Bab 16. Obat Perangsang

1451 Words
"Astaga kok bisa ada Om Rey di sini, sih?" tanya Alya sembari menutup wajahnya dengan buku menu. "Emang wanita itu siapa? Om Rey punya pacar?" tanya Sisil penasaran. "Itu dia sekretarisnya Om Rey yang aku ceritakan kapan hari." "OMG, jadi itu sekretaris Om Rey? Beneran cantik dan berkelas. Tubuhnya ramping, tinggi semampai, terus juga dewasa. Kayaknya cocok banget sama Om Rey, sih." "Ih, Sisil. Kok kamu malah ngomong gitu, sih? Aku kan jadi cemburu," protes Alya kesal karena Sisil malah memuji sekretaris suaminya. "Oh jadi kamu cemburu? kalo gitu, ayo kita samperin mereka dan tunjukin sama dia kalau kamu itu istri sahnya, biar tuh cewek nggak nempel terus kayak perangko sama suamimu," ajak Sisil bersemangat sembari beranjak dari duduk dan menarik tangan Alya. "Nggak, ah. Nggak, jangan, deh. Aku nggak berani," tolak Alya sembari berusaha pergelangan dari genggaman Sisil. "Maksudmu apa? Kamu ini istri sahnya Om Rey, Al. Masa iya istri sah takut sama pelakor?" ucap Sisil gemas dan kembali menarik tangan Alya agar berdiri dan menghampiri Reyhan. "Tapi, tapi, aku itu bukan istri yang diharapkan sama Om Rey. Aku nggak mau Om Rey marah." "Mau kamu istri yang diharapkan ataupun istri yang nggak diharapkan, tetep aja status kamu kan istri sahnya. Kamu harus tunjukin sama dia kalau ombre itu milik kamu." "Nggak, Sil. Jangan! Gimana kalau nanti Om Reyhan malah belain sekretarisnya? Yang ada aku malah akan dipermalukan. Udah, kita cabut aja dari sini, yuk. Mumpung Om Reyhan belum melihat kita," ajak Alya. Gadis itu malah mengajak Sisil pergi dari restoran. "Cabut dari sini? Bukannya kita belum makan, ya?" "Kita cari makan di tempat lain, yuk, Sil. Ayolah kita nggak usah bikin masalah sama Om Rey." Alya memaksa Sisil untuk meninggalkan restoran itu dengan terpaksa Sisil pun mengikuti kemauan sahabatnya. "Kamu ini, ya. Kecil banget nyalimu. Kalau aku jadi kamu, aku udah labrak tuh cewek kegatelan. Punya suami tampan, sukses dan tajir kayak Om Reyhan memang harus tegas. Jangan sampai kita memberikan jalan pada cewek lain untuk mendekati suami kita." Sisil masih saja ngomel-ngomel saat keduanya sudah sampai di parkiran. "Udah, udah, Sil. Aku nggak mau denger ceramahmu. Daripada nanti di rumah Om Rey marah-marah, mendingan aku menghindari masalah dengannya. Kita makan di tempat lain. Kamu boleh pilih tempatnya, aku ngikut aja," ucap Alya menjalankan motor matiknya keluar area parkir restoran. Meski merasa kesal, Sisil tetap mengikuti kemauan Alya. Keduanya mencari restoran lain untuk makan. Keduanya memutuskan untuk pindah restoran yang tidak jauh dari tempat itu. Keduanya segera memesan makanan setelah sampai di sana karena Sisil tampak sudah sangat kelaparan. Begitu juga Alya. Ternyata rasa cemburu itu bisa menguras emosi dan membuat perut menjadi lapar. "Aku punya cara yang lebih jitu agar kamu bisa menaklukkan suamimu. Aku jamin nanti malam Om Rey akan jadi milik kamu," ucap Sisil saat keduanya menikmati makanan di restoran itu. Alya menghentikan kegiatan makannya sejenak dan menatap sahabatnya dengan tatapan penuh tanya. "Kamu mau, nggak?" tanya Sisil memastikan. "Caranya bagaimana?" tanya Alya penasaran. Sisil tersenyum lalu membisikkan sesuatu di telinga Alya yang membuat gadis itu sontak melebarkan kedua matanya. "Gila kamu, Sil. Ini benar-benar ide gila," ucap alias sembari menggelengkan kepalanya. Gadis itu tidak menyangka kalau sahabatnya memberikan ide yang begitu beresiko. "Tapi aku jamin akan berhasil, Al. Udah, kamu percaya deh sama aku. Kamu coba aja dulu. Biar aku yang carikan barangnya. Aku tahu di mana tempat membelinya." "Tapi aku takut, Sil." "Takut kenapa, Al? Udah, deh. Kamu mau kan mendapatkan Om Rey? Kamu juga nggak mau kan kalau semisal Om Rey tahu kamu pernah melakukannya dengan Axel?" Alya menggeleng. Tiba-tiba rasa takut akan apa yang diucapkan Sisil terlintas di pikirannya. Bagaimana jika Reyhan tahu kalau sebenarnya dirinya pernah melakukan hubungan intim dengan Axel? Apalagi sudah lebih dari satu bulan semenjak kejadian itu, Alya belum juga menstruasi. "Nggak ada cara lain. Aku harus mengikuti rencana Sisil," batin Alya putus asa. "Bagaimana, Al? Kamu mau?" Pertanyaan Sisil mengagetkan Alya. Gadis Itu tampak berpikir sejenak. "Ya sudah. Aku mau," jawab Alya akhirnya. "Oke, nanti aku belikan obatnya. Kamu harus berhasil malam ini." Sisil memberikan semangat kepada sahabatnya itu. Namun, Alya malah semakin gugup dan takut. "Apakah rencana ini akan berhasil?" batin Alya gelisah sembari meremas kedua tangannya. *** "Sudah aku bilang. Jangan jemput aku, masih aja ngeyel," ucap Tasya saat Alya menjemputnya di sekolah. "Sayang, Tasya pulang sama Aunty, ya. Biar nanti Aunty nggak dimarahin sama Nenek," Alyq mencoba membujuk Tasya. "Enggak! Aku mau pulang bareng mobil jemputan sekolah saja. Aunty pulang saja sana," tolak Tasya. Gadis kecil itu bersikukuh untuk tidak ikut Alya. "Tapi, Sya--" "Aku bilang enggak ya enggak! Aunty budeg, ya? Udah pulang sana! Jangan coba-coba baik sama aku karena sampai kapanpun aku nggak akan pernah suka sama Aunty," ucap Tasya sembari berbalik menjauhi Alya dan bergabung dengan teman-temannya yang lain menanti mobil jemputan sekolah. Hati Alya seakan teriris belati tajam mendengar ucapan Tasya. Keponakan yang sebelumnya sangat menyayanginya ini berubah 180 derajat menjadi sangat membencinya setelah kematian Kinanthi. Padahal sewaktu Kinanthi masih hidup, Tasya lebih senang diantar jemput olehnya daripada naik mobil jemputan sekolah. Namun, kini gadis kecil itu berubah. Kekecewaan Tasya yang menganggap Alya sebagai penyebab kematian sang mama membuat gadis kecil itu masih belum bisa menerima Alya. Apalagi kenyataan kalau Alya menikah dengan sang papa yang membuat Tasya semakin benci dan kecewa. Dengan langkah gontai Alya kembali ke parkiran dan melajukan motor metiknya pulang kembali ke rumah. Gadis itu menjatuhkan bobot tubuhnya di ranjang King size kamar Reyhan yang kini menjadi kamarnya. Kedua matanya berkaca-kaca mengingat perlakuan ayah dan anak yang kini menjadi suami dan anak tirinya itu. "Sabar, Alya. Kamu harus bersabar menghadapi mereka. Kamu harus yakin, kalau lambat laun Tasya dan juga Om Reyhan akan menerimamu." Alya bermenolong dalam hati untuk menghibur dirinya sendiri. Gadis itu kemudian bangkit dan membuka tasnya, lalu mengeluarkan botol kecil pemberian Sisil tadi siang sebelum menjemput Tasya. "Semoga jalam ini aku berhasil mendapatkan Om Reyhan," batin sembari tersenyum. Malam pun tiba. Selepas makan malam, Tasya segera masuk kamar untuk menyelesaikan tugas sekolahnya. Gadis kecil itu memang sangat rajin belajar, sehingga tak heran kalau prestasinya di sekolah selalu di atas rata-rata. Sementara Reyhan langsung masuk ke ruang kerjanya untuk mengecek laporan keuangan seperti biasa. Semenjak Kinanthi meninggal, lelaki itu lebih suka menyibukkan diri dengan pekerjaan, meskipun saat di rumah. Reyhan tidak ingin larut dan tenggelam dalam kesedihan karena mengingat sang istri yang begitu sangat dia cintai. Apalagi sekarang ada Alya. Sejak kejadian kemarin malam, Reyhan berusaha keras menjauhi kontak fisik dengan gadis itu. Bahkan Reyhan terkesan menjauh dari gadis yang kini telah sah menjadi istrinya itu. Sementara itu di dapur Alya sedang membuatkan kopi untuk Reyhan. Darsih sudah masuk ke kamarnya untuk beristirahat, sehingga Alya bebas melakukan apapun di dapur. Tidak lupa Alya memasukkan satu botol kecil cairan yang tidak lain adalah obat perangsang pemberian Sisil tadi siang ke dalam kopi yang akan dia berikan kepada Reyhan. Gadis itu tersenyum setelah mengaduk kopinya. "Om, boleh saya masuk sebentar?" tanya Alya sembari mengetuk pintu ruang kerja Reyhan. "Mau ngapain?" tanya Reyhan dari dalam ruangan dengan nada dingin. "Aku cuma mau ngasih kopi untuk sebagai teman lembur Om," jawab Alya. Jujur hatinya berdebar-debar takut kalau Reyhan menolak kopi pemberiannya. "Tidak perlu, aku bisa bikin kopi sendiri," tolak Reyhan. "Please, Om. Sekali Ini saja. Ijinkan aku melaksanakan tugas sebagai istri, yaitu melayani Om. Hanya membuatkan kopi, kok. Nggak lebih. Setelah ini aku akan kembali ke kamar dan nggak akan ganggu Om lagi," mohon Alya belum menyerah. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka membuat Alya terkejut. Ternyata Reyhan sudau berdiri di depan pintu. "Sini kopinya! Cepat kembali ke kamar dan tidur! Jangan coba-coba kembali ke sini lagi," titah Reyhan sembari menerima kopi pemberian Alya. "Iya, Om. Aku segera ke kamar dan tidur. Jangan lupa diminum kopinya, ya," ucap Alya sebelum berbalik meninggalkan ruang kerja Reyhan. Gadis itu kemudian kembali ke kamar Reyhan di lantai dua sambil tersenyum penuh harap. Setelah sampai di kamar Alya mengganti bajunya dengan baju seksi berbahan tipis dengan belahan d**a rendah sesuai dengan apa yang disarankan Sisil tadi siang. Gadis itu berharap setelah Reyhan meminum kopi yang telah dicampur obat perangsang, maka lelaki itu akan mendatanginya di kamar dengan penuh gairah. Sembari menunggu Reyhan datang, Alya memoleskan bedak bedak dan riasan tipis di wajahnya. Tak lupa gadis itu memakai parfum yang baunya cukup menggoda. Namun, hampir dua jam berlalu, belum ada tanda-tanda Reyhan datang ke kamarnya. Alya hampir putus asa dan memutuskan untuk tidur. Namun, jantungnya seolah berhenti berdetak saat mendengar ketukan di pintu kamar. "Alya, kamu sudah tidur?" tanya suara bariton seorang lelaki dari luar kamar yang membuat jantung Alya seolah ingin melompat dari dalam dadanya. "Om Rey datang? Apa obat itu sudah bereaksi?" tanya Alya dalam hati. Gadis itu segera membuka pintu kamar. Benar saja, Reyhan telah berdiri di depan pintu. "Alya." "Om Rey."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD