Katanya, persahabatan antara laki-laki dan perempuan itu tidak pernah ada. Kalaupun ada, tidak akan pernah berjalan mulus. Karena, salah satu dari dua orang yang berbeda gender tersebut pasti akan mulai menyukai sahabatnya sendiri. Dan hal itu terjadi pada Mitha. Mitha, orang yang selalu ada untuk Harlan, pun sebaliknya, semenjak keduanya duduk di bangku SMA. Mitha, orang yang sudah Harlan anggap sebagai adiknya sendiri.
Tapi, Harlan bahkan tidak bisa berkutik ketika mendengar pengakuan Mitha barusan. Gadis itu... sahabatnya sendiri... memendam perasaan cinta padanya. Gadis yang saat ini memegang lengannya dengan wajah yang berurai airmata.
“Sekali ini aja... liat gue, Lan... hanya melihat ke arah gue... sebelum semuanya berakhir.” Mitha menarik napas panjang dan bangkit dari posisi berbaringnya. Gadis itu kemudian memeluk pinggang Harlan dan menyandarkan kepalanya di perut rata laki-laki itu karena posisi Harlan yang sedang berdiri. “Biarin gue bersikap egois sebentar aja, Lan... tolong... sebelum gue meninggal karena penyakit leukimia ini.”
Leukimia?!
“Tha... elo....” Harlan menelan ludah susah payah. “Elo... kena leukimia?”
Tidak ada sahutan dan jawaban yang keluar dari mulut Mitha. Yang dia lakukan hanyalah memeluk pinggang Harlan dengan sangat erat dan menangis sepuasnya disana. Dia tahu dia mungkin akan menyakiti hati Ine. Tapi, dia juga tidak bisa terus berpura-pura untuk bersikap biasa saja. Dia tidak bisa terus bersikap baik-baik saja di depan Harlan juga semuanya. Dia mencintai laki-laki itu. Dia mencintai Harlan, sahabatnya.
“Tapi, Tha... elo tau kalau gue dan Ine....”
“Gue tau kalau kalian berdua sudah bertunangan,” potong Mitha langsung disela isak tangisnya. “Tapi... sekali aja, Lan... biarin gue bahagia disaat terakhir gue. Karena, gue nggak tau sampai kapan gue bisa bertahan. Gue hanya ingin elo terus ada di samping gue dan hanya melihat ke arah gue. Sudah cukup gue berdiam diri dan memendam perasaan ini. Sudah cukup gue menangis dalam diam ketika tau kalau lo dan Ine bertunangan. Sudah cukup gue menahan luka didalam hati gue ketika tau kalau lo... mencintai Ine, Lan....”
Harlan bahkan tidak mengejar Ine, meskipun dia sangat ingin mengejar gadis itu. Memastikan Ine baik-baik saja. Tapi... melihat keadaan Mitha saat ini... dia...
“Tolong, Lan... kasih gue kesempatan....”
Ya Tuhan... ini benar-benar membunuhnya. Bagaimana bisa dia dipaksa untuk memilih antara sahabat dan gadis yang mulai dicintainya? Bagaimana bisa dia harus berpura-pura mencintai Mitha, meskipun itu adalah permintaan gadis itu sendiri? Bagaimana bisa dia melihat Ine yang akan bersedih dan menangis karena hal ini?
Ah... apakah bahkan Ine akan bersedih? Bukankah gadis itu menyukai Rizan? Ine bahkan selalu menentang pertunangan konyol yang dibuat oleh orangtua mereka masing-masing.
“Kasih gue waktu....” Harlan menarik napas panjang dan mengusap rambut Mitha dengan lembut. “Untuk bicara empat mata sama Ine mengenai ini semua.”
@@@
Di salah satu kafe yang terletak di daerah pusat kota Jakarta, Ine bersembunyi. Gadis itu tidak mengerti dengan perasaan yang dia rasakan saat ini. Saat melihat Harlan dan Mitha di ruang kesehatan tadi, juga saat dia mendengar pengakuan Mitha mengenai perasaannya pada Harlan, membuat jantungnya berdegup sangat kencang. Kedua matanya bahkan sampai berkaca dan untungnya, Ine bisa menahan airmata yang mengancam untuk jatuh membasahi pipinya itu.
Ine menarik napas panjang dan mengernyit ketika merasa sedikit sesak. Sebelah tangannya langsung terangkat ke d**a dan ketika dia kembali melakukan hal itu—menarik napas—rasa sesak itu malah semakin menjadi. Ya Tuhan... ada apa, ini? Ine sangat yakin bahwa dia tidak memiliki riwayat penyakit asma. Tapi...
“Ine?”
Suara bernada lembut itu membuat Ine mendongak. Senyum simpul muncul di bibir gadis itu tatkala dia melihat sosok Rizan yang sudah berdiri di hadapannya. Laki-laki itu balas tersenyum. Senyum yang ramah. Senyum yang hangat. Senyuman lembut yang selalu disukai oleh Ine selama ini. Tapi anehnya, senyuman itu sekarang justru membuatnya bersikap... biasa saja...? Tidak ada lagi rasa deg-degan dan sentakan napas seperti biasanya. Tidak ada lagi jantung yang berdebar-debar dan napas yang tercekat di tenggorokan.
Kemana semua perginya hal tersebut?
“Boleh gue duduk disini?” tanya Rizan sambil menunjuk kursi di hadapan Ine. Ine mengikuti arah yang ditunjuk oleh Rizan dan terkekeh pelan.
“Kalau gue ngelarang, lo mau apa?”
“Gue akan berlutut di depan lo supaya lo memperbolehkan gue untuk duduk di kursi ini.” Rizan bersedekap dan mengangkat satu alisnya sambil tersenyum geli. “Gimana?”
“Interesting....” Ine menganggukkan kepala dan menghela napas berat. “Duduk aja. Ini tempat umum, kok.”
Rizan menarik kursi di depannya sambil tertawa renyah. Laki-laki itu mengangkat satu tangannya untuk memanggil pelayan dan memesan makan dan minum lalu dia menawari Ine. Gadis itu menggeleng dan menunjuk gelasnya yang masih terisi setengahnya. Setelah pelayan itu pergi, Rizan duduk bertopang dagu dan meenatap Ine tepat di manik mata sambil tersenyum lembut.
“Hard day, huh?” tanya laki-laki itu sambil memiringkan kepala ke arah kanan. Memperhatikan seluruh wajah Ine dan mengaguminya. Ine memang cantik dan manis. Hidungnya yang mancung, kedua matanya yang indah dan selalu memancarkan keramahan hatinya, kulitnya yang putih bersih serta bulu matanya yang lentik. Tapi, kekaguman Rizan pada Ine hanya sebatas teman, sahabat juga adik kecil yang harus dilindunginya. Hanya itu. Meskipun malam itu, saat kedua orangtua mereka menjodohkannya dengan Cecillia dan Harlan dengan Ine, Ine sempat mengatakan bahwa gadis itu menyukainya. Tapi, dia tidak bisa membalas perasaan Ine. Yang dia cintai Cecillia, Kakak dari tunangan Ine.
“Sok tau,” dengus Ine sambil tertawa kecil. Gadis itu mengaduk minumannya dan menatap meja di depannya dengan tatapan menerawang.
“Loh? Sok tau darimana?” Rizan menjawil hidung Ine, membuat gadis itu tersentak dan langsung mendongakkan kepalanya untuk menatap laki-laki itu. Rizan tampak menatapnya dengan tatapan jahil dan senyuman geli. “Langit cerah gini, muka lo malah mendung. Bentar lagi kayaknya bakalan turun hujan di muka lo.”
“Rizan rese, deh!” seru Ine sambil memukul lengan laki-laki itu. Keduanya tertawa bersama dan berhenti sejenak ketika pelayan datang untuk membawakan pesanan Rizan. Setelah pelayan itu meninggalkan tempat mereka, Rizan mulai menyantap makanannya diiringi tatapan dan senyuman geli dari Ine yang kini bertopang dagu.
“Mau, Ne?” tawar Rizan sambil menunjuk makanannya. Ine menggeleng dan meraih ponselnya yang tiba-tiba saja bergetar di saku celana jeans-nya. Gestur tubuh gadis itu langsung berubah ketika membaca layar ponselnya. Satu SMS masuk dari... Harlan.
“Zan....”
“Ya?”
Tidak ada suara lagi yang keluar dari mulut Ine setelah dia memanggil nama laki-laki itu. Hal tersebut membuat Rizan yang sedang asyik menyantap nasi gorengnya mendongak dan melihat Ine yang sedang melamun. Sebelah tangannya menggenggam ponselnya dengan kuat. Dan Rizan bisa melihat kedua mata gadis itu yang terlihat berkaca. Rizan menghentikan makannya dan mengerutkan kening ketika melihat sikap tubuh Ine yang menurutnya aneh itu.
“Ne?” panggil Rizan pelan. Tidak ada tanggapan. “Ine?” panggil laki-laki itu lagi. Tetap tidak ada tanggapan. Ine bagaikan patung yang hanya bisa terdiam tanpa menyahuti panggilan Rizan barusan. Laki-laki itu menarik napas panjang dan menyentuh punggung tangan Ine. Pelan dan halus, namun dampaknya bagi Ine seperti sedang disengat listrik. Gadis itu tersentak dan langsung menatap wajah Rizan yang terlihat sedikit khawatir.
“Lo nggak apa-apa?”
“Hah? Oh... gue nggak apa-apa, kok.” Ine menarik tangannya yang disentuh Rizan dan memaksakan seulas senyum. Gadis itu menaruh kembali ponselnya ke saku celana dan menghembuskan napas berat. Ada rasa sakit didalam hatinya ketika dia membaca nama Harlan. Hanya karena membaca nama laki-laki itu saja, sanggup membuatnya sebegini sesak?
Apa itu artinya... dia....
“Ke pantai, yuk?”
“Hah?”
Rizan menggosok kedua tangannya dan menaikkan lengan kemejanya hingga sebatas siku. Diliriknya arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Belum terlalu sore. “Iya, ke pantai. Yang di Ancol aja, gimana?”
“Loh, tapi... kerjaan lo? Lo harus balik ke kantor, kan?”
“Bolos sehari nggak apa-apa, kan? Lagipula, kerjaan gue udah selesai tadi, kok.” Rizan bangkit dari duduknya seraya meletakkan selembar uang seratus ribu dan selembar lima puluh ribuan di atas meja. “Minuman lo, biar gue yang bayar sekalian. Nah, sekarang....” Rizan berjalan ke arah Ine dan berdiri di samping gadis itu, dan mengulurkan tangan kanannya. “Shall we?”
Setelah sempat tertegun beberapa detik lamanya, Ine mengerjapkan kedua mata dan tertawa pelan. Gadis itu bangkit berdiri dan meraih tangan Rizan yang terulur ke arahnya itu.
“Let’s go!”
@@@
Beberapa kali Cecillia melirik ke ruangan Rizan. Laki-laki itu memang ditempatkan di sebuah ruangan tersendiri, berbeda dengan dirinya, Orlan dan Sonia yang berada dalam satu kubikel. Hal itu karena Rizan adalah orang yang pandai dan cepat dalam urusan pekerjaan sehingga si Bos menempatkannya pada ruangan khusus. Cecillia sebenarnya sempat curiga bukan karena alasan itulah Bos mereka menempatkan Rizan pada ruangan khusus tersebut. Ruangan yang luas dengan fasilitas yang menggugah selera. Kabar yang beredar, Bos mereka adalah seorang gay, dan Cecillia sangat yakin bahwa Rizan adalah target yang ingin beliau miliki.
“Nyariin Rizan, Cil?”
Suara berat Orlan membuat Cecillia menoleh dan meringis aneh seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dilihatnya Orlan hanya terkekeh geli dan bangkit dari kursinya. Laki-laki itu berjalan ke arah Cecillia dan meletakkan kedua tangannya di atas meja sebagai tumpuan berat badannya. Tubuhnya direndahkan sedikit, hingga kini wajahnya sejajar dengan wajah Cecillia yang sedang duduk di kursinya.
“Lo mulai suka sama Rizan, ya?” goda Orlan sambil menjawil dagu Cecillia yang langsung ditepis oleh gadis itu. Orlan hanya tertawa renyah ketika dia melihat semburat merah yang muncul secara mendadak di pipi Cecillia.
“A... apaan, sih, Lan? Ka—kata siapa gue suka sama Rizan? Nggak sama sekali!” tukas gadis itu sambil memalingkan wajahnya. Orlan semakin tertawa keras dan menunjuk wajah Cecillia yang semakin memerah.
“Nah, itu... kenapa muka lo merah begitu?”
Mendengar ucapan Orlan itu, Cecillia langsung menangkup kedua pipinya dan memejamkan kedua matanya. “Orlan! Berhenti ngeledekin gue!”
Tanpa diduga, kedua pergelangan tangan Cecillia dipegang oleh Orlan. Gadis itu membuka kedua matanya dan terkejut ketika melihat wajah Orlan yang dirasa semakin mendekat. Kedua mata laki-laki itu menguncinya, membuat Cecillia tidak bisa mengalihkan tatapannya sedetikpun. Gadis itu menelan ludah susah payah ketika melihat Orlan menyeringai dingin ke arahnya. Entahlah, perasaan takut itu tiba-tiba saja muncul didalam hatinya. Seringai dingin Orlan saat ini terlihat sangat berbahaya dan Cecillia mendapati sosok Orlan yang berada di depannya ini berbeda dari biasanya.
“Or... lan... lo, kenapa?” tanya Cecillia takut. Gadis itu berusaha menarik kedua tangannya yang dicekal oleh Orlan namun gagal. Kini, Cecillia bahkan bisa merasakan helaan napas Orlan yang membelai wajahnya dan membuatnya merinding saking dekatnya posisi wajah mereka berdua saat ini.
“Lo benar-benar cantik, ya, Cil...,” ucap Orlan sambil membelai pipi mulus dan putih Cecillia. Kedua tangan gadis itu kini hanya dicekal oleh sebelah tangannya saja. “Pantas, Rizan terpesona sama lo. Freddy pun sampai tergila-gila sama lo. Tapi, Freddy sangat t***l menurut gue karena meninggalkan lo yang sebegini cantik, seksi dan menarik hanya demi cewek yang menurut gue kalah jauh jika dibandingkan sama lo.”
“Mak... maksud lo apa, Lan...?” Cecillia semakin mengkeret ketakutan ketika dia merasakan Orlan meniup pelan lehernya, membuat bulu kuduknya meremang. Dia ingin menangis saja rasanya. Sonia tidak ada di tempatnya. Dia bisa saja berteriak, namun suaranya seakan tercekat di tenggorokan.
“Boleh gue ngerasain bibir lo sebentar?” tanya Orlan seraya kembali menatap kedua mata Cecillia. Ketika Orlan hampir saja menyentuh bibir Cecillia dengan bibirnya, terdengar suara dehaman keras. Cecillia dan Orlan menoleh dan gadis itu langsung menghela napas lega ketika melihat Harlan berdiri tak jauh darinya sambil menyandarkan sebelah bahunya di dinding. Kedua tangannya dilipat di depan d**a. Matanya menatap nyalang ke arah Orlan yang kini berdecak jengkel dan terpaksa membiarkan Cecillia yang berlari ke arah Harlan.
“Gue butuh ngomong sama lo, Kak... tapi, nggak disini,” kata Harlan sambil melirik Orlan dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Dan lo... setelah gue ngomong sama Kakak gue, gue harus ngomong sama lo. Jangan karena lo pacar Kakak gue, maka lo bisa seenaknya aja ngelakuin hal yang bikin dia takut seperti tadi!”
Tanpa membalas kata-kata Harlan, Orlan menatap kepergian Cecillia dan adik laki-lakinya itu dengan tatapan sengit dan kedua tangan yang terkepal kuat di sisi tubuhnya.
@@@
Ternyata, Rizan tidak jadi membawa Ine ke pantai yang terletak di Ancol, melainkan ke pantai Anyer. Pantai yang terletak diluar kota Jakarta. Begitu merasakan angin pantai menerpa wajahnya, mendengar gelombang air laut yang saling bersahutan dan mencium aroma laut yang begitu khas, Ine langsung bersorak gembira. Gadis itu berlari ke tepi pantai dan membiarkan kedua kakinya basah hingga sebatas lutut. Melihat hal itu, sambil mengunci pintu mobilnya, Rizan tersenyum dan menggelengkan kepala. Senang melihat raut wajah bahagia anak dari sahabat kedua orangtuanya tersebut.
“Ne... jangan sampai ke tengah pantai, ya!” seru Rizan memperingatkan. Gadis itu sepertinya tidak mendengarkan perintah Rizan karena yang dia lakukan hanyalah memainkan air dengan kedua tangannya dan sesekali mengambil sesuatu yang terlihat seperti batu-batu yang sangat cantik dari dalam laut.
Tiba-tiba, Rizan melihat Ine jatuh hingga membuat seluruh tubuh gadis itu basah kuyup. Langsung saja, Rizan berlari ke arah Ine dan membantu gadis itu untuk kembali berdiri. Dia meneliti keseluruhan fisik Ine, memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja. Tapi, jika dilihat dari reaksi Ine yang hanya tertawa geli dan menggelengkan kepalanya, mau tak mau, Rizan ikut tertawa juga dan mendesah lega. Gadis itu sepertinya baik-baik saja.
“Lo nggak apa-apa, Ne?”
“Nggak.” Ine menggeleng tegas. “Nah... karena sekarang lo udah basah, jadi....”
Tanpa diduga, Ine langsung mendorong tubuh Rizan hingga laki-laki itu terjungkal ke belakang. Ine tertawa keras ketika melihat Rizan melongo dan mengumpat sambil tertawa ketika sadar bahwa dirinya sudah basah kuyup. Kemudian, dengan satu gerakan cepat, Rizan bangkit berdiri dan balas menyiramkan air laut ke tubuh Ine dengan kedua tangannya. Ine menjerit pelan dan mulai balas menyerang Rizan. Keduanya tertawa keras sambil bermain air.
Sadar bahwa dia tidak akan menang dari Rizan, Ine mulai berlari. Awalnya, Rizan membiarkan sambil terkekeh geli dan berkacak pinggang. Lambat laun, kekehan Rizan itu hilang dan berganti dengan kening yang berkerut. Lalu, kedua matanya mulai menatap waspada dan laki-laki itu langsung bergerak dengan cepat untuk mengejar Ine ketika dia melihat gadis itu semakin berlari ke tengah pantai hingga Rizan bisa melihat air laut mulai menenggelamkan tubuh Ine hingga sebatas d**a.
“INE!” teriak Rizan keras. Dia berusaha semaksimal mungkin untuk menjangkau Ine. Tanpa basa-basi, Rizan langsung menyelam kedalam air begitu dia melihat tubuh Ine yang perlahan menghilang kedalam air laut. Kedua matanya dipaksa bekerja semaksimal mungkin dan langsung menangkap pinggang Ine, ketika dia melihat tubuh gadis itu. Ditariknya Ine ke permukaan dan langsung dibawanya gadis itu ke tepi laut.
Beruntungnya, Ine tidak pingsan. Mungkin, Rizan datang tepat pada waktunya, hingga belum terlalu banyak air laut yang terminum oleh gadis itu. Kini, Rizan berdiri sambil berkacak pinggang dan menatap Ine yang sedang duduk memeluk lututnya, dengan tatapan gusar. Apa yang ada di pikiran gadis itu tadi?
“Lo udah gila, Ne? Hah?! Lo mau bunuh diri tadi, iya?!” Rizan berdecak jengkel dan memejamkan kedua matanya untuk sekedar meredam emosi. Dia memang sudah menduga ada yang aneh dengan sikap Ine sejak di kafe tadi. “Apa otak lo bahkan masih berfungsi sebagaimana mestinya?!”
“Sakit... Zan...,” lirih Ine sambil mulai terisak. Hal yang langsung membuat Rizan membuka kedua matanya dan mengangkat satu alisnya. “Sakit....”
Sambil menghela napas berat, Rizan mulai berjongkok dengan satu lutut menyentuh pasir di depan Ine yang meletakkan dagunya di atas kedua lututnya yang sedang dia peluk. Gadis itu terlihat seperti anak hilang saat ini. Yang membuat Rizan lebih heran lagi, Ine menangis. Kedua bahunya berguncang dan dia sepertinya tidak bisa mengontrol diri.
“Apa yang sakit, Ne? Dimana yang sakit? Lo terbentur sesuatu seperti batu, mungkin, didalam laut tadi?” tanya Rizan khawatir. Kemudian, tanpa disangka-sangka, Ine malah menerjang Rizan dengan kuat. Gadis itu mencengkram leher Rizan dengan kedua tangannya. Tangisnya semakin pecah di bahu Rizan. Untung saja, Rizan bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dengan baik. Kalau tidak, mungkin saat ini mereka berdua akan terjungkal ke belakang.
“I... ne...?” panggil Rizan pelan. Ada nada terkejut dalam suaranya.
“Yang sakit didalam tubuh gue, Zan... hiks... yang sakit... hati gue, Zan... hiks... sakit banget... rasanya sangat sakit... gue... hiks... harus gimana, Zan...? Hiks... gue... harus... gimana...?”
Harus bagaimana? Ine bertanya padanya, gadis itu harus bagaimana? Apa yang harus Rizan katakan pada Ine kalau dia saja tidak mengerti permasalahan yang sedang gadis itu hadapi? Sambil menarik napas panjang dan membuangnya dengan keras, Rizan hanya bisa membalas pelukan Ine dan mengusap punggung gemetar gadis itu dengan lembut.
Gue mencintai Harlan, Zan...
@@@
“Bercanda lo!”
Melihat tampang kusut dan jengkel Harlan serta tatapan mata adiknya yang terlihat sangat menakutkan, Cecillia langsung berdecak jengkel dan menggelengkan kepalanya. Dia baru saja mendengar cerita adiknya mengenai seorang gadis bernama Mitha. Sahabat Harlan yang menderita leukimia dan baru saja mengakui kalau dia mencintai Harlan selama ini. Cecillia melirik Harlan dengan cemas. Tampang adiknya itu bahkan lebih kusut dibandingkan dengan pakaian lusuh. Belum pernah dia melihat Harlan sampai seperti ini. Saat ini, keduanya sedang berada di kafetaria kantor Cecillia.
“Sekarang gini aja, deh....” Cecillia menghela napas panjang dan melipat kedua tangannya di depan d**a. Dilihatnya Harlan yang saat ini hanya menatap meja di depannya dengan tatapan menerawang. “Perasaan lo sendiri gimana ke Ine juga Mitha?”
“Gue bingung, Kak...,” jawab Harlan lirih. “Gue udah jatuh cinta sama Ine... meskipun gue tau dia suka sama Rizan....”
“Ine suka sama Rizan?” tanya Cecillia terperanjat. Ada perasaan aneh yang tidak diketahuinya yang menyusup kedalam hatinya ketika dia mendengar ucapan Harlan barusan. “Masa? Lo tau darimana?”
“Lo lupa waktu kita berempat dijodohin malam itu, si Ine bilang dia suka sama Rizan?” tanya Harlan keki. Kesal karena ucapannya barusan dipotong begitu saja oleh Cecillia.
“Oh iya... lupa gue... hehehehe....”
“Meskipun gue tau dia suka sama Rizan,” ulang Harlan tanpa memperdulikan ekspresi aneh Kakaknya. “Gue tetap suka sama Ine. Gue juga nggak tau kenapa. Padahal, lo sendiri tau gimana sikap Ine kalau ketemu gue. Kita itu musuh. Gue nggak punya alasan untuk suka dan cinta sama Ine, tapi nyatanya, gue jatuh cinta sama dia dengan alasan yang gue sendiri nggak tau apa.” Harlan menarik napas panjang dan menautkan kedua tangannya yang kemudian diletakkan di bawah dagunya. “Ketika tadi gue dengar Mitha mengidap leukimia dan dia suka sama gue, gue nggak tega, Kak... dia juga minta supaya sekali ini saja, dia ingin bersikap egois. Dia ingin gue hanya melihat ke arah dia. Dia nggak peduli kalau gue sudah bertunangan sama Ine... dia hanya ingin gue ada di sisi dia sampai dia meninggal nanti... karena dia ngerasa waktunya udah nggak lama lagi, Kak....”
“Berada di sisi dia sampai dia menghembuskan napas terakhirnya nanti bukan berarti harus menjadi pacar dia, Lan... lo akan tersiksa karena hati lo sebenarnya ada di Ine. Separuh hati lo ada di Ine. Kehidupan lo setengahnya ada di Ine.” Cecillia menarik napas panjang. “Jangan jadiin penyakitnya sebagai alasan, Lan... dia sama aja nyakitin lo sama Ine.”
“Tapi, Kak... gue... gue benar-benar nggak tega sama Mitha, Kak. Dia sahabat gue sejak SMA. Dia selalu ada buat gue.”
“Lo harus tegas dan memilih, Lan... lo pilih Mitha, tinggalin Ine. Lo pilih Ine, jangan beri harapan sama Mitha. Dan saran gue, lo harus bicarain ini semua sama Ine.”
“Gue tau....” Harlan meremas rambutnya frustasi. “Gue udah SMS Ine, tapi dia belum balas SMS gue....”
Ponsel yang diletakkan Harlan di atas meja bergetar. Laki-laki itu dengan malas mengambilnya dan terbelalak saat membaca kalimat yang tertera pada layar ponselnya. Cecillia yang melihat itu hanya bisa mendesah panjang dan menatap adiknya dengan tatapan prihatin sambil tersenyum kecil.
From: My Sweety Jerry
Oke... nanti malam kita ketemu. Jam 7 di depan kampus.
@@@
“Oom Victor sama Tante Shabrina nggak ada di rumah?”
Pertanyaan Ine itu hanya dijawab dengan tawa oleh Rizan. Mereka berdua kini berada di rumah Rizan. Hari sudah menjelang maghrib. Kira-kira sudah pukul lima lewat sedikit. Setelah menenangkan Ine didalam pelukannya di pantai Anyer tadi, yang hanya terus menangis tanpa menjelaskan apa yang sudah terjadi, Rizan membawa gadis itu pulang ke rumahnya. Di perjalanan pulang, Rizan melihat Ine tampak sedang menimbang-nimbang apakah dia harus mengetik sebuah SMS atau tidak karena gadis itu terus-menerus menggenggam ponselnya. Akhirnya, Ine melakukan hal itu juga. Dia mengetik sesuatu dengan cepat dan langsung menaruh ponselnya ke dashboard mobil. Ternyata, Ine tidak membawa serta ponselnya saat bermain di laut tadi.
“Mereka pergi ke Surabaya. Ada acara keluarga disana. Baru pulang tiga hari lagi.” Rizan kembali ke sofa dimana Ine sedang duduk sambil menatap lantai dengan tatapan kosong. Laki-laki itu menghela napas dan menyerahkan sebuah kemeja lengan panjang polos berwarna hijau muda kepada gadis itu. “Ganti baju lo, Ne... nanti masuk angin.”
Ine yang baru sadar dari lamunannya mendongak dan tersenyum. Gadis itu menerima kemeja yang disodorkan Rizan padanya dan bangkit berdiri. Dia berjalan ke arah kamar yang ditunjuk oleh Rizan dan menghilang disana.
Sekembalinya Ine, Rizan mengulum senyum dan hampir saja tertawa ketika melihat penampilan gadis itu. Kemeja yang dipinjamkan kepadanya itu terlihat kebesaran di tubuh mungil Ine. Panjangnya mencapai lutut gadis itu. Tubuh mungilnya tenggelam. Ine terlihat seperti sedang memakai daster saat ini, karena gadis itu juga melepas celana jeans-nya.
“Lo nggak ganti baju, Zan?” tanya Ine heran. Rizan mengangguk dan mendekati Ine. Laki-laki itu kemudian menepuk bahu Ine dan berbisik, “Setelah ini, lo harus cerita sama gue. Semuanya!”
@@@
Pukul tujuh malam.
Harlan berdiri di depan gerbang kampusnya. Hujan turun dengan intensitas rendah namun laki-laki itu tidak berniat untuk berteduh. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri namun belum juga menemukan sosok Ine. Sudah lewat lima menit, namun gadis itu belum juga muncul. Apakah Ine membatalkan rencananya?
“Maaf kelamaan nunggunya....”
Suara pelan bernada lelah itu membuat Harlan tersentak dan menoleh ke belakang. Disana, nampak sosok Ine yang sedang berdiri sambil menundukkan kepala. Kemeja yang kebesaran bagi tubuh Ine itu membuat Harlan mengerutkan kening. Panjangnya yang sampai ke lutut Ine, masih ditambah dengan celana jeans di bawahnya.
“Baru aja.” Harlan mendekati Ine dan berdiri tepat di depan gadis itu. Diangkat dagu Ine dengan lembut agar dia bisa menatap kedua mata gadis itu. “Gue... mau ngomong sesuatu sama lo, Ne....”
“Bisa gue dulu?” Ine langsung memotong ucapan Harlan dan menarik napas panjang. Dimantapkannya hati dan diteguhkannya niat. “Gue... cinta sama lo, Lan....”
DEG!
“Gue suka sama dia, Zan... gue cinta sama dia... dan gue nggak tau sejak kapan perasaan ini muncul.”
Rizan menarik napas panjang dan membawa kepala Ine bersandar pada dadanya. Diusapnya dengan lembut sebelah tangan dan bahu gadis itu yang saat ini kembali menangis.
“Dan kenapa hal itu justru buat lo sedih sampai nangis kayak gini? Bahkan, tadi lo juga sempat bilang hati lo sakit. Cinta nggak akan membuat orang terluka, Ne....”
“Dia punya sahabat... namanya Mitha... gadis itu mengidap leukimia dan Harlan baru tau hari ini. Gue nggak sengaja ngikutin mereka ke ruang kesehatan dan disana Mitha bilang kalau... kalau....”
“Kalau dia suka sama Harlan?”
Ine tidak menyahut. Gadis itu hanya diam dan meremas baju yang dikenakan oleh Rizan. Rizan mencium kening Ine dan mengusap rambut gadis itu dengan lembut.
“Ine... lo harus bilang perasaan lo sama Harlan... gue yakin kalau lo adalah gadis yang kuat dan tangguh. Seandainya setelah ini lo jadi rapuh dan terus bersedih, ada gue... gue menganggap lo sebagai sahabat gue juga sebagai adik kecil yang harus selalu gue lindungi. Gue adalah pelindung dan perisai lo. Jadi, kapanpun lo butuh gue, gue akan selalu ada buat lo....”
Ine memijat pelipisnya pelan dan memejamkan kedua matanya. Gadis itu kemudian terkekeh pelan dan tertawa hambar lantas membuka kedua matanya lagi. Hujan masih setia membasahi tubuh Harlan dan Ine. Keduanya saling menatap tepat di manik mata masing-masing. Ada perasaan kecewa yang tergambar jelas dari cara sepasang mata Ine ketika menatapnya. Harlan bahkan bisa merasakan jantungnya berdegup kencang dan seperti ada sesuatu yang berat menghimpit rongga dadanya.
“Maaf... anggap aja gue salah ngomong tadi. Anggap aja gue ngelantur.” Ine memutar tubuh dan bersiap untuk berlari meninggalkan Harlan, ketika sebuah tarikan keras pada lengannya membuat tubuhnya kembali barputar. Kini, di hadapannya berdiri sosok Harlan yang mengerutkan kening dan menatapnya tajam, seiring dengan semakin mengerasnya cekalan tangannya pada lengan Ine. Membuat gadis itu meringis.
“Lan... sakit...,” rintih Ine sambil berusaha melepaskan lengannya dari cekalan Harlan. Namun, laki-laki itu tidak membiarkan.
“Mana mungkin gue bisa ngelupain apa yang udah lo ucapin tadi? Mana mungkin gue bisa dengan gampangnya menganggap omongan lo itu hanya sebuah lelucon? Lanturan?!” Harlan mendengus dan mengguncang tubuh Ine. “LO PIKIR GUE MANUSIA YANG NGGAK PUNYA HATI, HAH?!”
“Terus apa yang lo harapkan, hah?! APA?!” seru Ine sambil mengenyahkan tangan Harlan dari tubuhnya. Gadis itu menangis dan Harlan tahu akan hal itu. Meskipun airmata itu bercampur dengan air hujan. “Oke! Gue akan ulangi! Gue suka sama lo! Gue cinta sama lo, PUAS?!” Ine tertawa hambar dan mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. “Tapi gue tau lo nggak tega nyakitin Mitha. Dan gue juga nggak mau nyakitin dia. Dia membutuhkan lo, Lan... kita harus bilang ke orangtua kita kalau pertunangan kita harus dibatalkan....”
Tanpa diduga, Harlan menangkup wajah Ine, menarik kepala gadis itu agar mendekat ke arahnya, lantas mendaratkan bibirnya pada bibir gadis itu. Awalnya, Ine memejamkan kedua matanya dan menikmati ciuman lembut Harlan pada bibirnya. Sampai kemudian, bayangan Mitha perlahan muncul dan hal itu langsung membuat Ine mendorong tubuh Harlan.
“Gue nggak bisa, Lan... Mitha lebih membutuhkan lo dibandingin gue....” Selesai berkata demikian, Ine langsung berlari meninggalkan Harlan yang hanya bisa bergeming di tempatnya.
“TAPI GUE CINTA SAMA LO, INEEEEE!!!” teriak laki-laki itu diiringi gemuruh petir yang saling bersahutan. Lantas, Harlan membiarkan tubuhnya meluruh begitu saja dan terduduk di atas aspal.
@@@
Entah sudah berapa lama, Ine meringkuk seperti anak hilang di sebuah ruko yang tidak terpakai di dekat kampusnya. Gadis itu menunggu kedatangan Rizan. Tadi, Rizan meneleponnya dan yang bisa dilakukan oleh Ine hanyalah menangis. Setelah itu, Rizan langsung menanyakan dimana posisi Ine sekarang dan akan menjemputnya.
Hujan sudah berhenti membasahi bumi. Ine menarik napas panjang dan bangkit berdiri. Gadis itu berjalan dengan agak sempoyongan ke arah jalan raya supaya lebih memudahkan Rizan untuk menemukannya. Sampai kemudian, langkah kaki Ine terhenti. Gadis itu mengerjapkan kedua matanya dan mengangkat sebelah tangannya ke d**a kirinya.
Pemandangan di depannya sungguh membuat hatinya teriris. Sakit... sesak... perih... bahkan, rasa perih karena luka yang diberi perasan jeruk nipis pun tidak sebanding dengan apa yang sedang dilihatnya saat ini. Buliran airmata itu tiba-tiba saja jatuh membasahi wajahnya. Semakin lama, semakin deras... tidak mau berhenti. Dia rasanya ingin sekali menghilang detik ini juga. Saat ini juga. Membawa pergi rasa sakit hati dan kecemburuan yang merasuki dirinya. Menyerangnya tanpa ampun, meskipun saat ini dia sudah menjerit kesakitan didalam hati. Tanpa sadar, kedua kakinya justru membawa tubuhnya untuk mendekat pada dua sosok yang sedang berpelukan dengan sangat erat di depannya. Sampai kemudian, bahunya diputar paksa dari arah belakang dan tahu-tahu saja, dia sudah mendarat pada pelukan seseorang. Seseorang yang kini mendekapnya dengan sangat kuat, mengaliri energi positif, kehangatan terlebih kekuatan untuk dirinya.
"Your shelter came... just hide...," ucap Rizan lembut. Laki-laki itu menatap Harlan dan Mitha yang sedang berpelukan erat di depannya, lantas langsung memejamkan kedua matanya ketika dia mendengar isak tangis Ine yang begitu lirih dan menyayat hati.
@@@
Suara bel rumahnya yang terus berbunyi membuat Harlan berdecak kesal. Saat terbangun tadi pagi, kepalanya terasa sangat berat. Dia berjalan terseok ke arah pintu utama. Saat akan membuka pintu utama, barulah muncul sosok Cecillia yang nyengir kuda ke arahnya, juga sosok Anna dan Keizo.
“Buka, Lan...,” perintah Keizo yang hanya dijawab dengan anggukan kepala. Begitu pintu itu terbuka, Harlan langsung membeku di tempat. Cecillia yang menatap kedatangan Ine hanya bisa melirik Harlan dengan cemas, sementara kedua orangtuanya menyambut Ine yang datang bersama Suchi dan Arsyad.
“Chi... pagi-pagi, kok, udah datang? Aku, kan, jadi nggak bisa ngerapihin rumah dulu.” Anna mencium kedua pipi Suchi bergantian, sementara Keizo dan Arsyad sudah asyik mengobrol.
Ketika mereka semua akan masuk kedalam rumah, Ine berdeham. Perbuatannya itu membuat mereka semua menoleh dan memusatkan perhatian kepada gadis itu. Ine hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Gadis itu menatap Harlan sejenak, lalu kembali menatap kelima orang di depannya.
“Ada yang mau Ine sampaikan, Oom, Tante,” ucap gadis itu kepada Anna dan Keizo. “Sebelumnya, Ine mau minta maaf sama Oom, Tante, Papa, Mama juga Kak Cecill. Ine mutusin untuk batalin pertunangan Ine sama Harlan.”
“Apa?!” seru kedua orangtua gadis itu, juga kedua orangtua Harlan dan Cecillia. Harlan tidak terkejut sama sekali, meskipun saat ini sikap tubuhnya benar-benar berubah. Dia hanya menatap pintu di depannya, dimana Ine berdiri di samping pintu tersebut, dengan tatapan datar dan kosong. Cecillia sendiri hanya bisa menarik napas panjang dan tidak bisa berbuat apa-apa. Semalam, Harlan menceritakan mengenai pertemuan juga percakapan laki-laki itu dengan Ine di depan kampus mereka. Disusul kemudian Mitha yang menelepon Harlan dan langsung menanyakan keberadaan laki-laki itu ketika mendengar suara Harlan yang lelah dan serak.
“Ine nggak bisa melanjutkan semuanya... karena....” Ine langsung mengusap airmata yang jatuh membasahi pipinya. Senyumnya bahkan masih tercetak di bibir. Senyuman pahit dan getir. “Karena... Ine nggak mencintai Harlan....”
Luka ini..
Tak sakiti..
Kan kurasakan sampai mati..
Aku lelah..
Ku teramat lelah...
Menanggung Beban...
Sendiri...
Aku lelah..
Ku teramat lelah...
(Cakra Khan-Lelah)
@@@