Bab 5

1301 Words
“Papa, Mama, kapan kalian datang? Ayo masuk, Ma, Pa,” ajakku pada keduanya. Aku tidak menyangka kalau papa dan mama akan datang secepat ini dari kota kembang. Meski jelas tujuannya untuk menelusuri apa yang terjadi dengan pernikahanku dan pengkhianatan Mas Raga, tapi melihatnya datang tiba-tiba jadi ketakutan sendiri untukku. Aku takut keduanya menyalahkan dan tidak mendukung. “Zea, kami mau bicara serius denganmu.” Mama langsung bersuara begitu kusalami keduanya. “Ma, ada Afni dan Dika. Kita bicara nanti saja,” tegur Papa mengingatkan Mama yang sepertinya tak tahan ingin mencecarku dengan berbagai pertanyaan seputar suamiku. Mama menghela nafas untuk kemudian menghambur pada anak-anak yang mendekat. Setelah masuk ke ruangan, kupersilahkan mereka untuk menikmati minum yang disediakan oleh ART. Afni dan Dika sepertinya bahagia atas kedatangan nenek dan kakeknya. Mereka pun bersenda gurau dan bercengkrama. “Sebelum ke sini kami silaturahmi ke kediaman mertuamu. Mereka sepertinya marah dan mengabaikan kami berdua,” ucap Mama. Aku paham maksudnya. Tentu mereka marah apalagi setelah aku berdebat dengan Mbak Anisa dan Mas Beni tadi. “Dan tentang Raga. Kenapa kamu baru bicara sekarang perihal kelakuan Raga. Bahkan setelah berkali-kali pria itu menghianatimu. Apa alasanmu, Zea? Apa kamu takut kami akan marah dan tidak membelamu sama sekali?” tanya Papa serius. Aku menggeleng dengan cepat. ‘Ku jelaskan semuanya pada kedua orang tuaku, terutama alasanku adalah anak-anak dan kupikir Mas Raga akan berubah seiring berjalannya waktu, tapi ternyata dugaanku salah. Semakin lama mereka semakin parah saja dan sudah berbuat layaknya seperti pasangan suami istri. “Kami mengerti kamu sakit hati atas ulah Raga, tapi menyebarkannya ke media sosial juga sama halnya dengan mengumbar aib suamimu sendiri. Dan setelah ini, kamu lihat ‘kan, beritanya tersebar kemana-mana.” Mama melanjutkan. “Aku sudah memikirkannya baik-baik, Ma. Doakan saja aku kuat menerimanya, lagipula aku tidak mungkin menutupi lagi semuanya. Keenakan mereka dong kalau aku diam saja. Mereka senang-senang diatas penderitaanku dan anak-anak. Mas Raga juga tidak akan jera kalau aku diam saja, atau paling ringannya hanya mengajukan gugatan perceraian, sementara dia tidak mendapatkan sanksi apa-apa.” Papa dan Mama mengangguk angguk mendengar penjelasanku. Sekarang aku cukup berpuas diri karena Sheva dan Mas Raga jadi bulan-bulanan warganet dan orang-orang yang mengenal mereka, termasuk di instansi perusahaan tempat mereka mencari rezeki dan penghidupan. Papa dan Mama kemudian memilih istirahat setelah perjalanan cukup jauh. Papa yakin Mas Raga juga tidak akan diam saja setelah kuputuskan akan mengajukan gugatan perceraian secepat mungkin. Papa juga bilang ingin melindungiku dan memilih beberapa hari tinggal di sini sampai suasana sedikit kondusif. *** Pintu yang digedor tengah malam membuatku yang baru saja terlelap sontak terjaga dan menajamkan indera telinga. Tak salah, ada suara seseorang yang meracau di ruang tamu. Berteriak teriak seperti kerasukan. Yakin dengan siapa yang datang, buru-buru aku mengenakan kimono dan terburu ke sumber suara. Mas Raga. Pria itu sepertinya habis mabuk-mabukan dan meracau tidak jelas. Di tangannya ada botol alkohol. Dia seperti orang yang kesurupan. Terus berbicara tentang hal yang tidak jelas dan sesekali mengumpat menyebut namaku. “Zea … Zea … akhirnya kau turun juga. Dasar istri tidak berguna, pembangkang. Kau menghancurkan hidupku dengan perbuatan konyolmu itu!! Dan sekarang, apa kau sudah puas melihatku hancur, heh?!” Aku melipat tangan di d**a. Ingin tahu sejauh mana dia menjelek-jelekkanku, terlebih papa dan mama baru keluar dari kamar dan berdiri memperhatikan pria itu. “Zea, sebaiknya ajak dia ke kamar dan suruh dia tidur, agar tidak meracau panjang lebar. Siapa tahu anak-anak terbangun dan mendengarnya. Itu tak baik bagi kesehatan mental mereka,” saran dari Papa kubalas dengan gelengan kepala. “Buat apa, Pa?! Biarkan saja dia bicara sesuka hatinya. Aku udah yakin anak-anak tidur lelap di kamarnya.” “Ya sudahlah, kalau kamu bisa menghadapinya. Hati-hati, orang yang mabuk bisa bertindak kasar. Sebaiknya kamu tenangkan dia,” pesan papa lagi yang kubalas dengan anggukkan. Kedua orang tuaku kembali langsung masuk ke dalam kamar, meninggalkanku yang mulai menapaki tangga satu persatu untuk lebih dekat pada pria yang sudah tidak sadar itu. “Seharusnya kamu berpikir sebelum melakukannya, Mas. Aku bukan wanita yang akan diam saja setelah lelah bersabar. Bahkan semut pun akan menggigit bila terus-terusan disakiti. Aku juga demikian. Semakin besar rasa sakit yang kau berikan, maka semakin kuat balasan yang akan kau terima.” Aku bicara seorang diri. Melihat pria yang masih berstatus sebagai suamiku itu mulai bergumam tidak jelas. Matanya sudah terpejam seiring bau alkohol yang menyeruak masuk ke hidung. Mas Raga menjatuhkan diri di sofa dengan keadaan terduduk. Matanya terpejam setelah kelelahan. Gegas kupasang bantal sofa dan kubaringkan dia di sana. Tak ketinggalan, kulepas sepatu dan kaos kakinya agar pria itu nyaman. Tak lupa gesper dan kancing kemeja bagian atas kulepas beberapa agar dia tidak merasa engap. Terakhir, kuambil selimut dari kamar tamu untuk menutupi badannya. Silahkan istirahat Mas, karena esok kamu mungkin akan menghadapi hari yang semakin berat. *** “Ih, Papa bau ….” “Iya, Papa bau.” Suara Afni dan Dika memecah sunyi. Mereka membangunkan Mas Raga dari tidur lelapnya. Kedua anak itu sampai menutup hidung. Hampir jam delapan siang saat pria itu terduduk sambil memijat kepalanya berat. Anak-anaknya membangunkan papanya untuk kemudian melayangkan ciuman di pipi kanan dan kirinya. “Pagi anak-anak Papa,” ucap Mas Raga dengan suara serak. “Papa, ini bau apa, ya? Aku belum pernah cium bau ini?” tanya Afni polos. Mas Raga melirik padaku. Aku pura-pura mengaduk sus* hangat untuk kedua anaknya. “Kamu udah sadar, Mas. Baguslah.” Mas Raga melengos dan berdiri limbung. Dia memijat ruang diantara alisnya. “Papa mau mandi dulu, ya. Nanti kita main bareng,” ucapnya yang dibalas antusias oleh keduanya. Mas Raga berlalu setelah melihatku dan mendesah. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Kulihat dia masuk ke kamar utama, namun setelahnya buru-buru keluar lagi. Pasti dia bingung mencari barang-barang miliknya yang sudah tidak ada di sana. Ya, semalam semuanya kukemas dan kukirim pada seseorang yang sekarang lebih berarti di hatinya. “Zea, kamu kemanakan barang-barangku?! Jangan bilang kalau kamu membuangnya. Kamu tahu ‘kan kalau semuanya barang berharga dan bernilai?!” Mas Raga mencecarku dengan beberapa pertanyaan setelah mendekat ke arah pantry. Aku tersenyum menanggapinya, “itulah makanya barang-barang Mas kukirim ke tempat yang paling berharga, hingga kamu akan berterima kasih sekali padaku.” “Maksudnya?!” tanya pria yang masih setengah limbung itu bingung. Terlihat dengan kerutan diantara kedua alisnya. “Hm, tanya aja pada pasanganmu. Mungkin barang-barangmu sudah sampai ke sana. Kebetulan semalam aku menyuruh kurir untuk mengantar.” “Maksudnya kamu mengirimnya ke rumah Sheva?!” terka Mas Raga yang kubalas dengan anggukan kecil dan senyum tipis. Tepatnya senyum pura-pura. “Si⁴lan!!” “Iya, tentu saja. Aku tahu kamu terlalu repot hingga hanya ragamu yang sampai di sana dan berbuat m***m. Kamu sampai melupakan barang-barangmu, Mas. Makanya dengan sukarela aku serahkan semuanya pada wanita itu. Tujuannya juga biar kamu nggak bolak-balik ke rumah ini tentu saja. Juga nggak banyak alasan untuk berinteraksi denganku,” balasku dingin namun penuh penekanan Mas Raga mendengus kesal sambil meremas rambutnya dengan kasar. “Apa kau sudah gila, Zea?! Kenapa kau bertindak sejauh ini, hah?! Kau pikir setelah apa yang kau lakukan dengan mengumbar aibku, lantas kau bisa sebebas itu membuangku termasuk mengeluarkan barang-barang pribadiku dari rumahku sendiri, begitu?!” Aku masih menanggapinya santai sambil duduk di kursi makan. “Kenapa tidak? Rumah ini dibuat atas namaku, dan jika kita berpisah tidak masuk dalam harta gono gini karena aku sudah mengatasnamakan untuk kedua anakku. Jadi—” “Zea!!” “Pelankan suaramu, terutama di depan anak-anak!!” Suara lantang dari arah belakang membuat Mas Raga menelan ludah dan berbalik ragu. Lututnya terlihat lemas, melihat siapa yang kini tengah menatapnya dengan pandangan garang. “Papa!” Mas Raga tergagap melihat papa yang melotot ke arahnya. “Jadi, sekasar ini kamu perlakukan anakku selama ini? Iya?!” Heh, kena kamu, Mas!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD