Bab 8. Belajar Masak

1279 Words
"Rey, makan siang bareng, yuk," ajak Kayla sembari bergelayut manja di lengan lelaki itu seusai meeting. "Aku belum lapar. Kamu makan aja sendiri," balas Rehan dingin sembari menepis tangan Kayla dari lengannya. "Tapi kamu harus makan, Rey. Ini sudah jam makan siang, loh. Kalau kamu telat makan, mag kamu bisa kambuh," ucap Kayla sok perhatian. "Sudah aku bilang, aku belum lapar. Kalau kamu mau makan makan sendiri sana. Aku masih sibuk," tolak Reyhan sembari sibuk dengan berkas-berkasnya. "Tapi aku maunya makan sama kamu, Rey. Soal pekerjaan gampang lah. Nanti aku yang bantu selesaikan. Kalau perlu aku mau lembur sampai malam. Mau, ya," rengek Kayla lagi. Meski manja dan nyebelin, tetapi Kayla memang banyak membantu pekerjaan Reyhan. Wanita itu sangat cekatan dan selalu bisa membereskan pekerjaan Reyhan. Namun, kali ini Ceo tampan itu sedang tidak mood makan siang bersamanya. "Kayla, bisa nggak sih kamu tinggalin aku sendiri sebentar aja. Aku lagi nggak mood makan," balas Reyhan kesal. Namun, bukannya pergi, Kayla malah duduk di pangkuan Ceo tampan yang sedang sibuk mempelajari berkas itu, sementara kedua tangannya mengalung di leher Reyhan. "Kenapa, sih, kamu jutek banget sama aku, Rey? Aku cinta sama kamu. Aku mau kamu sedikit saja buka hati kamu buatku." Mendengar ucapan Kayla, Reyhan menghela napas panjang. Sebenarnya Kayla adalah wanita yang cantik, smart, cekatan dan merupakan anak salah satu konglomerat di kota Surabaya. Sebelum jadi sekretaris Reyhan, Kayla membantu di perusahaan Papanya. Karena perusahaan mereka saling bekerja sama, Kayla dan Reyhan sering berjumpa. Saat itulah benih-benih cinta tumbuh di hati Kayla. Namun, setelah tahu Reyhan telah beristri, Kayla sangat kecewa dan mencoba melupakan rasa cintanya. Satu bulan yang lalu saat mendengar kematian Kinanthi, Kayla kembali bersemangat untuk mengejar Reyhan, sampai-sampai wanita itu minta tolong kepada papanya agar bisa menjadi sekretaris Reyhan. Ruben, papa Kayla tidak tega menolak permintaan putri semata wayangnya. Terlebih Ruben sangat menyukai Reyhan. Lelaki itu juga berharap kalau Reyhan bisa menikah dengan Kayla dan menjadi menantunya. "Aku nggak bisa, Kay. Aku kan sudah bilang kalau aku sudah menikah," balas Reyhan sembari melepaskan kedua tangan Kayla dari lehernya. "Nggak, kamu bohong. Kamu tidak mungkin bisa secepat itu melupakan Kinanthi. Aku akan menunggu kamu, Rey. Aku janji akan sabar menunggu kamu. Aku pasti bisa menjadi istri yang baik buat kamu dan ibu yang baik buat Tasya." Kayla kembali mengalungkan tangannya di leher Reyhan. Hampir saja wanita itu mencium bibir sang CEO tampan. Namun, suara dering telepon mengurungkan niatnya. "Halo, ada apa, Lisa?" tanya Reyhan setelah memencet tombol di telepon. "Maaf, Pak Rey. Di sini ada seorang wanita yang mengaku istri Bapak. Dia ingin bertemu Bapak," ucap Lisa, resepsionis kantor. "Oke, suruh dia ke ruanganku." "Baik, Pak." Reyhan menutup panggilan. Kedua tangannya tiba-tiba melingkar di pinggang ramping Kayla dan merapatkan tubuh wanita itu ke tubuhnya. Kayla terkejut dengan perlakuan Reyhan, tetapi wanita itu tidak protes dan malah menikmatinya. Reyhan pun semakin berani. Lelaki itu mendekatkan bibirnya hingga tinggal berjarak beberapa senti dari bibir Kayla. Sepertinya lelaki itu hendak mencium Kayla. Wanita itu bisa merasakan deru napas sang Ceo tampan yang menerpa wajahnya. Suara ketukan di pintu ruangan tak lantas membuat Reyhan mengurungkan niatnya. Setelah mempersilahkan seseorang yang di depan pintu untuk masuk, Reyhan melanjutkan aksinya. Lelaki itu mendaratkan ciuman di bibir Kayla. Mendapat serangan yang mendadak dari sang Ceo pujaan hati, Kayla tidak menyia-nyiakan kesempatan. Wanita itu membalas ciuman Reyhan, hingga keduanya saling berpagut mesra. "Astaghfirullahaladzim, Om Rey!" teriak seorang wanita bersamaan dengan bunyi jatuhnya benda yang ada di tangannya membuat Kayla terkejut dan melepaskan pagutan Reyhan. "Siapa dia, Rey?" tanya Kayla sembari berdiri dari pangkuan Reyhan. Gadis yang tidak lain adalah Alya masih syok melihat pemandangan yang baru saja dia lihat. Alya tidak percaya kalau Reyhan melakukan hal sekeji itu di kantornya. Selama ini dia mengenal Reyhan sebagai sosok lelaki setia dan penyayang. "Keluarlah dari ruanganku, Kay!" "Tapi, Rey--" "Keluar dan panggilkan office boy untuk membersihkan makanan itu!" Bukannya menjawab pertanyaan Kayla, Reyhan malah mengusir dan memberikan perintah pada sekretarisnya itu. Meskipun masih penasaran dengan gadis yang baru saja muncul mengganggu kemesraannya dengan Reyhan, tetapi Kayla tetap keluar dari ruangan untuk memanggil office boy. "Mau apa ke sini?" tanya Reyhan dingin setelah Kayla keluar ruangan. "Om, aku cuma mau--" "Mau belajar jadi istri yang baik dengan mengantarkanku makan siang? Kamu berharap aku bersimpati padamu, begitu?" "Bukan begitu, Om. Aku--" "Pulanglah sekarang juga! Jika kamu tidak ingin melihat lagi pemandangan yang lebih menyakitkan." "Kenapa Om menikahi aku kalau ternyata Om sudah punya pacar?" tanya Alya sembari menahan nyeri di dadanya. "Kamu sudah tahu alasannya, kenapa masih kamu tanyakan lagi? Kamu pikir aku bisa menolak permintaan ibuku?" "Om jahat! Om tidak mempedulikan perasaanku." "Kamu pikir kamu tidak jahat, hmm? Kamu membuat aku dan Tasya kehilangan Kinanthi." "Cukup, Om! Om pikir hanya Om yang kehilangan Mbak Kinan? Aku juga kehilangan. Aku menyayangi Mbak Kinan dan aku tidak mungkin berniat membunuhnya." "Omong kosong! Kamu selalu bikin Kinan sedih dan khawatir. Sekarang kamu pasti senang karena sudah tidak ada Kinan lagi. Kamu bisa memiliki semua yang dimiliki Kinan." "Aku gak pernah mikir seperti itu, Om." "Sudah cukup! Pulang lah sebelum aku tambah enek sama kamu!" usir Reyhan. Dengan berat hati, Alya terpaksa mengayunkan langkah keluar ruangan. Gadis itu tidak kuasa membendung air matanya. Kata-kata Reyhan sungguh telah sangat menyakiti hatinya. Sebegitu bencinya lelaki itu terhadapnya sampai menuduhkan hal-hal yang tidak benar terhadapnya. Sepeninggal Alya, Reyhan segera mengambil ponselnya dan menelepon sang ibu. "Halo, Bu. Terima kasih untuk makan siangnya. Masakan ibu benar-benar enak. Tolong ajari Alya masak ya, Bu! Biar tiap hari dia bisa membawakan makan siang untuk Reyhan," ucap Reyhan setelah panggilannya disambut oleh sang ibu. "Alhamdulillah kalau kamu senang, Rey. Alya itu istri yang baik. Ibu yakin dia bisa menjadi pengganti Kinanti. Kalian akan bahagia." "Iya, Bu. Ibu memang tidak salah pilih. Terima kasih." Reyhan mengakhiri panggilannya. Ada rasa bersalah menyusup di hatinya karena telah membohongi sang ibu. "Maafkan Reyhan, Bu. Reyhan belum bisa menerima Alya," batinnya sembari mengembalikan ponsel di meja. Sementara itu Alya menangis di taksi online. Gadis itu tidak kuasa menahan air matanya. Rasa sakit yang dia rasakan mendengar kata-kata Reyhan benar-benar begitu membekas. Ingin rasanya dia pergi jauh meninggalkan keluarga barunya itu. Namun, semua dia urungkan mengingat Kinanti yang selama ini telah banyak berkurban untuknya. Alya harus mencoba untuk bersabar dan bertahan. "Semua ini baru dimulai, Alya. Kamu harus kuat. Kamu harus bertanggung jawab karena memang kamulah penyebab kematian Kak Kinan," bisik hati kecil Alya yang terdalam. Sedapat mungkin dia akan bertahan dalam rumah tangga yang sudah tidak sehat ini. Lagi pula, hidupnya sudah hancur. Masa depannya telah direnggut oleh Axel, lelaki tidak bertanggung jawab yang pernah dia cintai. Kini tujuan Alya hanyalah mengabdikan hidupnya untuk keluarga almarhumah sang kakak. Alya menghapus air matanya saat taksi online yang dia tumpangi telah sampai di rumah kediaman Reyhan. Gadis itu turun dari taksi setelah membayar ongkosnya. Alya terkejut karena sang ibu mertua sudah berdiri di depan pintu dengan senyum bahagia. "Bagaimana tadi, Al? Reyhan senang kan dengan masakan kita? Barusan dia nelpon ibu kalau kalian habis makan siang bersama. Dia juga bilang kalau masakan kita itu enak banget dan besok dia minta dibawain lagi," ucap Dewi bersemangat membuat Alya melongo. "Om Reyhan bilang begitu, Bu?" tanya Alya tak percaya. "Iya, barusan dia nelpon ibu. Nanti kita belajar masak lagi, ya." "Belajar masak?" "Iya, kalau kamu bisa masak seperti ibu pasti Reyhan bakal semakin sayang sama kamu. Kita hanya punya waktu satu minggu, Al. Setelah itu ibu mau pulang ke rumah Jessi. Kasihan dia sendirian di rumah. Suaminya kan sedang di luar kota." Alya tertegun mendengar ucapan sang ibu mertua. "Apa benar tadi Om Reyhan menelpon Ibu? Apa maksudjya berbohong pada Ibu padahal tadi jelas-jelas dia tidak memakan makanan itu sedikitpun karena keburu tumpah?" Hati Alya dipenuhi banyak tanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD