“Cukup, She. Tidak usah menambah perkara. Kita sudah mendapatkan hukumannya, sebaiknya tak perlu berdebat lagi. Ayo kita pergi dari sini,” ajaknya pada si gundik sambil menarik tangannya.
“Jangan lupa beli kondom, atau kalau tidak kau akan bunting sebelum dinikahi!” Aku berseru pada pasangan yang langsung menahan langkah, untuk kemudian berbalik dengan pandangan nyalang.
“Kau lihat ‘kan Mas, bagaimana mulut berdurinya itu terus-terusan menghina kita!! Dan kau masih membiarkan wanita itu menghinaku tanpa berbuat apa-apa!!”
“Zea akan terus berbicara, baik kita ladeni atau kita abaikan. Jadi, tak usah pedulikan dia. Ayo pergi.” Kali ini Mas Raga bahkan sampai melingkarkan tangan di bahu wanita itu.
Aku memejamkan mata sekilas, merasakan nyeri yang bertubi-tubi dalam d**a. Bohong jika aku merelakan mereka. Nyatanya melihat mereka bermesraan saja, hatiku yang sedang terluka seperti berkali-kali disiram air garam saking perihnya.
***
Papa dan mamaku berdecak kesal saat kuceritakan kalau mereka hanya diberi hukuman ala kadarnya. Papa bahkan sampai mendesah panjang memikirkannya.
“Jadi, apa rencanamu selanjutnya?!” tanya Mama dengan pandangan sedih.
“Apalagi Ma, tentu saja aku akan mengajukan gugatan perceraian. Aku tidak mau berbagi suami, apalagi menahan lebih lama kesakitan ini,” ucapku perih.
“Hm, setelah apa yang terjadi, tidak bisakah kamu memaafkannya saja?!”
“Ma, apa dia ada itikad baik untuk minta maaf padaku, atau minimal menyesali perbuatannya dan menjauhi wanita itu?! Tidak Ma, bahkan dia datang dan pulang berbarengan dengan wanita itu. Mereka saling merangkul dan terlihat mesra. Apa Mama pikir aku tidak sakit hati diduakan seperti ini? Belum lagi saat melihat keduanya di hotel waktu itu. Mereka bukan sekali dua kali bermaksiat, Ma!” jawabku berapi-api. Untuk pertama kalinya aku mendebat ucapan Mama dengan emosi.
Papa terkekeh, “jangan emosi, mamamu ‘kan cuma bertanya. Bagaimana dengan anak-anak sendiri. Apa mereka tak akan jadi korban seandainya kamu memilih perpisahan?”
“Banyak kok single parent yang sukses mendidik anak-anaknya sampai besar tanpa didampingi seorang suami Pa, jadi tidak usah berpikir ke arah sana. Doakan saja yang terbaik untuk kami, insya Allah aku kuat.”
“Iya, Papa dan Mama pasti mendoakan yang terbaik untukmu, Zea. Tapi ya, sepertinya kami tidak bisa berlama-lama tinggal di sini. Pekerjaan menanti Papa. Ada proyek yang mesti disetujui. Lagi pula kami kembali ke kota ini karena terkejut mendengar perbuatan suamimu,” ucap Papa menjelaskan.
“Ya udah, nggak apa-apa. Nggak usah khawatir juga, insya Allah aku dan anak-anak akan baik-baik saja di sini.”
“Oke, kalau begitu mungkin malam ini kami balik ke Bandung,” ucap Papa lagi.
***
Sebagai pengganti rasa bersalah karena tak bisa lebih lama berkunjung, orang tuaku mengajak kami makan malam di restoran terkenal di kota ini. Papa sudah reservasi tadi sore jadi tinggal datang saja.
Kami duduk berlima. Mbak Dina dan Arvan juga ikut mendampingi, hanya saja mereka berdua memilih meja lain karena tidak mau mengganggu keakraban sebuah keluarga, katanya. Padahal aku tidak masalah dengan kehadiran mereka yang sudah kuanggap seperti keluarga sendiri.
Mama dan Papa lebih banyak bercengkrama dengan kedua cucunya. Katanya entah kapan lagi mereka akan kembali ke kota ini untuk bercengkrama dengan Afni dan Dika.
Aku sendiri menikmati makananku yang memang sangat cocok sekali di lidah. Papa dan Mama sering makan di restoran ini, dan jadi pilihan utama kalau singgah. Biasanya kami makan bareng Mas Raga, tapi kini sepertinya aku harus membiasakan diri hidup tanpa suami.
“Lho, Zea. Bukannya itu suamimu dan si Sheva?! Berani sekali mereka mempertontonkan kemesraan mereka di depan umum.” Mama menunjuk ke meja paling ujung dengan pandangan kesal.
Benar, Mas Raga dan Sheva ada di sana. Keduanya tengah bersulang entah merayakan apa.
Miris, pelakor jaman sekarang tidak ada rasa malunya bahkan setelah publik mengecam perbuatan keduanya.
“Aku mau ketemu sama papa, ah.”
Afni langsung turun dari kursinya dan berlari, sementara Arvan sigap mengejarnya. Tak ketinggalan, Dika yang berusia hampir 3 tahun ikut menyusul kakaknya.
“Papa … Tante Sheva ….!”
Pasangan adik kakak itu memanggil. Mas Raga yang terkejut langsung berdiri, mungkin tidak menyangka akan bertemu di tempat ini.
“Kalian ada di sini?” tanya Mas Raga.
“Iya, bareng semuanya.” Tatapan pria itu beralih padaku.
Aku melengos dan membuang muka, sementara papa dan mama tak mengindahkannya sama sekali, bahkan ketika pria itu mendekat untuk mengantarkan anak-anak.
“Pa, Ma, aku tidak tahu kalau Papa dan Mama juga akan makan malam di tempat ini.”
Mas Raga basa-basi yang ditanggapi dengan cuek. Orang tua mana yang tidak sakit hati melihat putrinya dikhianati, apalagi mereka terang-terangan menunjukkannya di depan umum tanpa malu sama sekali.
“Zea, kalau sudah selesai makannya, kita pulang. Papa dan Mama harus berkemas dan balik ke Bandung.”
Mama mengalihkan pembicaraan membuat Mas Raga mati kutu karena diabaikan. Pria itu kemudian membawa anak-anak kembali ke tempat duduknya, sementara kulihat Sheva tak terima dinner-nya terganggu dengan kehadiran dua buah hati suamiku.
“Mereka anak-anakku juga, She. Jadi jangan terlalu kasar. Biasanya kamu juga main ke rumah dan bercengkrama dengan mereka, ‘kan?!”
Masih kudengar percakapan antara Mas Raga dan gundiknya, sementara Mama dan Papa sudah masuk ke dalam mobil, memilih menunggu anak-anak di sana.
“Iya, tapi nggak pakai mengganggu acara kita juga kali, Mas.”
“Mas ngerti. Tapi siapa yang menyangka kalau Zea dan keluarganya akan datang ke tempat ini juga.”
“Huh, menyebalkan banget sih dia! Kayak nggak ada tempat lain aja,” gerutu wanita itu saat aku mendekat untuk menghampiri.
“Makanya lain kali kalau selingkuh pilih pria yang single dan belum punya anak. Biar apa yang kalian lakukan tidak ada yang mengganggu. Lain halnya jika kau berselingkuh dengan Mas Raga. Dia memiliki dua anak yang pasti tidak akan gugur kewajibannya. Atau lain kali aku harus mengirim mereka ke rumahmu, agar kamu tahu bagaimana rasanya mengurus dua anak yang sedang aktif-aktifnya. Selain itu juga, kalau kamu ingin bapaknya, jangan lupa terima anaknya juga.”
Kulihat Sheva menganga mendengar penuturanku. Aku tidak peduli. Kuusap kepala anak-anak dan mengajaknya pergi, tak lupa keduanya mencium tangan papanya untuk pamitan.
“Zea, malam ini masa akan pulang. Jadi, jangan—”
“Tidak perlu repot-repot, Mas. Malam masih panjang, silakan saja nikmati berdua mumpung kalian masih senggang. Karena setelah Afni dan Dika rindu pada papanya, mungkin mereka akan merepotkan kalian berdua,” jawabku sambil berlalu. Puas rasanya membalikkan perkataan hingga membuat si gundik mendengus kesal.