Prolog

706 Words
Suara getaran ponsel terdengar panjang. Layarnya tetap menyala sampai panggilan selesai. Pemilik ponsel itu tidak menjawab telepon yang baru saja masuk. Kling Kling Kling |Rey| |Please, jawab telepon aku| |Kau masih marah padaku?| |Kalau tidak mau menjawab teleponku, setidaknya balas pesanku, Rey| |Sudah empat minggu sejak aku minta maaf padamu| Reyna hanya mampu membaca pesan itu, jari-jemarinya tak bergerak sedikitpun untuk membalas pesannya. Air mata kembali menetes dari pelupuknya yang sudah sembab karena menangis sepanjang minggu. Sudah tujuh hari lamanya Reyna mengurung diri di kamar, tak mau keluar, bahkan untuk makan. Setiap hari ibunya membujuk agar gadis itu keluar, tetapi usahanya tak membuahkan hasil, dan dia hanya bisa meletakkan sepiring nasi dan lauk lengkap dengan gelas juga teko berisi air minum di meja samping pintu kamar putrinya. Tiga kali sehari Azalia melakukan itu untuk Reyna. Apa yang terjadi pada gadis itu? Satu bulan yang lalu, Reyna menghabiskan waktu bersama Fan di Eropa. Kemudian, pada hari terakhir bersamanya, Reyna menginap dan tidur di apartemen pria itu. Ketika terbangun di pagi hari, Reyna mendapati pakaian yang melekat di tubuhnya sudah berbeda, padahal semalam Reyna tidak menggantinya. "Aku berani bersumpah, aku tidak menyentuhmu sama sekali Rey!" ucap Fan dengan langkah cepat, mengejar Reyna yang baru saja menampar wajahnya. Pria itu menarik tangan Reyna yang sudah ingin keluar dari apartemen. Namun dengan cepat Reyna menghempasnya. "Tidak menyentuh? Lalu barusan apa!" protesnya. Fan tercekat. Sentuhan yang dia maksud bukan sentuhan seperti yang barusan terjadi. Dia mengerti jika Reyna marah padanya, dan dia hanya ingin meyakinkan gadis itu bahwa apa yang dia katakan benar adanya. "Maksudku … aku … semalam kamu cuma tidur di sini, tidak lebih dan tidak kurang," kata Fan, raut wajahnya tampak sangat meyakinkan. Reyna mencoba berpikir jernih. Namun setiap kali dia berusaha, rasa takut akan kebohongan Fan membuatnya tidak percaya. Reyna sudah tahu bagaimana liciknya Fan di dunia peretasan, sulit baginya untuk percaya dengan pria itu. Apalagi ketika mengingat ucapannya semalam dan Fan mengingkarinya. Gadis itu melepaskan kedua tangan Fan yang menggenggam erat lengan atasnya. "Aku sudah berkata padamu untuk mengantarku kembali ke asrama, tetapi kau tidak melakukannya!" seru Reyna. "Bagaimana bisa aku percaya padamu sekarang!" tambahnya. Fan menelan air mulutnya dalam-dalam. Dia memang salah sebab tidak membiarkan Reyna pulang ke asrama tadi malam, dan malah memaksa keadaan agar gadis itu menginap di apartemennya. "Rey," panggil Fan. Pria itu mengejar Reyna yang melangkah keluar dari apartemen. *** Hari ini, tepat satu bulan lebih satu hari Fan tidak mendengar kabar dari Reyna. Pria itu memutuskan untuk menghampiri kediaman Mr. Alessandro. Reyna tidak ada di asrama, teman-teman sekampusnya pun mengaku bahwa Reyna mengambil cuti kuliah. Hal itu membuat Fan cukup risau. Reyna tidak pernah membalas pesannya, teleponnya pun tidak pernah diangkat oleh gadis itu, padahal Fan tahu bahwa Reyna sudah membacanya. Fan bahkan sudah menyadap ponsel Reyna, tetapi dia tetap tidak mendapat informasi apa-apa dari ponselnya. Ketika tiba di kediaman Mr. Alessandro … Plak! Fan mendapat tamparan pertama dari Zein, papanya Reyna. Semua itu sebab Fan mengaku bahwa Reyna menginap dan tidur di apartemennya empat minggu yang lalu. "Beraninya kau membawa putriku bersamamu!" Fan diam, mencoba untuk mendengarkan lebih dulu apa yang sebenarnya terjadi. Dia tidak tahu jika Reyna hamil, dan informasi yang baru saja dia dengar membuatnya sangat terkejut. "Mr. Alessandro, aku berani bersumpah bahwa aku tidak pernah melakukan apa-apa pada Reyna," ucap Fan. Plak! Tamparan kedua mendarat lagi di pipi yang sama. "Kau berani berkata seperti itu setelah mengetahui bahwa putriku sedang hamil!" seru Zein dengan kedua tangan mengepal. Fan sungguh tidak mengerti mengapa Reyna bisa hamil. Dia berucap dengan sungguh-sungguh bahwa dia tidak melakukan apa-apa pada Reyna. Namun setelah mengetahui apa yang menyebabkan Reyna tidak menjawab telepon juga tidak membalas pesannya selama ini membuat Fan mengerti hari-hari sulit yang telah dilalui gadis itu. Kedua lutut Fan luruh ke lantai. Pria itu bersimpuh di depan Zein, menyerahkan diri jika memang dirinya dibutuhkan untuk Reyna meski bukan dia yang membuat gadis itu hamil. Fan sempat berpikir jika Reyna hamil dengan pria lain. "Apapun yang terjadi pada Reyna, aku sudah berjanji akan menikahinya," ucap Fan di depan kaki Zein. "Kau pikir semudah itu. Pernikahan kalian tidak akan sah sebelum bayi itu lahir." Fan mendongak, meneguk air di mulutnya. Pria itu tidak menyangka jika akan sesulit ini untuk menikah dengan Reyna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD