Bab 9. Lingerie Hitam

1454 Words
"Siapa gadis piyik tadi, Rey?" tanya Kayla setelah Alya keluar dari ruangan Reyhan. Wanita itu sempat melihat Alya menangis saat meninggalkan ruangan bosnya itu. Namun, bukannya menjawab pertanyaan sekretarisnya, Reyhan malah menyibukkan diri dengan berkas-berkas yang ada di meja. "Aku bertanya padamu, Rey? Kenapa kamu diam saja?" tanya Kayla kesal. Wanita itu mendekati Reyhan dari arah belakang, lalu mengalungkan tangannya di leher sang Ceo, sementara dagunya bertumpu di pundak Reyhan. "Kamu benar ingin tahu siapa dia?" Reyhan menoleh ke belakang sehingga kini wajah keduanya saling berhadapan dalam jarak yang begitu dekat. Bahkan harum napas lelaki itu terasa hangat menerpa wajah Kayla. "Iya, aku beneran ingin tahu. Siapa dia?" "Dia istriku." "Apa? Istri? Jadi, kamu benar-benar sudah menikah, Rey?" tanya Kayla sembari melepaskan tangannya dari leher Reyhan. "Iya, aku benar-benar sudah menikah. Gadis itu adalah istriku." Jawaban Reyhan membuat Kayla melebarkan kedua matanya. "Tunggu! Apa kalian menikah bohongan?" tanya Kayla masih tidak percaya. Wanita itu tampak syok mengetahui sang Ceo pujaan hati benar-benar sudah menikah. Reyhan tertawa itu lalu berdiri di tempat duduknya mendekati Kayla. "Memangnya ada pernikahan bohongan?" tanyanya membuat Kayla kesal. "Jadi ... jadi gadis piyik itu benar-benar istri kamu? Tapi kenapa kamu terlihat tidak bahagia, Rey?" "Bahagia atau tidak itu bukan urusan kamu. Sekarang kamu sudah tahu kalau aku sudah menikah. Sebaiknya kamu segera kembali ke kantor papamu karena tidak ada gunanya lagi kamu mengejarku. Kamu nggak ingin jadi pelakor, kan?" "Nggak, aku masih gak percaya kalau kamu benar-benar menikah sama gadis piyik itu. Atau jangan-jangan kamu dipaksa sama ibu kamu supaya menikah dengan dia, benar begitu? Kamu pasti nggak cinta sama dia," tebak Kayla membuat Reyhan hanya bisa membuang napas kasar. Ternyata wanita di depannya ini tidak mudah menyerah untuk mendapatkan apa yang dia mau. Kayla sangat tahu kalau Reyhan adalah seorang anak yang berbakti. Dia tidak akan pernah membantah apa yang diucapkan oleh ibunya. Kayla yakin pernikahan Rayhan kali ini pasti ada campur tangan Dewi, sebab Ceo tampanitu tidak terlihat bahagia. Sebenarnya Kayla pun sudah mencoba mendekati Dewi sebagai akses untuk mendapatkan hati Reyhan. Namun, wanita itu gagal karena Dewi sama sekali tidak bersimpati kepadanya. Kini Kayla tahu alasan kenapa Dewi tidak ingin dirinya menjadi istri Reyhan. Pasti karena sudah ada gadis piyik itu. "Rey, aku tahu kamu pasti terpaksa menikah dengan gadis itu. Wajah kamu itu nggak bisa bohong. Kamu tidak bahagia. Kamu tertekan. Kalau kamu mau, aku bisa bantu kamu," ucap Kayla sembari melingkarkan tangannya di lengan Reyhan. "Membantu apa?" tanya Reyhan masih belum paham. "Membantu kamu lepas dari gadis itu. Aku akan buat dia cemburu dan sakit hati yang akhirnya dia nggak akan tahan dan ninggalin kamu. Jadi, kamu bisa lepas dari gadis piyik itu tanpa harus melawan perintah Tante Dewi." Reyhan terdiam sejenak memikirkan tawaran Kayla. Lelaki tampan itu merasa ada baiknya dia menerima tawaran wanita itu. Kayla bisa membantunya menyakiti Alya dan membalas dendam karena Alya telah menyebabkan Kinanti meninggal dunia. "Bagaimana, Rey? Kamu setuju?" tanya Kayla. "Baiklah, aku terima tawaran kamu. Kita akan jadi pacar pura-pura, hanya di depan Alya. Ingat! Hanya di depan Alya," balas Reyhan menegaskan. "Oh, oke. Alya nama gadis itu. Akan aku ingat selalu, Rey." "Baiklah, kita sepakat." "Oke sepakat." Keduanya pun berjabat tangan. Tanpa Reyhan sadari, Kayla menyunggingkan senyum licik. "Aku pasti akan menjerat kamu, Rey. Aku tidak akan rela jika gadis piyik itu mendapatkan cinta dan hidupmu. Aku tidak akan pernah membiarkan hidupnya tenang," batin Kayla. *** "Apa ini, Bu?" tanya Alya saat Dewi menyodorkan sebuah paper bag kepadanya. Kedua wanita beda generasi itu baru saja selesai memasak dan mempersiapkan makan malam dibantu oleh Darsih, asisten rumah tangga di rumah Reyhan. "Kamu buka saja di kamar. Jangan lupa nanti malam kamu pakai saat tidur," jawab Dewi sembari tersenyum membuat wajah Alya merona karena malu. "Eh, anu, iya. Baiklah, Bu. Terima kasih," jawab Alya salah tingkah. Mendengar jawaban Dewi, Alya sudah paham kalau isi paper bag itu pastilah baju tidur yang seksi. "Ya sudah, sekarang kamu ke kamar dulu. Mandi biar bersih dan wangi. Jangan lupa dandan yang cantik. Sebentar lagi suami kamu pulang," titah Dewi. "Harus begitu ya, Bu?" tanya Alya ragu. "Ya harus, Alya. Suami kamu itu tampan, seorang CEO, tajir, punya jabatan tertinggi. Di kantornya banyak cewek-cewek cantik. Jadi, saat suami kamu pulang, usahakan kamu berpenampilan secantik mungkin agar suamimu senang memandangmu dan juga betah bersamamu. Jangan sampai suamimu lebih betah bersama cewek-cewek cantik di kantornya. Seorang suami yang pulang dari kerja dalam keadaan lelah itu obatnya hanyalah istri. Dengan catatan istri yang sudah harum, sudah bersih, sudah wangi dan siap menyambut suaminya dengan senyum," tutur Dewi panjang lebar membuat Alya menelan ludahnya yang terasa mengental. Seandainya saja dirinya adalah istri yang diharapkan oleh Reyhan, mungkin dia akan dengan senang hati melakukan hal yang disebutkan sang ibu mertua. Sebelum suami pulang mandi dan berdandan yang cantik dan wangi, lalu menyambut suami dengan senyuman saat pulang kantor. Namun, kenyataannya Alya bukanlah istri yang diidamkan oleh Reyhan. Bahkan suaminya itu begitu amat membencinya. "Lho kok malah bengong. Ayo sana cepat mandi! Keburu Reyhan pulang," titah Dewi. "Iya, Bu. Saya ke kamar dulu." Alya bergegas naik ke lantai dua menuju kamar utama, yakni kamarnya dengan Reyhan. Gadis itu segera membersihkan dirinya di kamar mandi dan melakukan apa yang disarankan oleh ibu mertuanya. Hari menjelang malam saat mobil Reyhan memasuki halaman rumah. Lelaki itu turun setelah memarkirkan mobilnya ke dalam garasi. Dewi dan Alya sudah berdiri di teras rumah. Wanita paruh baya itu meminta sang menantu menyambut kedatangan Reyhan. Reyhan sempat terpana melihat penampilan Alya yang malam itu terlihat lebih dewasa dengan berbalut dress pendek warna merah dengan bagian d**a yang agak terbuka. Wajah Alya juga tampak cantik dengan polesan bedak tipis dan juga gincu merah yang membuatnya terkesan lebih dewasa. Gadis itu mengulurkan tangannya, berniat menjabat tangan sang suami. Rehan pun melihat ke arah Dewi yang mengangguk dan tersenyum penuh harap. Lelaki itu kemudian membalas uluran tangan Alya. Tidak menunggu lama, gadis itu lalu menjabat dan mencium punggung tangan suaminya. Untuk menyempurnakan sandiwaranya, Reyhan pun menyambut Alya dengan kecupan di kening. d**a gadis itu bergetar hebat saat bibir sang suami menempel di keningnya. "Papa sudah pulang?" tanya Tasya yang tiba-tiba muncul ikut menyambut kepulangan Reyhan. Gadis kecil itu segera memeluk sang papa dan membisikkan sesuatu yang tidak didengar oleh Alya maupun Dewi. Reyhan pun tersenyum miring mendengar sesuatu yang diucapkan putrinya. "Bagaimana sekolahmu hari ini, Sayang?" tanya Rehan sembari mengacak rambut putri kecilnya. "Baik, Pah. Semuanya lancar," jawab Tasya sembari bergelayut manja di lengan sang papa. "Ya sudah, Rey. Kamu mandi dulu terus kita makan malam bersama," titah Dewi. Reyhan mengangguk dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak lama kemudian, lelaki itu sudah kembali di ruang makan. Jereka berempat pun makan malam bersama dengan penuh keakraban. Bahkan Tasya yang tadinya begitu membenci Alya malah minta disuapi gadis itu. Alya sempat kaget dengan perubahan sikap Tasya yang begitu tiba-tiba. Namun, Gadis itu tidak mau berburuk sangka. Alya merasa senang karena akhirnya Tasya mau menerimanya sebagai pengganti sang mama, meskipun gadis kecil itu masih memanggilnya dengan panggilan aunty. Malam semakin larut. Rehan belum juga masuk ke kamar. Lelaki itu masih berada di ruang kerjanya untuk mengecek laporan keuangan. Sementara Dewi dan Tasya Sudah terlelap di alam mimpi. Alya masih mondar-mandir di dalam kamar. Kedua tangannya mencengkram paper bag pemberian Ibu mertuanya sore tadi. Hatinya bimbang. "Aku pakai apa tidak ya baju ini?" Alya bermonolog dalam hati. Di dalam paper bag itu ada baju tidur seksi semacam lingerie yang sengaja dibelikan Dewi agar dipakai Alya. Dewi berharap Reyhan akan senang melihat Alya memakai pakaian seksi itu. "Sebaiknya aku pakai saja. Apa yang dikatakan Ibu Dewi tadi sore ada benarnya. Aku harus bisa membuat Om Reyhan jatuh cinta kepadaku. Aku nggak mau Om Reyhan jatuh ke tangan sekretarisnya yang genit itu." Kembali Alya bermonolog dalam hati. Gadis itu akhirnya memutuskan untuk memakai lingerie warna hitam pemberian sang ibu mertua. Alya berputar di depan meja rias setelah lingerie berwarna hitam itu menempel di tubuhnya. Warna kulit Alya yang putih, kontras dengan warna lingerie yang hitam membuat gadis itu terlihat semakin cantik dan seksi. Lekuk tubuh Alya yang ramping dan berisi terekspos dari luar lingerie yang memang transparan. Beberapa saat kemudian pintu kamar terbuka membuat Alya yang sedang memandangi tubuhnya di depan cermin terkejut dan spontan menatap ke arah pintu. Sementara itu di depan pintu kamar, Reyhan yang tampak penat seusai mengecek laporan keuangan perusahaan membulatkan kedua matanya saat melihat tubuh seksi Alya terekspos dari balik lingerie hitam yang transparan itu. Jangkun lelaki itu naik turun melihat pemandangan indah yang sudah lama tidak dia lihat. Seketika Junior kecil dibalik celana Reyhan bereaksi melihat body seksi Alya. "Sial, ternyata Alya seksi sekali. Apa maksudnya memakai baju seperti itu? Apa memang dia berniat menggodaku?" batin Reyhan sembari mencoba menahan nafsunya yang sudah di ujung tanduk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD