Bab 7. Makan Siang

1483 Words
"Kamu kenapa, Sayang? Kok manyun gitu? Cantiknya jadi hilang, loh," ucap Reyhan sembari mulai menjalankan mobilnya. Lelaki tampan itu melirik sejenak ke arah gadis kecil yang duduk di samping kemudi, Bibir manyun menjadi ciri khas Tasya kalau sedang ngambek. "Papa kenapa, sih, baik-baikin Aunty Alya? Aku itu gedeg banget sama dia," balas Tasya sewot tanpa menoleh ke arah sang papa. "Papa sebenarnya juga sebel sama dia, tetapi Papa harus bersikap baik sama dia di depan Nenek." "Buat apa baik-baikin dia di depan nenek, Pa? Nanti dia bisa besar kepala," balas Tasya kesal. "Papa harus ngelakuin itu biar Nenek cepat pulang ke rumah Aunty Jessi. Setelah itu, kita kerjain dia, bagaimana?" Reyhan mencoba membujuk Tasya. "Papa serius?" tanya Tasya bersemangat. Gadis kecil itu langsung menoleh ke arah sang Papa dengan wajah berbinar. "Tentu saja Papa serius. Memangnya hanya kamu yang benci sama Alya? Papa juga, bahkan mungkin kebencian Papa jauh lebih besar daripada kebencian kamu. Gara-gara dia kita kehilangan Mama," ucap Reyhan geram sembari mencengkram setir mobil. Rahangnya mengeras dengan kebencian yang memuncak jika mengingat sosok Alya. "Iya, Pa. Sampai sekarang aku masih sebel banget sama Aunty Alya. Rasanya nggak rela aja Papa menikah sama dia. Mending Papa nikah sama wanita lain atau nggak usah nikah sekalian," balas Tasya kesal. "Sabar, Sayang. Kamu tahu sendiri kalau Papa menikah dengan dia karena keinginan Nenek. Papa janji sama kamu, Papa tidak akan pernah membuat dia nyaman di rumah kita. Dia harus membayar kematian Mama dengan tangis darah." "Aku setuju, Pa. Kalau begitu nanti pulang sekolah aku mau baik-baikin Aunty Alya, biar Nenek cepat kembali ke rumah Aunty Jessi," ujar Tasya bersemangat. "Nah, begitu, dong. Ini baru anak Papa. Sekarang jangan manyun lagi, ya! Harus semangat sekolahnya, biar nilai-nilai kamu tetap bagus. Papa nggak mau prestasi kamu menurun gara-gara masalah ini. Kamu adalah kebanggaan Papa." "Iya, terima kasih, Pa. Tasya tidak akan mengecewakan Papa." Mobil BMW warna hitam yang dikendarai Reyhan melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota Surabaya yang mulai padat. Setelah mengantarkan Tasya ke sekolah, lelaki tampan yang juga seorang CEO perusahaan keramik itu bergegas ke kantornya karena pagi itu ada meeting penting. Seorang wanita terbalut blazer hitam dengan rok pendek di atas lutut menyambut kedatangannya. Wanita yang tidak lain adalah Kayla, sekretaris Reyhan itu langsung bergelayut manja di lengan bosnya saat lelaki itu keluar dari mobil. "Rey, Jessica bilang tadi malam kamu menikah lagi. Tolong bilang padaku kalau semua itu nggak benar," ucap Kayla sembari menyadarkan kepalanya di lengan Reyhan. "Kalau aku bilang semua itu benar, apa kamu akan menjauh dariku?" tanya Reyhan dengan sikap dingin. Selama ini lelaki itu memang merasa terganggu dengan sikap manja dari Kayla. Namun, Reyhan tidak bisa menolak untuk memberikan pekerjaan seperti sekretaris kepada gadis itu. Keyla adalah anak seorang pengusaha besar yang menjadi pemasok keramik di perusahaan Reyhan. Kayla memaksa untuk bekerja sebagai sekretaris Reyhan karena ingin mendekati lelaki pujaan hatinya itu. Sementara papanya yang merupakan rekan bisnis Reyhan mengancam akan memutuskan hubungan kerjasama antara mereka jika Reyhan menolak menerima putrinya sebagai sekretaris. Reyhan tidak punya pilihan lain selain menerima Gadis itu sebagai sekretarisnya. Kayla mulai bekerja di kantor Reyhan beberapa hari setelah Kinanthi meninggal. Kayla berharap dengan menjadi sekretaris Rehan, dia bisa mendekati lelaki itu dan mengambil hatinya serta menggantikan posisi Kinanthi sebagai istri. Sementara sekretaris Reyhan yang lama dimutasi ke kantor papanya Kayla. "Nggak, kamu pasti bohong. Nggak mungkin kamu menikah lagi secepat ini. Kalau memang tadi malam kamu menikah, mana mungkin hari ini kamu sudah ngantor. Lagi pula selama ini kamu nggak pernah dekat dengan cewek," balas Kayla tak percaya. "Terserah kamu mau percaya atau tidak. Yang jelas, aku memang benar-benar sudah menikah lagi, Kayla." "Apa! Kamu serius, Rey? Kamu menikah dengan siapa?" tanya Kayla masih tak percaya. Wanita itu melepaskan lengan Rehan dan menatapnya penuh tanya. "Aku sudah menikah lagi dan itu terjadi tadi malam. Dengan siapa aku menikah itu tidak penting. Sekarang kita ada meeting penting. Jangan bahas itu lagi. Aku nggak mau kita terlambat," ucap Reyhan cuek sembari meninggalkan Kayla yang masih bengong. "Aneh sekali. Kalau memang dia sudah menikah lagi, kenapa dia tampak tidak bahagia? Aku harus menyelidikinya," batin Kayla sembari mengekor di belakang sang Ceo pujaan hati. *** "Wah enak sekali bau masakan Ibu," puji Alya saat bau masakan Dewi menyeruak ke seluruh ruang dapur. Gadis itu pun mendekati sang ibu mertua. Dewi memutuskan untuk tetap tinggal di rumah Reyhan selama satu minggu lagi. Wanita paruh baya itu ingin memastikan kalau Alya dan Reyhan sudah benar-benar menjadi suami istri yang bahagia. Dewi menolak ajakan putri bungsunya, Jessica untuk kembali ke rumah mereka. Jessica akhirnya pasrah dan membiarkan sang ibu tinggal di rumah kakaknya untuk beberapa hari lagi. Adik kandung Reyhan itu pun akhirnya kembali ke rumahnya. Sementara Dewi yang memang memiliki hobi memasak sudah bersiap di dapur untuk mempersiapkan makan siang. Alya mendekat saat bau tumisan bumbu yang dimasak Dewi menyengat Indra penciumannya. "Sini, Al. Bantu ibu masak! Biar kamu tahu masakan kesukaan Reyhan nanti. Jadi, kalau ibu sudah pulang ke rumah Jessica, kamu bisa membuatkannya untuk suamimu," titah Dewi. "Memangnya masakan kesukaan Om Rey apa, Bu?" tanya Alya setelah mendekat pada Dewi. "Lho, kok masih panggil Om, sih? Kalian kan sudah menikah, panggil Mas, dong." Bukannya menjawab pertanyaan Alya Dewi malah memprotes panggilan gadis itu kepada Reyhan. "Alya lebih suka panggil Om, Bu. Kayak kurang nyaman aja kalau panggil Mas," balas Alya bohong. Tentu saja Alya tidak mengadukan kepada Dewi kalau Reyhan melarangnya memanggil Mas. Alya tidak ingin Reyhan semakin membencinya "Ya sudah, terserah kamu, deh. Ayo sekarang bantu ibu. Hari ini kita masak semur daging kesukaan Reyhan," ucap Dewi bersemangat. "Memangnya Om Rey mau pulang untuk makan siang, ya, Bu?" tanya Alya. Setahunya Reyhan tidak pernah makan siang di rumah. "Bukan Reyhan yang pulang untuk makan siang di rumah, tetapi kamu yang akan mengantar makanan ini ke kantornya." Mendengar jawaban Dewi Alya terkejut. "Saya, Bu? Saya mengantar makanan ini untuk Om Rey ke kantor? Tapi--" "Nggak usah pake tapi. Kamu wajib mengantarkan makanan ini ke kantor Reyhan, biar orang-orang kantor tahu kalau kamu itu sudah menikah dengan bos mereka. Biar tidak ada yang mengganggu suamimu di sana nanti. Kamu tahu sendiri, kan, kalau suami kamu itu seorang duda tampan, pasti di sana banyak yang suka dan mencoba mendekatinya. Karena pernikahan kalian tidak diadakan pesta, ibu takut banyak yang tidak tahu kalau kalian sudah menikah. Makanya Ibu minta kamu anterin makan siang buat Reyhan. Dia pasti senang kok, soalnya masakan Ibu adalah makanan yang favoritnya. Kamu juga harus bisa masak seperti Ibu, biar Reyhan semakin sayang sama kamu, sama kayak dia sayang dengan almarhumah kakakmu." Alya hanya bisa menelan ludah mendengar ucapan Dewi. Sang ibu mertua itu tidak tahu bagaimana keadaan pernikahan mereka yang sebenarnya. Sampai kapanpun, Reyhan tidak akan pernah bisa menganggap dirinya seperti Kinanthi karena lelaki sangat membencinya. Kedua wanita beda generasi itu pun mulai sibuk memasak. Alya belajar banyak hal dari ibu mertuanya, hingga akhirnya waktu makan siang pun tiba. Dewi mempersiapkan makanan untuk Reyhan di dalam wadah, sementara Alya bersiap untuk ke kantor sang suami. Gadis itu bingung memilih pakaian yang akan dia kenakan. Tentu saja dia tidak mau mempermalukan suaminya di depan para karyawan. Setelah menjatuhkan pilihan pada dress lengan pendek berwarna hitam selutut Gadis itu keluar kamar lalu mengorder taksi online. Alya berangkat setelah Dewi memberikan paper bag berisi makan siang untuk Reyhan. "Maaf, Anda mau ketemu sama siapa?" tanya seorang wanita yang berdiri di belakang meja resepsionis saat Alya tiba di kantor Reyhan. "Saya mau ketemu Pak Reyhan." "Apakah sudah ada janji?" tanya resepsionis itu. "Belum, tetapi saya ini istrinya. Apa saya perlu bikin janji untuk ketemu dengan suami saya?" tanya Alya membuat wanita itu terkejut dan memandang Alya dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Jadi, Pak Reyhan sudah menikah lagi?" tanya wanita itu syok. "Iya dan saya istrinya," jawab Alya tegas. Ternyata Ibu mertuanya benar, banyak karyawan kantor yang tidak tahu kalau bosnya tadi malam sudah menikah. Dia harus memperkenalkan diri di kantor sebagai istri Reyhan. "Baik, Bu. Sebentar saya hubungi Pak Reyhan dulu." Wanita itu kemudian menelepon Reyhan. "Bagaimana, Mbak?" tanya Alya. "Iya, Bu. Pak Reyhan mempersilahkan Anda masuk ke ruangannya." "Terima kasih, Mbak," jawab Alya sambil melempar senyum. "Oh, ya, Bu. Ruangan Pak Reyhan ada di lantai tiga," tambah wanita itu. Alya pun mengangguk. Gadis itu kemudian naik lift untuk ke lantai tiga. Dadanya berdebar-debar saat berjalan menuju ruangan Reyhan. Ada rasa takut menyusup di dalam hatinya, takut kalau Rehan mengusirnya, mengingat lelaki itu sangat membenci dirinya. Alya melihat kursi sekretaris yang ada di depan ruangan Reyhan kosong. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk masuk ke ruangan Reyhan. Namun, sebelumnya dia mengetuk pintu terlebih dahulu. "Masuk!" Suara seorang lelaki yang tidak lain adalah Reyhan mempersilahkannya untuk masuk. Alya pun membuka pintu ruangan itu. Namun, gadis itu terkejut saat melihat seorang wanita duduk di pangkuan Reyhan dan keduanya asyik berciuman. "Astaghfirullahaladzim, Om Rey!" teriak Alya sembari menutup mulutnya. Paper bag berisi makanan yang ada di tangannya telah jatuh berhamburan di lantai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD