"Alya! Apa maksud kamu memakai pakaian seperti itu?" tanya Reyhan sembari membalikkan tubuhnya membelakangi Alya. Gadis itu terkejut melihat respon sang suami. Bukannya kagum dan tergoda, Reyhan malah enggan melihat ke arahnya dan terkesan jijik. Hal tersebut membuat Alya merasa menjadi w************n yang sedang menjajakan tubuhnya. Padahal jujur, sebenarnya Reyhan sedang mati-matian mengontrol nafsunya.
"Kamu jangan berpikir untuk mencoba menggodaku, ya. Karena aku sama sekali tidak tertarik padamu meskipun tanpa lingerie itu menutupi tubuhmu," tegas Reyhan membuat hati Alya terasa nyeri.
"Maaf, Om. Aku hanya menuruti permintaan Ibu. Beliau yang membelikanku baju ini dan mintaku memakainya untuk tidur," jawab Alya dengan polosnya.
"Cepat masuk ke kamar mandi dan ganti baju. Aku nggak mau lihat kamu pakai baju-baju seksi lagi!" titah Reyhan. Alya pun mengangguk, lalu mengambil baju tidur dari dalam kopernya. Gadis itu kemudian masuk ke kamar mandi untuk berganti baju.
Reyhan pun membalikkan tubuhnya dan menutup pintu kamar. Lelaki itu merasa lega karena berhasil mengendalikan nafsunya dan tidak tergoda dengan tubuh seksi Alya, meskipun junior kecil dibalik celananya masih tegak menantang meminta pelampiasan.
"Sial! Apa yang harus aku lakukan?" pikir Reyhan bingung. Apa mungkin dia harus bermain sendiri di kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya? Padahal kalau mau dia bisa menyalurkannya kepada yang halal, bukankah dia punya istri yang cantik?
"Aaarrrggghhh!" Rehan menjambak rambutnya dengan kasar. Lelaki itu kemudian merupakan tubuhnya di sofa dan mencoba untuk memejamkan mata. Reyhan tidak ingin fantasinya semakin liar jika terus mengingat lekuk tubuh Alya yang memang sangat menggoda. Akhirnya rasa lelah mendera, tidak lama kemudian dengkuran halus pun lolos dari bibirnya.
Sementara itu, Alya yang sudah selesai berganti baju masih bertahan di dalam kamar mandi. Gadis itu merasa sangat malu kepada Reyhan, sehingga tidak segera keluar dan menunggu lelaki itu tertidur.
"Om Rey pasti menganggap aku w************n yang haus akan belaian. Ah, seharusnya tadi aku tidak memakai lingerie itu. Harusnya aku sadar diri kalau Om Rey tidak akan pernah tertarik pada gadis muda sepertiku. Dia pasti mengharapkan wanita dewasa seperti sekretarisnya di kantor itu. Lalu sampai kapan aku harus bertahan dalam pernikahan seperti ini?" batin Alya sedih.
"Kak Kinan, Maafkan Aku bukannya aku ingin mengambil Om Rey dari kakak. Harusnya aku saja yang pergi menghadap Tuhan. Hidupku sudah tidak berarti. Andaikan bisa, aku ingin menukar nyawaku dengan nyawa kakak. Aku ingin Om Rey dan Tasya bahagia. Aku tahu mereka masih belum bisa menerimaku. Mereka pura-pura bahagia di depan Bu Dewi. Entah apa yang akan terjadi jika Bu Dewi sudah kembali ke rumahnya?"
Alya menghapus air matanya, kemudian mengintip dari celah pintu kamar mandi. Gadis itu mendengar dengkuran halus yang menandakan kalau Reyhan sudah tertidur pulas. Gadis itu pun memutuskan untuk keluar dari kamar mandi lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Alya sebenarnya merasa kasihan melihat Reyhan tidur di sofa setiap hari.
"Ah, biar saja. Bukankah itu kemauannya sendiri? Siapa suruh punya istri cantik dianggurin?" batin Alya kesal. Masih ada sedikit kecewa jika ingat tadi dirinya ditolak mentah-mentah oleh Reyhan. Padahal Alya sudah membuang semua harga dirinya dengan memakai lingerie hitam pemberian ang ibu mertua. Wanita itu berharap Reyhan akan tergoda dan melaksanakan kewajiban sebagai seorang suami. Namun, nyatanya bukan belaian dan sentuhan yang ia dapatkan, melainkan rasa malu dan kekecewaan.
Keesokan paginya saat membuka mata, Alya melihat Reyhan sudah selesai mandi dengan rambut yang basah. Seperti biasa lelaki itu mandi keramas seolah-olah tadi malam keduanya telah melewati malam yang indah. Alya hanya bisa mengikuti permainan Reyhan dengan ikut mandi keramas. Gadis itu tidak punya pilihan lain selain membuat semua orang di keluarga itu bahagia meskipun hatinya harus tersakiti.
"Hari ini Ibu harus pulang ke rumah Jessica karena Felix sakit dan Angga pun juga pulang dari luar kota," ucap Dewi tengah-tengah sarapan bersama Reyhan dan Tasya saling memandang. Keduanya tampak bahagia karena Dewi akan segera pergi sehingga mereka tidak perlu pura-pura menyayangi Alya lagi. Lain halnya dengan Alya yang merasa sedih karena kehidupannya setelah ini pasti akan lebih menyiksa tanpa ibu mertuanya.
Felix adalah putra sejata wayang Jessica yang baru berumur lima tahun. Sedangkan Angga adalah suami Jessica yang sudah lebih dari dua minggu tidak pulang karena ada urusan bisnis ke luar kota. Saat Felix sakit, Jessica butuh Dewi untuk membantunya menjaga Felix.
"Jadi, ibu mau pulang hari ini? Biar Reyhan antar ya," tawar Reyhan bersemangat. Bukan lelaki itu tidak senang kalau sang ibu tinggal bersamanya. Namun, keberadaan Dewi membuatnya tidak bebas untuk menyakiti Alya mengingat wanita paruh baya itu sangat menyayangi Alya.
"Nggak usah, Rey. Ibu naik taksi saja. Lagian kamu kan juga harus segera ke kantor, jalannya nggak searah."
"Ya sudah kalau ibu maunya seperti itu. Kalau ada apa-apa cepat kabari Reyhan ya, Bu."
"Iya, pasti, Rey. Kamu jangan khawatir. Mulai hari ini, Tasya ke sekolah diantar Mama Alya, ya. Biar Papa nggak terlambat ke kantor," ucap Dewi seraya mengalihkan pandangan ke arah Tasya.
"Iya, Nek," balas Tasya patuh. Gadis kecil itu tidak banyak membantah agar sang nenek tidak menunda kepulangannya ke rumah Jessica.
"Anak pintar." Dewi mengusap rambut Tasya dengan penuh kasih sayang.
"Ya sudah, sekarang kita sarapan bersama dulu. Oh, ya. Alya nanti jangan lupa masak, ya. Terus kamu antar makan siang ke kantor suamimu. Nanti setelah itu baru kamu jemput Tasya sekolah," titah Dewi.
"Iya, Bu," balas Alya patuh. Suasana ruang makan kembali hening, hanya terdengar suara garpu dan sendok beradu dengan piring. Setelah sarapan selesai, Reyhan bersiap berangkat ke kantor. Alya pun mengeluarkan motor matiknya dari dalam garasi untuk mengantar Tasya sekolah. Sementara Dewi masih membantu Sundari membereskan dapur, kemudian bersiap pulang ke rumah Jessica.
"Nanti siang kamu tidak perlu ke kantor untuk mengantar makanan," ucap Reyhan dingin saat Alya bersiap di atas motor hendak mengantar Tasya ke sekolah.
"Iya, nanti siang Aunty juga nggak usah jemput aku ke Sekolah. Aku mau ikut mobil jemputan sekolah saja," ucap Alya tidak mau kalah dengan sang Papa dalam mengintimidasi Alya. Gadis itu hanya terdiam sembari menelan ludahnya yang terasa kering di tenggorokan. Belum apa-apa, Bapak dan anak ini sudah mulai beraksi memusuhinya. Padahal Dewi masih ada di dalam rumah mereka, sedang membantu Sundari membereskan ruang makan. Alya tidak punya pilihan lain selain mengangguk. Wanita itu segera menghidupkan motor maticnya dan mengantar Tasya ke sekolah. Sementara Reyhan segera berangkat ke kantor.
"Jangan berlagak jadi Mama aku karena sampai kapanpun Aunty tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Mama aku," ucap Tasya saat Alya menurunkannya di depan sekolahan. Gadis kecil itu bahkan tidak mau membalas jabat tangan Alya dan malah melenggang masuk ke gerbang tanpa memperdulikan ibu sambungnya itu.
"Sabar, Alya. Suatu saat nanti Tasya pasti akan menerimamu sebagai pengganti mamanya," batin Alya sembari memandang punggung Tasya yang semakin menjauh. Gadis itu hanya bisa mengelus d**a menahan perih karena segala jerih payahnya pun tidak pernah dihargai, baik oleh Tasya maupun Reyhan.
"Alya, sedang apa kamu di sini?" tanya seseorang membuat Alya menoleh.
"Sisil."