BAB 10 - perempuan eksentrik

2339 Words
 “Baik, Bu! Saya nunggu di sini. Nanti Bu Rhea bisa nelpon saya, kalau sudah selesai acara makan malamnya,” sahut Pak Abdulah—sang sopir—atau yang biasa dipanggil Pak Dul. Perempuan itu hanya mengangguk kemudian bergegas keluar dari mobil dan berjalan gontai menuju ke restaurant. Setibanya di sana, bergegas dihampirinya petugas reservasi yang menyambutnya di area depan. Belum juga bertanya pada sang petugas, tiba-tiba seorang laki-laki perlente dengan dandanannya yang semi formal—kemeja, jas dan celana jeans—tampak menghampirinya sambil menyeringai lebar. “Rhea! Akhirnya kamu datang juga! Aku suka sekali!” sapa Adham sambil mengembangkan kedua tangannya ke samping dan tersenyum lebar. Kedua bola matanya tampak berkilat senang, begitu melihat kehadiran perempuan yang ditunggunya sedari tadi. “Terimakasih, Kak Adham!” sahut Rhea sambil menjabat tangan laki-laki perlente ini yang berdiri di depannya. “Mari, aku tunjukkan meja kita. Aku sudah memesan makanan special buat kamu!” Rhea hanya tersenyum sambil berjalan bersisian di sebelah laki-laki yang mengundangnya makan malam saat itu, menuju ke meja yang berada di sudut ruangan tersebut. Malam itu restaurant yang mengusung konsep high end ini tampak lengang, tidak begitu banyak pengunjung yang datang dan menikmati menu makanan yang ditawarkan, mulai dari menu Western hingga Chinese. “Nah, ini meja kita! Ayoo, Rhe … silahkan duduk!” Adham segera menggeret sebuah kursi dan menyilahkan perempuan itu untuk duduk di kursi tersebut. Rhea pun menurut dan duduk di kursi yang berada di depan meja bundar gaya kolonial sambil tersenyum tipis. “Terima kasih!” Laki-laki itu hanya mengangguk dan menjentikkan jemarinya ke arah pelayan yang sudah dipesannya sedari tadi. Seorang pelayan yang bersiaga di sana, bergegas menyiapkan makanan yang sudah dipesan oleh pelanggan setianya itu. “Bagaimana keadaanmu saat ini, Rhe? Kamu baik-baik saja, ‘kan?” tanya Adham sambil menghempaskan pantatnya di kursi yang berada di sebelah Jodha. “Aku baik-baik saja, aku sehat. Yaa, meskipun kadang aku masih merasa sedih,” sahutnya lirih. “Perasaan kehilangan dan kesepian memang nggak bisa berubah dengan begitu cepat, tapi aku yakin lambat laun dengan berjalannya sang waktu, kamu pasti akan terbiasa dan bisa melupakan semuanya,” sela Adham lirih dengan nada sedih sambil memegang tangan perempuan itu yang berada di atas meja. Rhea jadi merasa tidak nyaman, ketika teman almarhum suaminya ini memegang tangannya. “Kenangan akan Abiwara tidak akan mudah aku lupakan,” sahut Rhea cepat sambil melepas tangannya dari genggaman tangan laki-laki itu. Hati kecilnya merasa laki-laki ini mempunyai maksud tertentu. “Apa benar yang dibilang sama Kak Satya tempo hari? Kalau pria ini memang punya maksud tertentu?” batinnya resah, sementara laki-laki perlente itu tersenyum masam dan menghela napas dalam. “Yaa, aku tahu, almarhum Abiwara itu adalah segala-galanya buat kamu. Aku bisa memahami itu, apalagi tanah kuburannya juga masih basah. Tapi aku harap kamu jangan terjebak pada kenangan masa lalu saja, Rhea. Masa depanmu masih jauh membentang di depan, apalagi kamu adalah seorang dokter.” Tepat pada saat itu makanan yang dipesan oleh Adham telah tiba, para pelayan yang membawanya segera menyajikan untuk mereka berdua. “Nah, makanan kita sudah datang! Bagaimana kalau kita makan dulu? Rasanya perut ini sudah nggak tahan!” lanjutnya sambil mengambil makanan pesanannya dan menaruhnya di atas piring. Perempuan yang duduk di depannya hanya tersenyum sambil mengisi piringnya dengan menu makanan yang lain. Malam ini Adham memesan tiga menu makanan special yang dipesannya khusus untuk Rhea. Selain ingin bisa lebih dekat dengan perempuan ini, dia juga ingin mencuri perhatiannya melalui makanan-makanan itu, maka tak heran kalau pria itu memesan tiga menu makanan yang berbeda, mulai dari frittata, sup jamur shitake dan udang saus telur asin. “Bagaimana? Kamu suka dengan makanan yang aku pesan?” “Yaaa, not bad! Enak juga!” “Tapi kenapa udangnya nggak dimakan? Enak lho!” tanya Adham sambil menunjuk ke udang saus telur asin yang belum disentuh oleh Rhea. “Aku nggak bisa makan udang. Aku alergi udang,” sela Rhea sambil meringis kecil. “Jadi kamu alergi sama udang? Tapi itu sup jamurnya kayaknya ada campuran udangnya juga deh! Kalau nggak salah,” ujar Adham sambil menyeringai bingung. “Yang bener? Serius?” sela Rhea panik dan mulai merasakan gejala gatal-gatal itu di leher dan pipinya yang mulai memerah. “Aduh, kayaknya bener deh, aku mulai ngerasa gatal-gatal ini,” lanjutnya sambil mulai menggaruk pipinya yang gatal sambil meringis. “Waah, maaf, Rhe. I’m so sorry! Aku bener-bener nggak tahu. Apa kita perlu ke rumah sakit? Alergimu itu harus segera ditangani, ‘kan? Aku antar kamu ke rumah sakit, ya? Lihat pipimu sudah merah-merah seperti itu.” Adham benar-benar merasa bersalah, saat melihat perempuan yang duduk di depannya meringis kesakitan sambil sesekali menggaruk leher dan pipi yang terasa gatal. Penyakit alergi yang dideritanya sejak kecil ini memang sungguh menyiksa. Adham segera mengajaknya ke rumah sakit, setelah membayar semua makanan yang mereka pesan malam itu. Malam ini, mungkin bukan malam special bagi Adham, tapi dia yakin masih ada malam-malam yang lain yang bisa menggantikannya. Dan yang perlu diingat kalau pesan makanan lagi, jangan pesan makanan yang mengandung udang. Noted! Dari kejauhan gedung putih itu sudah terlihat. Adham segera melajukan mobilnya dengan kencang,  tak lama kemudian mereka berdua telah memasuki lobby utama rumah sakit. Namun, baru saja hendak melintas di area lobby, menuju ke resepsionis yang berjaga di sana, tanpa sengaja tubuh Rhea bertabrakkan dengan seorang perempuan tinggi semampai yang mengenakan baju dengan konsep ala bohemian—rok panjang A-line semata kaki dan blouse atasan yang ketat plus sabuk besar yang melilit di pinggang—ciri khas yang mudah diingat. Sesaat mereka berdua terdiam sambil saling menatap satu sama lain, perempuan berambut lurus itu tersenyum dan mengambil tas tangan Rhea yang jatuh ke lantai lalu memberikan padanya seraya berbisik lirih, “Hati-hati dengan orang yang dekat denganmu! Selamat malam!” Perempuan asing itu kemudian berlalu meninggalkannya, sesaat Rhea terhenyak dan tidak mengerti apa maksud dari ucapannya. Siapa dia sebenarnya? Ingin rasanya Rhea mengejar perempuan itu. Namun, tiba-tiba saja Adham sudah muncul di depannya. “Ayoo, Rhe! Kita ke IGD sekarang! Alergimu itu harus segera diobati!” Jodha hanya terbengong dan mengangguk bingung, lalu mengekor di belakang Syarifudin yang mengajaknya ke ruang IGD. ♥♥♥♥ “Selamat siang, apa benar ini rumah Nona Lara? Lara Prayoga?” Seorang laki-laki paruh baya dengan warna rambutnya yang telah memudar, berganti menjadi putih tampak mendongak dan menatap ke arah seorang pria muda yang berdiri di depannya bareng seorang perempuan tua, yang usianya mungkin sekitar 60 tahun. Laki-laki itu lalu menaruh sekop kecil yang baru saja digunakan untuk mengisi pot bunganya dengan tanah, kemudian berdiri seraya berteriak lantang, “Lara! Ada tamu!” “Ya!” teriak seorang perempuan dari dalam rumah yang berpagar tanaman perdu. Kedua tamu mereka saling menatap satu sama lain sambil berdiri di depan sang tuan rumah yang meringis kecil karena kedua tangannya kotor kena bekas tanah. “Sebentar lagi Lara datang, kalian bisa nunggu di teras, silahkan!” ucap pria paruh baya itu sambil menunjuk ke teras rumah, di mana terdapat beberapa kursi rotan bundar dengan bantal warna-warni sebagai dudukan dan sandarannya. “Maaf yaa, tangan saya kotor, jadi--…” “Nggak papa, Pak! Santai saja!” sela sang tamu cepat, “kami nunggu di teras dulu ya, Pak!” Laki-laki tua itu kembali mengangguk dan membiarkan kedua tamunya berjalan ke arah teras rumah, kemudian kembali sibuk dengan pot-pot dan tanaman yang berserakan di tanah. Abisatya dan Bu Mayang bergegas duduk di kursi rotan bundar tersebut, tepat pada saat itu seorang perempuan tinggi semampai yang mengenakan baju dengan konsep ala bohemian—rok panjang A-line bunga-bunga kecil semata kaki dan blouse atasan berkerah sabrina warna putih polos  plus sabuk besar yang melilit di pinggang—dengan bandana besar putih polos yang melingkar di kepala, tampak keluar dari pintu depan dan menghampiri mereka. “Kalian ingin bertemu denganku?” “Nona Lara?” Perempuan muda itu mengangguk sambil menatap ke Abisatya dan Bu Mayang secara bergantian. “Saya Satya, yang tadi nelpon dan ini ibu saya, Bu Mayang!” ucapnya sambil menjulurkan tangannya ke depan. Perempuan muda itu hanya terdiam dan memperhatikan mereka berdua dengan seksama. “Oh ya, saya ingat! Kalian ini temen Bu Monica, ‘kan?” sahutnya sambil  menyambut uluran tangan kedua tamunya. “Ayoo, silahkan masuk! Maaf yaa, tadi kelamaan, biasa beres-beres rumah dulu. Biasa anak-anak kalau pada main, suka males beresin mainannya,” lanjutnya sambil menghempaskan pantatnya di sofa yang ada di ruang tamu yang bernuansa etnik. “Memangnya putranya berapa?” sela Bu Mayang yang ikut duduk di sofa yang ada di depan perempuan itu. “Anak saya dua, yang pertama usia 7 tahun dan yang kecil 3 tahun. Ibu ini pasti Bu Mayang, ‘kan?” Bu Mayang mengangguk sambil tersenyum seraya berkata, “Cucu-cucu saya kalau ngumpul di rumah juga seperti itu, suka berantakin rumah. Tapi itu Kakeknya yang di depan, kelihatan masih segar dan sehat, yaa?” Perempuan muda itu menarik ke dua ujung bibirnya ke atas, membuat lengkungan senyum yang manis sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. “Dia itu suami saya, ayahnya anak-anak!” Bu Mayang dan Abisatya kaget, mereka berdua tidak menduga kalau laki-laki berambut putih yang sedang berkebun di halaman depan adalah suami perempuan ini. “Ooh maaf! Saya kira Kakeknya. Maaf lhoo ….” Perempuan itu menyeringai lebar. “Nggak apa-apa, Bu! Saya sudah biasa, karena memang saya menikah sama pria yang sudah tua, usia kami beda 30 tahun!” sahutnya santai. “Oh ya, apa nih yang bisa saya bantu? Kata Bu Monica, Ibu punya anak kembar?” Bu Mayang mengangguk dan mulai menceritakan semua kisah misteri kematian putra kembarnya. Lara Prayoga yang mempunyai kemampuan parapsikolog, mencoba menerawang dan menyimak setiap kata yang keluar dari bibir perempuan tua itu sambil memegang tangannya, di mana dia melihat sebuah kecelakaan yang tragis dan ada dua orang yang membiarkan korbannya meregang nyawa. Lara tersentak kaget saat melihat wajah menantu Bu Monica ada dalam visionnya tersebut. “Dan sampai saat ini, almarhum masih sering menemui saudara kembarnya?” Bu Mayang mengangguk sambil melirik ke Abisatya yang duduk di sebelahnya. “Ini putra saya, Abisatya kembarannya Abiwara,” sahutnya sambil menepuk lutut laki-laki itu. “Yaa, saya sudah tahu, mereka berdua memang sama persis, tidak ada yang bisa membedakan keduanya, kecuali tanda lahir dan kebiasaan menggunakan tangan kidal atau kiri pada salah satu putra anda.” Bu Mayang dan Abisatya pun tertegun. “Bagaimana anda tahu?” “Saudara Anda yang memberitahu saya, dia ada di sini, berdiri tepat di belakang Anda.” Abisatya segera menoleh ke belakang, Bu Mayang juga ikut penasaran. Namun, tidak ada siapapun di sana, yang ada hanya tembok polos berwarna coklat s**u dengan hiasan frame foto anak-anak Lara. “Untuk roh yang penasaran seperti Abiwara, membutuhkan energi yang besar untuk menampakkan diri di depan kalian, tapi untuk orang seperti saya, yang diberi karunia untuk bisa melihat yang tidak kasat mata, maka saya bisa melihatnya dengan mudah. Maka tak heran kalau para roh penasaran itu selalu senang, bila ketemu sama orang-orang seperti saya. Sama seperti Abisatya, Anda juga sering begitu bukan? Bertemu dengan yang tidak terlihat?” jelasnya lagi sambil mengambil bungkus rokok yang ada di atas nakas di sebelahnya. “Boleh aku merokok?” Abisatya mengangguk saat perempuan eksentrik ini mengeluarkan sebatang rokok putih dari dalam kotak persegi panjang yang berisi beberapa batang rokok. “Terima kasih! Sebenarnya aku jarang ngrokok, tapi kalau menangani sebuah kasus, aku merasa perlu untuk mengisapnya,” ucapnya lagi sambil menyalakan rokok itu dengan pemantik gas warna gold, kemudian mengisapnya perlahan dan mengembuskan asap putih itu ke atas. “Baik, sekarang permasalahannya adalah, Abiwara merasa jiwa istri dan anaknya terancam? Benar begitu?” “Yaa benar begitu Nona, maaf … Nyonya--…” “Lara! Panggil aku Lara saja!” sela perempuan itu sambil mengisap lagi rokok di tangannya. “Oh maaf, dari tadi saya belum menyediakan minuman untuk kalian, sebentar, yaa.” Perempuan itu segera berdiri dan bergegas masuk ke dalam ruangan berikutnya, meninggalkan ibu dan anak itu. “Orangnya nyentrik ya, Sat. Nggak kayak Tante Monica, temen Ibu,” bisik Bu Mayang saat si tuan rumah menghilang di balik tirai yang terbuat dari kerang-kerangan yang menghubungkan kedua ruangan. “Orangnya enak diajak ngobrol, aku yakin dia pasti mau bantuin kita, Bu.” Abisatya pun ikut berbisik sambil mendekatkan kepalanya ke arah sang ibu. “Tapi sungguh, Ibu nggak yangka kalau ternyata pria tua yang ada di depan itu, suaminya. Ibu jadi nggak enak tadi.” Absatya terkekeh, Bu Mayang pun ikutan tertawa kecil sambil menepuk lutut putranya, tepat pada saat itu, Lara masuk kembali ke ruang tamu bersama seorang asisten rumah tangga yang membawa baki kayu yang di atasnya berisi tiga gelas es sirop berwarna merah. Warna merahnya begitu menggoda, apalagi bulir-bulir air yang mengembun di gelas, membuat jakun laki-laki itu bergerak naik turun. Hari ini, udara memang terasa begitu panas. “Ayoook, silahkan diminum!” ucap Lara sambil menaruh ketiga gelas itu di atas meja kayu bundar dan menghempaskan kembali pantatnya di sofa, sementara sang asisten rumah tangga bergegas kembali ke dalam. Tanpa sungkan Abisatya segera mengangkat gelas itu seraya berkata, “Terima kasih!” sahutnya sambil menyesap sirop merah itu hingga setengah lalu meletakkannya di atas meja lagi, “maaf, ternyata saya haus.” Laki-laki muda itu menyeringai lebar, Bu Mayang hanya bisa geleng-geleng kepala, sedangkan Lara tersenyum tipis sambil menyesap minumannya sedikit. “Oke, sampai di mana tadi obrolan kita?” “Bagaimana caranya meyakinkan istri saudara kembar saya tadi. Maksud saya, Abi merasa jiwa istrinya itu terancam karena ada temannya yang berniat jahat ke dia,” sahut Abisatya. “Okee, saya mengerti! Kalau begitu kapan kita bisa ketemu sama dia?” “Nah, kalau soal itu biar saya yang atur,” sela Bu Mayang. “Mungkin saya akan mengundangnya untuk main ke rumah. Nah, nanti Nyonya Lara bisa ketemu sama dia di sana, di rumah saya. Bagaimana?” “Baiklah! Saya tunggu kabar dari Ibu,” sahut Lara sambil menyesap minumannya lagi. “Oh iya, panggil saya Lara saja! Tidak usah pakai sebutan nyonya, biar lebih akrab.” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD