Bugh!
Ali terbangun dari tidur karena merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya. Ternyata kaki Sarah. Kaget sekali dia. Ia pun menyingkirkan kaki sarah dari atas perutnya dan membetulkan posisi Sarah supaya tidur memeluk guling dan kembali tidur. Belum juga dirinya memejamkan mata...
Plak!
Kali ini tangan Sarah yang mendarat di wajahnya. Ali mengembuskan napas keras dan tetap berusaha berkepala dingin. Sebetulnya matanya sudah berat sekali, tapi dua gangguan tadi sukses membuat kantuknya sedikit hilang. Tapi tetap dirinya harus memaksa tidur jika tak ingin bangun kesiangan keesokan harinya.
Ali membuang napas keras melihat Sarah tidur terlentang hampir menghabiskan tempat. Ali menggeser bantal sampai mepet ke tepi ranjang dan mencoba tidur lagi. Semoga Sarah puas dengan sebagian besar tempat tidur yang sudah dikuasai.
Baru saja Ali memejamkan mata, sebuah tendangan maut menanrak punggungnya hingga membuat dirinya jatuh dari atas tempat tidur. Ia mengusap wajahnya gusar. Jika terus seperti ini, kapan dirinya bisa tidur dengan nyenyak barang sebentar saja?
Ali bangkit berdiri. Ia berkacak pinggang melihat Sarah sudah tidur terlentang dengan kaki dan tangan terbuka lebar, menghabiskan seluruh tempat. Ia menghela napas pelan dan dengan sabar kembali memposisikan Sarah agar tidur miring memeluk guling. Setelahnya ia menunggu beberapa saat untuk melihat apakah sudah aman baginya untuk kembali tidur? Ia pun menghela napas lega melihat Sarah sepertinya tidak akan bergerak lagi.
Ali kembali merebahkan diri. Kali ini ia tidur dengan posisi telentang untuk meluruskan badan karena beberapa kali terbangun membuat badannya terasa kaku. Ia mulai terlelap saat serangan maut kembali ia dapatkan.
Dugh!
Kali ini kaki Sarah mampir di telinga Ali, membuat telinganya berdengung. Ngilu sekali rasanya. Habis kesabaran, Ali menyingkirkan kaki Sarah dari samping telinganya.
Ali melemparkan kaki Sarah dengan kesal. Ini cewek kalo tidur pake jurus apa sih sampai kaki bisa nyampir di telinga? Ali berbalik menghadap Sarah. Ya Tuhan, posisi tidur yang tadi Ali benarkan tak bertahan lama. Saat ini kepala Sarah sudah menggantung di tepi ranjang dengan kaki dan tangan yang melebar ke segala arah.
Ali membenarkan posisi kepala Sarah dan menempatkan sarah di tengah ranjang kingsize miliknya.
Ali mengambil satu bantal dan memilih tidur di lantai. Matanya sudah sangat berat dan ia tak mau mengambil resiko mendapat serangan secara tiba-tiba lagi. Biarlah besok pagi bangun dengan punggung kaku akibat tidur di lantai, daripada badan ngilu dan memar semua akibat tendangan dan pukulan Sarah yang lumayan meski lagi tidur.
Barusaja Ali dapat memejamkan mata dan terlelap. Suara berisik menganggu tidurnya.
"Ngrook... ngrook... ngrook..."
"Huhfff!" Ali bangun dan mengacak rambutnya kesal. Baru kali ini dirinya benar-benar merasa kesal setengah mati, biasanya ia selalu dapat mengontrol emosi dan bersikap tenang. Tapi, Sarah telah menguras habis stok kesabarannya.
Tetap berusaha mengontrol emosinya, Ali menata kembali bantal di atas kasur. Ia membenarkan posisi tidur Sarah yang mana saat ini kakinya sudah naik ke atas kepala ranjang. Ali memiringkan tubuh Sarah ke sebelah kanan, kemudian ia memposisikan dirinya di belakang Sarah dan membekap tubuh gadis itu, menjadikannya guling. Ali membekap dengan kuat agar tingkah Sarah tidak lagi petakilan. Dan anehnya, justru posisi ini bertahan sampai subuh ketika akhirnya Ali bangun.
***
Selesai mandi, Ali menunaikan ibadah subuh. Ia melirik Sarah masih terlelap dengan mulut stengah menganga dengan iler yang menetes di sudut bibirnya, tingkahnya sudah kembali lagi seperti semula.
Jam dinding di kamar Ali masih menunjukan pukul setengah lima pagi. Ia memilih belajar dan membaca lagi materi pelajaran yang sudah diberikan oleh guru, mengingat tak lama lagi ujian kelulusan.
BUGH!!!
Suara keras mengagetkan Ali. Ia menoleh. Ya Tuhan, Sarah sudah jatuh dari tempat tidur dan tergeletak di lantai. Yang membuat Ali heran, dia sama sekali tidak terbangun. Apa tubuhnya tidak merasa sakit sama sekali? Ali shock mengetahui tabiat tidur istrinya yang sungguh luar biasa ini.
Ali menghampiri Sarah dan berjongkok di sampingnya. Ia mengguncang tubuh Sarah pelan, "Dek... dek Sarah, bangun... sudah subuh!"
Seperti tak terganggu, Sarah malah menggeliat, berbalik membelakangi Ali dan kembali tidur dengan posisi miring.
"Dek Sarah... buruan bangun, mandi, subuhan lalu bantu bunda di dapur!"
Tidak ada reaksi.
"Dek Sarah..!!! Banguuunn...!!!" Ali mengguncang tubuh Sarah sedikit lebih keras. Masih tidak bangun juga. Ali tak habis pikir, ada ya cewek yang begitu kebo seperti Sarah? Apa dia tidak biasa bangun pagi di rumahnya? Pantas saja sering dihukum karena selalu terlambat datang ke sekolah. Jika seperti ini, sepertinya Ali harus berjuang keras untuk bisa mengubah dan memperbaiki kebiasaan buruk istrinya ini. Tuhan, beri kekuatan, batin Ali.
Ali mengangkat Sarah dan membawanya menuju kamar mandi. Ia mendudukan Sarah di atas closet dan memercikan air ke wajah Sarah.
"Dek Sarah, ayo mandi dulu biar segar dan nggak malas bangun."
Ali mengisi bath-up dengan air dingin. Setelah itu ia mengangkat Sarah dan memindahkannya ke dalam bath up tanpa melepas pakaian Sarah. Ia masih belum siap melihat Sarahnya tidak berpakaian.
Direndam dalam air dingin bukannya bangun, Sarah malah menggeliat kemudian mencari posisi nyaman dan kembali tidur. Ya Tuhan, ada ya makhluk kayak gini?
Emosi, Ali meninggalkan Sarah di kamar mandi agar bangun dengan sendirinya dan kembali belajar. Sebelum keluar kamar mandi, Ali sempat menambahkan air panas di bath up agar Sarah tidak masuk angin.
Sekitar jam 5 pagi, Ali turun lalu menyapu daun-daun kering di halaman belakang. Itu memang tugas yang diberikan bunda untuknya setiap pagi. Meski mereka orang berada, tapi bundanya selalu mengajarkan untuk hidup sederhana dan mandiri.
Karena terlalu larut dengan pekerjaannya Ali sampai lupa pada Sarah. Ia merasa masih seperti kemarin pagi, single. Jam 6 tepat, Alya adiknya memanggil untuk sarapan.
Ali mencuci tangan dan duduk di meja makan seperti biasa. Mereka akan memulai sarapan setelah semua anggota keluarganya berkumpul. Tak berapa lama, ayahnya, Fatih kakaknya dan juga Alya sudah bergabung di meja makan. Bundanya masih menyiapkan beberapa piring dan sendok lagi.
"Sarah kenapa belum turun?" tanya Laras, Bunda Ali.
"Sarah?" Ali linglung.
"Iya Sarah istri kamu, gimana sih?"
Astaga!! Ali lupa, tadi Sarah dia rendam di kamar mandi?
"Sarah turun, tante."
Semua yang ada di meja makan menoleh mendengar suara Sarah.
"Panggil Bunda dong sayang... astaga Sarah! Kenapa basah kuyub begini nak?" Laras menghampiri Sarah yang berdiri di tangga paling bawah dengan tubuh basah kuyup.
"Gak tau Bunda, pas Sarah bangun... sarah sudah berendam di bak mandi... mungkin semalam Sarah ngelindur dan jalan ke kamar mandi, hehehe...."
"Ngelindur?" Laras terkejut bercampur heran, "memangnya Ali tidak tahu kalau Sarah ngelindur?"
"Ehh itu... tadi Sarah susah dibangunin, jadi Ali rendam di bak mandi, tapi Ali kelupaan." Ali garuk-garuk kepala salah tingkah.
"Bang Ali, jahat ihh!" Alya protes.
Fatih menatap Ali dengan ekspresi terkejut dan tak setuju.
"Ali! Ke ruangan ayah sekarang! Alya tolong kamu ambilkan handuk untuk kak Sarah." Rayhan menatap sang putra yang barusaja kemarin minta dinikahkan, tapi hari hari ini sudah membuat kesalahan.
Ali mengangguk malu. Ia tahu ia salah, tapi mau bagaimana lagi?
***
"Dek Sarah... kak Ali minta maaf." Ali yang barusaja kembali dari ruangan sang Ayah, langsung menghampiri Sarah.
"Santai aja kak, Sarah gapapa kok... dah biasa dikerjain anak-anak kalo lagi nginep di rumah mereka," jawab Sarah cuek. Ia malah dengan santainya mengisi lagi piringnya dengan nasi dan lauk banyak-banyak.
"Ohh.." Ali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung mau bicara apa lagi.
"Masakan bunda enak Sarah?" Laras menyela. Kaget sekaligus senang melihat porsi makan menantunya yang bisa dibilang 'wah' itu.
"Enak banget bunda, lebih enak dari masakan cafe resto tempat biasa Sarah makan." Sarah mengacungkan ibu jarinya yang belepotan kuah kare ke arah Bunda Ali.
"Lho, kok Sarah makannya di luar? Gak pernah makan di rumah?" Ayah Ali ikut nimbrung, ia ingin menantu barunya itu merasa nyaman dan diterima di keluarganya.
"Hmm... pernah makan di rumah sesekali, kalo uang jajan Sarah lagi nipis hehehe... tapi gak enak kalo makan sendiri, mama sama papa kan jarang di rumah."
Ayah dan Bunda Ali menatap iba pada Sarah. Anak seusianya harusnya lebih diperhatikan dan dekat dengan kedua orangtuanya, mengingat pergaulan zaman sekarang ini yang sudah serba bebas.
"Nanti kalau kak Ali sudah tinggal di rumah Sarah, jangan makan di luar lagi ya, nggak sehat. Kan sudah ditemani kak Ali."
"Hmm... kalo masakan bibi seenak Bunda, Sarah bakal betah makan di rumah hehehe..." Jawaban Sarah memang ceplas ceplos, tapi dia jujur. Sarah merasa nyaman berada diantara keluarga Ali. Meski baru saling mengenal, tapi mereka bisa menerima Sarah dengan baik.
"Oya Sarah, hari ini ijin dulu bisa? Rencana ayah sama bunda mau ke rumah eyang, ada pertemuan keluarga di sana, nanti sekalian memperkenalkan kamu sebagai istri Ali. Mas Fatih nanti siang nyusul bareng Alya."
"Yaahh, gak bisa Bunda, soalnya hari ini gladi resik untuk acara pensi besok, gimana ya Bund? Sarah mau aja ikut, tapi gimana ya?" Sarah berhenti memakan makanannya, ia menatap Laras penuh rasa bersalah. Dirinya jadi merasa tidak enak hati pada Bunda Ali.
"Memangnya kamu besok tampil?" Ali yang sudah selesai sarapan, menatap Sarah penasaran. Memangnya penampilan seperti apa yang akan dibawakan oleh istrinya besok?
"Iyalah Kak, sama band Sarah."
"Waah, Kak Sarah punya band?"
"Hmm... punya," jawab Sarah sambil mencomot ayam kecap.
"Kak Sarah main apa? Keyboard? Ajarin Alya ya..." Alya bertanya antusias.
"Ga, kak Sarah pegang Drum... tapi kalo Alya mau belajar keyboard, boleh nanti kakak ajarin." Sarah tersenyum lebar ke arah Alya, tidak menyadari wajahnya yang sudah seperti badut. Pipi, mulut dan ujung hidungnya belepotan bumbu kecap. Ayah dan Bunda Ali tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihatnya. Menurut mereka sebetulnya Sarah anak yang baik meski sedikit tidak tahu aturan.
"Jadi gimana Ali? Kalau Sarah tidak bisa ikut, berarti kamu juga harus tinggal. Kasian Sarah nanti sendiri."
"Tapi Ali kangen eyang Bunda..." Ali mengambil tisu dan membersihkan mulut sarah yang belepotan bumbu.
"Ohh... kak Ali pergi aja, Sarah gapapa kok sendiri. Sudah biasa. Nanti Sarah bisa ngineplah di rumah Demon."
Sarah cuek saja. Dia memang sudah biasa sendiri. Mendapat perhatian seperti ini dari keluarga Ali justru membuat dirinya merasa tidak nyaman.
"Ya nggak bisa gitu, Dek Sarah kan sudah jadi istri kak Ali, harusnya Dek Sarah ikut apa kata kak Ali. Misalnya kak Ali nggak kasih ijin Sarah buat tampil, ya Sarah harus nurut."
Mendengar perkataan Ali, Sarah sontak menoleh dan mendelik ke arah Ali, "Yah.. kak Ali mah gitu, ini Sarah udah latihan berbulan-bulan Kak... yaelah, gak asyik banget sih jadi orang!"
"Ali... kalau memang Sarah mau tampil biarkan saja dulu, dia sudah mempersiapkan sejak lama bukan? Kamu sebagai suami yang harus bisa mendukung, selama itu positif." Rayhan menasehati Ali.
"Yeeay... Ayah emang kereeen...!" Sarah bersorak gembira sembari berjoget di kursinya, "besok Ayah sama Bunda nonton Sarah kan? Mas Fatih sama Alya juga deh, ntar Sarah nyolong tiket buat kalian di sekret OSIS ya...?!"
"Jangan nyolong dong, nanti Bunda beli aja tiketnya," Bunda Ali terkejut mendengar menantunya berniat mencuri tiket.
"Ya udah kalo Bunda maunya gitu, padahal Sarah bisa loh malak anak OSIS, biar kasih gratis."
Fatih tak bisa menahan senyum melihat kelakuan adik iparnya yang ajaib itu. Setengahnya masih tak percaya gadis seperti ini yang dipilih Ali. Sejak mereka mulai beranjak baligh, memang ayahnya selalu mengingatkan supaya jangan sampai menyentuh yang namanya pacaran, kalau suka ya lamar, nikahi. Itu baru namanya laki-laki sejati. Fatih sendiri? Belum ada gadis yang memikat hatinya, jadi ya masih jomblo.
"Ssst... Dek Sarah, makan dulu baru bicara, tuh belepotan lagi kan?" Ali mengusap pipi Sarah dengan tisu.
"Ehh? Mana? Maaf ya ayah bunda... habisnya jarang-jarang sih Sarah bisa sarapan kayak gini... hehehe..." Sarah terkekeh.
Semua keluarga Ali tersenyum melihat Sarah. Rumah jadi berasa dihuni puluhan orang. Biasanya mereka sarapan dalam damai. Begitu ada Sarah, ada aja yang membuat mereka ingin tertawa.
"Ali kamu temanin Sarah saja ya... lain kali kita ke rumah eyang lagi."
"Mm.. Bunda berangkat jam berapa?" Sarah seperti berfikir.
"Sekitar jam 10 mungkin."
"Oh gitu, Sarah ikut deh, nanti Sarah minta gladi resiknya tampil pertama aja gapapa."
"Nanti gimana sama teman-teman Sarah?"
"Gapapa Bunda, mereka bakal nurutin apa kata Sarah, heee..eh Bunda, ayam kecapnya boleh buat Sarah semua?"
"Eh? Sarah mau nambah? Boleh, habiskan... kalo Sarah suka nanti Bunda buatkan lagi." Laras tertawa melihat Sarah sudah mencomot paha ayam kecap untuk yang kelima kalinya.
"Makasih Bund," Sarah menyendok ayam kecap yang tersisa di nampan... yuhuu paha ayam, "Kak Ali jangan kaget ya, Sarah emang makannya banyak."
"Iya... nanti kak Ali kerja keras buat ngidupin kamu," goda Ali.
Sarah menggerogoti paha ayam dengan wajah berbinar. Senang sekali ia dengan masakan rumahan semacam ini.
"Kak Sarah... mau mainin lagu apa?" tanya Alya penasaran.
"Uhm, besok ya? Muse'bliss', linkin park 'crawling' sama the beatles 'i wanna hold ur hand."
Alya bertepuk tangan, "Kak Sarah kereeeenn...."
"Apanya? Biasa aja," Sarah menjawab acuh tanpa menoleh ke arah Alya, ia tengah sibuk menggerogoti tulang paha ayam kecapnya.
"Ayah.. Bunda.. Fatih sudah selesai, berangkat dulu ya... ayok Alya." Fatih mencium tangan ayah dan bundanya.
"Alya bareng Kak Ali sama Kak Sarah aja boleh?"
"Boleh."
"Tidak."
Sarah dan Ali menjawab serempak.
"Kenapa tidak boleh?" Sarah heran.
"Kita udah mepet waktunya dek Sarah," Ali menunjuk jam di dinding.
"Baru setengah 7, kita masuk jam 7 kan?"
"Iya, tapi perjalanan kita lumayan jauh ke sekolah. Sekolah Alya kan lebih jauh lagi," jelas Ali.
"Gak ah, masih sempat kok, ntar biar Sarah yang nyetir."
***
"Dek Saraah pelanin dikit!" Ali ngeri juga melihat cara Sarah mengemudi. Bukan ngebut lagi ini namanya, tapi cari mati.
"Yeeeaa kak Sarah kereen...!!" Teriak Alya dari kursi belakang.
"Sarah, pelanin... 6 detik lagi lampu merah itu." Ali memperingatkan Sarah.
"Masih sempat kak...," jawab Sarah santai sambil menginjak gas dalam-dalam.
"Kak Sarah the best deh pokoknya... 4 detik," puji Alya sambil bertepuk tangan. Senang sekali rasanya memiliki kakak perempuan yang bisa diajak kompak.
Ali yang duduk di sebelah Sarah tak berhenti komat kamit baca mantra, baca do'a maksudnya. Perutnya mual bukan kepayang. Padahal ia tidak memiliki riwayat mabuk perjalanan.
Akhirnya, tak sampai 10 menit kemudian mereka sudah sampai di sekolah Alya.
"Dek... udah, biar kak Ali aja sekarang yang nyetir ya..." Ali berbicara sembari memegang perutnya yang mual.
Sarah menggeleng sembari menyeringai. "Katanya gak mau telat?"
Tujuh menit kemudian mereka sampai di sekolah. Ali turun dari mobil langsung berlari ke toilet memuntahkan semua sarapannya. Sarah keterlaluan. Menyesal Ali membiarkannya mengemudi sendiri tadi.
***
"Kak Ali, lupa gak ke rumah Sarah dulu tadi ambil baju ganti... Sarah pinjam baju kak Ali aja ya..."
Mereka saat ini sudah pulang ke rumah, persiapan mau berangkat ke rumah eyang Ali. Tapi sarah lupa, semalam ia hanya membawa seragam dan baju untuk tidur saja karena memang rencananya mulai hari ini Ali yang akan boyongan ke rumahnya.
"Bisa tenggelam kamu dek kalau pake baju kak Ali. Bentar Kak Ali pinjamin bajunya Bunda atau Alya."
"Ja-jangan kak," jawab Sarah buru-buru. Ngeri dia membayangkan dirinya memakai baju bunda atau Alya yang pastinya baju cewek. "Yaaahh maen nyelonong aja dia...!" umpat Sarah saat Ali mengabaikan ucapannya dan berjalan keluar kamar untuk meminjam baju bunda atau Alya.
Tak ingin keduluan Ali membawa pakaian perempuan, Sarah buru-buru memakai celana gunung yang ia pakai semalam, lalu mengambil kaos polos berwarna hitam di lemari Ali dan memakainya. Ia juga mengambil kemeja kotak-kotak hitam merah milik Ali untuk pakaian luar. Lengan kemeja Ali yang kepanjangan, ia tekuk sampai siku. "Beres sudah," ujarnya pada sendiri sembari berlari keluar kamar dan turun ke bawah dimana semua sudah menunggu.
"Sarah sudah siaap...! Kak Ali, Bunda... ayo kita berangkat!"
"Lho Sarah, tadi Ali bilang kamu mau pinjam baju."
"Gak Bunda, ini pake baju kak Ali aja."
"Kamu nyaman nggak pakainya? Baju kak Ali kan besar sayang." Laras mendekati Sarah seraya membelai puncak kepala Sarah.
"Nyaman kok Bun, Sarah dah biasa pake bajunya Demon atau Jack." Sarah berkata cuek. Sama sekali tak menyadari cenat-cenut di hati Ali.
"Ya sudah kalau kamu nyaman. Kita berangkat sekarang? Ayah sudah menunggu di mobil."
Beberapa saat kemudian, mereka semua berangkat. Ayah Ali yang mengemudi kali ini. Perjalanan mereka lancar, jalanan tidak terlalu macet. Padahal biasanya arah puncak selalu ramai, tapi kali ini lumayan sepi.
Setelah menempuh 2 jam perjalanan, mereka sampai di desa eyang Ali. Udara pegunungan di sini terasa sejuk. Rumah eyang Ali memiliki halaman yang sangat luas. Khas rumah jaman dulu, tapi tetap terawat dan bersih. Sudah ada beberapa kendaraan terparkir di sana.
Ali mengajak Sarah turun dari mobil. Mereka berdua berjalan di belakang Ayah dan Bunda. Setiap Ayah dan Bunda menyalami dan menyapa sanak saudara, mereka pun ikut menyalami.
"Mana Fatih dan Alya mbak yu?" Sapa seorang perempuan yang sangat cantik dengan dandanan yang sangat menor.
"Nanti menyusul, Fatih ada ujian pagi, Alya juga ada ulangan."
"Ohh... lho ini siapa?" Wanita itu melihat ke arah Sarah mulai dari ujung kaki ke ujung kepala.
"Sampai lupa, kenalin ini istrinya Ali, namanya Sarah. Sarah, ini tante Riana. Sepupu Bunda."
Baru Sarah akan mencium tangan Riana, "What? Oh my Gosh!! Mbak yu, samean ndak salah ini pilih mantu? Jeruk kok minum jeruk?" ujar Riana Sarkas.
Seperti biasa, Sarah cuek saja sekalipun ada yang berkomentar buruk tentangnya. Ia hanya mengangkat bahu tak peduli. Biarlah apa kata orang, yang penting dia selalu menjadi diri sendiri dan tak suka merepotkan orang lain.
"Bunda, Ali ajak Sarah menemui Eyang dulu ya." Ali yang menyadari situasinya tidak nyaman, memilih mengajak istrinya pergi. Ia pun tak rela jika ada yang memandang rendah Sarah.
"Ya, masuklah dulu Ali," jawab Laras sambil tersenyum. Namun, begitu Ali dan Sarah berlalu. "Riana! Jaga ucapan kamu ya, bagaimanapun Sarah itu menantu mbak." Laras berlalu meninggalkan Riana, menyusul Ali dan Sarah.
Ali memperkenalkan Sarah kepada eyang kakung dan eyang putrinya. Tanggapan keduanya cukup bagus meski awalnya sedikit mengomel karena merasa dilangkahi dan tidak diberi tahu perihal pernikahan mendadak mereka. Meski sudah dijelaskan berulang kali oleh Ali bahwa itu semua di luar rencana, tetap saja mereka berdua mendapatkan ceramah panjang lebar soal tradisi dan tata krama.
Kasak kusuk terdengar dari sanak keluarga Ali, membuat Ali beserta kedua orangtuanya merasa risih mendengar gunjingan mereka terhadap Sarah. Ada yang bilang Sarah mirip preman, atau bahkan tuduhan bahwa mereka menikah karena Sarah menjebak Ali. Keterlaluan sekali!
Sarah sendiri cuek saja. Wataknya memang cuek dan tidak peduli omongan orang lain. Selama dirinya merasa tidak seperti yang digosipkan, untuk apa diambil pusing. Dirinya malah asyik duduk di depan meja saji dan menyantap apapun yang terlihat di depan matanya.
Ali mengamati Sarah dengan penuh rasa syukur karena memiliki Sarah yang cuek dan tidak mudah tersinggung. Keluarga besarnya memang suka menilai orang dari penampilannya saja.
Ali terkekeh melihat pipi Sarah belepotan krim dan coklat. Ia mendekat ke arah Sarah sambil membawa sekotak tisu.
"Enak-enak ya makanannya?" Ali duduk di kursi sebelah Sarah.
"Eumm..." Sarah mengangguk tak bisa menjawab karena mulutnya dipenuhi makanan.
"Pelan-pelan dong makannya, sampai belepotan begini." Ali membersihkan pipi dan dagu Sarah menggunakan tisu.
"Kak Ali mau...?" Sarah menawari Ali sepiring salad buah.
"Kak Ali masih kenyang," tolak Ali halus.
"Cobain dulu, enak loh." Sarah menyodorkan sendok ke arah mulut Ali. Mau tak mau Ali membuka mulutnya. Hhmmm, yummy. Kenapa rasanya enak sekali? Apa karena berasal dari suapan Sarah? Ali tersenyum sendiri seperti orang sinting.
"Enak?"
"Enak kok."
"Mau lagi? Sini Sarah suapin."
Ali mengangguk malu. Malu tapi mau. Mukanya merah padam tapi senang. Jantungnya juga mulai berdetak tidak beraturan. Kyaaa Sarah, kamu cantik banget sih?
Ali jadi tidak fokus makan. Tatapannya hanya tertuju pada Sarah seorang. I love you Sarah, batin Ali.