Chapter 6-When You Look Me In The Eyes

3610 Words
Yang terdengar oleh Cecillia hanyalah suara dentuman jantungnya yang semakin lama semakin meliar dengan hebatnya. Dia bahkan sampai menahan napas karena takut Rizan bisa mendengar suara jantungnya yang memang tidak tahu malu itu. Kenapa dia bsia merasa deg-degan dan nggak karuan seperti ini karena berdekatan dengan Rizan? Apakah karena posisi mereka yang bisa dibilang cukup... rawan? Dimana dia berada tepat di atas tubuh laki-laki itu. Tapi, ini kan bukan kemauannya. Ini tidak disengaja, kecelakaan. Dia jatuh dari atas pohon karena ada seekor ular yang entah dari mana asalnya sudah ikut nemplok bersama dirinya di atas pohon.             “Cil...,” panggil Rizan dengan nada suara yang tidak bisa diartikan oleh Cecillia. Pokoknya, dia merasa sebentar lagi membutuhkan tabung oksigen dan jantung baru untuk tubuhnya. Kenapa rasanya jadi panas-dingin begini, sih?             “Ya...?” jawab Cecillia dengan nada tertahan. Ugh... jantung yang benar-benar tidak tahu malu, tolong, berhenti berdetak dengan kencangnya sebelum gue beneran harus masuk rumah sakit karena kena serangan jantung dini!             “Gue memang mengakui kalau gue suka sama lo... bahkan mungkin, gue memang sudah jatuh cinta setengah mati sama lo. Dan dari jarak sedekat ini, lo memang terlihat sangat cantik. Cantik banget.” Rizan menarik napas panjang dan tersenyum lembut. Laki-laki itu sama sekali tidak menyadari akibat ucapannya barusan terhadap kesehatan jantung dan paru-paru Cecillia.             “Te... rus...?”             “Tapi... bisa, nggak, kalau lo berdiri dari atas tubuh gue sekarang?” tanya Rizan pelan supaya Cecillia tidak merasa tersinggung dengan ucapannya. “Lo sama sekali nggak berat, kok, bagi gue. Sumpah! Hanya saja, kayaknya lengan dan bahu gue agak sedikit kekilir karena kaget dengan tubuh lo yang tiba-tiba mendarat di atas tubuh gue. Jadi....”             Dengan satu gerakan cepat, begitu Cecillia mendengar ucapan Rizan bahwa tubuh laki-laki itu terluka, Cecillia langsung bangkit berdiri. Sialnya, karena terlalu terburu-buru, keseimbangan tubuh Cecillia goyah. Gadis itu mundur beberapa langkah ke belakang dengan gerakan tidak pasti dan memejamkan kedua matanya saat dia merasa bahwa dia akan terjungkal ke belakang.             Beberapa detik lamanya, Cecillia masih memejamkan kedua matanya. Sampai kemudian, gadis itu mengerutkan kening saat merasa tubuhnya tidak mengalami rasa sakit sedikitpun. Begitu dia mencoba untuk membuka kedua matanya, Cecillia langsung terbelalak hebat. Dia mendapati wajah Rizan tepat berada di depan wajahnya. Kedua tangan laki-laki itu melingkari pinggangnya. Cecillia bisa melihat Rizan yang sedang tersenyum lembut ke arahnya namun juga sedikit meringis. Pasti bahu dan lengannya terasa sakit saat ini.             “Rizan! Bahu sama lengan lo pasti sakit, kan? Lo kesakitan, Zan!” pekik Cecillia cemas. Gadis itu berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Rizan namun laki-laki itu tidak membiarkan.             “Lebih baik gue yang sakit dibandingin gue yang harus melihat lo sakit atau terluka, Cil....”             DEG!             Baru saja Cecillia akan membuka mulutnya untuk membalas ucapan Rizan, terdengar suara ranting yang patah. Cecillia dan Rizan lantas menoleh secara bersamaan dan mengerutkan kening saat melihat sosok Ine yang berdiri tak jauh dari mereka. Kemudian, sosok Harlan muncul dari arah belakang Ine sambil setengah berlari.             “Ne! Lo b***k apa nggak bisa dengar, sih? Daritadi gue panggilin, juga....” Karena merasa aneh dengan sikap Ine yang tiba-tiba saja terpaku di tempatnya, Harlan refleks mengikuti arah pandang Ine dan mengangkat satu alisnya ketika melihat Kakaknya sedang berpelukan dengan Rizan.             “Kak? Lo ngapain pelukan sama Rizan? Bukannya lo udah punya pacar yang namanya Orlan-Orlan itu?” tanya Harlan polos.             Mendengar ucapan Harlan, Cecillia dan Rizan kontan saling pandang dan melepaskan diri dari masing-masing pihak. Rizan berdeham pelan dan sedikit mendesis ketika merasakan perih menjalar pada bahu dan lengannya.             “Maaf,” kata Ine tiba-tiba, memecah kesunyian yang tiba-tiba saja tercipta. Semua mata kini menatap ke arahnya dan bisa melihat gadis itu tengah tersenyum. Senyum yang sedikit dipaksakan. Mungkin Cecillia dan Rizan tidak menyadari hal itu tetapi Harlan dapat melihatnya dengan jelas.             Tadinya, Harlan berniat untuk duduk-duduk di halaman belakang setelah selesai merapihkan pakaiannya didalam kamar. Laki-laki itu baru saja menjatuhkan tubuhnya di atas kursi ketika dia melihat sosok Ine yang sedang memasuki hutan. Padahal, kaki gadis itu masih terkilir. Harlan yang menggendong gadis itu kedalam villa saat mereka tiba dan kalau dilihat dari cara berjalan Ine yang sedikit tertatih, Harlan bisa mengambil kesimpulan bahwa gadis itu masih merasakan nyeri pada kakinya. Yang membuat Harlan heran bukan main, kenapa Ine tidak beristirahat saja didalam kamarnya? Malah keluyuran nggak jelas seperti sekarang ini. Masuk kedalam hutan, pula! Membuat Harlan menggerutu kesal dan akhirnya memutuskan untuk mengikuti Ine.             “Maaf?” ulang Rizan dengan nada tidak mengerti. Laki-laki itu tersenyum lembut ke arah Ine yang saat ini tengah memalingkan wajahnya. Demi Tuhan... Ine tidak bisa melihat Rizan yang sedang tersenyum seperti itu. Karena, Ine tidak akan bisa menahan perasaannya lebih lama lagi. Dia menyukai Rizan tetapi malah dijodohkan dengan Harlan. Apakah ada yang lebih adil lagi dari hal yang sedang menimpanya saat ini? Dia harus merelakan perasaannya dan melihat orang yang disayanginya bertunangan dengan Cecillia, Kakak dari tunangannya.             Tapi, tiba-tiba saja dia mendapat informasi bahwa Cecillia sudah memiliki pacar. Namanya Orlan. Secercah harapan kembali muncul di hati Ine tapi beberapa detik kemudian harapan itu dihempaskan dengan sangat keras ke dasar hatinya yang paling dalam. Ternyata, Rizan juga sudah mempunya kekasih bernama Sonia.             “Iya... maaf...,” ulang Ine seraya menghembuskan napas keras. Dia sama sekali tidak ingin menatap wajah Rizan. Dia tahu bahwa Harlan saat ini sedang menatapnya namun gadis itu tidak mau ambil pusing. Rasanya kedua matanya saat ini memanas dan berkaca-kaca. Kalau sampai dia menangis disini, dia pasti akan merasa sangat malu. “Maaf karena tadi gue ngeganggu acara kalian. Harusnya gue tau diri dan langsung pergi begitu ngeliat kalian.”             “Lo udah lama berdiri disitu?” tanya Cecillia tercengang. Dia tidak menyangka akan ada saksi mata yang melihatnya berduaan dengan Rizan dalam jarak yang sangat dekat. Dia tidak ingin Ine salah paham dan menyimpulkan bahwa dia dan Rizan memiliki hubungan serius. Bisa-bisa, sandiwaranya bersama Orlan, juga Rizan dan Sonia terbongkar.             “Cukup lama,” jawab Ine sambil mengangkat bahu tak acuh dan memberanikan diri untuk menatap Rizan. “Cukup lama untuk menonton adegan romantis ala sinetron-sinetron di televisi.”             Setelah berkata demikian, tanpa basa-basi apalagi pamit, Ine langsung berlari meninggalkan tempat tersebut. Cecillia hanya bisa menggerutu dengan gusar karena takut Ine akan menceritakan hal ini pada orangtuanya, sementara Rizan menatap punggung Ine yang menjauh itu dengan tatapan bertanya. Kemudian, mereka melihat Harlan memanggil nama Ine dan berlari mengejar gadis itu setelah sebelumnya, Harlan menatap Rizan dengan tatapan tajam. Membuat Rizan tertegun dan mengangkat satu alisnya karena heran.             Ada yang salah dengan dirinya? @@@ Sakit sekali... rasanya begitu sakit dan sesak. Itulah yang dirasakan oleh Ine saat ini. Gadis itu membiarkan airmatanya jatuh membasahi pipinya tanpa ada niat untuk menghapusnya sama sekali. Biarlah dia menangis kali ini saja. Agar rasa sakit dan sesak itu bisa berkurang dan syukur-syukur bisa menghilang. Tapi... rasanya tidak akan semudah itu.             Ya Tuhan... dia bahkan tidak tahu bagaimana caranya untuk menghilangkan perasaan sukanya pada Rizan ini. Kenapa kedua orangtuanya tidak menjodohkannya saja dengan Rizan? Kenapa harus dengan Harlan? Kenapa?             Tadi... saat dia tidak sengaja menemukan Rizan tengah berada di bawah tubuh Cecillia, Ine tahu bahwa Rizan memang menyukai gadis itu. Mungkin dari luar, Rizan bisa membohongi orang lain dengan cara bertengkar atau berdebat dengan Cecillia. Namun, saat tadi Ine menatap kedua mata Rizan yang tengah memandangi Cecillia, Ine tahu bahwa Rizan mencintai gadis itu. Rizan mencintai Cecillia. Rizan mencintai Cecillia....             Ine baru berhenti berlari ketika dia merasa mendengar sesuatu. Sesuatu yang berbunyi nyaring dan membuatnya merinding. Sesuatu yang bunyinya bisa membuat gendang telinga pecah dan akhirnya menjadi tuli. Sesuatu yang bunyinya kini semakin mendekat dan terus mendekat hingga akhirnya, Ine bisa mendengarnya dengan jelas. Ine menolehkan kepalanya dan detik itu juga, dia membeku. Kedua kakinya tidak bisa digerakkan, pun dengan anggota tubuhnya yang lain. Kedua matanya yang berair hanya bisa terbelalak ketika menatap sebuah truk berukuran sedang dengan warna kuning kini melaju ke arahnya.             Sebuah tarikan keras pada lengannya membuat Ine tersadar dan seketika itu juga dia menjerit keras. Jantungnya berdebar hebat. Tubuhnya menggigil dan gemetar kuat. Napasnya terasa berat. Dia bisa merasakan sesuatu yang kuat tengah memeluknya dengan erat. Sesuatu yang beberapa detik kemudian dia sadari sebagai dua lengan kokoh. Dua lengan kokoh milik Harlan tepatnya. Karena, begitu Ine mendongak, dia bisa melihat Harlan yang menatapnya dengan tajam. Oh, mungkin bukan hanya tajam saja, tetapi percampuran antara tajam, kesal, marah juga... khawatir.             “CEWEK g****k! HANYA KARENA CEMBURU LO SAMPAI MAU BUNUH DIRI KAYAK TADI, HAH?!” seru Harlan tepat di depan wajah Ine. Napas laki-laki itu memburu. Gerakan bahunya naik-turun tanda bahwa dia sedang dalam keadaan yang sangat emosi. Emosi karena melihat bagaimana Ine dengan tololnya hanya berdiam diri seakan menunggu truk kuning tadi menghantam tubuhnya sampai hancur berkeping-keping. Meskipun begitu, Harlan tetap melingkarkan kedua lengannya di pinggang Ine yang kini semakin menangis.             “Gue nggak kuat... nggak kuat... gue suka dia, Lan... gue sayang dia... tapi... dia sudah jadi milik Kakak lo....” Ine menjatuhkan kepalanya ke d**a bidang Harlan dan menumpahkan tangisnya disana. Dibiarkannya Harlan memeluk tubuhnya karena saat ini, dia memang sedang membutuhkan sandaran.             Dan sandaran itu dia dapatkan dari musuh bebuyutannya sendiri.   So I sit and I realize With these tears falling from my eyes I gotta change if I wanna keep you forever I promise that I'm gonna try (Jessie J-Nobody’s Perfect) @@@ Orlan dan Sonia menatap kedatangan Cecillia dan Rizan dengan kening berkerut. Pasalnya, kedua orang itu dalam kondisi yang sangat kacau dan berantakan. Pakaian yang mereka kenakan kotor dan rambut Cecillia terlihat sangat berantakan. Pokoknya, bisa dibilang, mereka berdua seperti habis bertarung dengan angin puyuh.             “Lo berdua abis darimana?” tanya Orlan sambil mengulum senyum. Mati-matian dia menahan tawa ketika melihat dua rekan kerjanya dalam kondisi yang begitu mengenaskan. Sonia juga terlihat sama seperti Orlan. Harus begitu kalau tidak ingin disemprot oleh Cecillia.             “Main layangan sama anjing liar!” dengus Cecillia ketus. “Minggir, ah... gue mau mandi!”             “Duileh... anak perawan nggak boleh galak-galak,” ucap Orlan asal dan langsung membuat Rizan terbahak. Orlan langsung bersembunyi dibalik punggung Sonia ketika dia melihat gelagat Cecillia yang akan melemparkan sandalnya. Kemudian, gadis itu pergi begitu saja ketika melihat target lemparannya sudah menyerah.             Sepeninggal Cecillia, Rizan langsung duduk di kursi yang memang sudah tersedia disana. Orlan dan Sonia mengikuti jejak laki-laki itu dan menatap sang pemilik villa dengan kening berkerut.             “Lo kenapa senyam-senyum nggak jelas gitu, Zan?” tanya Sonia heran. “Ada yang lucu?”             “Bahu sama lengan gue kekilir kayaknya...,” jawab Rizan sambil nyengir kuda. “Tapi nggak sakit, kok.”             “Lah....” Orlan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Heran dengan ucapan Rizan barusan. “Setau gue, kalau bahu sama lengan itu kekilir, sakitnya ampun-ampunan, loh....”             “Yang ini beda...,” balas Rizan mantap. “Kalau lo ngerasain sakit karena nolongin orang yang lo sayangi dan yang lo cintai, lo pasti nggak akan ngerasain sakitnya, Lan....”             “Lo sebenarnya cinta sama si Cecill?!” seru Orlan terbelalak. “Terus kenapa lo sama dia nyuruh gue sama Sonia buat pura-pura jadi pacar kalian supaya pertunangan kalian dibatalin?”             “Gue emang cinta sama dia, tapi dia nggak cinta sama gue,” jawab Rizan sambil menghela napas panjang. Namun senyuman itu tetap tidak memudar dari wajahnya. Membuat Orlan dan Sonia saling tatap dan mengangkat bahu tak acuh. Mereka berpikir pasti Rizan sudah sebegitu gilanya mencintai Cecillia hingga laki-laki itu bisa tetap tersenyum kala mengatakan hal tadi. “Dia yang nyuruh gue untuk mengikuti sandiwara ini agar pertunangan kita dibatalin.”             “Dan lo mau?” tanya Sonia.             “Gue nggak ada pilihan... gue emang cinta sama dia, tapi gue nggak mau maksain kehendak gue sama dia. Biarlah... kalau emang dia jodoh gue juga nggak akan kemana.”             Tanpa ketiganya ketahui, Cecillia berdiri di belakang pintu yang akan menuju ke teras belakang tempat Rizan, Orlan dan Sonia sedang mengobrol saat ini. Gadis itu bermaksud memanggil Rizan karena Shabrina mencari laki-laki itu. Namun, bukan itu yang menjadi permasalahan Cecillia saat ini. Melainkan degup jantungnya yang tiba-tiba saja mulai meliar dan membuatnya sesak. Sesak yang entah kenapa bisa dikategorikan sebagai sesak bahagia. Sesak bahagia akibat ucapan Rizan barusan.             Astaga! Apa yang terjadi dengannya? @@@ Suasana di tempat ini begitu tenang dan nyaman, membuat Ine tersenyum kecil tanpa sadar. Harlan mengajaknya ke sebuah taman yang tak jauh dari villa keluarga Rizan. Taman yang begitu indah. Di depan mereka terdapat pagar pembatas setinggi perut orang dewasa yang membatasi taman ini dengan jurang di bawahnya. Sedikit mengerikan juga kalau seandainya tempat ini tidak dibatasi dengan pagar tersebut.             Di sebelah kanan mereka, terdapat pedagang jagung bakar dan gulali. Juga beberapa penjual minuman dan es krim. Ine saat ini sedang duduk di atas rumput sambil memeluk kedua lututnya. Gadis itu menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan berat. Rasanya sudah sedikit membaik setelah tadi dia puas menangis dipelukan Harlan. Menangisi perasaannya yang tak terbalaskan. Laki-laki itu sendiri saat ini sedang pergi untuk membeli minuman.             “Ngelamun aja lo....”             Suara Harlan juga sensasi dingin pada pipinya membuat Ine tersentak dan menolehkan kepalanya. Gadis itu melihat Harlan memegang dua kaleng minuman soda dan menjatuhkan tubuhnya tepat di samping dirinya. Harlan tersenyum sekilas dan memberikan Fanta merah itu kepada Ine yang diterima gadis itu dengan senyum simpul.             “Makasih...,” ucap Ine pelan dan tulus. Harlan mengangguk dan mulai membuka penutup kaleng minumannya lantas langsung meneguk cairan berwarna merah itu pelan.             “Udah ngerasa baikan?” tanya laki-laki itu sambil menoleh sekilas.             “Lumayan,” balas Ine sedikit canggung. Dia tidak terbiasa dengan keadaan seperti ini. Beramah-tamah dan mengobrol dengan Harlan. Itu semua bukan gaya mereka berdua. Mereka lebih terbiasa bertengkar dan adu mulut.             “Lan...,” panggil Ine kemudian, ketika jeda yang cukup lama mendominasi keduanya. Harlan menoleh dan mendapati Ine sedang menatap keadaan di depannya dengan tatapan menerawang. Gadis itu belum meminum minumannya.             “Ya?”             “Pernah patah hati?”             “Kenapa nanya kayak gitu?”             Ine menarik napas panjang dan membuangnya keras. Diletakkannya kaleng minuman bersoda itu di samping tubuhnya dan dipeluknya kedua lututnya dengan erat. “Gue lagi ngalamin, nih, sekarang....”             “Terus?”             “Kadang... gue mikir, Lan... apa gue nggak pantas untuk disayangi, ya? Selain kedua orangtua gue pastinya.”             “Lo kenapa ngomongnya aneh gini, sih?” tanya Harlan gusar. Dia sama sekali tidak suka apabila Ine berbicara seperti tadi hanya karena Rizan. Dia kesal! Sangat kesal. Kenapa gadis itu hanya melihat ke arah Rizan?             “Dari dulu....” Ine mulai bercerita. “Gue selalu kayak gini. Sayang sama cowok, tapi nggak pernah disayang balik. Selalu ada aja kendalanya. Teman dekat gue yang juga suka sama cowok itulah, cowok itu hanya nganggap gue adiklah, inilah, itulah... intinya, gue selalu nggak pernah ngerasain perasaan yang terbalas. Termasuk saat ini.” Ine menarik napas panjang untuk mengisi paru-parunya yang mulai kesulitan untuk bernapas. Lalu, airmatanya jatuh begitu saja. Ine sama sekali tidak berniat untuk menghapusnya karena dia memang butuh menangis saat ini. Supaya rasa sesak yang menghimpit rongga dadanya bisa hilang. Gadis itu tersenyum pahit dan menoleh. “Gue benar-benar menyedihkan—“             Belum sempat Ine melanjutkan ucapannya, Harlan tiba-tiba saja mencium pipi kanannya. Cukup lama. Tubuh Ine membeku dan kedua matanya yang berair terbelalak. Begitu Harlan menarik diri, Ine bisa melihat senyum lembut yang terukir di bibir laki-laki itu. Panas mulai menjalar pada wajahnya dan Ine sangat yakin kalau pipinya merona merah saat ini.             “Elo nggak menyedihkan... lo justru baik hati. Lo rela ngorbanin hati lo sendiri demi orang-orang disekitar lo.” Harlan mengelus pipi kanan Ine yang tadi diciumnya dengan lembut dan penuh perasaan. “Lo gadis yang menarik, Ne....”             Ine hanya bisa terdiam. Kata-kata yang akan dia keluarkan seakan tercekat di tenggorokan. Gadis itu membiarkan Harlan bangkit dari duduknya dan pergi ke arah penjual es krim. Sementara itu, ketika kesadarannya pulih total, Ine hanya bisa mendesah panjang dan berjalan ke arah pagar pembatas di depannya. Gadis itu menatap jurang di bawahnya dengan kedua tangan yang dilipat dan ditaruh di atas besi yang dingin. Ada perasaan tenang ketika Ine mendengar ucapan Harlan barusan. Juga ketika laki-laki itu mencium pipinya. Biasanya, dia akan marah-marah dan memaki laki-laki itu. Namun untuk saat ini, dia tidak mempunyai tenaga untuk melakukan hal tersebut.             Mendadak, Ine merasakan dua lengan besar melingkari pinggangnya. Gadis itu tersentak dan menoleh ke belakang. Wajah Harlan berada tepat di depan wajahnya dan hal itu langsung membuat Ine kembali menatap ke depan. Dia berusaha melepaskan diri dari pelukan Harlan namun laki-laki itu tidak membiarkan. Rasa gugup langsung menyerang gadis itu.             “Lan... lo kenapa meluk gue? Lepasin... malu diliat orang,” pinta Ine lirih. Semburat merah mulai terlihat di kedua pipi mulus gadis itu. Gadis itu langsung menahan napas ketika dia menyadari bahwa dagu Harlan diletakkan di bahu kanannya dan pelukan laki-laki itu semakin erat.             “Harlan....”             “Sst... tolong dengarin gue sekali ini aja karena gue nggak mengulanginya lagi.” Harlan menarik napas panjang dan memejamkan kedua matanya. “Apa lo hanya bisa melihat Rizan, Ne?”             Apa? Apa maksudnya?             “Apa lo nggak bisa melihat gue? Melihat kedua mata gue? Gue tau lo mencintai Rizan. Gue bisa melihatnya di kedua mata lo. Tapi... apa lo bisa melihat di kedua mata gue kalau gue sebenarnya cinta sama lo?”             DEG!             “Harlan....” Ine berusaha untuk melihat wajah laki-laki itu namun gagal karena Harlan justru semakin menguatkan pelukannya dari belakang tubuh Ine dan semakin menenggelamkan wajahnya di bahu gadis itu.             “Gue mencintai lo, Ine Maharani Prasetyo...,” ucap Harlan lembut dan lirih. “Dan gue bisa mati kalau liat lo sedih apalagi menangis karena laki-laki lain.” @@@ Malam pun tiba. Semua orang yang berada di villa sibuk membakar jagung di halaman belakang sambil mengobrol dan bersenda gurau. Harlan terlihat sedang duduk sambil memainkan gitarnya dan bersenandung. Sesekali, dia akan melirik Ine yang lebih tertarik membaca novel yang dibawanya. Namun, Harlan tahu bahwa Ine sama sekali tidak fokus kepada novel tersebut. Matanya memang tertuju pada novel tetapi tidak bergerak sama sekali. Itu artinya, pikiran Ine sedang melayang ke tempat lain.              Kejadian di pagar pembatas taman tadi sore membuat Harlan mendesah keras dan berdecak. Dia baru saja mengakui perasaannya pada Ine. Perasaan yang dia sendiri tidak tahu pasti kapan munculnya. Perasaan yang membuatnya berdebar-debar sekaligus menyakiti hatinya dalam waktu bersamaan. Ine memang tidak menjawab pernyataan cintanya tadi. Gadis itu juga tidak mengeluarkan sepatah katapun setelah mendengar pengakuan cinta darinya. Harlan tidak peduli. Yang dia lakukan setelah mengatakan hal tersebut adalah melepaskan pelukannya pada Ine dan pergi meninggalkan gadis itu. Dia tidak perlu khawatir kalau Ine tidak akan mengikutinya dari belakang karena Harlan sangat yakin kalau gadis itu pasti mengikutinya pulang. Kecuali Ine memang nekat dan ingin nyasar di tempat yang tidak diketahuinya  sama sekali.             Sementara Harlan dan Ine sibuk menata perasaan mereka masing-masing, Rizan justru terlihat sedang asyik dengan gadget-nya. Laki-laki itu tidak ikut acara bakar-bakar di halaman belakang melainkan lebih memilih untuk menyendiri di halaman samping di dekat kolam renang. Sesekali, kedua kakinya akan bermain didalam air hingga menimbulkan riak-riak kecil.             “Rizaaaan! Gue perlu ngomong sama lo!” teriak sebuah suara nyaring dari arah belakang laki-laki itu yang langsung membuatnya tersentak hebat. Rizan langsung berdiri dalam satu gerakan cepat namun tindakannya itu justru membuatnya kehilangan keseimbangan. Rizan kontan sempoyongan dan alhasil dia jatuh kedalam kolam dan tanpa sengaja menarik baju orang yang baru saja meneriakinya itu. Cecillia.             Dalam hitungan detik, kepala Rizan kembali menyembul ke permukaan air. Laki-laki itu menarik napas panjang dan mengusap wajahnya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri namun tidak menemukan sosok orang yang dia sangat yakini adalah Cecillia karena dia mengenali suara nyaring gadis itu. Dan dia juga sangat yakin kalau dia sempat menarik baju gadis itu hingga ikut tercebur bersamanya kedalam kolam.             Tapi... dimana dia sekarang?             Rizan akhirnya memutuskan untuk menyelam kembali. Dia mengedarkan pandangannya didalam air dan terbelalak ketika melihat tubuh Cecillia yang tenggelam ke dasar kolam. Kedua mata gadis itu terpejam. Langsung saja, Rizan menghampiri Cecillia, menarik pinggang gadis itu dan membawanya ke permukaan.             Begitu naik ke permukaan, Rizan langsung mengeluarkan tubuh Cecillia dari dalam kolam dan merebahkannya di tepi kolam. Kemudian, laki-laki itu menaikkan tubuhnya sendiri dan menepuk pipi Cecillia pelan.             “Cil... bangun, Cil....”             Tidak ada respon. Rizan mengumpat pelan dan memeriksa nadi Cecillia. Denyutnya begitu lemah. Beberapa kali dia menepuk pipi Cecillia, namun gadis itu tak kunjung membuka kedua matanya. Akhirnya, dengan mengambil resiko akan ditampar oleh gadis itu kalau nanti dia berhasil sadar, Rizan mendekatkan wajahnya ke wajah Cecillia dan memberikan CPR bagi gadis itu.             Cukup lama Rizan memberikan napas buatan. Sampai kemudian, Rizan tahu bahwa kedua mata Cecillia sudah terbuka. Dan mata gadis itu terbelalak. Namun, bukannya menghentikan tindakan CPR nya, Rizan justru melumat bibir mungil Cecillia. Menghisap bibir gadis itu dan menggigit bibir bawahnya. Sampai kemudian, Cecillia mendorong d**a bidang Rizan dengan sekuat tenaga dan bangkit dari posisi tidurnya.             “Lo nyari kesempatan dalam kesempitan ya?!” seru Cecillia garang. Dia mengusap bibirnya dengan kasar dan menatap Rizan dengan tatapan tajam. Wajahnya memerah, entah karena marah atau karena malu dengan kejadian barusan.             “Gue nolongin lo tadi. Lo tenggelam dan pingsan terus gue hanya melakukan apa yang menurut gue harus dilakukan.” Rizan menjawab santai.             “Mencium gue itu adalah tindakan yang harus dilakukan menurut lo?!”             “Ralat, Non... gue ngasih CPR. Kalau lo nggak paham apa itu CPR, CPR itu istilah keren dari....”             “Aaaah! Diem, lo! Gue tau apa itu CPR!” bentak Cecillia langsung. Gadis itu menunjuk wajah Rizan dengan telunjuknya yang gemetar. Mungkin rasa dingin sudah mulai menyelimuti dirinya. “Kalau sampai gue hamil karena tindakan lo barusan, gue akan....”             “You are too much, Cil...,” potong Rizan sambil tersenyum geli. “Gue cuma ngasih lo CPR, bukannya memperkosa lo. Yaaa, gue ngaku, gue sedikit ngambil kesempatan dengan melumat bibir lo itu... tapi, gue nggak pernah dengar kabar kalau ciuman bisa menyebabkan kehamilan. In case, lo emang mengharapkan bayi dari gue.”             “Urusan kita belum selesai!”             Dan tanpa buang waktu, Cecillia langsung meninggalkan Rizan yang terbahak karena sikapnya barusan, sambil bersungut-sungut ria. @@@ Di tempat yang berbeda, seseorang tengah menatap sebuah foto didalam keremangan kamarnya. Laki-laki itu mengusap foto yang dipegangnya sambil tersenyum tipis. Senyum yang kalau dilihat oleh orang biasa akan terlihat sebagai senyuman ramah dan lembut, namun kalau dilihat dari orang yang memiliki insting yang bagus, bisa dikategorikan sebagai senyuman berbahaya. Foto yang dipegangnya adalah foto seorang gadis yang tengah tersenyum lebar. Kedua mata gadis itu begitu indah dan berwarna cokelat terang. Hidungnya mancung dan kulitnya tidak terlalu putih.             “Sekarang adalah saat yang tepat untuk gue mendapatkan elo, Cecillia Andalucya Alvinzo...,” gumam laki-laki itu sambil mencium foto Cecillia. “Sekarang... setelah gue bersembunyi terlalu lama hanya untuk sekedar mengagumi kecantikan lo.” @@@
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD