“Oh, jadi kamu benar-benar tidak sadar bagaimana dan apa kekuranganmu di mataku?” Mas Raga tersenyum meledek.
“Katakan saja meskipun itu menyakitkan! Itu lebih baik daripada kau terus-terusan menghianatiku tanpa tahu dimana letak kesalahanku!!” tantangku tak peduli seandainya Mas Raga membeberkan keburukan.
Itu akan jadi pertimbangan dan menyadari kekuranganku di matanya. Mungkin itu juga alasan yang membuat dia berulang kali berpaling pada wanita lain.
“Oke, mungkin kamu merasa bangga sudah menjadi istri yang baik untukku, ibu yang baik untuk anak-anak kita, tanpa pernah kamu memikirkan penampilanmu dan kamu tidak bisa menyenangkan aku sebagai suamimu. Apa kamu tidak sadar bagaimana keadaanmu selama ini yang bisanya hanya—”
Ucapan pria itu menggantung. Mas Raga berulang kali meremas kepalanya yang mungkin terasa berat.
“Hanya apa? Katakan dengan jelas agar aku tahu kekuranganku dimana?!” desakku tak tahan. Ini harus segera diakhiri agar aku tahu apa yang menjadi alasan kuat untuknya berulang kali berpaling.
“Oke, jika kamu ingin tahu. Aku butuh hiburan! Aku butuh sensasi yang lain. Aku butuh seseorang untuk mengimbangi keinginanku, terutama untuk melepaskan nafsu dan hormon. Kau mengerti maksudku ‘kan, dan semuanya tidak pernah aku dapatkan darimu. Aku tidak pernah puas dilayani olehmu, Zea. Makanya berkali-kali aku mencari kepuasan pada wanita lain. Dan kau tahu, hanya Sheva yang mampu membuatku melayang dengan aksi nakalnya. Dia tidak pernah kehabisan cara untuk menyenangkanku!!”
Sudut bibir itu terangkat ketika memuji perzinahannya dengan wanita lain yang sanggup menyenangkannya.
Plakkk!!!
Cih, sangat menjijikan!
“Ka-kau berani menamparku?!” Pria itu melotot dengan pipinya yang seketika berpaling. Mas Raga menatapku geram sambil memegangi pipinya yang memerah. Tapi tidak, dia tak berani melakukan hal yang sama padaku.
“Ya, itu tidak sebanding dengan apa yang kau perbuat. Dan aku, seharusnya aku tinggalkan kamu sejak dulu!!” balasku berapi-api. Tak tahan rasanya mendengar lebih jauh ucapannya.
“Kau tidak menyadari kesalahanmu makanya ikau berbuat seperti ini padaku!” teriaknya.
“Heh, memangnya kau pikir rumah tangga itu hanya dijalani dengan sensasi nafsumu itu saja, tanpa pernah kau berpikir ada penghargaan di dalamnya kepada istrimu sendiri?! Heh, ternyata di otakmu itu hanya ada selangk*ngan saja rupanya. Pantes kau tidak pernah puas apalagi kau tidak pernah menyesali semuanya. Ternyata pilihanku untuk mengakhiri semuanya sudah benar, Mas. Kau benar-benar pria yang sangat menjijikan dan tak pantas untuk kupertahankan.”
“Zea, bukan itu inti permasalahan rumah tangga kita. Kau seharusnya berkaca alih-alih membalasku dengan sebuah tamparan dan kata-kata tuduhan!”
Mas Raga berteriak di depan muka. Gurat-gurat merah di sekitar matanya menambah raut kemarahan di wajah itu.
Tapi aku tidak gentar sama sekali. Mungkin ini yang terakhir kalinya aku akan bertengkar dengannya karena setelahnya aku akan menjaga jarak. Menjauh. Tak sudi rasanya bersinggungan dengan pria tak tahu diri ini.
“Setidaknya jika kamu tidak merasa puas denganku, kau bisa bicara baik-baik, dan bukan mengumbar nafsu pada wanita haram seperti dia. Kau pikir aku tidak bisa menyenangkanmu karena aku terlalu pasif dalam melayanimu, begitu?! Padahal kau tahu sendiri, aku tidak bisa membaca pikiranmu. Aku tidak bisa membaca otakmu yang ngeres itu, bahkan aku tidak bisa membaca hatimu yang kotor itu, kecuali kamu sendiri yang menjelaskan dan aku akan menuruti jika itu tidak melanggar syariat. Tapi apa, dalam otak kosongmu itu hanya ada kesenangan semata, tanpa pernah menilai apalagi menghargai posisiku selama ini.”
Dengan suara bergetar aku membalikkan asumsinya. Ternyata di mata suamiku hanya hal itu yang penting. Cih, benar-benar menyedihkan.
“Kau bebas menghina dan marah padaku atas segala kesalahanku. Tapi kenapa kau tidak terima atas fakta yang baru saja aku beberkan. Terima saja bahwa selama ini kau bukan wanita yang pandai menyenangkan hati suami, Zea. Kau istri yang gagal!!”
Mas Raga bicara dengan jumawa tapi semakin membuatku yakin untuk melepasnya.
“Lalu bagaimana dengan gundikmu itu, hm? Bukankah dia lebih pandai menyenangkan suami orang alih-alih mencari pria single untuk dijadikan suami dengan pria baik-baik?”
“Diam, jangan bawa-bawa Sheva dalam urusan kita. Aku hanya memaparkan kekuranganmu dalam melayaniku. Jadi, tidak usah kau bawa-bawa dia!” hardiknya tak terima.
Aku mendecih dan membuang muka. Dasar egois. Pria yang menikahiku itu kenapa hanya mau menang sendiri.
“Setidaknya aku wanita terhormat yang tidak akan melayani suami orang. Terlebih hanya dipakai kemudian ditinggalkan. Aku wanita terhormat yang menjaga harkat martabat suamiku dan menjaga harta titipannya di dalam rumah, serta menutup aurat. Jadi berhenti menganggap seolah-olah aku wanita yang kurang dimatamu. Karena hanya kau dan pikiran busukmu itu yang menganggap kekuranganku. Selebihnya aku merasa menjaga diriku dengan baik, bahkan aku sudah berusaha menjadi wanita yang lebih baik untuk menjadi istrimu selama ini. Dan ternyata setelah semua pengorbananku selama ini, kau tidak pernah menghargainya. Tapi tidak apa-apa. Terima kasih Mas, karena kamu sudah mengatakan semua kekuranganku. Itu artinya aku tidak perlu mempertahankan pria sepertimu dan aku akan jadikan ucapanmu sebagai bahan introspeksi untuk masa depanku nanti.”
Aku memilih mengakhiri perbincangan tidak penting ini, meskipun jujur kata-kata dari Mas Raga selain menyakitkan, tapi mampu membuka mata dan hatiku yang gelap karena tak tahu dimana letak kesalahanku selama ini semakin terbuka lebar.
‘Ku pilih untuk meninggalkan pria itu dan keluar dari rumah, meski sepertinya Mas Raga masih belum puas dengan obrolan ini.
“Dan setelah ini kau akan mencari pria lain untuk kau senangkan seperti yang kau katakan sebelumnya, hm?! Tapi jangan lupa Zea, kita tidak akan pernah bercerai, ingat itu baik-baik. Karena sampai kapanpun kau dan anak-anak akan berada dalam genggamanku!!”
Aku menoleh dengan cepat menatap tajam pada pria egois di depanku ini.
Setelah semua drama yang terjadi, kenapa ujung-ujungnya dia malah tidak ingin melepaskan aku? Heran!
Mas Raga kini berlalu. Bukan keluar dari rumah, tapi naik ke lantai 2 dan masuk ke dalam kamar, lalu membanting pintu dengan kasar.
Entah apa yang akan pria itu lakukan di dalam kamarku. Tapi aku tidak peduli andai dia mencari perhiasan atau mencari barang berharga dan surat-surat penting lainnya. Dia tidak akan mendapatkannya, karena aku sudah mengamankan semuanya.
Aku tahu lambat laun hal ini mungkin akan terjadi, makanya belajar dari perselingkuhan teman Mas Raga sebelumnya, semua kepemilikan bukan lagi atas namaku tapi sudah menjadi atas nama anak-anak.
Silahkan cari apa yang kau inginkan Mas, tapi kau tidak akan mendapatkan apapun.
Untuk menghindari pertengkaran lebih lanjut, aku memilih pergi dari rumah. Sebelumnya Arvan mengatakan sudah membawa mereka ke mall. Dan sekarang aku berniat menyusulnya.
“Bu Zea, ke sini juga?” Arvan menyapa yang kubalas dengan anggukan kecil.
“Bagaimana dengan anak-anak, Arv?”
“Mereka sedang bermain dengan ceria. Tuh.” Pria yang membawa ransel milik Afni itu menjawab.
“Apakah urusannya sudah selesai? Maksudnya dengan bapak.” Arvan bertanya ragu-ragu. Aku menggeleng sambil menghembuskan nafas berat.
“Mas Raga masih ada di rumah. Selain dia marah-marah dan mengatakan keburukanku, dia juga sepertinya masuk ke dalam kamar entah mencari apa.”
“Apa Bu Zea mau saya pergi ke sana untuk memeriksa? Siapa tahu ada barang-barang berharga yang diambil oleh Pak Raga.”
Aku menggeleng lagi, “tidak usah. Biarkan saja dia bertingkah sesuka hatinya. Lagian semuanya sudah kuamankan dengan baik, jadi dia tidak akan menemukan apapun.”
“Syukurlah kalau begitu.” Arvan tersenyum seperti tenang atas penjelasanku barusan.