Bab 7

1475 Words
Papa dan Mama berjengit kaget mendengar pintu yang ditutup kasar oleh Mas Raga. Keduanya menatap pria yang berlalu dengan amarah di wajahnya. Mas Raga tidak memiliki pakaian lagi di rumah ini. Semuanya kukirimkan tanpa sisa. Biar si Sheva yang mengurusnya mulai sekarang. Mau tak mau pria itu keluar dari rumah. Tapi baru sampai di ambang pintu, ponselnya tiba-tiba berdering. Gegas dia melihat layar ponsel miliknya untuk kemudian mendekatkan ke telinga. Hanya beberapa detik setelahnya, terlihat wajah itu semakin nyalang berbalik menatapku dari kejauhan. “Tunggu aku di luar,” ungkapnya entah pada siapa sambil berjalan cepat. Penasaran, aku memburu ke arah pintu dan mendapati tontonan yang cukup menarik. Gundik itu ada di sana. Dia semakin berani menampakan dirinya di lingkungan rumahku. “Dia pasti yang melakukannya. Dia ingin mengusirmu dari rumahmu sendiri, Mas. Apa kau akan membiarkan barang-barangmu menumpuk di teras rumahku?!” tunjuk Sheva ke arahku. “Tenang, She. Jangan bikin keributan sekarang. Ada mertuaku di sini. Nanti aku pikirkan mau disimpan dimana.” “Dan kau takut pada mereka?!” Sheva mendelik kesal, “oh, ayolah Mas, selama ini hanya kamu yang mencari nafkah. Dia bahkan tidak memiliki andil untuk pembangunan rumah ini.” “Sstt, aku hanya tak mau menambah masalah. Tolong mengertilah posisiku, She.” Mas Raga menjawab pelan tapi masih bisa kudengar. “Pokoknya aku tak mau tahu. Cepat bereskan semuanya atau aku akan marah sama kamu.” “Iya, sekarang tenang dulu, ya. Nanti sepulang dari kantor kita urus semuanya.” Aku bersilang tangan di d**a memperhatikan keduanya yang tampak serius ketika membicarakanku. “Berani sekali mereka menampakan batang hidungnya di sini. Apa perlu Papa memberi mereka pelajaran?!” ujar Papa yang tahu-tahu sudah berdiri di belakangku. Pria paruh baya itu menatap sangit pada keduanya. “Biarkan saja, Pa. Mereka memang pasangan serasi. Sepasang pezina yang tidak pantas untuk kita ladeni.” Mas Raga pun pergi setelah menarik paksa si gundik dan masuk ke dalam mobilnya. Dan aku memilih meneruskan aktivitas menyiapkan sarapan untuk keluargaku. Tengah hari aku bersiap pergi ke kantor suami. Mama dan Papa menugaskan Arvan untuk ikut mendampingi. Mungkin takut kalau Mas Raga dan gundiknya berbuat macam-macam setelah mendengar keputusan dari atasannya nanti. Sampai di sana, aku melenggang masuk ke dalam tapi malah berpapasan lagi dengan keduanya. “Zea, tunggu!” Aku berjengit dan menoleh ke samping. “Mas Raga?” Aku hampir tidak mengenali mereka, seandainya tidak mengenali kemeja hijau yang dipakai oleh suamiku. “Mau apa lagi kamu, Mas?” Pria berkacamata dan bermasker serba hitam itu mengangsurkan satu masker untuk kupakai. “Ini, maksudnya?!” Keningku berkerut heran. “Pakai! Kamu tak mau jadi pusat perhatian, ‘kan?!” “Tak perlu, aku bukan artis. Ngapain pake nutup wajah segala?!” “Ck, kamu mungkin bukan artis, tapi akibat ulahmu semua orang jadi mengenal kita. Aku malu dan tak mau jadi cemoohan banyak orang. Makanya kamu harus memakai masker juga,” ucapnya menegaskan. “Heh, jadi itu alasannya.” Mas Raga menatapku dengan pandangan kesal, mungkin karena melihat senyum merendahkan terbit dari bibirku. Kuturuti keinginannya karena malas berdebat. Sementara kulihat si gundik sudah selesai memarkirkan mobil dan berjalan cepat ke arah kami. “Ayo, Mas,” ajaknya sambil menggamit lengan suamiku. Aku menggeleng pelan dan mengekor dari belakang sampai masuk ke dalam lift. Melihat Sheva yang bergelayut manja di lengan suami, membuatku geli sendiri. Kekanakkan sekali tingkahnya. Apa memang setiap pelakor bertingkah agresif di depan istri sahnya, seolah menegaskan kalau dia lebih berharga dan lebih segala-galanya. Miris. Ting! Lift terbuka dan sampai di tempat yang dituju. Sheva buru-buru menarik tangan Mas Raga dan menyenggol bahu. Otomatis aku oleng dan hampir menabrak pintu. “Bu Zea, tidak apa-apa?!” Aku melirik pada Arvan yang bertanya. Dia menahan bahu agar aku tidak jatuh. “Aku baik-baik saja. Untung ada kamu. Makasih.” “Sudah tugas saya, Bu.” Aku mengangguk pelan dan keluar dari lift. Berjalan di lorong kemudian berdiri pada pintu ruangan yang terbuka setengahnya. Seorang wanita berpakaian rapi menyuruh kami bertiga masuk ke tempat meeting. Ada belasan kursi yang berjajar rapi menghadap pada meja panjang di depannya. “Tentunya Pak Raga sudah tahu alasan kami memanggil ke sini, bukan?!” Pria bernama Danu berdiri selaku pembicara. Mas Raga dan Sheva mengangguk pelan. “Iya, Pak Danu. Saya siap menerima sanksi, tapi saya tidak terima seandainya saya dipecat. Selain saya memiliki jam terbang yang cukup tinggi dan patut kinerja saya diperhitungkan, saya sudah menjadi pilot senior di sini dalam usia yang relatif masih muda. Kurang lebih semoga itu jadi bahan pertimbangan Pak Danu. Begitu pula dengan Sheva, masa depannya masih panjang. Selama ini dia tidak memiliki catatan merah. Jadi tolong berikan kami keringanan,” ucap Mas Raga menghiba yang cukup membuatku kesal. Pria itu, setelah apa yang diperbuatnya, dia masih memiliki pembelaan dan merasa layak diperhitungkan. Huh! “Baik, kalau itu harapan, Pak Raga. Tapi kami tentu melihat dari kejadian yang terjadi, dan kabar berita yang terus menyeret maskapai perusahaan ini. Dan tim juga sudah mengadakan pertemuan untuk memberi sanksi pada kalian.” “Asal tidak dipecat, kami terima apapun konsekuensinya dan asal itu tidak terlalu menyulitkan kami,” balas Mas Raga yang sepertinya masih tidak terima karirnya akan terhenti begitu saja setelah skandalnya terungkap ke ruang publik. Pria tampan di depannya itu tersenyum kemudian membuka lembaran putih di depannya. “Seharusnya Pak Raga berpikir sebelum bertindak, lagi pula istri secantik itu kok bisa dikhianati. Padahal kemana-mana juga pasti orang-orang akan berpikir, lebih baik istri sendiri daripada wanita yang belum sah. Iya, ‘kan?” “Itu urusan saya dan Pak Danu tidak perlu ikut campur,” sahut Mas Raga cepat. Disaat seperti ini pria egois itu masih tidak terima atasannya membanding- bandingkan aku dengan si Sheva, yang memang kalau diteliti wajahnya hanya cantik karena bantuan make up, tidak ada inner beauty sama sekali. Dih, tapi yang namanya kucing garong, apapun ya, diembat juga, tak peduli ada ikan mas di rumah, nemu ikan tongkol berbau basi di luaran pun dinikmati juga. Keputusan disepakati bersama. Aku diminta menandatangani surat pernyataan dan tak boleh menyebarluaskan aib suami dan gundiknya ke publik. Mereka juga memperhitungkan kinerja suamiku yang cukup bisa dibanggakan. Mas Raga hanya dikenai sanksi selama 6 bulan dirumahkan tanpa digaji, sementara gundiknya tak jauh berbeda. Empat bulan dirumahkan tanpa digaji, dan setelahnya nanti akan dipindahkan ke maskapai lain, sebagai hukuman atas perbuatan mereka. “Mas, hanya hukuman begitu saja aku sih bisa terima. Makasih udah memperjuangkan aku, ya.” Sheva bergelayut manja. Terlihat keduanya lega setelah keluar dari dalam ruangan. Aku memilih pergi bersama Arvan, tak guna meladeni mereka yang sepertinya ingin pamer kemesraan padaku. Tapi sepertinya mereka tak akan puas sebelum membalasku. Terbukti dengan suara yang tiba-tiba masuk ke telinga. “Tunggu, Zea!” Sheva memanggil. Enggan menanggapi aku melangkah lebih cepat, tapi wanita yang tidak tahu malu itu malah menarik bahu, bahkan setelah Arvan mencegahnya. “Tolong jangan kasar, Bu.” “Minggir kamu! Lupa siapa yang menggaji kamu selama ini? Mas Raga sudah keluar banyak uang untuk memperkerjakanmu dan melindungi anak-anaknya!” Sheva melirik malas pada Arvan. “Mau apa lagi kamu?! Mau pamer dan menunjukkan padaku, kalau kamu tidak akan bisa lagi aku permalukan di hadapan publik. Begitu maksudmu?!” sergahku cepat, tak tahan dia membawa-bawa Arvan segala. “Itu ‘kan memang keinginanmu membuat karir kami berdua hancur. Tapi untungnya mereka masih peduli. Jadi, sebaiknya kamu turuti atau kena sanksi. Lagian tak ada yang salah dengan orang yang sama-sama jatuh cinta, ‘kan?!” ucapnya dengan senyum mencibir. “Receh sekali pikiranmu itu, Sheva. Tapi aku cukup puas karena selama 3 bulan ini kamu tidak memiliki pekerjaan dan pemasukan. Dan … aku rasa kamu dan Mas Raga terlihat serasi sebagai dua pengangguran tukang selingkuh. Kalau aku boleh kasih saran, nih, kenapa tidak kalian manfaatkan kebersamaan kalian dengan menghalalkannya di depan penghulu. Itu lebih baik daripada berzina. Dan di mataku, kamu terlihat seperti kambing yang kapan saja bisa dijajah sembarang pria. Ups,” hinaku tanpa peduli dia makin emosi. “Cukup, Zea! Jangan kurang ajar. Jangan mentang-mentang kamu dinikahi dan memiliki buku nikah, lantas kamu bisa bicara seenaknya padaku!!” hardik wanita bermake up tebal itu, yang semakin membuat rona wajahnya memerah. “Heh, memangnya kenapa? Bukankah memang begitu kenyataannya? Kau hanya dipakai jika dibutuhkan, kemudian ditinggalkan dan tidak ada tanggung jawab untuk dinafkahi ataupun diberi perlindungan. Karena sekali lagi, kamu sama seperti binatang yang tidak punya payung hukum. Lain halnya kalau dinikahi secara resmi dan dinafkahi, maka aku akan terkagum padamu. Lagipula kata-kata terakhirmu di Surabaya waktu itu, cukup menyadarkan aku untuk melepas dia untukmu.” “Mas, kamu dengar apa yang dikatakannya padaku?! Dia menghinaku, bahkan dia merendahkanku, Mas. Jangan diam saja saja sementara aku terus dihina dong. Gimana sih kamu?!” tuding si wanita pada pasangan selingkuhnya. Dia sampai mengguncang lengan Mas Raga yang bergeming. Kulihat Mas Raga tak bereaksi apa-apa. Hanya saja terlihat wajahnya yang kian memerah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD