BAB 6 - kisah masa lalu

2387 Words
Suasana sore itu tampak begitu tegang dan kurang menyenangkan bagi kedua anak kembar itu dan Rhea. Apalagi dengan baju seragam yang setengah basah yang mereka kenakan karena harus berlarian kembali ke dalam sekolah di tengah guyuran hujan yang begitu deras, membuat ketiganya jadi semakin tidak nyaman. “Jadi, selama ini kalian berdua mempermainkan perasaanku?” tanya Rhea sedih sambil menatap ke arah kedua anak kembar itu secara bergantian. Gadis itu benar-benar kesal dan marah karena dipermainkan oleh Abiwara dan Abisatya. “Kami, kami … nggak bermaksud seperti itu, Rhe. Kami--…” “Aaah sudahlah!” sela Rhea kesal, “aku nggak mau denger apa-apa lagi dari kalian berdua, aku bener-bener kecewa! Aku benci sama kalian berdua!” tukasnya kesal dan bergegas beranjak pergi meninggalkan kedua anak kembar itu yang hanya bisa terdiam dan terpaku melihat kepergian gadis impian mereka. “Rhea! Dengarkan dulu penjelasan kami!” teriak Abisatya yang berusaha mengejar gadis itu. Namun, Abiwara segera menghentikannya. “Nggak usah, Sat! Mungkin ini yang terbaik untuk kita bertiga, nggak usah ada penjelasan apa-apa, sudah biarkan begini,” selanya sambil memegang lengan saudara kembarnya itu. “Tapi, Bi! Rhea harus tahu--…” Lagi-lagi Abiwara menggeleng, saat Abisatya ingin mengejar Rhea dan memberikan penjelasan mengenai hubungan mereka. Keadaan seperti inilah yang diinginkan laki-laki itu, karena itu artinya Rhea bukan milik siapa-siapa, bukan milik Abi dan juga bukan milik Satya. Dia merasa lega karena dirinya tidak melukai perasaan saudara kembarnya sendiri. Namun, Abisatya tetap mempunyai pikiran yang beda. ♥♥♥ “Rhe, aku mohon, jangan salahkan Abi dalam hal ini,” pinta Abisatya malam itu, saat akhirnya dia bisa bertemu dengan gadis itu di rumahnya. Sejak insiden Rhea mengetahui semuanya, gadis itu jadi menjauh dan menghindari bertemu dengan kedua anak kembar tersebut. Berbulan-bulan mereka tidak saling sapa satu sama lain, mereka bertiga seperti hidup di dunia mereka masing-masing, meskipun dalam satu lingkungan. Hal ini juga menjadi tanda tanya besar bagi seluruh murid di sekolah. Hingga akhirnya hari kelulusan Abiwara dan Abisatya pun tiba, hubungan kedua anak kembar ini dan Rhea tetap kaku. Abiwara memutuskan untuk meneruskan kuliahnya di Jogja mengambil jurusan arsitektur, sementara Abisatya terbang ke Paris untuk menimba ilmu masaknya di sana sebagai seorang chef setelah mereka mendapat uang warisan dari sang ibu kandung yang disimpan oleh Bu Mayang—ibu tiri mereka—selama ini. “Aku sudah melupakan itu semua, Kak Satya. Nggak ada lagi yang harus dibicarakan di antara kita,” sahut Rhea dingin, sama seperti dinginnya udara malam ini yang terasa menusuk ke kulit Abisatya yang terbuka. Cowok itu memang sengaja malam-malam begini menemui gadis itu tanpa mengenakan jaket sambil mengendarai motor bututnya, agar niatnya pergi malam ini tidak dicegah oleh sang saudara kembar. Abiwara memang paling tidak suka kalau Abisatya berusaha untuk mendekatkan dia dengan Rhea, karena cowok itu juga merasa sungkan dengan saudara kembarnya yang juga menaruh hati ke gadis itu. Agar sama-sama adil, maka mereka berdua tidak boleh ada yang mendekati Rhea. Namun, peraturan ini dilanggar oleh Abisatya. “Ada, Rhe! Ada sesuatu yang harus kita bicarakan! Dan mungkin ini yang terakhir kali, karena setelah hari ini, kamu nggak akan ketemu lagi sama aku,” sela Abisatya antusias, “malam ini aku akan terbang ke Paris, aku diterima sekolah di sana.” “Oooh ….” Hanya itu yang keluar dari bibir mungil gadis itu. “Aku hanya mau ngomong sama kamu, kalau semua ini bukan salah Abi. Aku harap kamu jangan menyalahkan dia dalam hal ini. Semua drama ini, akulah yang bertanggung jawab, selama ini aku memang telah bohong sama kamu, Rhe. Dengan berpura-pura menjadi Abi.” Gadis itu bergeming dan tetap saja terdiam, tidak ada respon apapun darinya, hatinya masih terasa sakit. Dia tidak terima dipermainkan begitu saja sama kedua anak kembar itu, sementara Abisatya mencoba menghela nafas sesaat untuk mengungkap lagi semuanya. “Abi melakukannya, karena dia hanya ingin menyenangkan hatiku. Dia tahu kalau aku jatuh cinta sama kamu, sementara kamu tertarik sama dia. Abi nggak mau melihat aku patah hati, oleh karena itu dia minta aku jadi dia untuk mendekati kamu,” jelas Abisatya lirih, penuh penyesalan. “Asal kamu tahu, Rhe. Jauh di lubuk hatinya, Abi sebenarnya juga mencintai kamu, hanya saja dia menyimpan perasaannya jauh-jauh, hanya untuk aku. Begitulah Abi, dia selalu saja mengalah untuk aku, sejak kami kecil. Tapi sekarang, bisa aku pastikan kalau Abi nggak akan mengalah lagi, karena aku akan pergi jauh. Jadi dia bisa dekat sama kamu lagi, tapi itupun kalau kamu mau.” Rhea masih saja terdiam dan bergeming ketika Abisatya pamit dan pergi meninggalkan gadis itu. Itulah moment terakhir pertemuan mereka berdua duabelas tahun yang silam. Dan kali ini setelah bertemu kembali, dia harus menikahi gadis itu yang sudah menjadi janda saudara kembarnya? Bagaimana bisa? ♥♥♥♥ Pagi itu, sinar matahari sudah mulai mengintip di sela-sela tirai yang ada di kamar Abisatya. Namun, matanya masih terasa berat untuk membuka. Rasanya baru saja mata ini bisa terpejam, tiba-tiba sudah pagi. Semalam ngobrol bareng sosok yang menyeruapi Abiwara membuatnya harus begadang sampai subuh dan terkapar hingga pagi. Ingin rasanya Jallal meringkuk di balik selimut sampai siang nanti, untuk mengganti waktu begadangnya semalam. Namun, jeritan ponsel yang tidak kunjung berhenti sebelum disentuh olehnya, membuat laki-laki itu harus bangun dan mengambil ponsel itu yang berada di atas nakas kecil, di samping tempat tidur. “Yaaa … hallo!” suara Abisatya terdengar begitu berat dan parau sambil menguap karena rasa kantuk yang tidak tertahankan, dan masih meringkuk dibalik selimut. Hawa dingin dari pendingin udara di kamar terasa begitu dingin di kulit. [“Satya, kamu belum bangun? Tumben banget? Ini sudah jam sembilan, Sayang. Biasanya kamu sudah rapi dan siap masak di belakang kompor!”] celoteh Davina yang mulai mengoceh di ujung sana. Abisatya menghela napas dalam lalu berkata, “Ini kan aku libur, sekali-kali bangun siang nggak papa, ‘kan?” sahutnya malas sambil memejamkan mata. [“Iyaa, nggak papa, aku cuma mau tanya aja. Gimana acara pemakaman saudaramu kemarin? Lancar, ‘kan?”] “Yaa, lancar. Hmm … trus kenapa?” [“Kamu ini, kamu pasti masih merem ‘kan matanya? Kamu masih ngantuk, yaa? Emang semalam begadang?”] sela Davina kesal sambil mengetuk-ngetuk pena di atas meja. “Iyaa, begadang, ngobrol sama Abi sampai pagi,” ucap laki-laki itu tanpa sadar. [“Apa …? Ngobrol sama Abi? Bukannya dia udah mati? Dia, saudara kembarmu yang meninggal itu, ‘kan?”] Davina jadi bingung. Abisatya pun menepuk jidatnya, karena kelepasan ngomong soal sosok Abiwara yang sering menemuinya. Laki-laki itu lalu menghela napas dalam, mencoba mengatur napasnya sambil tidur terlentang, menatap langit-langit. “Iyaa, emang! Terus kenapa? Emang nggak boleh ngobrol? Kan ngobrolnya dalam mimpi.” [“Iiih … kamu ini! Mulut sama pikiran belum konek semuanya, jadinya gini deh! Ngomongnya ngelantur nggak karuan! Udah, nanti aku telpon lagi aja! Daah, Sayang.”] “Daah ….” Terdengar suara ponsel dimatikan di ujung sana. Abisatya merasa lega karena sudah terbebas dari gangguan Davina pagi itu, dia pun tertidur lagi. Namun, baru saja terpejam berapa menit, tiba-tiba suara Bu Mayang membangunkannya. “Sat! Ayoo … bangun! Sudah siang, Nak! Ayoo, bangun!” ujar perempuan tua itu sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya. Tangannya tampak begitu kurus dan kokoh, tangan yang telah merawat dan membesarkan kedua anak kembar itu sejak mereka kecil, sejak usia mereka baru dua tahun. Bu Mayang memang ibu tiri mereka. Abiwara dan Abisatya tidak pernah melihat ibu kandung mereka, sejak mereka dilahirkan, karena sang ibu telah pergi menghadap Sang Khalik saat melahirkan mereka. Dua tahun kemudian, sang ayah—Latif Darmais—menikahi Bu Mayang hingga dirinya tutup usia saat si kembar berusia 15 tahun. Abisatya bukannya membuka selimut yang menutup tubuhnya, tapi malah semakin merapatkan tubuhnya dan meringkuk dengan nyaman di balik selimut seraya berkata, “Masih ngantuk, Bu. Aku ingin tidur dulu, rasanya mata ini nggak mau kebuka,” sahutnya manja dengan nada suaranya yang malas. “Ayoo, bangun, Sayang. Ada kerjaan pagi ini, kamu harus bantuin Rhea!” Laki-laki itu bergegas membuka selimutnya dan melirik ke sang ibu yang terduduk di tepi ranjang. “Bantuin apalagi? Semalam Abi juga bilang, kalau aku harus bantuin Rhea, sekarang Ibu … juga nyuruh aku bantuin dia. Emang ada apa sih sama Rhea?” “Tunggu, tunggu … apa kamu bilang? Abi minta kamu bantuin Rhea? Memangnya Abi semalam datang ke sini?” sela Bu Mayang penasaran sambil mendelik, menatap Abisatya, membuat laki-laki itu tersadar kalau dia baru saja ngelantur dan kelepasan ngomong. “Oooh, maksudku itu, Abi minta tolong dalam mimpiku, Bu. Dia datang dalam mimpiku semalam dan minta tolong ke aku, untuk jagain Rhea.” Abisatya mencoba mengalihkan pembicaraan agar ibunya tidak curiga. “Kirain apaan! Ya udah, kalau gitu mandi sana! Lalu sarapan trus ke rumah sakit!” “Ke rumah sakit?” sela Abisatya heran sambil bangun dan terduduk di atas ranjang empuk itu. “Ngapain aku harus ke rumah sakit?” “Tadi Bu Hamida, ibunya Rhea telpon. Dia khawatir sama kondisi putrinya, karena hari ini Rhea maksa masuk kerja, padahal ‘kan dia masih berkabung. Maksudnya Bu Hamida, Rhea biar di rumah aja dulu, menenangkan hatinya sambil mengurus si kecl, tapi Ja nggak mau dan tetep maksa ke rumah sakit.” “Trus, hubungannya sama aku apa?” sela Abisatya bingung. “Yaa, Bu Hamida minta tolong sama kamu untuk bujuk saudara iparmu itu supaya pulang ke rumah, nggak usah kerja dulu, karena hatinya itu masih labil. Semalam dia nangis terus di kamar dan nggak mau makan, pagi juga nggak mau sarapan trus langsung cabut ke rumah sakit. Bu Hamida takut kalau ada apa-apa sama putrinya, apalagi Shira juga baru satu bulan” jelas Bu Mayang sedih. “Ada apa, sih sama Rhea?” sela Abisatya kesal. “Tapi ada benarnya juga, sekalian aku ngecek kondisi Farhan, apa dia sudah siuman atau belum?” batinnya heran, “eh tapi, Farhan itu dirawat di mana, ya? Apa di rumah sakit yang sama, di tempat Rhea kerja?” batinnya penasaran. “Kenapa kok bengong? Sudah sana mandi!” Bu Mayang berusaha menggeret lengan putranya itu yang masih terbengong di atas ranjang. Namun, Abisatya mencegahnya. “Eh, Bu. Ibu tahu Farhan, ‘kan? Yang kecelakaan bareng Abi!” Perempuan tua itu mengangguk dengan ekspresi wajahnya yang . “Ibu tahu di rumah sakit mana dia di rawat?” “Kalau nggak salah sih di rumah sakit pusat. Kenapa memangnya?” sela Bu Mayang heran. “Aku pengin jenguk dia,” sahutnya sambil meringis kecil. “Oh iya, Bu. Apa Ibu tahu soal asuransinya Abi?” tanya laki-laki itu lagi sambil beralih dan beranjak duduk di tepi ranjang di sebelah sang ibu. “Asuransinya Abi? Maksudmu yang baru diperbarui sama Abi kemarin?” “Jadi Ibu tahu soal itu?” sela Jallal penasaran. “Iya, ‘kan awalnya dia menggunakan nama Ibu sebagai ahli warisnya, tapi setelah dia menikah sama Rhea. Abi lalu mengganti nama ahli warisnya. Buku polisnya ada sama Rhea. Dia juga tahu soal ini.” Sesaat Abisatya tertegun dan memikirkan sesuatu. “Apa aku bilang saja sama Ibu, yaa? Kalau roh Abi mendatangiku dan minta tolong ke aku untuk ngejagain Rhea,” batinnya resah. “Heeiii! Bengong lagi! Kamu mikirin apaan sih? Dari tadi kok bengong mulu?” “Eeeh, nggak, nggak papa, Bu. Cuma ….” “Cuma apa?” sela Bu Mayang yang jadi semakin penasaran. “Ibu, Ibu ingat kalau dulu waktu SMA aku pernah mati suri? Gara-gara tawuran sama sekolah lain?” Perempuan tua yang masih mengenakan daster kebesarannya itu pun mengangguk dan semakin penasaran. “Dan setelah peristiwa itu, aku pernah cerita ke Ibu ‘kan kalau aku bisa melihat mendiang Ayah.” “Memangnya kamu ini mau ngomong soal apa, sih?” “Abi, Bu! Abi mendatangi aku semalam. Bahkan bukan hanya malam ini saja, tapi di malam saat dia kecelakaan, dia mendatangi aku di Bandung, waktu aku sedang tidur.” Bu Mayang tercengang kaget tidak percaya dan menutup mulutnya. “Itu nggak mungkin, Sat!” “Itu yang terjadi, Bu. Ibu harus percaya sama aku, coba Ibu pikir. Dari mana aku tahu soal asuransi Abi yang baru saja diperbaharui beberapa bulan yang lalu? Jujur, aku nggak tahu soal itu kalau Abi atau Ibu atau Rhea nggak kasih tahu aku. Lalu soal rumah, oh iya!” Abisatya segera berdiri dan bergegas beralih ke luar kamar, menuju ke ruang kerja saudara kembarnya. Bu Mayang yang semakin penasaran dengan cerita putranya, segera mengekor di belakang. Perlahan laki-laki itu membuka lemari yang ada di ruang kerja itu, lalu membuka laci lemari dan dilihatnya sebuah map transparant warna biru muda yang sepertinya berisi sebuah dokumen dan ada di kunci rumah di dalamnya. “Ini pasti kunci rumah dan sertifikat rumah Rhea!” batinnya sambil mengambil map transparant warna biru muda itu, lalu beralih ke sofa dan menghempaskan tubuhnya di sana. Bu Mayang pun duduk di sebelahnya. “Ini … Ibu tahu apa ini?” Perempuan tua itu menggeleng dengan ekspresi wajahnya yang masih tidak percaya dan bingung. “Apa itu?” “Apa Abi pernah cerita soal hadiah ulang tahun untuk Rhea? Apa dia pernah cerita kalau mau beli rumah?” Kerut di kening perempuan tua itu tercetak jelas di sana disertai anggukan ragu yang terlihat jelas di wajahnya. “Yaa … seingat Ibu, Abi pernah cerita kalau dia mau beli rumah, tapi dia belum cerita kalau dia mau kasih hadiah ke Rhea,” sela Bu Mayang penasaran. “Ini sertifikat rumahnya, Bu. Atas nama Rhea dan ini kunci rumahnya!” ujar Abisatya sambil mengambil dokumen sertifikat rumah itu dari dalam map transparant lalu membaca isinya. Perempuan tua itu pun ikutan membaca sertifikat rumah tersebut. “Jadi, Abi sudah membeli rumah itu?” “Yup! Dan semalam Abi meminta aku untuk memberikan sertifikat rumah ini ke Rhea, karena rumah ini memang untuk dia dan Shira, Bu. Ini kado ulang tahun untuknya dari Abi.” “Maksudmu, semalam Abi menceritakan semua ini ke kamu?” Abisatya mengangguk cepat, lalu menceritakan semua yang diceritakan oleh Abiwara padanya tentang kecelakaan malam itu, polis asuransi dan rumah untuk Rhea. Bu Mayang jadi semakin tercengang dan hanya bisa terdiam, mendengar semua cerita putranya. “Jadi, jadi … kecelakaan itu sudah direncanakan?” tanya Bu Mayang sedih sambil mengusap ujung matanya yang berair. Perempuan tua itu tidak bisa membayangkan bagaimana putranya meregang nyawa, saat kedua temannya datang, yang sebenarnya bisa menyelamatkan jiwanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD