*Lian POV*
Aku mematut diriku di depan cermin. Ku gunakan kaos berwarna putih sebagai dalaman dan di tumpuk dengan a-line dress berwarna kuning dengan motif bunga daisy. Rambutku yang ikal kugerai dengan satu ujungnya ku beri jepit berwarna kuning. Kuambil sneaker putih yang kemarin ku pakai dan ya, aku cukup puas dengan penampilanku sekarang.
Aku segera keluar dari kamar yang sudah disiapkan oleh Kak Davino. Hari ini dia akan mengajakku mengunjungi kampusnya. Dia akan bertemu dengan profesornya dan aku akan mengamati suasana kampusnya.
Aku sangat semangat sekali. Segera ku siapkan s**u coklat favoritnya di meja lalu menggoreng sosis dan juga menggoreng makanan beku lain di sisi lainnya. Aku tipikal wanita yang tak suka menunggu, apalagi harus dikerjakan satu persatu. Terlalu lama jika harus menunggu. Jadi, kalau bisa ku buat pekerjaan dikerjakan bersama-sama, aku akan kerjakan secara bersamaan pula.
Ngomong-ngomong ini sudah pukul sepuluh pagi. Dimana Kakak kesayanganku ini. Kenapa tidak ada suaranya? Tanpa banyak kata, aku membuka pintu kamarnya. Ternyata tidak dikunci. Kebiasaan yang masih sama. Kulihat laki-laki tampan itu masih bergelung dibawah selimut yang menutup dari ujung kaki hingga lehernya.
Dia terlihat begitu menikmati tidurnya. Hatiku jadi tergelitik untuk menatap wajahnya lebih dekat. Setelah kuperhatikan dengan seksama, memang benar rupa Kak Davino sangat sama dengan Papa Dave. Mirip dengan foto yang pernah Papa tunjukkan pada kami dulu.
Tanpa aku sadari, ternyata tanganku sudah berada di atas pipinya. Dengan kesadaran penuh aku usap lembut pipinya dan dasar memang perangainya yang pemalas jika sedang tidur. Bukannya bangun, ia malah senyum-senyum. Pasti dikira aku menina bobo-kan dia.
Saat aku akan menepuk bahunya, dengan sigap tangannya malah menangkap tanganku. Dia membawa lagi ke pipinya dengan pegangan erat dan mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya. Aduh jantungku! Apa benar ini hanya sister complex? Apa benar bukan cinta? Aku tidak pernah jatuh cinta, jadi mana aku tahu bagaimana membedakan perasaanku saat ini. Aku segera menggeleng-gelengkan kepalaku untuk membuatku sadar atas pikiranku yang mulai melantur.
"Kak, bangun. Katanya mau ngampus?" aku menyentuh rambutnya dan menyugarnya beberapa kali.
Tiba-tiba matanya yang merah khas orang bangun tidur terbuka dan melotot ke arahku. Aku jadi kaget dan mengerutkan dahiku.
"Kenapa deh, Kak?"
"Lupa, harus ke kampus," dia bergegas ke kamar mandi dengan sedikit berlari dan menutup pintu kamar mandinya kasar. Aku jadi kaget lagi, tapi sejurusnya kemudian aku jadi terkekeh dengan tingkah konyolnya.
Kudekati pintu kamar mandinya dan mengetuk pelan. "Sarapannya udah siap ya, Kak. Aku tunggu di depan. Jangan lama-lama," teriakku.
Tidak ada jawab, kuanggap dia dengar. Aku beranjak ke kitchen stool kondominium itu. Kondominium ini lebih kecil dari yang di Manhattan. Perabotan jadi tidak banyak, bahkan tidak ada meja dan kursi makan. Sepertinya dapur ini menjadi tempat rangkap untuk makan. Aku mengecek kembali makanan yang disiapkan dan kembali beranjak melangkah ke lemari pendingin, siapa tau menemukan buah yang tersisa. Mungkin karena jarang ditempati, jadi bahan makanannya tidak lengkap. Ternyata memang tidak ada satu pun buah segar.
Aku kembali duduk di kitchen stool menunggu Kakak tersayang ku ini. Saat aku memainkan sosial media di ponselku. Aroma musk menguar. Kutatap Kakakku yang sudah menggunakan kemeja garis dengan gradasi warna mustard, putih, dan hitam dipadu dengan celana jeans hitamnya. Ah, tampannya.
Aku tersenyum padanya dan menepuk tempat duduk di sampingku. Dia segera duduk dan menatapku dengan senyuman manis mengembang di wajahnya.
"Kamu udah gede aja udah bisa siapin sarapan buat Kakak. Padahal di rumah ada Bibi dan Mbok," celotehnya dengan mulut penuh.
"Mama dan Papa pengen aku sekolah gak di Indo, kak. Jadi aku harus biasain untuk bisa urus hidupku sendiri. Tau sendiri Mama sama Papa kayak gimana kalo aku di rumah. Biar mereka gak khawatir selama aku di luar negeri. Aku gak sabar pengen kuliah!" ucapku dengan senyuman termanis.
"Kenapa?"
"Nanti kalo disini, gak ada yang punya waktu buat ngekorin aku kemana-mana."
"Kata siapa?" ucap Kak Davino dengan sebelah alisnya yang sudah terangkat.
"Akulah!"
"Kakak sewa bodyguard buat kamu. Nanti biar di cariin Zach."
"KAK!" nada bicaraku meninggi karena sebal dengan pernyataan kakak posesifku itu.
"Kenapa sih? kok teriak-teriak."
Kesel banget asli! Kalau di Indonesia bolehlah aku anggap diriku ini femes, a.k.a famous. Kalau disini? Ya, Tuhaaaan.. aku ini siapa? Alay banget! Mau apa orang sama aku?
Kak Davino sepertinya tidak masalah dengan muka jutek yang sudah sedari tadi aku pasang. Dia menyeruput s**u coklat yang kubuat dan beranjak dari kursinya.
"Makasih makanannya, Sayang!" dia mencium keningku dan membuatku mematung. Entah mengapa aku jadi memejamkan mata dan menikmati aroma tubuh yang menenangkan ini. Rasanya kesalku menguap entah kemana digantikan dengan debaran jantung yang berpacu lebih cepat.
Tak berapa lama ciuman kening itu berakhir. Dia menatap manik mataku dalam. Seolah lupa bernafas, beberapa detik kemudian Kak Davino menarik nafas dalam. Sungguh, itu tadi apa? Rasanya berdebar sekali. Aku mengerjap beberapa kali. Gak rela Kak Davino menjauh.
"Ayo kita ke kampus. Aku bisa terlambat," ucapnya dengan tangan yang mulai merapikan bekas sarapan kami. Ia hanya menaruh tumpukan kotor itu dan segera menyeretku keluar dari kondominium itu.
Kami segera masuk ke mobil setelah sampai di parkiran. Sebuah lagu menemani perjalanan kami, lagu cover Doja Cat – Kiss Me More yang dinyanyikan pria berkebangsaan filipina. Suasananya hening, seperti agak canggung. Aku jadi ikut bernyanyi lirih saat lagu itu diputar.
Can you kiss me more?
We're so young, boy
We ain't got nothin' to lose, oh, oh
It's just principle
Baby, hold me
'Cause I like the way you groove, oh, oh
Sesekali aku lihat dari ekor mataku, Kak Davino tersenyum entah karena apa setelah menoleh ke arahku. Aku jadi ikut senyum-senyum sendiri, tapi aku masih belum bisa menatap matanya. Entahlah, rasanya jantungku akan meledak jika menatapnya.
Selama perjalanan aku menikmati lagu-lagu yang diputar dan pemandangan yang ada. Pantas Kakak suka sekali disini. Disini lumayan tenang dan pemandangannya indah. Aku tidak sabar untuk berjalan-jalan di sekitaran Danau. Kak Davino sudah menjanjikannya kemarin.
Kami sampai di kampusnya. Kukira ruangan kelasnya akan sama seperti di film Harry Potter. Gedung dengan nuansa arsitektur bergaya gotik. Ternyata gedung yang dituju Kakak, lumayan moderen.
Kami ke sebuah kafe yang terletak di lantai dasar gedung itu. Ia memesankan aku sebuah coklat hangat dan snack. Lalu memberiku tabletnya. Sepertinya takut aku akan bosan. Dia tidak memperkenankan aku keluar dari tempat itu sampai dia menjemputku. Baiklah, paling lama dua jam kan? Aku pasti sanggup.
Belum lama aku berselancar di internet untuk mencari beberapa alternatif Universitas di Amerika yang menarik untuk aku mendaftarkan diri, Aku merasa ada pergerakan dari kursi sampingku. Ku tatap seorang lelaki dengan rambut blonde dan mata biru menatapku dengan tersenyum.
Sebagai orang Asia yang baik dan belum pernah keluar negeri, reflekku menganggukkan kepala dengan tersenyum lalu kulihat kembali tabletku. Aku sejujurnya agak takut, sih. Kursi yang lain banyak yang kosong. Kenapa dia mendekat padaku?
"Kau bukan mahasiswa disini ya? Atau kau anak tahun ajaran baru?" suara berat dengan aksen Amerika terdengar indah di telingaku.
"Hm?" aku menoleh ke arahnya.
"Kau mahasiswa disini?"
"Tidak, bukan. Ada apa ya?"
"Kau sedang mencari kampus untuk tujuan kuliahmu?"
"Maaf, tidak. Aku menunggu Kakakku."
"Kamu bukan berasal dari Amerika?"
"Ya, Aku bukan warga negara Amerika? Apa aku terdengar aneh?"
"Tidak. Itu unik. Aku menyukainya."
"Ya, terima kasih. Apa kau mahasiswa disini?"
"Ya, aku mahasiswa disini."
"Oh.." aku hanya mengangguk saja mendengarnya. Aku juga gak ngerti mau basa-basi apa. Bahasa inggrisku masih terbatas.
"Cello." Dia mengulurkan tangannya padaku.
"Lian," ucapku sambil mengulurkan tanganku. Kutampilkan senyumku dan membalas tatapannya.
"Kau pasti orang Asia. Sangat ramah."
"Ya, aku berasal dari Indonesia. Apa kau warga negara Amerika?"
"Daddyku dari Singapura dan Mamaku Amerika-Eropa."
"Wow, keluargamu sangat mengesankan."
"Ya, Aku terlihat tampan kan?"
Aku hanya terkekeh mendengarnya. Narsisnya! Jadi ingat Sam. Mungkin Sam versi mahasiswa akan seperti dia.
"Siapa nama Kakakmu? Mungkin aku mengenalnya."
"Davino Oliver Candra Adnan. Kau mengenalnya?"
"Aku tidak tahu namanya sepanjang itu. Kami hanya mengenalnya Davino Adnan."
"Apa dia terkenal?"
"Tentu saja, wajah Asia yang digemari para mahasiswa. Tubuh dan wajahnya mirip Alex Landi."
Aku terkekeh. "Kau benar. Apa dia punya pacar?"
"Kau mencoba memata-matainya?"
"Tidak, tentu tidak. Dia bukan tipe yang akan bercerita dengan keluarga. Aku hanya ingin tahu bagaimana kehidupannya di Amerika."
"Kami hanya tau dia dekat dengan primadona Illinois. Namanya Gienka."
"Gienka?"
"Ya, Gienka Zelene. Kenapa? Kau sudah mengenalnya?"
"Ah, Tidak. Apa ada yang lainnya?"
"Aku tidak tahu, yang jelas seperti kataku. Dia sendiri juga orang populer di ekonomi, jadi ya tentu saja banyak yang mendekatinya."
Aku jadi makin penasaran, seperti apa Gienka aslinya. Aku akhirnya banyak membahas berbagai hal ringan dengan Cello. Sampai akhirnya Cello pamit dan kami saling bertukar sosial media. Aku berterima kasih dengannya karena dia mau menemaniku menunggu Kak Davino.
Baru sepuluh menit setelah kepergian Cello, Kak Davino muncul dengan senyumannya. Kafe yang tadinya agak sepi sekarang aku sadari mulai ramai. Kak Davino menghampiriku dan mengajakku untuk pergi. Beberapa orang terang-terangan memperhatikan kami. Beberapa diantaranya bahkan menyapa Kak Davino. Entah kenapa rasanya seperti di Indonesia saja. ada beberapa yang berbisik dan aku yakin mereka sedang julid. Aku menggamit lengan Kak Davino, entah kenapa jadi merasa horor karena diperhatikan.
-***-