Memasuki pelataran rumah yang asri dan sederhana milik keluarga Darmais selalu membuat dirinya nyaman dan betah berlama-lama di sana, apalagi banyak kenangan yang membekas di rumah ini. Kenangannya bersama sang suami tercinta selalu menari dalam benaknya, setiap sudut dalam ruangan itu, mulai dari teras depan rumah sampai dapur, mempunyai cerita tersendiri yang tidak mungkin terlupa begitu saja. Rhea teringat saat pertama kali bertemu dengan Abiwara sembilan tahun yang silam.
“Kamu ingat, apa yang dibilang sama Angkasa waktu ketemu lagi sama Bintang, setelah sekian lama mereka berpisah?” tanya Abiwara saat mereka bertemu lagi di kota Pangandaraan.
Rhea tersenyum penuh arti. “Waktu itu Angkasa bilang sama Bintang, kalau Bintang tempatnya itu seharusnya ada di Angkasa, sama seperti Bintang yang ada di hati Angkasa.”
“Seperti itu juga yang ingin aku bilang ke kamu saat ini, Rhe. Setelah selama sembilan tahun kita nggak ketemu. Rasanya nggak perlu basa-basi terlalu lama, aku cuma ingin kamu tahu kalau kamu seharusnya ada di hati aku selamanya,” ujar Abiwara to the point. Rhea pun kembali mengulum senyum.
“Sepertinya kamu yakin sekali kalau aku mau sama kamu? Apa yang membuatmu yakin?”
“Aku sangat yakin sejak awal kita ketemu, setelah sembilan tahun lamanya kita berpisah. Waktu itu aku nanya sama kamu melalui chatting, apa kamu sudah punya pacar? Apa jawabmu?” Rhea hanya tersenyum sambil menatap Abiwara lekat. “Aku masih ingat dengan jelas, waktu itu kamu bilang kalau kamu punya pacar, kamu pasti nggak akan balas chatku waktu itu. Itu artinya, kalau kamu punya pacar, kamu bakal serius sama pacar kamu dan nggak bakal nanggepin cowok lain, apa benar begitu?” tanyanya penasaran.
“Dari dulu, kamu memang selalu bisa membaca pikiranku,” sahut Rhea tersipu malu.
“Dari dulu aku selalu serius sama kamu, Rhe,” balas Abiwara sambil memegang tangan perempuan itu yang berada di atas meja. “Dan saat ini aku nggak mau pacaran sama kamu, tapi aku ingin langsung melamarmu jadi istriku, aku ingin kamu jadi ibu dari anak-anakku.” Laki-laki itu meremas tangannya lembut.
Namun, Rhea bimbang. “Kamu nggak usah khawatir, Rhe. Karena aku sudah dapat persetujuan dari Satya. Abisatya malah mendukung aku 100%, jadi kami nggak bersaing lagi kayak dulu untuk mendapatkan kamu.”
Rhea mengulas senyum manis. “Itu cerita lama, Kak Abi. Dulu aku sempet kesel sama kalian berdua, karena kalian saling bertukar peran untuk mendekati aku. Tapi aku salut sama kalian berdua, waktu kalian berdua mengakui kesalahan kalian sendiri, bahkan Kak Satya waktu itu sempat menemui aku, waktu dia mau berangkat ke Perancis.”
“Iyaa, dia juga cerita soal itu sama aku, waktu itu dia malah nyuruh aku untuk ngedeketin kamu lagi, tapi aku rasa percuma ….”
“Kenapa percuma?” sela Rhea penasaran.
“Yaa, percuma … karena waktu itu aku kuliah di Jogja, sedangkan kamu di Jakarta. Aku paling nggak suka hubungan LDR, jarak jauh seperti itu. Makanya aku juga nggak berharap banyak, tapi ternyata, akhirnya kita dipertemukan lagi, iya kan?”
“Tapi saat ini aku belum bisa jadi istrimu, Kak Abi. Aku masih bertugas di kota Pangandaran ini sebagai dokter, aku ingin mengabdi dan membantu dulu untuk masyarakat di sini, aku belum ingin menikah.”
“Jadi itu artinya, kamu menerima aku, ‘kan?” tanya Abiwara sambil menyeringai lebar. Lagi-lagi Rhea hanya tersenyum dan tidak memberikan jawaban yang pasti. “Aku nggak masalah, Rhea. Aku akan menunggu kamu, sampai kamu siap menjadi istriku!”
♥♥♥
“Saat aku sudah siap menjadi istrimu dan memberi kamu seorang putri yang cantik, tapi kamu malah meninggalkan aku, Kak,” batin Rhea sambil menyeka matanya yang sembab dan terus berjalan menuju ke pintu utama rumah mungil itu.
Rhea merasa hatinya hampa dan sepi, sejak Abiwara pergi meninggalkannya, meskipun banyak orang yang mencoba menghiburnya, tapi itu hanya sesaat. Kenangan bersama almarhum suaminya itu selalu membuat Rhea sedih dan menangis. Perempuan itu selalu hanyut dengan kenangan masa lalunya bareng Abiwara. Pria itu adalah cinta pertama yang tidak mungkin bisa dia lupakan begitu saja dan rasanya untuk jatuh cinta lagi sama pria lain, Rhea masih belum siap. Dia masih butuh waktu, entah itu sampai kapan. Perempuan itu sendiri tidak tahu.
“Rhea, Sayang! Apa kabar?” sapa perempuan tua yang sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri yang menyambutnya di ruang tamu sambil memeluknya hangat saat dia masuk ke dalam rumah tersebut. “Kamu sendirian? Mana Shira? Nggak kamu bawa pulang?”
Rhea menggeleng pelan sambil menyeringai kecil seraya berkata, “Shira masih di rumah Ibu. Biar dia di sana dulu. Di sana banyak orang, banyak yang ngurusin,” sahutnya lirih. “Ibu sehat-sehat saja, ‘kan?”
Perempuan tua itu mengangguk dan mengajaknya duduk di sofa yang ada di sana. “Sayang, kenalkan ini Lara,” ujar Bu Mayang sambil menunjuk ke perempuan yang berdiri di depan mereka.
Perempuan berambut lurus itu tersenyum. Namun, dari pakaiannya, sepertinya tidak asing di mata Rhea, pakaian ala bohemian—rok panjang A-line polos berwarna putih semata kaki dan blouse atasan berkerah sabrina warna coklat polos plus sabuk besar yang melilit di pinggang—dengan assesoris tali yang melingkar di kepala. Perempuan muda itu mencoba mengingat-ingat.
“Apa kabar, Rhea?” sapa Lara dengan suaranya yang berat.
“Rasanya, kita pernah ketemu, yaa di suatu tempat? Tapi di mana, ya?” sahut Rhea penasaran sambil memperhatikan perempuan eksentrik itu dengan seksama.
Lara kembali tersenyum seraya berkata, “Iyaa, kamu benar. Rasanya kita memang pernah ketemu. Kalau nggak salah, waktu itu di rumah sakit! Waktu itu kamu terburu-buru, lalu kita nyaris tabrakan.”
“Oh iya, kamu benar! Di rumah sakit, malem-malem, ‘kan?” sela Rhea cepat.
“Apa kamu sudah dinas lagi, Rhe?” Bu Mayang ikut menimpali percakapan mereka.
“Nggak, Bu. Jadi ceritanya, waktu itu aku kena alergi, gara-gara makan udang, lalu aku ke rumah sakit dan tabrakan sama dia. Siapa tadi namanya?”
“Lara! Kamu bisa panggil aku Lara!”
“Ternyata tanpa diduga, kalian berdua ketemu lagi, yaa?” sahut Bu Mayang sambil menyeringai lebar. “Eeeh, kenapa kita berdiri terus sedari tadi. Ayook, sekarang kita duduk!” lanjutnya sambil menghempaskan pantatnya di sofa, kedua perempuan itu pun duduk di sofa besar yang berwarna krem.
“Menyambung pembicaraan kita tadi, kalau nggak salah, kamu sempat mengatakan sesuatu ‘kan waktu itu? Soal hati-hati dengan orang di dekatmu, iyaa kalau nggak salah kamu bilang seperti itu ke aku. Kalau boleh aku tahu, apa maksudnya?”
“Itulah namanya takdir, Rhea! Boleh aku memanggilmu Rhea?” Perempuan muda itu mengangguk. “Ternyata aku memang ditakdirkan untuk ketemu sama kamu, karena memang ada yang harus aku sampaikan ke kamu dan ini nggak mengada-ada. Ini memang real, aku mendapat vision yang kurang baik tentang kamu.”
Kening Rhea mengerut ke tengah, dia mencoba mencerna apa yang diucapkan oleh perempuan yang baru dikenalnya ini. Karena baginya kalau hal itu tidak sesuai dengan logika atau daya nalarnya, rasanya tidak bisa dipercaya begitu saja.
“Vision? Maksud kamu bisa menerawang begitu?” tanya Rhea heran sambil memperhatikan perempuan itu dengan seksama. “Oh, aku tahu. Kamu ini pasti juga mau meyakinkan aku soal almarhum suamiku, ‘kan?” Lara hanya terdiam sambil melirik ke Bu Mayang yang menyimak percakapan mereka. “Bener, ‘kan?” desaknya penasaran.
Lara pun mengangguk sambil melirik ke Abisatya yang masuk ke ruang tamu sambil membawa kudapan ringan buatannya yang diletakkan di atas piring-piring kecil di atas baki kayu, sementara Yani—sang asisten rumah tangga—mengekor di belakang sambil membawa empat cangkir—terbuat dari porselen—yang berisi teh panas lengkap dengan teko, sendok kecil dan wadah yang berisi gula batu.
“Here we go! Tres Leches cake buatanku sudah jadi! Di cake ini aku pakai tiga jenis s**u yang berbeda. Silahkan dicicipi,” ujar Abisatya sambil meletakkan piring-piring kecil itu di atas meja, sementara Yani mengekor di belakang tuan mudanya, menyajikan cangkir-cangkir berisi teh panas itu “hei, Rhe! Kamu sudah datang! Ayok, cicipi kudapan buatanku ini!” lanjutnya sambil menyodorkan piring kecil itu ke Rhea.
“Hmm … enak! Lembut dan lumer banget di mulut,” sela Lara sambil mulai mencicipi kudapan buatan Abisatya, “Rasa susunya enak, nggak eneg. Ternyata kamu bisa bikin kue juga?” tanyanya heran.
Bu Mayang menyeringai kecil sambil melirik ke putranya seraya berkata, “Satya ini chef hotel berbintang, Lara,” selanya sambil menyesap teh panasnya perlahan.
“Oh ya? Hmm … pantesan rasanya seperti kue-kue buatan hotel. Kapan-kapan boleh, nih dibuatin yang beginian kalau ada acara special di rumah! Bisa, ‘kan?”
Abisatya menyeringai lebar sambil menghempaskan tubuhnya di sofa seraya berkata, “Boleh, boleh aja! Asal bayarannya cocok,” ujarnya sambil tertawa tergelak, “nggak, becanda. Itu bisa diatur, Lara,” lanjutnya sambil melirik ke Rhea yang masih saja terdiam sambil menikmati kudapan buatan Abisatya, “gimana, Rhe? Enak?” Perempuan itu mengangguk mantap sambil tersenyum manis. “Terima kasih, Rhe. Oh iya, tadi obrolan kalian sudah sampai mana?”
“Oh iya, aku jadi inget,” sela Lara sambil menaruh piring kecil yang telah kosong itu di atas meja, “aku tadi belum jawab pertanyaan Rhea soal almarhum suaminya. Bukan begitu, Rhea?” tanya Lara sambil menyesap teh panasnya perlahan. Rhea kembali mengangguk, “oke, aku akan jawab pertanyaan kamu, Rhea. Aku memang punya tujuan yang sama seperti Abisatya untuk meyakinkan kamu kalau almarhum suami kamu itu memang benar-benar datang menemui saudara kembarnya, yaitu Satya.”
Rhea menghela napas dalam dan memutar kedua bola matanya sambil meletakkan piring kecilnya yang telah kosong di atas meja. “Kenapa yang dibicarakan itu lagi, itu lagi? Apa nggak ada pembicaraan lain yang lebih bermanfaat?” balasnya sambil menyesap teh panasnya perlahan.
“Apa yang akan kita obrolin ini, sangat bermanfaat, Rhe,” sela Abisatya sambil menatap kelat perempuan itu. “Karena apa yang akan kita bahas ini menyangkut keselamatan kamu dan Shira. Kamu ingat ‘kan apa yang aku bilang kemarin?” tanyanya lagi.
“Tapi nggak apa-apa, Kak Satya. Dan lagi aku yakin Kak Adham dan Kak Beno itu nggak bakal berbuat jahat ke aku, mereka itu orang baik.” Rhea malah berusaha balik meyakinkan Abisatya tentang teman-teman kantor almarhum suaminya. “Contohnya, kemarin waktu di rumah sakit, waktu aku ketemu sama Lara. Saat itu aku ditolong sama Kak Adham, dia yang ngajak aku ke rumah sakit untuk ngobatin alergiku karena udang yang aku makan.”
“Tapi, Rhe--…”
Rhea segera mengangkat tangannya ke atas saat Abisatya menyela. Perlahan diletakkannya cangkir teh itu di atas meja. “Tunggu dulu, aku belum selesai ngomong,” sahutnya sambil menatap ketiga orang yang berada di ruangan itu secara bergantian satu per satu, “kalau dia mau berbuat jahat ke aku, bisa aja ‘kan dia nggak peduli sama aku dan ninggalin aku begitu saja yang lagi kegatelan,” jelasnya tegas, “iya ‘kan? Bener ‘kan apa yang aku bilang?”
Abisatya tampak menghela napas dalam. “Begini, Rhe. Aku tahu, aku yakin kalau saat itu Adham nggak mungkin akan menyakiti kamu atau akan berbuat jahat ke kamu. Karena apa?” jelas laki-laki itu, “karena rasanya masih terlalu dini untuk melaksanakan aksinya. Kuburan Abi masih belum kering, rasanya kurang etis kalau menyakiti mantan istrinya.” Kening Rhea berkerut ke tengah, apa yang dibilang sama Abisatya ada benernya juga. “Rhe, denger aku! Suatu saat nanti, kalau kamu lengah dan kamu sudah begitu percaya sama mereka, aku yakin, bukan nggak mungkin, pada saat itu mereka akan melaksanakan tugasnya. Bukan begitu, Lara?” ujar laki-laki itu lagi sambil menoleh ke Lara.
Lara pun mengangguk mantap, membenarkan ucapan Abisatya. “Ya, memang benar apa yang diungkap oleh Abisatya. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk melaksanakan rencana mereka. Lagian kamu belum dapat uang 2,5 milyar itu, ‘kan?”
“Jadi kamu juga tahu, soal uang 2,5 milyar itu?” sela Rhea kesal.
Lara pun mengangguk seraya berkata, “Gara-gara uang itu ‘kan almarhum suamimu meregang nyawa? Hal seperti ini, biasa terjadi, Rhea. Hanya gara-gara uang, seseorang sampai nekat menghabisi teman, saudara, sahabat bahkan istri atau suami sekalipun,” lanjutnya santai. “Apa boleh aku merokok?” tanyanya sambil mengeluarkan sebuah kotak hitam yang terbuat dari besi dari dalam tas.
“Aku tidak suka kalau ada asap rokok di ruangan ini,” sela Rhea dengan nada keberatan, “kalau kamu mau merokok, lebih baik di depan saja, di teras tapi jangan di sini,” sahutnya sambil menunjuk teras depan rumah. Bu Mayang dan Abisatya hanya terdiam, saling menatap satu sama lain. Mereka sudah terbiasa dengan sikap Rhea yang tegas dan kritis.
Lara pun mendengkus kesal dan memasukkan lagi kotak hitam itu ke dalam tas. “Oke, baiklah. Nanti, aku akan merokok di teras, seperti yang kamu minta. Sebelumnya aku minta maaf, karena aku terbiasa melakukan hal itu kalau sedang bekerja.”
“Maksudmu merokok?” sela Rhea lagi heran.
Lara kembali mengangguk. “Cara kerjaku memang seperti itu saat hendak menerawang sesuatu.” Rhea menyeringai kecil, seolah-olah tidak percaya dengan semua ucapan Lara. “Aku tahu, kamu nggak percaya, ‘kan?”
“Jelas saja aku nggak percaya! Buatku semua ini nonsense, nggak masuk di akal! Kecuali kalau kamu bisa buktikan padaku dengan menghadirkan almarhum suamiku ke sini! Seperti yang dilihat oleh Kak Satya!” tantang Rhea kesal.
“Oke, aku akan melakukannya! Akan aku tunjukkan ke kamu kalau yang tidak terlihat itu memang benar-benar ada!”