“Ya ampun, Mama tidak habis pikir kalau mereka akan secepat ini go publik. Bener-bener nggak tahu malu. Mama kira si Raga nyesel setelah kamu permalukan. Ternyata malah sebaliknya.”
Mama terus menggerutu seiring mobil yang melaju untuk membawa kami pulang. Papa yang menyetir tak banyak bicara. Tapi jelas ikut menyesalkan kelakuan Mas Raga juga.
“Ya udahlah, Ma. Mau bagaimana lagi. Biasanya ‘kan bukan hanya makan malam, bahkan lebih dari itu pun mereka sanggup,” timpalku menegaskan fakta tentang mereka pada mama.
Mama mengangguk lagi,” iya sih, kalau udah gini Mama mendukungmu untuk mengajukan gugatan perceraian. Mama nggak mau punya menantu seorang pezina, terlebih dia tidak memiliki rasa malu dan tidak punya rasa bersalah sedikitpun pada kamu dan anak-anakmu.”
Benar kata Mama. Setelah mendapat dukungan dari keduanya tekadku semakin bulat untuk mengakhiri semua, lagi pula kesabaran yang kubangun selama ini sudah terkikis habis pada Mas Raga yang berulang kali mengkhianati.
Keesokan paginya. Aku bisa tidur dengan nyenyak setelah selama ini gelisah, terutama memikirkan suamiku yang tidak pulang padahal tidak ada jadwal fly.
Ah, ternyata berusaha melepaskan itu jauh lebih baik daripada tersiksa menahan seluruh pikiran buruk.
Tersiksa karena setiap waktu dihantui rasa takut. Takut kalau suami sedang bersama dengan wanita lain, takut kalau suami sedang berselingkuh, lebih takut lagi kalau suami tidak pulang dan tidak memikirkan anak-anaknya. Semua pikiran buruk tidak terus menghantui dan membuatku lelah jiwa dan raga.
Ya, ternyata dulu aku sebodoh itu. Cinta dan pernikahan yang kugenggam erat, lepas meronta dan pindah ke lain hati. Dampaknya aku terus menahan rasa sakit dan berpikir kalau semuanya akan kembali baik-baik saja, dan berpikir kalau suamiku akan berubah lalu kembali lagi ke pelukanku.
Ternyata semuanya salah. Setelah Sheva menegaskan keadaanku yang terlihat sangat menyedihkan, ternyata melepaskan itu jauh lebih baik daripada mempertahankan tapi tidak dihargai.
Kuhubungi Wike— yang seorang pengacara. Hari ini aku janjian bertemu dengan wanita itu. Sengaja mendatangi rumahnya bersama anak-anak, takutnya kalau pergi ke kantor atau bertemu di luaran sana, terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Misal bertemu orang-orang yang mengenalku di medsos atau lebih parahnya lagi bertemu dengan Mas Raga dan mengacaukan segalanya.
“Zea, aku tidak menyangka kalau Raga ternyata seperti itu. Dan hebatnya kamu, setelah berkali-kali diselingkuhi tetap saja menutupi kebejatannya dan berulang kali menerima. Entahlah kalau jadi aku, mungkin sudah kuputuskan tuh batangnya agar dia jera. Aku nggak sehebat kamu yang bisa memaafkan meskipun ujung-ujungnya ternyata mempertahankan seseorang yang sulit untuk digenggam itu berat juga, ya.”
“Udahlah, Wi. Jangan mengingatkanku tentang kebodohan itu lagi. Sekarang pikiranku tercerahkan akibat perkataan si pelakor itu.”
“Dia yang memintamu berpisah dan kamu langsung menurutinya begitu saja?!” tanya wanita di depanku setelah mengangsurkan teh untukku minum.
Aku menggeleng, “ternyata selama ini aku yang salah. Aku sudah dibutakan oleh cinta makanya terus-terusan mempertahankan dia di sisiku, sementara hatiku sendiri terluka dan tersakiti, hingga lama-lama aku tidak memiliki harga diri, bahkan setelah diinjak habis-habisan. Dan sekarang, aku ingin mengakhiri semuanya. Aku ingin hidup baru setelah ikhlas melepaskan. Dan Wi, kamu mau ‘kan bantu aku menyelesaikan perceraianku dengan Mas Raga?!”
“Iya, pasti. Baguslah pikiranmu sudah terbuka sekarang. Jadi nggak perlu ada drama misal kamu berat melepaskan.” Wike menggenggam dua tanganku dengan erat sambil tersenyum manis.
“Kamu sudah siapkan apa saja yang aku minta?!” Aku mengangguk dan mengeluarkan beberapa dokumen dari amplop coklat. Wike langsung melihatnya dan mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.
“Semuanya sudah sesuai prosedur. Aku akan memberimu kabar nanti kalau gugatannya disetujui.”
“Kalau semuanya sudah lengkap seharusnya itu tidak menjadi ganjalan untuk perceraian kami, ‘kan?”
Wike menggeleng. “Tentu saja, lagi pula tidak banyak harta gono gini karena semuanya sudah diatasnamakan untuk anak-anakmu. Dan untungnya kamu cerdas juga, ya,” puji Wike padaku.
Aku tersenyum menanggapi perkataan dari Wike barusan. Memang sudah sejak lama setiap aku membeli properti berharga, aku selalu memakai nama anak-anakku agar suatu hari nanti Mas Raga tidak mengganggu gugatnya, mengingat itu bukan miliknya tapi milik anak-anak.
Ternyata hal itu cukup bermanfaat sekarang. Aku tidak perlu berbagi harta gono gini yang pasti pria itu akan memberikannya kepada si gundik tak tahu malu, orang yang tiba-tiba datang diatas pernikahan yang sebelumnya tenang.
Tiga hari tak datang, rumah benar-benar dalam keadaan aman dan nyaman. Tak perlu ada drama di pagi hari, tak perlu ada pertengkaran dan bertanya dari mana suamiku pergi selepas dinasnya.
Sampai ketika Arvan memburu ke dalam rumah dan mengatakan kalau Mas Raga ngotot ingin masuk dan minta dibukakan pintu gerbang.
“Memangnya mau apa lagi dia kemari, Arv. Kamu sudah coba untuk mengusirnya?” tanyaku pada Arvan.
Arvan mengiyakan, “Bu Zea tahu sendiri ‘kan bagaimana keras kepalanya Pak Raga. Dia tidak akan berhenti begitu saja, terlebih katanya kalian masih memiliki satu ikatan yang sah.”
“Iya, sih. Tapi ‘kan sebentar lagi jadi mantan,” ucapku pelan.
“Jadi bagaimana, Bu?!”
Aku menimbang-nimbang sebentar. Haruskah memasukkan pria itu kembali ke dalam rumah, sementara rasaku sudah muak padanya, dan aku hanya tidak ingin menambah pertengkaran, terlebih di depan anak-anak. Itu sungguh tidak baik untuk masa depan mereka.
“Jadi bagaimana Bu Zea, haruskah saya membukakan gerbang?” Arvan bertanya untuk yang kedua kalinya.
“Hm, sepertinya nggak ada pilihan lain. Suruh aja dia masuk,” ucapku pada akhirnya.
Arvan berlalu dan tak lama berselang Mas Raga masuk ke dalam rumah dengan wajah kesal yang dibawanya.
“Kur⁴ng ajar, mentang-mentang sudah berhasil menjatuhkanku lantas untuk masuk ke dalam rumahku sendiri sangat sulit untuk mendapat izinmu,” sentak Mas Raga begitu masuk ke dalam rumah dan melempar kunci mobil ke ujung sofa.
Aku menghela nafas sebelum menanggapinya.
“Inilah yang tidak aku suka darimu, Mas. Apa-apa kamu selalu menggunakan kekerasan, tak peduli meskipun aku menanggapinya dengan dingin, tapi emosimu yang meluap-luap itu sungguh membuatku lelah. Jadi daripada kamu datang ke sini hanya untuk mengajakku bertengkar, sebaiknya pergi saja dan bersenang-senang dengan wanita itu seperti yang kau lakukan selama ini.”
Jika biasanya aku menanggapinya dengan dingin kali ini kuharap perkataanku yang panjang bisa dimengerti oleh pria berpakaian santai tersebut.
Brakk!!! Mas Raga menggebrak meja. Kasar. Untung tidak ada anak-anak yang menyaksikan.
“Itu terus yang kau ungkit! Satu kesalahanku benar-benar fatal di matamu, hingga tiap waktu yang kau sebut hanyalah keburukanku, tanpa pernah kau berpikir bagaimana keadaanmu sendiri yang membuatku berpaling kepada Sheva!!” hardiknya membalikkan ucapanku.
“Oke, sekarang jelaskan apa keadaanku yang tidak kamu terima. Apakah karena aku hanya ibu rumah tangga biasa? Apa karena penampilanku yang sederhana? Atau apa karena aku sibuk dengan anak-anak hingga tidak memiliki waktu denganmu, begitu maksudmu, Mas?! Padahal kamu jelas tahu sendiri bagaimana perjuanganku untuk membesarkan anak-anak kita di samping kesibukanmu mencari rupiah. Jadi tolong pertimbangkan itu dan jangan asal menuduh kalau semuanya kesalahan terletak padaku!!” balasku tidak terima. Bisa-bisanya dia mengatakan kalau semua keadaanku yang membuatnya berpaling.