"Astagfirullah, aku kesiangan lagi," ucap Alya saat membuka matanya. Sinar matahari sudah mulai menerobos masuk dari celah jendela kamar utama. Semalam, Alya hampir tidak bisa tidur memikirkan nasib pernikahannya yang sudah hambar bahkan di malam pertama.
Jujur, Alya sendiri juga belum mencintai Reyhan, tetapi gadis itu akan berusaha menerima mantan kakak iparnya itu sebagai suami. Itung-itung untuk menebus kesalahannya karena telah menyebabkan Kinanthi meninggal.
Baginya tidak akan sulit untuk jatuh cinta kepada Reyhan karena selain tampan dan mempunyai karir yang sukses mantan kakak iparnya itu sebenarnya adalah seorang lelaki yang penyayang. Alya bisa merasakannya saat Kinantji masih hidup. Reyhan begitu menyayangi dan mencintai Kinanthi. Alya berharap dia akan mendapatkan cinta dan kasih sayang Reyhan seperti apa yang kakaknya dapat. Namun, kenyataannya Reyhan tetap bersikap dingin dan kaku terhadapnya, bahkan lelaki itu menikahinya karena rasa benci.
Alya langsung mengalihkan pandangan ke arah sofa tempat Reyhan tidur. Namun, ternyata lelaki itu sudah tidak ada di sana. Suara gemercik air shower dari kamar mandi membuat Alya berpikir kalau sang suami sedang mandi. Tak Berapa lama kemudian, suara air tidak terdengar lagi dan pintu kamar mandi terbuka.
Seorang lelaki yang telanjang d**a dengan berkalung handuk muncul dari balik pintu membuat pandangan Alya terfokus padanya. Gadis itu menatap kagum laki-laki yang kini menjadi suaminya itu. Tubuh atletis Reyhan adalah daya tarik tersendiri bagi Alya. Apalagi saat lelaki itu mengusapkan handuk di rambutnya yang masih basah, membuat Alya kesulitan menelan ludahnya.
"Kamu sudah bangun? Cepat mandi dan jangan lupa keramas!" titah Reyhan tanpa melihat ke arah Alya.
"Keramas?" tanya Alya sembari membulatkan kedua matanya.
"Iya, mandi keramas. Setelah itu kita turun sarapan."
"T-tapi--"
"Jangan membantah! Kalau kamu nurut dan tidak bawel, mungkin aku bisa bersikap baik kepadamu," ucap Reyhan sembari membuka lemari dan mengambil pakaian untuk ia kenakan. Sementara Alya beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.
"Jangan lupa bawa baju ganti. Aku gak mau kamu ganti baju di kamar, ngerti?"
"Iya, Om." Alya mengambil baju ganti dari dalam kopernya kemudian bergegas ke kamar mandi untuk mandi keramas. Entah apa maunya lelaki itu memintanya mandi keramas. Alya hanya bisa menuruti apa yang dititahkan sang suami agar tidak marah.
"Reyhan, Alya, kalian sudah bangun?" panggil Dewi dari luar kamar sembari mengetuk pintu.
"Iya, Bu. Kenapa?"
"Cepat turun, sarapan sudah siap," titah wanita paruh baya itu.
"Iya, Bu. Masih nunggu Alya di kamar mandi." Jawaban Rehyan membuat Dewi tersenyum lalu membungkam mulutnya.
"Ah aku lupa. Mereka kan pengantin baru, pasti mandinya lama," batin Dewi.
"Ya sudah. Ibu tunggu di meja makan, ya. Ajak istrimu sekalian turun!"
"Iya, Bu." Dewi lalu meninggalkan kamar Reyhan masih dengan senyum-senyum. Wanita paruh baya itu bahagia karena mengira Reyhan dan Alya sudah malam pertama.
"Ibu kok senyum-senyum sendiri?" tanya Darsih saat Dewi kembali ke meja makan.
"Aku seneng aja, Dar. Kayaknya pengantin barunya sudah unboxing," jawab Dewi setengah berbisik membuat Darsih ikut senyum-senyum.
"Lagi ghibahin Kak Reyhan, ya?" tanya Jesica, putri bungsu Dewi yang pagi itu datang ke rumah Reyhan untuk menjemput sang ibu. Selama ini, Dewi memang tinggal di rumah Jesica. Namun semenjak kematian Kinanthi, Dewi tinggal di rumah Reyhan untk menemani Tasya.
"Kamu ini mau tahu aja," balas Dewi membuat Jesica mengerucutkan bibirnya.
"Pagi ini Ibu balik ke rumahku, kan? Ibu dah janji cuma tinggal di sini sampai Kak Reyhan menikah. Sekarang Kak Reyhan udah menikah. Berarti Ibu balik ke rumahku, dong."
"Bentar, Jes. Ibu masih mau di sini seminggu lagi. Ibu masih ragu, apa benar Reyhan dan Alya sudah jadi suami istri yang sesungguhnya. Ibu mau pastikan dulu kalau mereka benar-benar sudah saling cinta."
"Ya sudah, deh. Terserah Ibu. Aku ngikut aja."
Semantara itu di kamar Reyhan, Alya keluar dari kamar mandi dengan berbalut dress selutut warna merah. Sementara rambutnya terbungkus handuk sehingga menampakkan leher jenjangnya yang putih mulus tanpa cela. Reyhan yang tanpa sengaja menatap gadis itu langsung mengalihkan pandangan.
Tak dapat dipungkiri kalau Alya adalah gadis yang cantik. Sebagai lelaki normal, seharusnya Reyhan memang tertarik pada kecantikan gadis itu yang memang hampir delapan puluh persen mirip dengan Kinanthi. Namun, rasa benci lelaki itu tidak bisa mengubah segalanya. Setiap kali teringat pada Kinanthi, rasa benci Reyhan semakin bertambah besar.
"Cepat rapikan rambutmu dan kita turun sarapan. Ibu sudah menunggu," titah Reyhan. Lagi-lagi tanpa melihat ke arah Alya.
"Iya, Om." Alya segera melapas handuk di kepalanya dan mulai menyisir rambut, lalu memakai bedak tipis-tipis dan memoles bibirnya dengan lipgloss. Setelah selesai gadis itu beranjak dari depan cermin. Jantungnya seolah mau copot saat Reyhan tiba-tiba mendekat dan menggenggam tangannya.
"Om--" Alya menoleh dan menatap wajah tampan suaminya. Tangannya panas dingin mendapat perlakuan yang sedemikian.
"Jangan geer. Aku harus bersikap manis di depan Ibu, agar beliau segera pulang ke rumah Jesi." Mendengar jawaban Reyhan, seketika hati Alya terasa nyeri. Seakan ada tangan tak kasat mata yang meremas kuat organ inti tubuhnya itu.
"Jangan berharap lebih, Alya!" batin Alya menangis. Gadis itu pun mengikuti langkah sang suami turun ke lantai dasar untuk sarapan bersama. Ternyata di meja makan sudah ada Dewi, Jesica dan Tasya.
Dewi dan Jesica tampak tersenyum melihat sepasang pengantin baru yang baru turun dari lantai dua dengan rambut basah. Namun, lain halnya dengan Tasya. Gadis kecil itu membuang muka seolah tidak ingin melihat sepasang pengantin baru itu.
"Cie-cie pengantin baru dah basah aja rambutnya," goda Jesica saat keduanya duduk di kursi makan.
"Iri? Suruh suamimu pulang, biar bisa kayak kami," ejek Reyhan. Suami Jesica memang sedang ke luar kota untuk urusan bisnis. Makanya wanita itu ngebet ingin sang Ibu segera pulang ke rumahnya.
"Eh siapa yang iri?"
"Udah-udah jangan bahas kayak gitu. Ada Tasya lho," ujar Dewi mengingatkan. Sontak pandangan mereka beralih ke Tasya yang hanya terdiam dengan muka ditekuk.
"Tasya mau makan apa? Biar Aunty ambilkan," tawar Alya sembari tangannya terulur untuk mengambil piring Tasya. Gadis itu mencoba mencari simpati keponakan sekaligus anak sambungnya itu.
"Aku gak mau diambilkan Aunty. Aku mau diambilkan Nenek saja," tolak Tasya ketus sembari menepis tangan Alya. Hati gadis itu berdesir. Selama ini Tasya tidak pernah bersikap buruk terhadapnya. Namun, kenapa pagi ini gadis kecil itu begitu kasar terhadapnya? Alya jadi sedih.
"Tasya gak boleh gitu sama Mama Alya. Sekarang jangan panggil Aunty lagi. Panggil Mama Alya, oke?" bujuk Dewi.
"Dia bukan Mama aku. Mama aku cuma Mama Kinan!" Tasya berdiri dari duduknya.
"Tasya, mau ke mana? Kamu kan belum sarapan." Jesica mencekal pergelangan tangan gadis kecil itu.
"Mau barangkat sekolah. Aku udah gak mood sarapan lagi." Gadis kecil itu mengambil tas punggungnya lalu berpamitan dan menjabat tangan semua yang ada di ruang makan itu kecuali Alya.
"Tunggu, Sya. Biar Papa antar." Reyhan yang tanggap kalau Tasya sedang merajuk segera menyusul putrinya.
Sementara Alya hanya bisa menunduk menahan air mata yang sudah siap berhambur keluar.
"Kamu sabar, ya, Al. Ibu yakin, cepat atau lambat Tasya akan bisa menerima kamu. Semua butuh waktu." Dewi mengusap punggung Alya untuk memberikan semangat.
"Iya, Bu. Terima kasih," balas Alya sembari mengusap air matanya.
"Andaikan Ibu tahu kalau Om Reyhan juga membenciku sama dengan Tasya. Ya Allah, kuatkah aku?"