Adham dan Beno, karena dulu Abiwara pernah mengenalkan mereka, waktu menginap di hotel—tempatnya bekerja. Waktu itu mereka ada acara di Bandung dan Abisatya juga pernah beberapa kali bertemu dengan kedua laki-laki ini. "Aku juga turut berdukacita, Rhe. Mungkin ini yang terbaik buat Abi, tapi kami berdua selalu siap membantumu dalam hal apa pun. Jadi jangan sungkan kalau ingin minta bantuan kami," sela Beno yang juga menjabat tangan Rhea, sementara Adham menyapa Abisatya yang hanya terdiam. "Apa kabar, Satya. Aku turut berdukacita untuk Abi." Abisatya hanya tersenyum sambil mengangguk kecil, saat itu di kejauhan sana, lagi-lagi dia melihat sosok yang mirip dengan Abi kembali muncul dan menggeleng pelan dengan ekspresi wajahnya yang tidak suka, seperti memberikan tanda sesuatu, tapi laki-laki itu tidak mengerti apa maksudnya. "Abi, bilang padaku. Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan? Aku nggak ngerti maksud kamu," batinnya sambil menatap ke sosok tersebut. "Satya ... kamu dengar ucapanku?" Abisatya menoleh ke Adham yang kali ini memegang lengannya, dia bingung dan tidak tahu kalau Adham mengajaknya ngobrol. "Hah? Ada apa, Dham? Kamu tanya ke aku?" tanya Abisatya bingung. Rhea yang memperhatikan laki-laki itu sedari tadi jadi ikut penasaran, karena sepertinya saudara kembar suaminya ini selalu melamun sejak tadi, entah apa yang dilamunkannya? "Aku tadi bilang, aku turut berdukacita atas meninggalnya saudaramu. Kami benar-benar kehilangan dirinya, dia itu seorang arsitek yang sangat berbakat, inovatif, ide-idenya selalu brilian dan spektakuler. Dia itu orang yang sangat baik. Abiwara selalu berusaha untuk tidak mengecewakan orang lain." Abisatya mengangguk, menyetujui pujian Adham tentang almarhum. "Yaa itulah Abi! Dia memang orang yang sangat baik dan selalu menjaga perasaan orang lain," sela Abisatya bangga. Sosok Abiwara kembali muncul di kejauhan di bawah pohon sambil menatap ke arahnya dengan tatapan matanya yang kosong. Abisatya jadi semakin penasaran, sebenarnya apa yang diinginkan oleh saudara kembarnya ini? “Kak Satya, kamu nggak apa-apa, ‘kan?” Suara Rhea membuyarkan lamunannya sesaat, laki-laki itu lalu menoleh ke perempuan yang berdiri di sebelahnya, menatapnya pilu. Ingin rasanya Abisatya memeluk mantan istri kembarannya ini dan memberikan dukungan padanya, agar dia jangan terus bersedih. Namun, semua itu disimpannya di dalam hati. “Aku nggak papa, Rhe. Kenapa?” “Nggak, dari tadi aku lihat Kak Satya nglamun terus. Nggak baik nglamun di tempat beginian,” sahut Rhea lirih, “oh iya, aku pulangnya sama kamu, ya! Kamu bawa mobil, ‘kan? Tolong antar aku ke rumah ibuku, aku menitipkan Shira di sana,” sahut Rhea penuh harap. “Rhe, kalau Satya nggak bawa mobil, kamu bisa pulang bareng kami,” sela Adham, diikuti anggukkan Beno yang berdiri di sebelah laki-laki itu. “Saya bawa mobil, kok,” sahut Abisatya mantap. “Mobil saya di sebelah sana!” lanjutnya sambil menunjuk ke mobil yang terparkir tidak jauh dari mereka berdiri. “Kalau begitu saya duluan ya, terima kasih untuk kedatangan kalian. Ayok, Rhe, aku akan antar kamu.” Perempuan itu pun mengangguk dan mengekor di belakang Abisatya, menuju ke mobil. Setibanya di mobil, Mirza—adik tiri Abisatya—sudah bersiap di belakang kemudi, laki-laki itu segera membuka pintu mobil bagian belakang seraya berkata, “Mirza, kita antar Kak Rhea dulu ke rumah orang tuanya, ya!” Mirza mengangguk dan menyilakan saudara iparnya untuk duduk di kursi belakang. “Silakan, Rhe!” “Terima kasih ….” Rhea bergegas masuk ke dalam mobil, sementara Mirza yang berada di belakang kemudi hanya mengangguk dan tersenyum padanya. “Oke, kita jalan, Mir!” Tak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi telah membelah jalan raya, menuju ke rumah orang tua Rhea. Sepanjang perjalanan, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut ketiganya, mereka bertiga berada di dunianya masing-masing dengan pemikiran mereka sendiri-sendiri. “Kak Satya, boleh aku tanya?” Suara Rhea tiba-tiba memecah keheningan di antara mereka, yang sedari tadi hanya terdiam dan memperhatikan riuhnya jalan raya. “Mau tanya apa?” sahut Abisatya yang duduk di bangku depan, di sebelah Mirza tanpa menoleh ke belakang. “Aku perhatikan … dari tadi kayaknya kamu ngelamun terus, kalau boleh aku tahu, kamu lagi ngelamunin siapa? Karena beberapa kali aku lihat sepertinya kamu nggak fokus,” balas Rhea sambil memperhatikan laki-laki itu yang masih menatap lurus ke depan melalui jendela mobil. “Kenapa kamu ingin tahu?” sela Abisatya sambil mengulas senyum manis. “Oh ya, ngomong-ngomong sudah berapa lama kita nggak ketemu, ya? Sepuluh atau duabelas tahun, ya?” tanyanya sambil berusaha mengalihkan pembicaraan agar Rhea tidak bertanya lagi soal apa yang sedang dipikirkannya saat ini. “Duabelas tahun, lama sekali, ya? Aku masih ingat, dulu … waktu kita terakhir kali ketemu, waktu itu kamu mau ke Paris, ‘kan?” sahut Rhea sambil memandang jauh keluar melalui jendela mobil dan teringat kenangan terakhirnya bareng Abisatya saat itu. Laki-laki itu mengangguk mengiakan ucapan mantan iparnya. “Kayaknya baru kemarin, kita SMA, ya! Tahu-tahu kamu sudah nikah sama Abi, punya anak dan sekarang dia pergi meninggalkan kita.” Rhea mengangguk sambil menyeka pipinya yang kembali sembab. “Saat anak kita sudah lahir, tapi kamu malah meninggalkan kami,” batinnya sedih sambil menatap keluar jendela mobil. Perempuan itu merasa hatinya hampa dan sepi, sejak Abiwara pergi meninggalkannya, meskipun banyak orang yang mencoba menghibur, tapi itu hanya sesaat. Kenangan bersama Abiwara selalu membuatnya sedih dan menangis. Dia selalu hanyut dengan kenangan masa lalu bareng sang suami. Tidak bisa dipungkiri kalau Abiwara adalah cinta pertama yang tidak mungkin bisa dia lupakan begitu saja dan rasanya untuk jatuh cinta lagi sama pria lain, Rhea masih belum siap. Dirinya masih butuh waktu, entah itu sampai kapan. Dia sendiri tidak tahu. “Rhe …?” Intonasi suara Abisatya yang mirip sekali dengan suara Abiwara, membuyarkan lamunannya. “Ada apa, Mas Abi? Eh, sorry, ada apa, Kak Satya?” tanyanya canggung. “Aku minta maaf, waktu kamu nikah sama Abi tempo hari, aku nggak bisa datang. Waktu itu aku lagi ada tugas di Menado, aku--…” “Nggak apa-apa,” sela Rhea, “aku bisa ngerti, kok. Tempo hari ‘kan kamu udah bilang via video call. It’s okay.” “Nah, kita sudah sampai, Kak!” sela Mirza menimpali percakapan mereka berdua. “Kamu bener nggak apa-apa?” tanya Abisatya cemas sambil menoleh ke belakang, menatap perempuan itu. Rhea pun menggeleng. “Aku nggak apa-apa, terima kasih, ya!” ujarnya sambil bersiap membuka handle pintu mobil. “Aku antar ke dalam, ya,” pinta Abisatya penuh harap. “Aku ‘kan belum lihat keponakanku!” Rhea tersenyum dan mengangguk kecil. “Oke, aku kenalin kamu sama Shira, tapi jangan lupa cuci tangan dan kaki dulu, ya. Sebelum ketemu sama dia. Dia ‘kan masih lembut sekali, baru satu bulan.” Laki-laki itu mengangguk kemudian bergegas masuk ke dalam rumah bareng Mirza dan Rhea, dan bertemu dengan Shira Aquene—putri kandung Abiwara dan Rhea—yang masih begitu kecil, mungil dan lembut. Laki-laki itu terharu bahagia saat bayi mungil itu ada dalam pelukannya. Belum sempat dia melihat jelas siapa-siapa saja yang ada di sekelilingnya, bayi mungil ini harus kehilangan sang ayah yang telah pergi meninggalkannya. Abisatya kembali merenung dan berpikir keras, kira-kira apa yang akan disampaikan Abiwara padanya, karena berulang kali saudara kembarnya itu menunjukkan diri di depannya. “Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan, Bi? Saat ini aku sedang bersama putri kecilmu,” batinnya resah. ♥♥♥♥♥♥♥ “Jangan! Jangan! Aku mohon jangan ke sana! Abi awas! Jangan ke sana! Jangan! Awas! Awas! Hati-hati! Awas! Aku mohon, Bi! Jangan ke sana! Abi, jangan ke sana!” Malam itu kembali Abisatya bermimpi tentang Abiwara, mimpi yang sama saat saudara kembarnya itu meninggal dunia. Laki-laki itu pun meracau memanggil-manggil nama Abiwara, tubuhnya berguncang ke kanan dan ke kiri, hingga akhirnya Abisatya pun berteriak dan terbangun dari tidurnya. “Jangan, Bi! Jangan ke sana! Aku mohon, jangan ke sana! Abiii!” Laki-laki itu terbangun dengan napasnya yang memburu dan terengah-engah, peluh membasahi wajah. “Kenapa aku mimpi seperti itu lagi?” gumamnya heran sambil menoleh ke samping, gelas yang berisi air putih sudah kosong, sementara kerongkongannya terasa kering. Bergegas Abisatya turun dari ranjang sambil melirik jam beker yang ada di atas nakas, sudah jam dua pagi. “Sama seperti kemarin, aku juga terbangun jam dua pagi dan Abi ada di depanku, memanggil namaku,” gumamnya lagi sambil menyapu tatapannya ke seluruh ruangan untuk mencari sosok Abiwara, siapa tahu dia akan muncul malam ini. Tapi nihil, sosok itu tidak terlihat di manapun. Abisatya lalu keluar kamar sambil membawa gelas kosong tersebut ke dapur, rasa haus semakin terasa di kerongkongannya. Dibukanya lemari pendingin yang ada di ujung dapur, diambilnya sebotol air dingin, lalu dituangkan ke gelas yang kosong dan diminumnya sampai habis. Diisinya lagi gelas tersebut dan segera berlalu dari dapur sambil membawa gelas berisi air putih ke kamar. Saat melintasi ruang keluarga, Abisatya melihat ada seseorang yang sedang duduk menghadap ke televisi, membelakangi dirinya. Dengan pencahayaan ruangan yang remang-remang, dia mengira itu adalah Mirza yang sedang duduk di sana, tapi anehnya kenapa adiknya hanya diam saja dan televisi pun tidak menyala, jadi apa yang dilakukan Mirza di pagi buta begini? “Kenapa Mirza diam saja di situ?” batinnya heran sambil berjalan menghampiri sang adik bungsu. Namun, semakin dia mendekat ke arah Mirza yang duduk membelakanginya, Abisatya merasa kalau orang itu bukan Mirza, karena rambutnya sedikit panjang, sedangkan Mirza rambutnya pendek, cepak. Belum sempat Abisatya menepuk bahu orang itu dari belakang. Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara memanggilnya, “Kak!” Abisatya pun menoleh ke belakang, Mirza sedang berdiri di sana. “Ngapain kamu di situ?” tanya Mirza heran. Abisatya pun bingung dan menoleh ke kursi yang dihampiri tadi, ternyata kursi itu kosong, tidak ada seorang pun yang duduk di sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD