BAB 8 - nonsense

2432 Words
“Terserah! Terserah kamu mau bilang apa! Yang jelas, yang udah jelas-jelas banget dua bukti ini! Sertifikat rumahmu dan polis asuransi ini! Simpan dokumen ini baik-baik, karena mereka adalah hadiah terakhir Abi buat kamu!” ujar Abisatya lantang.   “Iyaa, iyaa … aku tahu itu, I know it and thanks fot that!” “Dan satu lagi! Abi minta aku untuk jagain dan lindungin kamu.” Kulit di kening Rhea kembali berlipat dan mengerut ke tengah.  “Lindungin aku …? Lindungin aku dari siapa?” selanya heran. “Lindungin kamu dari orang-orang yang ingin menguasai hartamu itu, lebih tepatnya harta peninggalan Abi!” “Maksud kamu, Kak Beno dan Kak Adham?” Abisatya mengangguk cepat dengan rasa kesal, karena ternyata benar meyakinkan perempuan ini tentang kehadiran Abiwara, memang tidak mudah, apalagi meyakinkan dia tentang ancaman yang akan menimpanya. “Kak Satya, aku yakin mereka itu nggak akan berbuat seperti itu, aku yakin kalau kecelakaan itu adalah kecelakaan murni. Udah deeeh kakak nggak usah cemas seperti itu, kita berdua harus bisa sama-sama mengikhlaskan Kak Abi, Kak!” Laki-laki itu hanya bisa mendengkus kesal sambil memutar kedua bola matanya dan menatap manik mata perempuan itu yang bulat. “Yaa, sudah lah terserah kamu, yang jelas aku sudah menyampaikan semua ini ke kamu. Sekarang semuanya terserah kamu, mau percaya atau nggak. It’s up to you!” sahut Abisatya sambil mengendikkan bahunya ke atas, “tapi jangan heran, kalau tiba-tiba kedua teman almarhum suamimu itu ndeketin kamu dan berusaha ngerayu kamu!” ujarnya sambil berdiri dari kursi. “Kamu mau kemana?” sela Rhea cepat sambil ikut berdiri di depan meja kerjanya. “Aku mau pulang! Dan aku rasa, lebih baik kamu juga pulang, Rhe. Kasihan Shira, ibumu juga cemas, mikirin kamu, nungguin kamu di rumah, permisi!” Abisatya bergegas pergi meninggalkan perempuan itu yang hanya bisa diam termangu menatap kepergian saudara iparnya. Diliriknya dua dokumen yang diberikan Abisatya tadi, Rhea pun mulai berpikir keras. “Apa bener semua yang dibilang sama Kak Satya tadi? Rasanya nggak masuk di akal, tapi dua dokumen ini bener-bener buat aku ….” Hatinya bingung.   ♥♥♥ “Apa memang benar yang dikatakan sama Kak Satya kalau Kak Abi datang menemuinya?” batinnya jadi penasaran sambil membuka-buka buku polis asuransi milik mantan suaminya. Rhea jadi teringat kejadian siang tadi, setelah Abisatya pergi meninggalkan ruang kerjanya, tiba-tiba dia dapat telpon dari pihak asuransi. [“Selamat siang, apa benar ini Bu Rhea Shaquitta?”] “Iyaa, benar saya Rhea. Dengan siapa saya bicara?” tanyanya heran, setelah mengangkat telpon dari nomer yang tidak dikenal. “Saya Bu Candika dari pihak asuransi. Saya hanya mau memastikan, Bu. Apa benar Pak Abiwara Darmais sudah meninggal? Kebetulan Pak Abiwara itu salah satu nasabah terbaik kami.” “Iyaa benar, Bu. Pak Abiwara Darmais sudah meninggal.” [“Innalilahi wainnailaihi rojiun, kami turut berduka cita, Bu. Semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT, aamiin. Kalau boleh saya tahu kapan kejadiannya, Bu?”] tanya orang asuransi itu lagi yang mengaku bernama Candika. “Aamiin, terimakasih untuk doanya. Kejadiannya itu dua hari yang lalu, Bu. Dan sudah kami makamkan kemarin. Tapi maaf, saya belum memberitahu Bu Candika tentang hal ini, lalu Bu Candika tahu dari mana, ya?” Rhea jadi bertanya-tanya karena sampai hari ini dia belum mengkonfirmasi ke pihak asuransi tersebut. “Apa Kak Satya yang ngasih tahu pihak asuransi ini?” batinnya heran. [“Kami tahunya dari Pak Adham. Apa Pak Adham ini temannya Pak Abiwara?”] tanya orang asuransi itu lagi. Rhea jadi teringat ucapan Abisatya tadi mengenai peringatan dari Abiwara tentang Adham . “Yaa sudahlah terserah kamu, Rhe. Yang jelas aku sudah menyampaikan semua ini ke kamu, sekarang semuanya terserah kamu, mau percaya atau nggak. Tapi jangan heran, kalau tiba-tiba kedua teman Abi itu ndeketin kamu dan berusaha merayu kamu!” “Iyaa, Pak Adham itu temannya Pak Abiwara. Terimakasih untuk informasinya, Bu.” [“Baik, Bu Rhea. Untuk klaim uang pertanggungannya akan segera kami urus, nanti kami akan menghubungi Bu Rhea lagi dan memberitahu syarat-syarat apa saja yang harus disiapkan. Tapi sebelumnya, maaf. Kami mungkin akan menginvestigasi dulu soal kematian Pak Abiwara ini.”] “Baik, Bu. Siap. Kami tunggu. Terimakasih!” Rhea lalu menutup ponsel dan mulai berpikir keras, baru saja Abisatya memberitahunya soal polis asuransi, lalu tiba-tiba ada orang asuransi yang menelponnya untuk memastikan kematian Abi. Tak lama kemudian ponselnya berdering lagi dan dilihatnya nama Adham yang memanggil. [“Rhea, are you there?”] “Yaa, ada apa, Kak Adham?” “Apa tadi ada orang asuransi yang nelpon kamu? Maksudnya, konfirmasi soal polis asuransinya Abi?” “Iyaa, ada! Tadi ada yang nelpon, lalu kenapa?” [“Eeehh, nggak. Aku hanya mau bilang saja, kalau aku siap ngantar kamu, kalau kamu mau ngurus asuransinya Abiwara. Bagaimanapun juga, dia itu kan teman baikku, jadi aku akan selalu siap membantu kamu dalam hal apa saja, Rhea,”] ujar Adham sambil menyeringai senang di ujung sana. Rhea jadi teringat lagi sama ucapan Abisatya barusan. “Aku harus lindungin kamu dari orang-orang yang ingin menguasai hartamu itu, lebih tepatnya harta peninggalan Abiwara!” “Apa bener Kak Adham dan Kak Beno akan berbuat jahat ke aku? Rasanya nggak mungkin,” batinnya bingung. [“Rhe! Rhea! Are you still there? Kamu masih denger suaraku, ‘kan?”] Suara Adham membuyarkan lamunan Rhea sesaat. “Eeeeh … iyaa! Aku masih dengar suara kamu. Terimakasih yaa untuk informasinya!” [“Iyaa, sama-sama, Rhea. Lalu kapan ini kamu mau ngurusnya? Aku rasa lebih cepat lebih baik!”] sela Adham tidak sabar. Rasanya tangannya sudah gatal, ingin memegang uang itu. “Ooh, tadi katanya aku harus nunggu kabar dari mereka dulu, lalu katanya aku juga harus nyiapin syarat-syaratnya kalau mau ngambil uang pertanggungan itu.”   [“Oooh begitu, baiklah kita tunggu. Kamu ini bener-bener beruntung, Rhea. Abiwara itu sangat mencintai kamu, sampai-sampai dia bikin uang pertanggungannya begitu besar, 2,5 miliar ‘kan kalau nggak salah?”] “Iyaa 2,5 miliar! Dari mana kamu tahu?” [“Abi sendiri yang cerita sama aku, Rhe. Malah nama ahli warisnya itu baru saja dia ganti kemarin. Iya, ‘kan? Sepertinya dia memang sudah mempersiapkan semua ini untuk kamu sebelum dia pergi,”] ujar Adham lirih dengan nada sedih, agar Rheaa juga ikut terharu dengan ucapannya. “Iyaa mungkin,” sahutnya bimbang. Rhea jadi semakin bingung, mana yang harus dia percaya, Adham atau Abisatya? Kalau ucapan Adham mungkin masih bisa diterima secara logika, karena bisa saja dulu saat Abiwara masih hidup, almarhum suaminya itu pernah ngobrol sama Adham soal dirinya, tapi kalau Satya? Apa iyaa ada hantu yang tiba-tiba datang dan minta bantuan ke dia? Rasanya tidak mungkin. [“Rhe, gini aja, bagaimana kalau besok atau lusa kita makan malam? Untuk tempatnya terserah kamu, kamu mau makan dimana, aku ikut aja. Yaa, itung-itung untuk mengenang Abiwara, bagaimana?”] bujuk Adham. “Kita lihat saja nanti ….” sahut Rhea. Dan malam ini Rhea tidak bisa tidur, sejak masuk kamar tadi, perasaannya benar-benar gelisah. Kedua matanya tidak bisa terpejam. Perempuan itu mencoba mengingat-ingat lagi kejadian hari ini yang cukup membuat dirinya lelah secara psikis.   ♥♥♥ Malam ini udara terasa begitu dingin, Abisatya mengusap-usap lengannya sambil mengedarkan tatapannya ke sekeliling taman belakang yang terletak di dekat dapur. Angin dingin itu terasa saat dia melewati teras samping yang menuju ke dapur. Beberapa makhluk tak kasat mata tampak berseliweran, melintas di depannya. Laki-laki itu berusaha tidak peduli dan bergeming dengan semua yang terjadi di sekitarnya. Langkahnya tetap mantap menuju ke dapur, kerongkongannya terasa kering, tapi malam ini dia butuh sesuatu yang panas dan bisa menemaninya, karena rasa kantuk belum terasa. Abisatya lalu merebus air yang di masukkan ke dalam ketel uap sambil menunggu diletakkannya teh celup itu ke dalam mug yang terbuat dari porselen. Laki-laki itu lalu mencari-cari makanan kecil atau kudapan ringan yang mungkin ada di lemari. Namun, lagi asyik-asyiknya mencari tiba-tiba dari balik lemari muncul sosok yang sangat familiar baginya. “Ya Allah, Abi! Nggagetin aja!” ujarnya sambil mengelus d**a lalu mengambil roti tawar yang ada di dalam lemari beserta ubo rampainya seperti mentega, selai, coklat yang diletakkan dalam sebuah keranjang kecil yang terbuat dari rotan dan diletakkan di atas meja. “Kamu ini kalau mau nongol kasih salam, kek. Jangan tiba-tiba muncul aja gitu!” lanjutnya kesal sambil mematikkan kompor, karena ketel uap telah berbunyi, itu artinya air yang direbus telah matang dengan sempurna. “Assalamu’alaikum, Sat. Maaf, kalau ngagetin,” sahut sosok yang menyerupai Abi. “Waalaikumsalam, nah gitu dong!” ujar Abisatya sambil mengaduk-aduk air yang telah telah dimasukkan ke dalam mug, kemudian menghempastkan tubuhnya di kursi yang terletak di depan meja cabinet dapur. “Aku tahu kalau kamu mau nanya soal Rhea, ‘kan?” lanjutnya sambil mengoleskan selai cokelat ke lembaran roti tawar, “aku sudah ngomong semuanya ke istrimu itu, tapi tetep aja dia nggak percaya. Kamu sendiri tahu ‘kan kalau Rhea itu nggak gampang percaya sama yang gini-ginian,” ujarnya kesal. “Tapi kamu tetep harus membantuku, Sat. Aku nggak mau sesuatu terjadi sama Rhea, kasihan dia, tolong lah, Sat. Bantu dia dan lagi waktuku juga nggak banyak, aku hanya punya waktu 100 hari.” Abisatya kaget dan menoleh ke sosok itu yang masih berdiri di depannya. “Apa …? 100 hari? Serius?” Sosok yang menyerupai Abiwara pun mengangguk. “Setelah 100 hari, aku akan pergi, Sat. Aku nggak akan ganggu kamu lagi. Maka dari itu, sebelum aku pergi dari dunia ini, tolong aku, tolong yakinkan Rhea kalau jiwanya itu terancam,” ujar sosok yang menyerupai Abiwara itu sedih.   “Tapi gimana cara meyakinkan dia, Bi? Dokter cantikmu itu nggak percaya kalau nggak ada bukti! Itu yang susah!” sahutnya resah sambil mendengkus kesal. “Kamu tahu, jelas-jelas aku bawa dua bukti dokumen, sertifikat rumah sama polis asuransi yang jelas-jelas cuma kamu yang tahu, tapi dia tetep nggak percaya! Lalu aku harus gimana lagi?” ujarnya sambil sesekali menikmati teh panas dan roti tawar buatannya.   “Kalau begitu, kita cari bukti yang lain! Apa Farhan sudah siuman?” Abisatya menggeleng lemah. “Belum! Aku tadi sudah ke sana, menengok Farhan. Dia masih koma. Aku tadi juga ketemu sama ayah dan ibunya, mereka berdua bingung, Bi. Biasa soal finansial, karena mereka nggak tahu sampai kapan Farhan akan seperti itu terus, sementara biaya rumah sakit terus membengkak. Aku rasa, aku akan mencoba membantu mereka,” sahut Abisatya sambil menyesap kembali teh panasnya. “Ambil tabunganku, Sat. Aku masih punya sisa uang di rekeningku. Itu tabunganku sendiri. Nggak kecampur sama uangnya Rhea.” “Tapi itu ‘kan uang tabunganmu, Bi. Itu untuk Shira, ‘kan?” sela Abisatya. “Nggak, uang itu bukan untuk Shira. Tabungan untuk Shira dipegang sama Rhea. Uang itu memang murni uang tabunganku, jadi pakai aja buat Farhan. Aku akan beri nomer PIN ATM-ku.” “Tapi kalau mau diambil dalam jumlah besar, harus pakai surat kuasa, ‘kan? Aaah yaa, kamu benar, aku ambil dari ATM saja kalau begitu. Terimakasih ya, Bi. Meskipun kamu sudah tiada tapi jasamu sangat luar biasa!” “Satya ….” Laki-laki itu menoleh ke arah pintu dapur yang terbuka, Bu Mayang tampak berdiri di sana seraya berkata, “Kamu lagi ngomong sama siapa?” tanya perempuana tua itu heran sambil masuk ke dalam dapur dan menyapu pandangannya ke seisi ruangan. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana, Abisatya pun tidak memegang ponsel. “Itu artinya Abiwara tadi ada di sini, tapi sekarang dia pasti sudah pergi menghilang,” batinnya penasaran. “Ibu tadi denger kamu lagi ngobrol sama seseorang, tapi sepertinya kamu lagi ngomong sendiri, makanya Ibu jadi pengin tahu,” lanjutnya sambil berjalan menghampiri Abisatya dan duduk di sebelahnya.   Laki-laki itu pun tersenyum kecil sambil menyesap tehnya. “Ibu belum tidur? Ini ‘kan sudah malam. Apa Ibu mau minum teh?” Perempuan tua itu menggeleng seraya berkata, “Ibu mau minum air putih saja, kerongkongan Ibu rasanya kering,” sahutnya sambil mengambil teko kaca yang berisi air putih yang berada di atas meja cabinet dapur dan mulai menuangkan air putih itu ke gelas, “Ibu sudah mulai mengurangi mengkonsumsi gula,” lanjutnya sambil menyesap air putih itu perlahan. “Kamu sendiri, lapar? Malam-malam begini?” Abisatya mengangguk sambil menyeringai kecil. “Aku nggak bisa tidur, jadi tadi bikin teh sama makan roti tawar. “Lalu, tadi kamu lagi ngobrol sama siapa?” Bu Mayang tampak semakin penasaran. “Siapa lagi kalau bukan … Abi!”   “Dia menemui kamu lagi?” Abisatya kembali mengangguk seraya berkata, “Dia selalu menemui aku, Bu. Aku rasa dia nggak akan berhenti untuk menemui aku sampai persoalan Rhea ini selesai, sementara Rhea sendiri nggak percaya sama semua ceritaku!” “Jadi kamu sudah menemui Rhea? Dan cerita semua tentang apa yang menimpa Abiwara selama ini?” Abisatya mengangguk cepat. “Tapi Rhea nggak percaya, Bu. Rasanya susah yakinin dia, dia itu orangnya selalu pake data dan bukti, bukan kata orang. Dia nggak percaya kalau kata orang. Padahal dokumen sertifikat rumah dan polis asuransi sudah aku kasih ke dia! Mau bukti apalagi coba?” “Bagaimana kalau pake cenayang?” sela Bu Mayang sambil menyeringai lebar, hingga kerut-kerut di pipinya pun terlihat dengan jelas. “Apa? Pake cenayang …? Maksud Ibu, dukun gitu?” tanya Abisatya bingung.     “Huss! Bukan dukun! Kalau dukun itu, biasanya ilmu yang di dapat itu karena dia melakukan ritual khusus, seperti misalnya puasa, membaca mantera dan lain sebagainya, yang pasti ilmunya itu bukan anugerah dari Tuhan.” “Lalu, kalau bukan dukun atau paranormal. Lalu apa?” “Parapsikolog!” sela Bu Mayang mantap. “Ibu punya teman yang punya kemampuan itu, dia punya kelebihan itu sejak kecil yang merupakan anugerah dari Tuhan, dia punya indera keenam yang sangat tajam di luar panca indera yang dimilikinya.” “Dan kalau nggak salah parapsikolog itu juga mempunyai kemampuan ESP ya, Bu? Ibu punya teman yang seperti itu?” Bu Mayang mengangguk sambil mengulas senyum manisnya. “Besok kita temui dia, tapi yang mempunyai kemampuan itu adalahnya temannya. Yang pasti kemampuannya ini bukan klenik, Sat. Karena nggak perlu syarat-syarat tertentu. Jadi bukan hal yang syirik, karena dia juga nggak menduakan Tuhan atau nggak menyekutukan Tuhan,” sela Bu Mayang. “Iyaa, aku tahu, Bu. Orang-orang seperti itu biasanya juga disebut sebagai orang indigo, orang-orang yang berhubungan dengan mahluk halus, seperti cenayang. Memang sulit diterangkan secara rasional. Namun, sebenarnya ada alasan-alasan yang rasional yang mendasarinya dan mudah-mudahan saja, raha bisa percaya akan hal ini, Bu.” Bu Mayang hanya mengangguk. “Semoga saja, Sat ….” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD