4. Pensi (Pentas Seni)

3893 Words
"Sarah, Ali... hujan deras sekali, sepertinya kita tidak bisa pulang malam ini," Laras menghampiri Ali dan Sarah yang sedang duduk di teras rumah Eyang Ali. "Bahaya jika kita memaksa menembus hujan, apalagi banyak jalan menikung." "Trus gimana Bunda?" "Ehh kalau menginap dulu, Sarah keberatan tidak ya? Besok pensi dimulai jam berapa sayang?" Laras menatap menantunya dengan tak enak hati. "Acara pensi kan malam Bund, pagi cuma persiapan aja. Sarah gapapa kok, asal besok pagi kita bisa balik." "Iya, semoga besok cuaca cerah, maklum di puncak memang sering hujan. Terima kasih ya Sarah atas pengertiannya." Bunda tersenyum sambil mengusap lembut rambut Sarah. "Apaan sih Bunda, cuma gitu doang." Sarah menarik kepalanya canggung, tidak biasa diperlakukan dengan penuh kasih sayang seperti itu. Ia tersenyum meminta maaf ketika dilihatnya Bunda Ali terkejut akan sikapnya. "Ya sudah, bunda masuk dulu ya," Laras mengangguk penuh pengertian. "Ali, tunjukkan kamar kalian pada Sarah, siapa tau dia capek dan ingin istirahat." "Ya, Bunda," jawab Ali patuh. Ia menoleh ke arah Sarah, "kamu mau istirahat?" Sarah menggelengkan kepala. "Gak, kak Ali ngantuk?" "Tidak juga." "Ya udah di sini aja, temenin Sarah." "Ohh... oke," Ali menjawab sambil tersenyum simpul. Berduaan lagi kan... Selama beberapa saat Ali dan Sarah hanya duduk diam sambil melihat hujan dan sesekali saling melirik. Tak ada yang mencoba membuka percakapan. Ali sendiri terlihat beberapa kali mencoba membuka mulut, tapi kemudian menutupnya lagi. Ia bingung harus mengobrolkan apa dengan Sarah. Apalagi degub jantungnya yang rasanya seperti ingin melompat keluar membuat akalnya buntu. Merasa bosan karena tidak melakukan apapun, Sarah pun bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah lain teras sambil melihat sekeliling. Tatapannya jatuh pada sebuah gitar di salah satu kursi rotan di sudut teras. Senyum merekah di bibir Sarah. Tanpa bertanya pada Ali siapa pemilik gitar tersebut, ia mengambilnya dan mulai memetik beberapa nada. Jreng! Jreng! Ali terkejut dan tersadar dari lamunan ketika tiba-tiba mendengar suara gitar. Ia menoleh ke arah suara dan melihat Sarahnya sedang duduk tak jauh darinya sambil memangku gitar. Ia tersenyum melihat pose Sarah. Gahar tapi cantik. Isn't anyone trying to find me? Won't somebody come take me home? It's a damn cold night Trying to figure out this life Won't you take me by the hand? Take me somewhere new I don't know who you are But I... I'm with you I'm with you (Avril ~ Im with you) Ali terpana mendengar lagu yang Sarah nyanyikan. Ia tidak tahu lagu siapa itu, tapi terlihat sekali bahwa Sarah menyanyikan itu dari dalam hati. Apa itu yang Sarah rasakan selama ini? Plok! Plok! Plok! "Bang Dika?" Ali menoleh ketika mendengar tepuk tangan di belakang punggungnya. "Bini lo oke juga Al, pinter main gitar, suaranya juga merdu." "Ohh... ehh iya bang," jawab Ali bingung. Terkejut sebetulnya, karena meski saudara sepupu, tapi dirinya dan Dika tidak terlalu akrab dan jarang sekali mengobrol. Selain karena perbedaan usia juga karena ia tak terlalu suka dengan gaya hidup Dika yang seba bebas. Namun saat ini tiba-tiba Dika menghampirinya dan mengomentari permainan gitar istrinya? Sarah sendiri menoleh ke arah Dika, kemudian mengedikkan bahu tanda tidak peduli akan kehadiran kakak sepupu Ali tersebut. Ia pun kembali memainkan gitarnya tanpa menoleh lagi. "Kamu Sarah kan?" Dika duduk di kursi samping Sarah, mengabaikan Ali yang menatapnya heran. Memang awalnya ia tak peduli pada kehebohan keluarganya mengenai kehadiran anggota keluarga baru yang katanya adalah istri sepupu jauhnya. Tapi, saat mendengar alunan gitar dan nyanyian merdu yang ternyata berasal dari istri Ali, ia pun tak tahan untuk tidak mendekat. Ada sesuatu pada suara Sarah yang membuat Dika trenyuh. "Hem...," jawab Sarah tanpa menoleh. "Gue Dika, kakak sepupu Ali." Dika mengulurkan tangan ke arah Sarah. "Sarah" jawab Sarah tanpa menerima uluran tangan Dika dan kembali memetik gitarnya. Kali ini Sarah hanya bermain fingerstyle lagu-lagu lama yang kebetulan ia suka. Salah satunya adalah lagu yang sering ia putar saat sedang sendiri di rumah 'ode to my family'. Sarah bermain dengan sangat mahir.Maklum sudah sejak kecil ia belajar bermain gitar dan merengek pada kedua orangtuanya agar secara khusus didatangkan guru privat untuk melatihnya. Dika dan Ali sama-sama dibuat takjub oleh permainan gitar Sarah. Mereka kompak bertepuk tangan ketika lagu yang Sarah mainkan berakhir. Berasa nonton konser Sung ha jung. "Gokil banget Sar..." Dika mengacungkan dua jempol ke arah Sarah. Ia tulus memuji Sarah karena memang tak banyak orang yang mahir fingerstyle. "Biasa aja." "Jangan gitu dong, udah macho gini masak jutek, gak asyik jadinya." "Sorry, lagi boring aja sih," jawab Sarah. Bangga juga dibilang macho. "Boring ya, main catur aja mau gak?" ajak Dika. "Waah, boleh banget tuh, emang ada papan caturnya?" Sarah antusias. "Ada, main di dalam aja, di sini dingin." Dika menarik tangan Sarah dan mengajaknya masuk. Sementara itu, Ali cuma bisa melongo melihat Dika menarik tangan istrinya. Ia mengepalkan kedua tangannya, menahan marah. Cemburu lebih tepatnya. Mengapa Sarah begitu mudah berpaling pada laki-laki lain? Selama beberapa saat, Ali hanya bisa terpaku di tempat, tak tahu apa yang harus diperbuat. Inginnya masuk ke dalam, menegur Dika dan Sarah, tapi ia merasa tidak enak karena seluruh keluarganya sedang berkumpul di dalam. Setelah menimbang beberapa saat, akhirnya Ali memutuskan untuk menyusul Sarah. Namun pemandangan yang menyambutnya di dalam membuat d**a Ali semakin bergemuruh. Sarah bermain catur sambil bersila di lantai bersama bang Dika, dikerumuni saudara-saudaranya yang lain juga. Mereka terbagi menjadi dua kelompok, sebagian mendukung Sarah, dan sebagian lagi mendukung Dika. Apakah ini yang dinamakan cemburu buta? Atau jangan-jangan dirinya yang terlalu posesif? "Dek Sarah, sudah malam. Waktunya untuk tidur." Ali berkata dengan intonasi setenang mungkin, tak ingin menampakkan emosinya. Namun reaksi Sarah selanjutnya membuatnya semakin sulit. Sarah celingak-celinguk mencari jam dinding. "Baru jam 8," jawabnya cuek tanpa menoleh ke arah Ali dan kembali fokus pada permainan caturnya. "Memang, tapi besok kita berangkat pagi-pagi sekali, Dek. Kak Ali khawatir kamu kesiangan dan gagal mentas." Ali menjelaskan sambil mengeratkan rahang. Jengkel dengan sikap tidak peka Sarah. "Kamu besok mau manggung?" tanya Dika. "Iya, ada acara pensi sekolah. Kenapa?" "Hmm... bang Dika antarin deh kalau Ali mau balik pagi-pagi. Emang jam berapa manggung, sekalian bang Dika pingin liat perform kamu." Dika berkata seraya mengamati ekspresi Sarah yang menurutny lucu ketika sedang berpikir keras untuk mengalahkannya. "Nggak perlu, bang. Itu tanggung jawab Ali sebagai suami Sarah!" tegas Ali. Ia sekuat tenaga menahan keinginan untuk menonjok wajah Dika yang menurutnya sedang berusaha mencari seimpati Sarah secara terang-terangan di hadapannya. Suami sah Sarah! "Kak Ali tunggu di kamar, Dek Sara..." Ali menambahkan sembari berjalan kaku meninggalkan ruangan. *** "Kenapa bantal dan guling nongkrong di lantai begini?" Sarah bertanya heran, karena begitu ia masuk ke dalam kamar, ia melihat kamar berantakan dengan batal dan guling berserak di lantai. "Udah main caturnya?" tanya Ali dingin. "Belum sih, tapi sama Bunda suruh udahan," jawab Sarah santai. "Kenapa sama bunda langsung nurut?" "Emm... kenapa ya? Gak tau deh." Sarah tak mau ambil pusing memikirkan jawaban dari pertanyaan Ali. Ia memunguti bantal dan guling di lantai dan melemparnya ke arah tempat tidur. "Dek Sarah bisa nggak menghargai Kak Ali, sedikit saja. Kemarin kak Ali sudah peringatkan, jangan pernah lagi dekat sama lelaki manapun!" "Iya sih, kemarin kak Ali bilang gitu, tapi kan kata kak Ali kecuali sodara? Lha bang Dika kan sodara?" Skak mat! Ali tak tahu lagi harus menjawab apa. Maunya sih mengaku jika dirinya cemburu melihat Sarah dekat dengan lelaki manapun sekalipun itu saudara, tapi ia takut jika terlalu mengekang Sarah, justru dirinya akan kehilangan Sarah. Arrrgghhh...!!! Ali menggeram tertahan. "Ya sudah, buruan tidur. Besok dek Sarah harus bangun pagi ya, karena ayah ada kerjaan juga jadi harus buru-buru pulang." "Iya... iya... sewot amat sih, kalo Sarah sulit dibangunin, tinggal aja gapapa, ada Bang Dik..." Cup! Refleks, Ali mencium Sarah untuk mencegah istrinya itu menyebut nama 'Dika'. Ia sendiri terkejut dengan tindakan nekadnya itu, tapi mau bagaimana lagi, sudah terjadi. Ia melirik Sarah, apa dia marah? Selama beberapa saat, Sarah diam dan mencoba mencerna keadaan. Sesaat dirinya masih merasa ling-lung. Namun saat sadar dengan apa yang terjadi... Plak! Sarah menampar Ali. "b******k! Ngapain lo cium-cium gue? b******n!" Sarah mengangkat kepalan tangannya untuk meninju Ali, tapi dengan tangkas Ali menangkap tangannya. Sarah mendelik menatap Ali. Ia benar-benar murka. "Kamu, istri kak Ali," ujar Ali pelan. "Kak Ali berhak melakukan apapun." "Lepas!" Sarah berontak berusaha menarik tangannya. "Jangan berani lagi..." Sarah tidak melanjutkan ucapannya karena Ali kembali menempelkan bibirnya. Sarah terpaku di tempat. Ia tak bisa melepaskan diri karena kedua tangannya dipegang dengan oleh Ali ke belakang tubuhnya. Ia tak menyangka, seorang Ali yang ia kira jadul, cupu dan nggak gaul banget ini ternyata kuat juga. Baru kali ini ada yang bisa membuatnya tak bisa berkutik. Tiba-tiba Sarah merasakan jantungnya berdebar hebat. "Kak Ali bisa sabar, tapi tetap saja itu ada batasnya," ujar Ali ketika melepaskan ciumannya. *** "Sarah, bangun!" Ali mengguncang tubuh Sarah. Seperti biasa, istri premannya itu sulit untuk dibangunkan. Ali memutar otak, mencari cara untuk bisa membuat Sarah bangun tepat waktu. Ia tak mau Sarah diantar oleh Dika tentu saja. Ali menyiapkan air di kamar mandi. Biarlah pagi ini mereka mandi bersama. Ia yakin Sarah tetap tidak akan bangun, jadi tidak mungkin menghajarnya. Ali cuma mau Sarah sudah siap, saat mereka harus kembali nanti. Setelah air siap, Ali kembali ke dalam kamar. Ia melucuti baju Sarah dengan susah payah, karena Sarah mengenakan korset dengan banyak pengait. Maklum, Sarah memang tidak pernah memakai bra. Ia justru memakai korset mulai dari d**a sampai perut, untuk menyamarkan payudaranya yang menonjol. Ali menelan ludah melihat bentuk tubuh Sarah yang sebenarnya, ternyata ukurannya lumayan juga. Plak! Ali menampar dirinya sendiri. Sekarang bukan waktunya untuk m***m. Ia mengangkat Sarah ke kamar mandi dan mendudukannya di atas closet duduk. Ali menyalakan shower untuk membasahi tubuhnya juga Sarah. Setelah itu, ia menuang sabun cair ke atas shower puff dan mulai membersihkan dirinya juga Sarah. Ali sekuat tenaga menahan diri agar tidak tergoda oleh bisikan-bisikan yang terus berdengung di kepala bahwa dirinya harus menyentuh Sarah, meminta haknya saat ini juga karena bagaimanapun Sarah adalah istrinya. Tapi tidak, ada yang lebih urgen saat ini, yaitu jika sampai Sarah harus lebih dekat dengan Dika. Karena meski tidak terlalu dekat dengan Dika, Ali cukup banyak mendengar tentang pergaulan bebas Dika juga sifat playboy sepupunya itu. Dimandikan dalam kondisi tidur, bukannya bangun, Sarah malah turun dari atas closet dan pindah duduk di lantai, meringkuk sembari bersandar di dinding. Ali hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ke-kebo-an istrinya itu. Sarah gelagapan saat matanya pedih terkena shampo. "Enggh.. apa nih?" Sarah mengucek matanya, masih setengah tidur. "Enggak ada apa-apa, kak Ali cuma cuci rambut kamu, merem lagi aja," ujar Ali kalem. "Hmm... makasih kak Ali," Sarah merem lagi dan kembali ke alam mimpi. Selesai mandi sekaligus memandikan Sarah, Ali kembali menggendong Sarah dan merebahkannya di tempat tidur. Ia memijat lengannya yang kaku sebelum menutupi tubuh Sarah dengan selimut. Melepas pakaian Sarah saat gadis situ tidur saja sudah kesulitan apalagi memakaikan bajunya kembali. Jadi, Ali akan membangun Sarah selepas dirinya melakukan ibadah subuh agar istrinya itu berpakian sendiri nantinya. Ali berpakaian dengan cepat dan segera mengambil wudhu karena ia sudah mendengar adzan berkumandang sejak dirinya dan Sarah mandi. Ia tak ingin mengulur waktu karena ia yakin pasti ayah dan bundanya di jam seperti ini pasti juga sudah bangun dan bersiap-siap untuk pulang. Setelah menyelesaikan ibadah subuhnya, Ali menghampiri tempat tidur untuk membangunkan Sarah. "Dek Sarah!" Ali menepuk pipi Sarah pelan, "bangun, ayok sudah subuh ini." Karena tidak ada reaksi apapun dari Sarah, Ali akhirnya mengambil air minum di atas nakas dan memercikkan sedikit air ke wajah Sarah supaya gadis itu bisa segera bangun. Dan berhasil memang, Sarah menggeliat sambil meregangkan kedua lengannya, tapi kemudian... Bagh Ali jatuh terjengkang dari atas temat tidur akibat tendangan Sarah yang tiba-tiba. "Kak Ali... ngapain tiduran di lantai gitu?" Sarah yang langsung melek karena mendengar suara gedebag-gedebug bertanya pada Ali sambil mengucek kedua matanya. "Dek Sarah, lain kali kalau dibangunin jangan begitu, masak kak Ali ditendang...." Ali mengusap belakang kepalanya yang sukses menabrak Almari saat terjengkang dari atas tempat tidur. Bukan hanya kepalanya yang sakit, pantatnya pun ngilu akibat membentur lantai dengan keras. "Ehh?kapan Sarah pernah gitu?" Sarah yang tidak sadar bahwa saat ini dirinya sedang dalam kondisi telanjang bangkit dari tempat tidur membuat selimut melorot dari tubuhnya. Saat itulah dirinya baru sadar, "Busheet deh... semalam gue ngelindur apa ya sampai telanjang begini" Sarah menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Tadi kak Ali mandiin kamu, habisnya kamu susah sekali dibangunkan." Ali menjawab sambil bangkit berdiri dan duduk di kursi di dekat jendela, menjauh dari jangkauan Sarah. bisa-bisa kena bogem Sarah nanti. "Apa?! Kak Ali mandiin Sarah?!" Sarah berteriak sambil mendelik ke arah Ali. "Sumpah dek, kak Ali cuma mandiin aja, nggak ada yang lain. Percaya deh." "Yah, kak Ali jadi tau deh," Sarah mendesah pelan sambil menundukkan kepala. Ia merasa malu pada Ali. "Aib terbesar Sarah ketahuan kan jadinya." "Ehhh... kita kan suami istri, dek? Nggak apa-apa. Maksud kak Ali... nggak usah malu, nggak dosa juga kok." Ali sendiri malu mengingat kenekatannya memandikan Sarah. "Jadi ketahuan kalo Sarah nutupin buah d**a Sarah pake korset biar kayak cowok," ujar Sarah lesu sambil meraih bajunya yang tadi Ali letakkan di bawah tempat tidur. "Kak Ali, plis ya jangan sampai rahasia ini tersebar ke siapapun. Bisa jatuh harga diri Sarah sebagai preman sekolah kalau sampai mereka semua taahu Sarah punya buah d**a. Hiks..." Ali melongo. Jadi yang membuat Sarah malu bukan fakta bahwa ia sudah melihat seluruh bagian tubuh gadis itu? Ali mengamati Sarah yang mengenakan bajunya dengan cepat dengan perasaan campur aduk. Sarah telah kehilangan sisi feminimnya dan sepertinya itu bukan pekerjaan mudah bagi Ali untuk mengembalikan hal itu. Namun, karena Ali sudah memilih Sarah dengan segala risikonya, ia akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat Sarah bisa mendapatan kembali sisi perempuan Sarah. "Sudah, pakai bajunya?" Ali bertanya ketika melihat Sarah sudah memakai kembali celana dan bajunya. "Turun yuk, sepertinya semua sudah menunggu di bawah karena semalam bunda sudah berpesan kalau pagi-pagi sekali kita akan pulang. Ayah ada urusan yang tidak bisa ditunda." "Oke, sudah siap." Sarah mengangguk setelah merapikan lengan kemeja yang ia gulung sampai siku. Ali menggandeng Sarah menuruni tangga menuju ruang keluarga di rumah Eyang Ali. Dan benar saja, ternyata ayah bunda, Fatih dan Alya sudah menunggunya di sana, juga beberapa sanak family yang memang ingin melepas kepulangan mereka. Namun ada yang membuat Ali membuang napas dengan keras saat melangkah mendekati keluarganya. Yaitu Dika yang sepertinya juga sudah bangun pagi dan ikut menunggu Sarah. Kelihatan sekali saat ia dan Sarah memasuki ruang keluarga, Dika tersenyum lebar seraya melambaikan tangan ke arah Sarah. "Pagi Sarah," sapa Dika begitu Ali dan Sarah memasuki ruang keluarga. "Pagi, bang," jawab Sarah santai. "Kak Sarah, tumben jam segini sudah rapi?" goda Alya. "Oooh, tadi kak Sarah dimandiin sama kak Ali pas masih tidur, makanya bisa bangun pagi. Hahahahah..." Semua yang ada di ruang keluarga terkejut mendengar jawaban Sarah, tak terkecuali Dika. Postur pemuda itu berubah kaku dengan wajah yang tak lagi menampilkan senyum seperti sebelumnya. Sementara Ali, wajahnya merah padam karena malu, tapi ia merasa puas saat melihat ekspresi Dika. *** "Mama! Sarah gak mau pake beginian, malu." Sarah merengut saat didandani oleh Mamanya. "Kamu kan mau nge-date sama Ali, jadi harus menghormati Ali. Dandan yang cantik! Jangan kayak preman pasar gitu!" omel mama Sarah. "Tapi nanti Sarah bakal nge-band Ma, masak pake baju gini sih... haduuh mau ditaruh dimana muka Sarah nanti?" ujar Sarah sambil menarik-narik dress mini yang telah dipakaikan dengan paksa ke tubuhnya. "Ok, kalau begitu jangan pergi. Ali juga gak akan mau pergi kalau Mama melarang, Ali itu anaknya penurut gak kayak kamu!" Mama Sarah bersedekap menatap putri semata wayangnya itu. "Ck!! Oke, fine... terserah Mama deh mau dandanin Sarah apa, yang penting harus tetap pergi." Meski kesal, tapi Sarah berusaha menahan diri. Bisa melayang Panamera Turbo kesayangannya kalau sampai ia tidak datang ke pensi bersama Ali. Tuhan, beri kekuatan untuk beberapa jam lagi, batin Sarah. "Udah selesai, cantik," puji mama Sarah setelah menyapukan sentuhan terakhir blush on berwarna pink kelap kelip ke pipi putrinya. "Dah boleh liat cermin nih?" tanya Sarah sinis. "Boleh dong..." Mama Sarah tersenyum puas melihat hasil karyanya. Sarah yang sejak tadi dijauhkan dari Cermin, berjalan ke arah Cermin setinggi dinding di kamar Mamanya. "Huaaa!!!!" Ia berteriak sekencang-kencangnya membuat Ali dan mamanya yang menunggu di depan kamar, bergegas masuk menghampiri. "Ada apa, Dek?" Ali khawatir. Sarah menunjuk cermin. Ia tak bisa berkata-kata melihat makhluk menyeramkan yang balas menatapnya dari dalam cermin. "Kenapa?" Ali kembali bertanya karena melihat Sarah sepertinya shock sekali. "I-itu si-siapa?" Sarah bertanya sambil menunjuk bayangannya sendiri dalam cermin. "Oalah Sarah... Mama kira kenapa, itu kan kamu, cantik banget kan?" Sarah shock melihat penampilannya. Kejam nian mamanya! "Ayo dek, sudah telat kita," ajak Ali sambil tersenyum simpul. Beberapa saat ia sempat terpana melihat penampilan Sarah dengan dres tanpa lengan warna plum, rambut disanggul ke atas dengan hiasan bunga-bungan kecil ditambah dengan sedikit sentuhan make-up natural membuat Sarahnya benar-benar berbeda. Cantik sekali. "Sarah aja yang nyetir ya?" "Mulai sekarang kak Ali yang bawa mobil. Mau mobil kak Ali atau mobil Sarah terserah, tapi tetap kak Ali yang bawa!" tegas Ali. "Uuu.. co cwet banget sih mantu Mama." "Mama apaan sih, bukannya dukung anaknya... !" Sarah mendengus keras. Oke, terserahlah ya, semaumu aja, yang penting selepas pensi, lo gue tendang! Ali merangkul pinggang Sarah dan menuntunnya keluar dari kamar mertuanya. "Ayuk." "Ishh ...Kak Ali apaan sih, risih tau!" "Yakin bisa jalan dengan sepatu kamu yang seperti itu?" Sarah memejamkan matanya erat, menahan kesal mengingat tadi mamanya juga memaksa dirinya memakai sepatu kaca dengan hak setinggi 7 sentimeter. Huft! Sabar Sarah... Akhirnya, meski dengan wajah ditekuk, Sarah menurut saja ketika digandeng oleh Ali. "Kak Ali... gimana nanti Sarah main Drum-nya kalo kayak gini?" Sarah berujar dengan mata berkaca-kaca hampir menangis. Ali tak membalas. Ia hanya tersenyum penuh arti saat membantu Sarah naik ke dalam mobil. Kebetulan sekali tadi dirinya sudah menyiapkan hadiah yang pasti cocok untuk sarah. Saat hendak mengisi bahan bakar untuk mobilnya tadi, ia melewati beberapa toko di pinggir jalan, dan melihat sesuatu yang sepertinya cocok untuk dipajang di salah satu etalase toko. Ia pun membelinya. Setelah menutup pintu mobil, Ali berjalan memutar dan masuk ke kursi kemudi. Ia meraih sebuah kotak dari bangku belakang. "Ini," ujarnya sambil membelai dengan lembut kepala sarah. Sarah menoleh ketika Ali mengusap lembut kepalanya. "Apa ini?" "Buka saja." Ali tersenyum hangat. Sarah membuka tutup kardus yang saat ini sudah berada di pakuannya. Sesaat Sarah hanya bisa terpaku melihat isi kardus tersebut tanpa bisa berkata-kata. Sepasang sepatu boots berwarna khaki yang serasi sekali dengan baju yang dipakainya saat ini. Tidak terlalu girly tapi cocoklah. "Kak Ali..." Sarah menatap Ali bingung tak tahu harus berkata apa. "Coba pakai." Sarah mengangguk. Ia mengganti hillsnya dengan boots pemberian Ali. Pas sekali, tidak kekecilan atau kebesaran. Sarah tersenyum cerah menatap Ali, kali ini senyum yang betul-betul tulus dari dalam hatinya. "Makasih, kak." "Kamu cantik saat senyum." "Kak Ali mulai deh!" Sarah bergidik mendengar pujian Ali. Ia meninju lengan Ali untuk menutupi rasa malunya akibat pujian Ali. Bagaimanapun tomboynya Sarah, tetap saja ia adalah seorang gadis yang pasti malu-malu kucing bila digoda. *** Setelah memarkirkan mobilnya, Ali turun dan membukakan pintu untuk Sarah. "Ayo turun." Sarah menolak saat Ali hendak membantunya turun. "Sarah bisa sendiri kok," ujarnya sambil menepis tangan Ali. Ali merangkul pinggang Sarah. Tidak terlalu erat karena ia tak ingin Sarah merasa tak nyaman. Mereka berjalan bersisian memasuki lobi sekolah. Semua mata tertuju pada Ali dan Sarah. Mereka penasaran siapakah gadis yang akhirnya bisa menaklukan Ali, si gunung es. Tak ada yang mengenali Sarah tentu saja. Ada yang berdecak kagum melihat Sarah, ada pula yang mencibir iri. Apalagi Ali terlihat begitu bahagia dan memuja gadis yang berjalan bersamanya itu. "Kita duduk di sini saja," Ali menarik sebuah kursi untuk Sarah. Halaman sekolah telah disulap dengan dekorasi yang meriah dengan panggung tetap di samping aula sekolah. "Makasih kak," jawab Sarah. Ia duduk dengan tak sabar sambil celingak celinguk mencari keempat sahabatnya. Kemana mereka? "Cari siapa?" Ali bertanya sambil mendekatkan wajah ke arah Sarah. "Anak-anak pada belum datang kayaknya." "Memang kamu tampil nomor berapa?" "Masih lama sih kak, tapi Sarah pingin ngenalin kakak sama mereka dulu. Biar kak Ali kenal sama sahabat Sarah." "Ohh, tunggu aja dulu, mungkin mereka masih di jalan." Ali membuka teh botol dingin dan menyerahkannya pada Sarah. "Minum dulu." "Makasih." Sarah menghabiskan teh botol dalam sekali teguk. Ali terkekeh dan menyerahkan teh miliknya untuk Sarah, yang juga diminum Sarah dalam sekali teguk. "Di sana itu teman-temanmu bukan?" Ali menunjuk ke arah taman di depan ruang guru. Sarah melihat ke arah yang ditunjuk Ali. "Nah iya, itu mereka. Ayo kita ke sana." Sarah menyeret Ali menuju ke tempat sahabatnya berkumpul. Ia sudah tak sabar untuk menagih hadiah yang mereka janjikan jika dirinya menang taruhan. "Guys, lama bener ditungguin dari tadi." Sarah menonjok bahu sahabatnya satu per satu. "Sarah?" Jack mengernyitkan dahi. Ia merasa asing dengan gadis yang baru saja datang menghampiri mereka. "Ya Tuhan, Sarah!" Demon terpukau melihat perubahan pada diri Sarah. "Sarah... wow.." Ronald tak bisa berucap. "Lo beda Sar, cantik banget," puji Randy. "Kalian pada kenapa sih? Wwooii..." Sarah berteriak, karena keempat sahabatnya malah sibuk meneliti dirinya dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Ehm... kita telat gara-gara jemput pasangan, sumpah males banget, bawelnya minta ampun." Demon meluapkan kekesalannya. "Mending lo cuma bawel, nah gue, dari jam 5 guys nungguin dia di salon. Begitu keluar salon, gue kayak liat mak lampir, menor banget." Ronald curhat. Mereka semua tertawa ngakak mendengar curhatan Ronald. "Tau lo cewek, mending ajak lo deh, tekor banget gue," ujar Randy. Memang salah satu peraturan untuk datang ke acara pentas seni sekolah mereka adalah setiap yang datang wajib membawa pasangan. Jadi, mau tak mau mereka harus berburu pasangan yang pantas untuk diajak datang. Ali merangkul pinggang Sarah dengan posesif. Enak saja, punya siapa ini? Main ajak-ajak, ijin dulu sama yang punya! Sarah menoleh dan mendelik ke arah Ali, "Oya sampe lupa, kenalin nih kak Ali," Sarah menunjuk Al, kemudian menunjuk sahabatnya satu per satu, "ini Demon, Randy, Jack, Ronald." "Hai kaaak..." sapa mereka serempak. Ali hanya mengangguk sambil tersenyum ke arah mereka. Meski statusnya cuma sahabat tapi entah mengapa, Ali merasa sangat cemburu pada mereka berempat. "Bentar lagi waktunya kita tampil nih." "Siap-siap yuk." "Ya, kita stand by aja di belakang panggung." "Ya udah, kita ke sana. Kak Ali ikut ke belakang panggung apa nunggu di kursi penonton?" tanya Sarah. "Ayo, Kak Ali antar." Sepanjang perjalanan ke belakang panggung, Ali dan Sarah menjadi pusat perhatian. Disamping Ali yang memang terkenal dengan sifatnya yang cuek pada perempuan, juga karena Ali tak pernah sedetik pun melepas rangkulannya di pinggang Sarah. Takut banget bang kalau diculik? Sampai di ruang tunggu, hampir semua terkejut melihat Sarah dan Ali yang datang bersamanya ataupun melihat penampilannya. Tapi mereka tak berani berkomentar macam-macam. Mereka tahulah bagaimana kualitas bogeman Sarah. Setelah agak lama menunggu, akhirnya band Sarah dipanggil untuk naik ke atas panggung. Sarah dan keempat sahabatnya pun langsunh beriringan menaiki panggung. Ketika Sarah separuh jalan menaiki tangga yang menuju panggung, Ali menahan tangannya. "I love you," Ali berkata lirih. Tentu saja Sarah tak bisa mendengarnya. Sarah mengernyitkan dahi, tanda bahwa dirinya tidak bisa mendengar ucapan Ali. "Semoga sukses," ucap Ali lebih keras. "Ohh... ok, makasih kak." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD