Keesokan hari …
“Satya, kenalkan ini teman Ibu, namanya Tante Monica Harsono, parapsikolog kita,” ujar Bu Mayang pagi itu, saat mereka sampai di sebuah rumah yang halamannya terlihat asri dan hijau dari tanaman yang dirawat di sana. Suasana damai dan sejuk pun tercipta di rumah minimalis itu.
Abisatya pun mengangguk sambil menjabat erat tangan Tante Monica Harsono. “Jadi ini anakmu yang kembar itu? Kemarin yang meninggal namanya Abiwara, ‘kan?” sahut perempuan tua itu sambil memperhatikannya dari atas ke bawah. “Kalian berdua, benar-benar mirip! Tante sampai pangling sama kalian berdua, karena dulu, Tante tahunya waktu kalian berdua masih kecil-kecil, sekarang sudah gede seperti ini.” Abisatya hanya menyeringai kecil, “dan satu lagi, Tante ini bukan parapsikolog. Ibumu ini salah besar, yang parapsikolog itu temen Tante, bukan Tante! Tante Monica belum sampai taraf seperti itu.”
“Iyaa, iyaa, maaf. Aku salah kasih informasi, tapi kamu tetep bisa lihat yang nggak terlihat itu, ‘kan?” sela Bu Mayang cepat. Tante Monica menyeringai kecil dan mengangguk. Abisatya hanya tersenyum kecil, “ngomong-ngomong, kayaknya kamu juga baru pindah ke sini setahun yang lalu, ya, Mon?” lanjutnya sambil mengedarkan tatapannya ke seluruh ruang tamu yang terlihat begitu asri dengan beberapa pot-pot tanaman hijau yang teronggok di beberapa sudut-sudut ruangan.
“Iyaa, benar, May! Aku memang baru pindah ke sini baru setahun ini. Ayoook, ayook, silahkan duduk! Oh yaa, mau minum apa? Biar aku minta asisten rumah tanggaku untuk buatin minuman untuk kalian berdua!”
“Apa aja, Mon. Terserah,” ujar Bu Mayang sambil menghempaskan tubuhnya di atas sofa, Abisatya pun duduk di sebelahnya.
“Okee, kalau gitu, gimana kalau teh panas saja, yaa?” Bu Mayang pun mengangguk mengiakan, sementara Tante Monica bergegas masuk ke dalam untuk memberitahu sang asisten rumah tangga, kemudian keluar lagi dan bergabung dengan mereka. “Nah, sudah. Lagi disiapkan minumnya. Ngomong-ngomong ada apa ini? Sepertinya ada yang serius, sampai pagi-pagi kalian ke sini?”
“Ini seperti yang aku ceritain tadi waktu di telpon, Mon. Tentang kembarannya Satya, si Abi yang meninggal kemarin,” sahut Bu Mayang.
“Maksudmu, tentang penampakkannya?” Bu Mayang dan Abisatya saling menatap satu sama lain. “Kebetulan kemarin aku lihat dia, waktu melayat ke rumahmu, dia memang ada di sana!”
“Nah itu dia, Mon. Abi itu selalu menemui Satya, bahkan saat malam peristiwa kecelakaan itu, almarhum Abi menemui Satya di Bandung!”
Tante Monica terdiam sebentar sambil memperhatikan Abisatya yang duduk di depannya seraya bertanya, “Satya ini.” Tante Monica terdiam sesaat, “sepertinya Satya dulu, udah lama sekali, sih, pernah mati suri, yaa? Bener begitu?”
Abisatya dan Bu Mayang kaget dan kembali saling menatap satu sama lain, lalu perempuan tua itu mengangguk mengiakan ucapan temannya lagi. “Iyaa, bener, Mon! Dulu Satya pernah mati suri waktu tawuran sama sekolah lain, waktu itu kami udah ngira dia bener-bener udah nggak ada, ternyata dia hidup lagi! Dan itu cuma beberapa jam saja,” lanjutnya.
Tante Monica hanya terdiam sambil mengangguk-angguk, menyimak cerita Bu Mayang. “Setelah itu, kamu sering lihat sesuatu hal yang nggak kasat mata ‘kan, Satya?” sela Tante Monica. Abisatya mengangguk cepat. “Orang-orang yang pernah mati suri memang jadi lebih sensitif dan peka pada dunia gaib, karena mereka pernah mengalaminya ke sana,” lanjutnya lagi.
“Iyaa bener, Mon. Dia malah sempet ditemui ayahnya waktu itu, padahal kamu tahu ‘kan kalau Mas Latif udah lama meninggal,” sahut Bu Mayang antusias.
Tante Monica mengangguk-angguk sambil memikirkan sesuatu. “Lalu, apa maksud kalian ke sini? Apa ada sesuatu yang disampaikan oleh almarhum Abi ke kalian?” tanyanya penasaran sambil menatap ke Bu Mayang dan Abisatya secara bergantian.
“Jadi begini, Mon. Kami berdua ini mau minta tolong ke kamu ….”
Bu Mayang lalu menceritakan soal kedatangan almarhum Abiwara yang menceritakan kronologi kecelakaannya dan permintaannya untuk melindungi Rhea dan Shira, anak dan istrinya, tapi perempuan muda itu tidak percaya akan semua itu.
“Jadi istri Abiwara itu nggak percaya kalau almarhum suaminya datang menemui saudara kembarnya?” Bu Mayang mengangguk lagi. “Memang nggak mudah untuk meyakinkan orang yang sejak awal sudah tidak percaya dengan dunia ghaib, tapi nggak papa, nanti kita bisa coba untuk meyakinkannya,” ujar Tante Monica sambil melirik ke arah asisten rumah tangganya yang menghampiri mereka dengan membawa baki kayu yang di atasnya terdapat tiga cangkir gelas berisi teh panas plus sendok kecil sekaligus teko dan wadah kecil yang berisi gula batu. “Nah, ini dia minuman kita datang! Ayoo, ayooo sini! Diminum dulu!” ujar perempuan tua itu lagi sambil mengambil beberapa cangkir teh dan meletakkan di meja, sementara sang asisten rumah tangga mengambil yang tersisa di baki dan diletakkan di meja juga.
“Rin, jangan lupa, tolong kudapannya, yaa, bawa sini!” ujarnya lagi sambil memegang tangan asisten rumah tangga itu, gadis muda itu hanya mengangguk pelan, kemudian berlalu meninggalkan mereka.
“Apa kamu tinggal di rumah ini sendiri?” tanya Bu Mayang penasaran.
“Iyaa, aku tinggal di rumah sendiri sama asisten rumah tanggaku tadi, karena anakku si Frida tinggal sama suaminya, Adham!” sahut Tante Monica sambil menaruh beberapa gula batu berntuk kubus kecil ke dalam cangkir, “ayoo, silahkan. Gula batunya ambil sendiri, ya. Sesuai selera, kalau aku dua aja udah cukup!” ujarnya lagi sambil mengaduk-aduk cangkir yang berisi teh panas itu.
“Adham …?” sela Abisatya kaget sambil menoleh ke Bu Mayang yang sedang mengambil gula batu juga dan memasukkannya ke dalam cangkir yang berisi teh panas.
“Iyaa, menantuku namanya Adham, kenapa?” tanya Tante Monica heran sambil perlahan menyesap teh panas itu.
“Apa? Apa menantu Tante Monica itu kerja di perusahaan properti PT. Rajawali?” sela Abisatya lagi penasaran. Bu Mayang juga jadi ingin tahu lebih.
“Iyaa, benar! Adham memang kerja di perusahaan Rajawali, jadi arsitek di sana!” sahut Tante Monica sambil menyesap lagi teh panasnya, “tunggu dulu!” Tante Monica meletakkan cangkir itu di atas meja, kulit di keningnya tampak berkerut ke tengah, “apa tadi teman Abiwara yang kamu ceritakan itu, yang namanya Adham. Itu adalah Adham menantuku ini? Jadi Abiwara juga kerja di PT. Rajawali?”
Bu Mayang dan Abisatya tidak menjawab pertanyaan perempuan tua itu, mereka berdua hanya terdiam dan saling menatap satu sama lain dengan perasaan cemas. “Ya, Tante. Saudara kembarku, Abiwara kerja di PT. Rajawali.” Suara Abisatya mulai terdengar lagi, sementara Bu Mayang hanya terdiam sambil menyesap teh panasnya perlahan.
Tante Monica mengangguk sambil memikirkan sesuatu dan mencoba menerawang peristiwa yang terjadi beberapa hari yang lalu, saat kecelakaan itu terjadi. Dan benar saja, perempuan itu mendapat vision kalau Adham, menantunya terlibat dalam kecelakaan tersebut. Sesaat ada keheningan di antara mereka, Bu Mayang dan Abisatya hanya bisa menunggu, apa yang akan dikatakan oleh Tante Monica, karena tanpa diduga menantunya malah terlibat dengan kasus pembunuhan anak temannya, seperti yang diceritakan oleh Abisatya.
“Sat, kamu mau berapa biji gula batunya?” sela Bu Mayang yang mencoba mencairkan suasana yang sedikit kaku di antara mereka.
“Terserah Ibu saja,” sahut laki-laki itu sambil menatap ke Tante Monica yang masih termenung.
“Ibu ambilkan tiga biji, ya?” Abisatya hanya mengangguk kecil dan membiarkan ibunya menaruh tiga biji gula batu ke dalam cangkirnya yang berisi teh panas, lalu mengaduk-aduk cangkir itu sambil melirik ke temannya yang masih terdiam. “Ini, Sat. Diminum dulu, mumpung masih panas, nggak enak kalau sudah dingin, nih!” Abisatya mengangguk kecil lalu mengambil cangkir yang berisi teh panas itu dari tangan sang ibu dan menyesapnya perlahan.
“Lalu, bagaimana, Tante? Apa yang harus kami lakukan?” tanya Satya yang bisa membaca kegelisahan di wajah teman ibunya yang mulai kebingungan merangkai kata-kata sambil meletakkan cangkir teh itu di meja. Dia yakin kalau Tante Monica mungkin tidak bisa membantu mereka dalam memecahkan kasus kematian Abiwara yang masih menjadi misteri. “Bagaimana, Tante?” desaknya lagi.
Tante Monica hanya bisa menghela napas kasar dan menatap ke arah kedua tamunya secara bergantian, kemudian menyesap teh panasnya lagi sedikit, seraya berkata, “Sepertinya aku nggak bisa membantu kalian. Maaf, kalian bisa mengerti, ‘kan? Karena ini sama saja aku menggali lubang kuburan untuk anakku sendiri. Jadi, sekali lagi aku nggak bisa,” ujar perempuan itu sambil meletakkan cangkir tehnya di atas meja.
Bu Mayang tersenyum tipis sambil memejamkan mata sesaat, pupus sudah harapannya untuk menguak tabir kematian putranya. “Baiklah, aku bisa mengerti, Mon. Aku paham posisimu. Mungkin kalau aku berada di posisimu saat ini, aku juga akan melakukan hal yang sama.” Abisatya menatap heran ke arah sang ibu dan memberikan kode dengan matanya. Namun, Bu Mayang hanya mengangguk pelan sambil tersenyum, perempuan tua itu hanya ingin anaknya setuju dengan pendapatnya.
“Maafkan aku, Mayang. Aku nggak bisa membantu. Tapi aku bisa merekomendasikan kalian ke salah satu temanku, aku yakin dia pasti bisa membantu. Kalian bisa menemuinya.” Rasanya seperti ada setetes air yang akhirnya mampu membasahi kerongkongannya yang kering sedari tadi, saat perempuan yang duduk di depannya memberikan sebuah harapan yang pasti.
“Siapa nama temanmu?” sela Bu Mayang cepat.
“Lara! Lara Prayoga! Kalian bisa menemuinya, aku akan bilang sama dia kalau kalian berdua ingin bertemu dengannya. Nanti aku kasih alamatnya. Dia pasti akan sangat senang membantu, dia orangnya helpfull banget! Orangnya asyik kalau diajak bicara!” sahut Tante Monica sambil menyambar benda pipih yang ada di atas meja dan mulai mencari-cari nomer seseorang. “Sebentar, aku akan ngobrol sama dia dulu.” Perempuan itu lalu berdiri dan meninggalkan kedua tamunya sambil mengobrol dengan seseorang melalui ponsel.
“Ibu, apa Ibu percaya dengannya?” bisik Abisatya lirih saat Tante Monica menjauh dari mereka.
“Apa maksudmu, Sat?” desis sang ibu.
“Ibu tahu ‘kan kalau kalau kasus kematian Abi ada kaitannya sama menantu Tante Monica yang namanya Adham. Dan tadi dia bilang kalau dia nggak bisa bantu kita, lalu tiba-tiba dia ngasih kita rekomendasi dengan orang lain. Apa orang ini punya kemampuan yang sama seperti dia?” tanya Abi setengah berbisik, agar sang tuan rumah tidak mendengar percakapan mereka.
“Kita lihat saja nanti, Sayang. Yang pasti kita hargai usahanya yang mau bantu kita dengan mengenalkan salah satu temannya. Bisa nggaknya orang itu membantu kita, kita lihat saja nanti,” sahut Bu Mayang sambil memegang tangan putranya dan meremasnya lembut.
“Tapi, Bu--…”
Bu Mayang menggeleng pelan. “Satya, nggak ada salahnya dicoba, ‘kan?” sela ibunya cepat. Abisatya hanya bisa mendengkus kesal. Dia tidak ingin percaya begitu saja sama orang yang direkomendasikan oleh Tante Monica, karena bisa saja orang ini adalah orang suruhan teman ibunya itu agar berpura-pura membantu mereka, tapi sebenarnya tidak mempunyai kemampuan yang mumpuni. Laki-laki itu mencoba mencari tahu siapa itu Lara Prayoga?
***
Duduk terdiam di dalam sebuah mobil sambil memperhatikan sebuah restaurant yang berada beberapa meter di depannya, membuat perempuan itu ragu. Meskipun malam ini, Rhea sudah berdandan cantik dengan make up flawless dan gaun terusan A-line polos warna hitam dari bahan jersey yang jatuh tepat di tubuhnya yang berisi dengan aksen pita yang melilit di leher. Namun, hatinya bergejolak. Belum seminggu mantan suaminya dimakamkan, tapi malam ini dia akan makan malam dengan salah satu teman sekantor almarhum suaminya.
“Apa yang aku lakukan ini benar? Makan malam dengan Adham?” gumamnya risau sambil memegang tas tangan warna peach. “Tapi aku harus mencari tahu, apa benar yang dikatakan oleh Kak Satya kalau aku harus hati-hati sama teman Kak Abi yang satu ini?” bathinnya resah. Dibukanya tas tangan yang ada di pangkuan, diambilnya benda persegi panjang yang selalu menjadi alat komunikasinya setiap saat, lalu ditekannya nomer seseorang.
“Hallo, selamat malam. Apa aku mengganggu?”
[“Hai, Rhe. Ada apa? Kamu baik-baik saja, ‘kan? Kamu nggak ganggu, saat ini aku lagi masak untuk Ibu, kamu mau ikut makan malam dengan kami?”] sahut seorang laki-laki di ujung sana sambil membenarkan headset bluetooth yang terkoneksi dengan ponsel, sehingga dia bisa leluasa memasak.
“Aku baik-baik saja, Kak Satya. Malam ini aku juga akan makan malam dengan seseorang,” ucapnya sambil menyeka ujung matanya yang tiba-tiba saja berair.
[“Makan malam? Makan malam sama siapa?”] tanya Abisatya dengan suaranya yang nyaring, beradu di antara suara wajan dan spatula yang saling berbenturan satu sama lain yang menciptakan sebuah harmoni yang indah dengan suara bahan-bahan makanan yang dimasak. Rhea jadi teringat ucapan Abiwara yang selalu memuji masakan saudara kembarnya ini.
“Aku mau makan malam sama … Kak Adham.”
[“Apa? Adham?”] sela Abisatya kaget hingga menghentikan aktifitas memasaknya. [“Kamu ngapain makan malam sama dia?”]
“Aku cuma mau mastiin aja, bagaimana orang ini? Karena aku nggak gitu kenal sama dia, maksudku, aku nggak begitu tahu Kak Adham. Jadi aku rasa nggak ada salahnya ‘kan aku kenal lebih dekat sama dia, supaya aku tahu apa maksudnya?”
[“Tapi hal ini riskan, Rhe. Gimana kalau dia berbuat macam-macam ke kamu?”]
“Aku ini wanita dewasa, Kak Satya. Aku bisa jaga diri!” Rhea mulai merasa kesal, karena Abisatya terlalu berlebih-lebihan dalam menilai Adham, sementara saudara kembar almarhum suaminya ini tidak begitu mengenal pria yang akan ditemuinya ini. “It’s okay! Kamu nggak usah khawatir!”
[“Kalau aku nggak boleh khawatir, lalu kenapa kamu nelpon aku dan menceritakan semua ini ke aku?”] sela laki-laki itu cepat. Rhea hanya terdiam. [“Kalau kamu merasa orang itu baik-baik saja, so go ahead! Silahkan! Segera temui dia dan nggak usah telpon aku!”] Nada suara Abisatya terdengar kesal di ujung sana. Perempuan itu masih saja terdiam, karena benar apa yang dikatakan oleh laki-laki ini. Entah mengapa hati kecilnya sebenarnya masih ragu untuk masuk ke dalam restaurant itu. Itulah mengapa dia menelpon Abisatya, paling tidak ada seseorang yang tahu kemana dia pergi malam ini dan dengan siapa.
“Iyaa kamu benar, buat apa aku nelpon kamu, kalau akhirnya aku tetap akan menemui orang itu,” sahutnya lirih. “Kalau gitu, selamat malam!”
[“Rhe …!”] Perempuan itu masih mendengar teriakan saudara iparnya di ujung sana, tapi segera dimatikan ponsel itu dan dimasukkan ke dalam tas tangan lagi. Niatnya sudah bulat untuk menemui laki-laki itu. “Pak Dul, jangan kemana-mana ya! Aku paling makan malamnya nggak lama!” ujarnya sambil membuka pintu mobil.