Bab 6

993 Words
“Papa, Mama, kapan kalian datang?!” Mas Raga bertanya yang kutahu hanya basa-basi. “Kenapa memangnya kalau kami datang. Apa kamu keberatan dengan kehadiran kami di rumah ini?!” Mas Raga buru-buru menggeleng. Wajahnya diliputi dengan keterkejutan, “bu-bukan begitu maksudku, Pa.” “Kami tidak tahu kalau seperti itu bahasamu kepada putri kami, Raga. Setelah dulu kau memintanya baik-baik untuk meminang putriku dan berjanji akan menemaninya dalam suka duka dan berjanji akan membahagiakannya, sekarang selain berkata keras di depan wajah istri dan anak-anakmu, kau juga berani mengkhianati dan menduakannya. Bahkan ternyata hubunganmu dengan wanita itu sudah selayaknya pasangan suami istri. Ck, kami benar-benar kecewa padamu. Apa kamu tidak sadar, kami membesarkan Zea untuk hidup bahagia bukan untuk disakiti apalagi disia-siakan seperti ini.” Papa bicara panjang lebar dengan rahang mengeras. Mas Raga yang tidak berkutik malah menggeleng berkali-kali. “Aku minta maaf, Pa,” ucapnya sambil menunduk. “Kamu tidak menyesalinya, ‘kan?!” tebak Papa mendesah. Pria paruh baya itu melepas kacamata untuk kemudian mendekat ke arah pria yang masih berstatus sebagai menantunya. “Apa maksud Papa?!” Mas Raga tampak tak terima dengan ucapannya barusan. Papa mempersilahkan pria itu untuk duduk di kursi dan mengobrol serius. “Begini saja, Raga. Jika kamu sudah tidak menyukai Zea, alih-alih terus-terusan menyakitinya kenapa kamu tidak membereskan dulu semuanya. Kembalikan dia pada kami, agar kau juga bebas menikahi wanita itu. Jangan terus-terusan larut dalam dosa zina, ingat hukumnya berat. Dunia akhirat kami tidak ridho. Apalagi semuanya sudah terlanjur tersebar sekarang. Jadi, apalagi yang kau tunggu.” Papa menghembuskan nafasnya. “Jangan membentak putriku karena kami juga tidak pernah melakukannya. Hargai dia sebagaimana pertama kali kamu memintanya pada kami. Dan jika kamu tidak sanggup, kami tidak akan memberatkanmu untuk terus-terusan menjaganya. Kembalikan dia.” “Pa, aku tidak berpikir jauh itu. Aku hanya khilaf.” Setelah semuanya terungkap, pria itu masih melakukan pembelaan. Dih, dasar tidak tahu malu. “Hanya khilaf, katamu?! Khilaf itu satu kali Raga, kalau terus-terusan itu namanya doyan,” sahut Mama yang sepertinya ikut geram. Pria itu kemudian disidang di ruang tengah. Sengaja kubiarkan orang tuaku yang mengobrol dan menasehati Mas Raga. Aku sendiri sibuk menyiapkan sarapan untuk semua orang. Beruntung anak-anak langsung diajak mandi oleh Mbak Dina. Hingga mereka tidak perlu mendengar obrolan kakek, nenek dan papanya. Belum selesai Papa mengobrol dengan Mas Raga, tiba-tiba Arvan mendekat dengan selembar surat yang dibawanya. “Maaf Pak Raga, Bu Zea, ada surat panggilan untuk kalian,” ucapnya dengan wajah serius seperti biasanya. “Surat?!” Arvan mengangguk. Mas Raga buru-buru berdiri dan mengambil alih kertas berwarna krem itu, untuk kemudian dibacanya. Melebarkan mata, pria itu melirik ke arahku. Meski pandangannya tidak terlalu garang, jelas dia terkejut dan tak bisa menutupi wajah gelisahnya. “Surat dari mana itu, Mas?!” Kuambil lembaran putih itu setelah menghidangkan minuman di atas meja, kemudian membacanya dengan cepat. Rupanya itu surat panggilan dari perusahaan maskapai yang kini menaungi suamiku. “Kita diminta datang ke kantor siang ini,” ucapnya dengan desahan, demi melonggarkan paru-parunya yang terasa sesak. “Oke, aku pasti akan datang,” sahutku tenang. Aku pergi ke dapur meninggalkan mereka. Aku yakin lambat laun hal ini akan terjadi juga. Sebelumnya sempat kudengar kabar tentang teman Mas Raga yang juga kedapatan berselingkuh bahkan sampai nikah siri. Mereka pun dipanggil ke kantor tempat mereka bekerja, untuk kemudian ditindaklanjuti dan menerima sanksi yang harus diterima oleh para pelaku yang dinilai telah mencoreng nama baik perusahaan. “Permisi, Pa, Ma.” Mas Raga menyusul ke dapur dan menutup pintu dengan cepat. Dia mendorongku hingga punggungku terantuk sink kitchen. “Apa-apaan ini, Mas?! Kau mau berbuat kasar padaku di belakang orang tuaku?!” “Kau lihat, baru dua hari kamu melakukan hal ini, orang-orang langsung menanggapinya. Apa kau tidak bayangkan apa yang akan atasan lakukan padaku nanti, ha! Mereka marah karena aku memikul tanggung jawab yang besar dan membawa nama-nama perusahaan!!” “Dan kau masih menyalahkan aku. Begitu maksudmu?!” “Memangnya siapa lagi yang harus ‘ku salahkan?! Tentu saja kamu lah. kalau saja kamu tidak menyebarkan semuanya, hal ini tidak akan terjadi,” tudingnya. Mas Raga bicara dengan pikiran gusar. Aku mencebik, menatap dengan pandangan paling menyedihkan. “Semuanya tidak akan terjadi kalau kau tidak berbuat zina lebih dulu!” “Diam, jangan terus-terusan mengungkit apa yang sudah aku lakukan?!” sentaknya kasar. Kutatap pria itu dengan pandangan tajam. “Apa kamu tidak berpikir kalau ini adalah benih yang kau tanam, hm?! Aku hanya membantu menyebarkannya saja dan kau yang harus merasakan buah akibat dari perbuatanmu sendiri!!” “Zea, kau masih tidak sadar juga atas semua kesalahanmu ini?!” geramnya sambil meremas bahu, sakit. Bisa kupastikan dia kesal karena aku terus-terusan mematahkan argumennya. Aku mendorong dadanya membuat Mas Raga agak mundur ke belakang. “Yang tidak sadar di sini, aku atau kau sebenarnya, Mas?! Ini adalah buah kesalahan yang kau lakukan. Jadi jangan coba-coba bermain api kalau kau tidak ingin terbakar sendiri. Dan setelah kau terbakar, kenapa kau menyalahkan orang lain yang ada di sekitarmu, hm?! Terima saja dan hadapi kenyataan kalau kau sudah hancur sekarang!! Aku yakin surat panggilan itu untuk mengesahkan pemecatanmu dari kantor secara tidak hormat.” “Sial4n!!” Mas Raga kalap. Aku hendak berbalik meninggalkan pria itu. Percuma bicara dengan Mas Raga. Pria itu tidak sadar dan tidak menyesali tindakan yang sudah dia lakukan, yang bisanya hanya menyalahkan orang lain saja. Ck! Dasar pria egois. Berani berbuat tidak berani bertanggung jawab. Mas Raga menahan dan meremas bahuku dengan cepat, lalu berbisik di telinga. “Dengar Zea, kalaupun aku dipecat, aku tidak akan pernah melepaskanmu begitu saja, karena semuanya bermula darimu. Ingat itu baik-baik. Kalau perlu, aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang, apalagi lepas dariku dan anak-anak. Camkan itu baik-baik!!” ancam pria itu sambil menyenggol bahu dan meninggalkanku untuk kemudian membanting pintu. Aku yang limbung terkejut dengan tingkahnya yang semakin lama semakin menjadi-jadi. Aku bahkan tidak menemukan kelembutan dari sikap dan perangainya. Ya Tuhan, aku semakin tidak mengenal suamiku sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD