Aku melihat ekspresi yang tidak biasa pada Kak Damar, dia terlihat panik. Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, dia memang tidak pandai menyimpan sesuatu. “S—sayang.” Dia melihatku dan melirik Bagas yang saat ini berada di belakangku. “Mbak Jen, saya rasa diskusinya cukup sampai di sini.” “Okey, semoga berjalan lancar, ya, Mas.” Wait, Mas? Kak Damar menuntun wanita yang dia sebut Jen menuju pintu, lalu dia memelukku sambil mengucapkan terima kasih kepada wanita yang baru saja melewatiku dengan senyuman yang menurutku aneh. “Klien?” “Bu—” “Iya, benar,” potong Bagas. Aku menoleh ke arah Bagas lalu menatap Kak Damar. “Siapa dia? Maksud Jingga dari perusahaan mana?” “Namanya Jenny, dia E—” “Executive—” “Mas Bagas! Saya tidak sedang bicara dengan Mas,” protesku. Entah mengapa,

