Chapter 9-Wherever I Go

2992 Words
Terlambat kusadari kau teramat berarti... Terlambat tuk kembali dan tuk menanti... Kesempatan kedua yang tak kan mungkin pernah ada... Biarkan ku hidup dalam penyesalan ini... Sampai nanti kau akan kembali... (Cakra Khan-Setelah Kau Tiada)               Masih terekam dengan jelas dalam ingatan Harlan ketika Ine mengatakan pada kedua orangtuanya juga orangtua gadis itu tentang keinginannya untuk membatalkan pertunangan mereka yang sudah terjadi. Bahkan, Ine mengatakan dengan sangat jelas dan tegas bahwa dia tidak mencintai Harlan. Membuat Harlan memaksa kinerja hatinya untuk berhenti berfungsi sebagaimana mestinya. Memaksa Harlan untuk mengontrol amarahnya yang sudah mencapai k*****s agar dia tidak melakukan tindakan-tindakan gila diluar nalar kemanusiaannya. Seperti memeluk Ine bahkan mencium bibir gadis itu di depan semuanya contohnya.             Harus Harlan akui, Ine memerankan tokohnya dengan sangat baik. Nyaris menyamai artis profesional diluar sana. Gadis itu bisa mengatakan kepada semuanya bahwa dia tidak mencintai Harlan sama sekali. Perlu diulang? DIA TIDAK MENCINTAI HARLAN SAMA SEKALI! Bahkan, kedua mata Ine menatap tegas sepasang mata Harlan saat mengucapkan kalimat yang sanggup membuat hati Harlan berdarah kalau saja perumpamaan itu bisa divisualisasikan. Meskipun semua orang bisa melihat gadis itu menangis. Ine memang menangis, tapi dia masih bisa tersenyum dan menatap Harlan dengan tatapan tegas.             “BRENGSEEEEEK!!!” teriak Harlan menggelegar sambil meninju dinding kamarnya. Laki-laki itu memejamkan kedua matanya dan menggeram tertahan. Geraman penuh emosi. Emosi yang saat ini menguasai raga, pikiran, hati dan jiwanya. Kepalanya ditempelkan ke dinding. Bahu dan dadanya naik-turun. Rasanya untuk bernapas saja sangat sulit. Beberapa menit yang lalu, setelah pengakuan yang keluar dari mulut Ine itu, semua orang langsung membahas masalah tersebut dan akhirnya permintaan Ine dikabulkan oleh kedua orangtua mereka masing-masing. Harlan bisa apa? Dia hanya menatap Ine dan melihat gadis itu sedang melamun. Seperti memikirkan sesuatu. Gadis itu menatap lantai di bawahnya dengan tatapan menerawang dan sama sekali tidak melihat ke arahnya. Kemudian, kedua orangtua Ine memutuskan untuk pulang setelah sebelumnya meminta maaf pada kedua orangtua Harlan.             “b******k! b******k! b******k!!!” teriak Harlan lagi. Kali ini, diikuti suara isak tangis. Isak yang begitu pilu. Disusul kemudian tubuhnya yang meluruh begitu saja ke lantai. Kepala yang tertunduk itu membuat airmatanya jatuh membasahi lantai. Kemudian, isak tangis itu menghilang meskipun Harlan masih tetap menangis.             Dia menangis dalam diam. @@@ Pemandangan yang sama terjadi pada Ine. Gadis itu terlihat sangat kacau dan berantakan. Pikirannya melanglang buana entah kemana. Dia hanya mengikuti langkah kakinya saja. Saat tiba di rumah tadi, Ine sama sekali tidak mengeluarkan suara. Membuat Arsyad dan Suchi berkali-kali menghembuskan napas panjang karena khawatir pada anak gadis mereka. Kemudian, dengan sangat terpaksa, mereka mengizinkan Ine yang berkata ingin berjalan-jalan sebentar keluar untuk mencari angin segar. Yang ada dalam pikiran Arsyad dan Suchi, mungkin saja dengans sedikit berjalan-jalan dan mendapatkan udara segar, Ine bisa menjadi lebih tenang. Meskipun jujur, mereka berdua tidak mengerti apa alasan sebenarnya yang membuat Ine membatalkan pertunangannya dengan Harlan. Kalau hanya alasan dia tidak mencintai Harlan, seharusnya dari awal Ine sudah meminta pertunangan ini dibatalkan saja.             Beberapa kali, Ine hampir terjatuh karena rasa pusing yang menderanya. Akhirnya, di taman kota yang terlihat sepi ini, Ine menghentikan langkah kakinya. Gadis itu menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Sakit. Rasanya sangat sakit dan sesak. Melepaskan seseorang yang mulai dicintainya untuk orang lain. Munafik? Mungkin. Ine mungkin memang munafik. Tapi, dia tidak ingin karena keegoisannya mempertahankan seseorang yang dicintainya membuat orang lain menderita.             Perlahan, Ine mendekati bangku taman. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya disana dan menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku taman tersebut. Ine menghirup udara segar yang ada di taman tersebut sebanyak-banyaknya yang dia mau. Sia-sia saja ternyata. Dia justru merasa semakin sesak kala bernapas. Ya Tuhan...   So i’m moving on... letting go... Holding onto tomorrow... I’ve always got the memories... While i’m finding out who i’m gonna be... We might be apart, but i hope you always know, you’ll be with me... Wherever i go... (Miley Cyrus-Wherever I Go)               Entah sudah yang keberapa kalinya, Ine memutar lagu tersebut di ponselnya. Headset yang terpasang di sebelah telinganya membuat gadis itu ikut menyanyikan lirik lagu yang sudah dihapalnya diluar kepala. Kondisi taman saat ini begitu menenangkan hati. Membuat Ine memejamkan kedua matanya sambil berusaha meredam gemuruh didalam dadanya. Dia resmi menyandang status single lagi sekarang karena usahanya untuk membatalkan pertunangan yang sudah terjalin diantara dirinya dan Harlan berhasil.             Tanpa sadar, gadis itu menangis. Lagi, untuk yang tak terhitung semenjak malam itu, ketika dia bertemu dengan Harlan di depan kampus. Biarlah, ini akan menjadi tangisnya yang terakhir. Ine berjanji didalam hatinya sendiri. @@@ Puas berteriak kencang didalam kamarnya, menumpahkan segala emosi yang mendera dirinya, Harlan memutuskan untuk pergi keluar sebentar. Anna dan Keizo sama sekali tidak melarang Harlan yang langsung pergi keluar rumah begitu saja. Tanpa pamit. Cecillia sendiri sudah pergi ke kantor setelah insiden tadi pagi terjadi. Gadis itu benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Dia memang kasihan pada Harlan dan Ine, tapi ini murni masalah mereka berdua. Mereka sudah dewasa dan pasti bisa menyelesaikan masalah mereka, bagaimanapun caranya.             Harlan membawa motor Ninjanya ke taman kota. Dia butuh udara segar agar pikiran dan hatinya bisa jernih kembali. Laki-laki itu langsung mematikan mesin motornya ketika sudah sampai di taman kota. Kemudian, langkah kakinya membawanya masuk kedalam taman dan berniat untuk duduk di salah satu bangku yang ada, ketika tatapan matanya tidak sengaja menatap seseorang. Seseorang yang duduk menyamping. Seseorang yang tubuhnya berguncang hebat. Seseorang yang Harlan kenali sebagai... Ine.             Harlan berhenti melangkah dan menyandarkan sebelah bahunya pada sebuat batang pohon yang kokoh. Dia tidak peduli dengan rasa sakit yang menyerang kulitnya karena kasarnya permukaan batang tersebut. Itu semua tidak sebanding dengan apa yang dirasakan oleh hatinya saat ini, ketika dia harus melihat gadis yang dicintainya menangis kesakitan karena rela mengorbankan perasaannya sendiri demi kebahagiaan orang lain.             Apakah takdir begitu senang mempermainkan manusia?             Di waktu yang sama namun tempat yang berbeda, seorang laki-laki berpakaian jubah putih dengan stetoskop yang menggantung di lehernya tengah mendengarkan lagu yang sama dengan yang didengarkan oleh Ine. Lagu penuh kenangan yang menjadi lagu favoritnya sampai saat ini. Lagu kesukaan mendiang isteri-nya dulu, Lala. Lala, gadis cantik yang dia nikahi saat umur keduanya memasuki angka dua puluh enam tahun. Lala meninggal dunia setahun yang lalu, ketika dia berumur dua puluh tujuh tahun akibat kecelakaan tunggal. Kemudian, kedua mata Lala didonorkan kepada salah satu pasien rumah sakit ini. Anehnya, gadis itu juga baru saja mengalami kecelakaan.             Kebetulan kah? Atau... takdir...?             Dia tidak pernah bertemu dengan gadis yang telah menerima donor mata dari Lala. Yang dia tahu hanyalah namanya saja. Ine Maharani Prasetyo.             “Dokter Veno? Anda sudah ditunggu di ruang operasi.” Seorang suster dengan wajah yang manis dan senyum lembutnya membuyarkan lamunan laki-laki tersebut. Laki-laki yang dipanggil Veno itu menghembuskan napas panjang dan bangkit dari duduknya. @@@ Cecillia bersungut-sungut ria di kubikelnya. Gadis itu menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan keras. Sudah pukul satu siang namun dia masih harus berkutat dengan pekerjaannya. Laporan-laporan sialan ini sudah harus diberikan pada si Bos dan karena hal itulah, Cecillia harus menahan rasa laparnya. Belum lagi ditambah dengan kenyataan bahwa pagi tadi, dia belum sempat sarapan karena dikejutkan oleh kedatangan Ine beserta kedua orangtuanya.             Mengingat kejadian tadi pagi membuat Cecillia merasa kasihan pada Harlan. Adiknya itu benar-benar dilanda rasa dilema yang besar. Dimana dia harus memilih antara gadis yang mulai dicintainya dengan sahabatnya sendiri. Cecillia tidak bisa berbuat apa-apa karena ini murni masalah Harlan, Ine dan seorang gadis bernama Mitha. Cecillia yakin mereka bertiga sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan masalah yang terjadi tanpa harus menerima campur tangan orang lain. Meskipun begitu, Cecillia tidak akan ragu-ragu untuk membantu Harlan seandainya adiknya itu membutuhkan bantuannya.             “Nggak makan siang, Cil?”             DEG!             Suara berat itu membuat bulu roma Cecillia meremang. Tubuhnya membeku seketika itu juga. Aliran darahnya seakan terserap keluar dan napasnya mulai terasa berat. Suara itu adalah suara milik... Orlan.             Mendadak, wajah Orlan muncul di hadapan Cecillia. Laki-laki itu tersenyum miring. Senyum yang terkesan misterius dan berbahaya. Senyum yang membuat Cecillia memasnag sikap waspada. Lagi-lagi, Orlan muncul disaat tidak ada siapapun di kubikel ini. Sonia pergi entah kemana.             “La... lagi ngerjain laporan...,” cicit Cecillia. Terdengar sekali dari nada suaranya bahwa gadis itu sedang dilanda ketakutan yang begitu hebat. Apalagi kini, Orlan langsung menangkap pergelangan tangannya, hingga membuat gadis itu menjerit pelan.             “Lo takut sama gue, Cil? Hmm?” tanya Orlan dengan nada suara rendah. Laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Cecillia yang kini terlihat pucat. Cecillia sendiri sudah berusaha untuk menjauhkan diri namun gagal. Apalah arti kekuatannya jika dibandingkan dengan kekuatan laki-laki itu.             “Lepasin gue, Lan...,” pinta Cecillia terbata. Rasa takutnya semakin membuncah. Tolong... siapa saja, tolong....             “Lo suka sama Cecillia?”             Satu suara bernada mengejek itu membuat Cecillia dan Orlan menoleh. Disana, tak jauh dari tempat Orlan dan Cecillia, sosok Rizan berdiri menjulang. Laki-laki itu menyandarkan punggungnya pada dinding di belakangnya dan bersedekap. Senyumnya terlihat meremehkan dan sebelah alisnya terangkat.             Melihat kemunculan Rizan, Orlan langsung melepaskan cekalan tangannya pada tangan Cecillia dan berdecak jengkel. Sudah lama sebenarnya dia ingin menghajar Rizan sampai laki-laki itu tidak bisa berkutik lagi. Melihat kedekatan Rizan dan Cecillia meskipun kedekatan mereka itu hanyalah berupa pertengkaran-pertengkaran yang tidak ada gunanya. Tapi tetap saja, Orlan sangat kesal dan cemburu kala melihatnya.             “Baru tau, heh?”             “Kata siapa gue baru tau?” Rizan terkekeh geli, membuat Cecillia mengerutkan kening. Tanpa sadar, jantungnya berdegup kencang. Kenapa beberapa hari terakhir ini, semenjak mereka semua berlibur di villa keluarga laki-laki itu, Cecillia selalu gugup dan deg-degan kalau melihat Rizan?             “Maksud lo?” tanya Orlan. Nada suaranya mulai meninggi. Pembawaan Rizan yang begitu tenang dan santai dalam menghadapinya membuat Orlan semakin kesal.             Perlahan, Rizan mulai mendekati Orlan. Kedua laki-laki itu kini berdiri berhadapan. Cecillia sendiri hanya bisa memperhatikan dari tempatnya. Dia sebenarnya takut, tapi kalau dia tidak berada di tempat ini, kemungkinan besar Rizan dan Orlan akan saling baku hantam. Kalau sudah begitu, siapa yang nantinya akan melerai mereka?             “Gue tau lo memendam rasa sama Cecillia. Gue selalu liat dari cara mata lo saat menatap Cecillia! Dan gue tau, rasa suka lo itu udah berubah menjadi obsesi!” Rizan menuding bahu Orlan, yang langsung ditepis dengan kasar oleh laki-laki itu. “Gue tau semuanya! Jangan dikira gue buta!”             “Terus, kalau semua itu terbukti benar, lo mau apa?” Orlan melipat kedua tangannya di depan d**a dan mendengus.             “Ini peringatan untuk lo. Yang pertama dan yang terakhir!” Rizan menarik tangan Cecillia dan membawa tubuh gadis itu mendekat ke arahnya. Cecillia sendiri hanya diam. Genggaman tangan Rizan saat ini mengusir semua ketakutan yang sempat dia rasakan sejak Orlan datang beberapa saat yang lalu. Genggaman tangan Rizan itu mengalirkan rasa hangat yang tidak pernah dirasakan oleh Cecillia sebelumnya, bahkan saat dia masih berpacaran dengan Freddy. “Sekali lagi gue liat lo bikin Cecillia ketakutan atau lo berusaha mendekati dia... gue bersumpah bakalan bikin lo menyesal, Orlan!”             Selesai berkata demikian, Rizan langsung menarik tubuh Cecillia untuk pergi dari tempat tersebut. Meninggalkan Orlan yang kini menggebrak meja di depannya sambil mengumpat. @@@ “Jadi, Ine sama Harlan benar-benar udah batalin pertunangan mereka?”             “Iya,” balas Cecillia muram. Keduanya kini berada di salah satu kafe di dekat kantor untuk makan siang. Sebenarnya, sih, hanya Cecillia yang makan siang sementara Rizan hanya menemani. Laki-laki itu menatap wajah muram Cecillia sambil mengaduk minuman yang dipesannya. “Gue sebenarnya pengin bantu, cuma, gue nggak mau ikut campur.”             “Lebih baik ikut campur kalau itu bisa membantu mereka berdua, Cil....”             Cecillia mendongak dan bertemu mata dengan Rizan yang tersenyum. Lagi, jantungnya kembali berulah, membuat Cecillia merutuki dirinya sendiri didalam hati. “Kenapa lo ngomong kayak gitu?”             “Karena gue tau semuanya,” ucap Rizan seraya menghela napas dan menautkan kedua tangannya di bawah dagu. “Ine cerita semuanya sama gue kemarin siang.”             “Lo ketemu sama Ine?”             “Yup! Di kafe... dia lagi sendirian, dan gue nggak sengaja ketemu sama dia. Gue ajak dia ke pantai, tapi dia malah nyaris bunuh diri.”             “Bunuh diri?!” seru Cecillia tidak percaya. Kedua matanya terbelalak maksimal. Sebenarnya, Rizan juga tidak ingin membahas masalah ini. Tapi, gadis itu yang mulai bercerita mengenai masalah Harlan dan Ine. Bagus juga, sih, sebenarnya. Jadi, Cecillia bisa melupakan masalah di kantor tadi. Masalah mengenai Orlan.             “Iya... bunuh diri....” Rizan menyeruput minumannya sejenak, sebelum melanjutkan. “Setelah gue tolongin dan gue bawa dia ke rumah gue, dia cerita semuanya. Dia cinta sama adik lo, Cil... hanya saja, dia nggak mau nyakitin sahabat adik lo yang ternyata juga cinta sama adik lo itu.”             “Jadi... menurut lo, kita harus gimana?” tanya Cecillia lesu. “Tunggu dulu, lo bilang, lo bawa si Ine ke rumah lo?”             “Iya....” Rizan mengangguk.             “Terus, Oom Victor sama Tante Shabrina nggak nanya-nanya gitu?”             “Mereka nggak ada, lagi diluar kota.”             “Jadi lo cuma berduaan aja di rumah sama Ine?!” jerit Cecillia yang langsung dibekap mulutnya oleh Rizan. Semua pengunjung kafe kini menatap ke arah mereka dengan kening berkerut, membuat Rizan tersenyum salah tingkah sambil menganggukkan kepalanya untuk meminta maaf dalam bentuk isyarat. Kemudian, tangan Rizan langsung ditepis dengan kasar oleh Cecillia. Gadis itu kini menarik napas panjang dan menghirup oksigen sebanyak yang dia mau.             “Lo udah gila, Zan?! Mau bikin gue mati?!”             “Elo yang udah gila,” balas Rizan sambil menyentik kening Cecillia. “Ngapain, sih, pakai teriak-teriak segala? Bikin malu, tau! Lo cemburu?”             “Idiiiih!” Cecillia memperagakan orang yang sedang muntah dan menatap Rizan dengan tatapan ngeri. “Ngapain juga gue harus cemburu?”             Rizan hanya mengangkat bahu tak acuh dan merogoh saku kemeja kerjanya. Laki-laki itu mengeluarkan ponselnya dan mengerutkan kening saat membaca nama yang muncul di layar benda komunikasi tersebut.             “Halo? Ne?”             “Maaf... apa Anda teman dari orang yang memiliki ponsel ini?”             “Iya... ini, siapa, ya?” tanya Rizan bingung. Nomor yang menghubunginya memang nomor Ine, tetapi suara yang didengar Rizan sudah jelas bukan suara Ine. Suara ini berat, suara khas laki-laki.             “Maaf... orang yang memiliki ponsel ini sekarang tidak sadarkan diri di taman kota. Saya langsung menghubungi Anda karena dari ponselnya yang terjatuh dia sedang mengetik sebuah SMS yang ditujukan pada nomor Anda. Bisa Anda datang kemari?”             “Apa?! Ine pingsan?!” seru Rizan sambil bangkit berdiri. Di depannya, Cecillia yang juga terkejut langsung mengikuti jejak Rizan. “Baik, saya segera kesana sekarang. Terima kasih!”             “Kenapa, Zan? Ine pingsan?” tanya Cecillia khawatir. Rizan yang sudah memasukkan kembali ponselnya kedalam saku kemeja kerjanya mengangguk pelan.             “Gue harus kesana dan bawa Ine ke rumah sakit, Cil....” Rizan menatap Cecillia tepat di manik mata. “Lo pulang aja, ya? Kerjaan lo tinggalin aja, nggak apa-apa.”             “Loh, tapi... itu laporan mesti diserahin ke si Bos sekarang, Zan... gue balik ke kantor aja, deh.”             “Jangan!” tegas Rizan langsung. Laki-laki itu berdecak kesal dan memegang kedua pundak Cecillia. Tidak dibiarkannya sedetikpun bagi Cecillia untuk mengalihkan tatapannya. “Lo pulang ke rumah. Kerjaan lo, biar gue yang urus. Gue yang tanggung jawab sama si Bos. Gue lebih memilih untuk dimaki-maki sama Bos karena udah nyuruh lo untuk ninggalin kerjaan lo, dibandingkan gue harus ninggalin lo di kantor sama si b******k k*****t itu!”             DEG!             Ya Tuhan... lagi-lagi, perasaan aneh ini muncul. Perasaan tenang dan nyaman, juga hangat. Perasaan yang perlahan mulai tumbuh didalam hatinya tanpa dia sadari. Senyuman Rizan saat ini memberinya kekuatan. Lalu, gadis itupun mengangguk.             Sementara itu, di taman kota, Ine yang tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri masih belum siuman. Gadis itu dibaringkan di atas kursi yang sejak pagi didudukinya. Di sampingnya, seseorang sedang menggenggam tangannya sambil tersenyum pahit. Airmata itupun mengalir turun. Diusapnya rambut Ine dengan lembut dan dikecupnya kening Ine dengan penuh perasaan.             “Kita tunggu Rizan, ya? Gue akan nemenin lo disini, sampai Rizan datang. Dan gue akan langsung pergi menghilang sebelum Rizan sempat melihat gue...,” ucap Harlan lirih seraya menaruh kepalanya di samping kepala Ine. @@@ Lagu In Your Mind-nya Anggun mengalun keras didalam mobilnya. Ine mengangguk-anggukkan kepala mengikuti alunan lagu seraya ikut menyanyikan lirik yang sudah dihapalnya itu. Sesekali, Ine akan memeriksa riasan tipis wajahnya di kaca spion tengah mobil Yaris miliknya. Hari ini, dia akan pergi ke rumah Sofia, teman masa SMA nya dulu.             Suara Anggun semakin keras terdengar. Ine sendiri sudah kehilangan konsentrasinya hingga akhirnya, dia tidak menyadari bahwa ada seorang wanita tua yang hendak menyebrang. Terkejut dengan kejadian tak terduga itu, Ine langsung membanting kemudi mobilnya sambil menjerit keras. Lalu, mobil Yaris itu menabrak pohon besar yang berada di sisi jalan.             Ine tersadar beberapa jam kemudian. Anehnya, dia langsung menanyakan perihal lampu. Gadis itu ribut bertanya mengapa semuanya sangat gelap. Sementara itu, di samping Ine, Arsyad dan Suchi saling tatap dengan cemas. Lalu, tatapan mereka jatuh pada lampu kamar rumah sakit yang terang benderang. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter dengan sangat menyesal memberitahu pada Arsyad dan Suchi bahwa anak gadis mereka mengalami kebutaan. Hal yang langsung membuat Ine menangis histeris. Tapi, kesedihan itu tidak bertahan lama. Beberapa jam sejak Ine tersadar, dokter memberikan kabar gembira bahwa kornea mata yang cocok dengan mata Ine sudah berhasil didapatkan. @@@ “Ine...? Ine...?”             Suara yang terdengar samar itu mulai menyusup kedalam indra pendengarannya. Sambil mengerang kecil, Ine mulai membuka kedua matanya secara perlahan. Setelah sepenuhnya sadar, gadis itu menoleh ke samping. Dia bisa melihat sosok Rizan yang tersenyum lega ke arahnya.             “Ri... zan...?” panggil Ine dengan suara serak. Gadis itu berusaha bangkit dari posisi berbaringnya sambil memegang kepalanya yang terasa berat. Namun, usaha Ine langsung dicegah oleh Rizan. Laki-laki itu menahan kedua pundak Ine dan mendorong tubuh gadis itu dengan pelan agar kembali berbaring.             “Jangan banyak gerak dulu, Ne... maag lo kambuh dan lo juga kena anemia. Untung, ada orang baik yang nelepon gue dan ngasih tau keberadaan lo ke gue. Jadi, gue bisa langsung datang ke taman kota dan bawa lo ke rumah sakit.” Rizan menghela napas panjang dan mengusap rambut Ine pelan. “Jangan nyakitin diri sendiri lah, Ne... gue nggak tega liat lo kayak begini terus.”             “Gue nggak apa-apa, Zan... gue baik-baik aja,” balas Ine sambil tersenyum tipis.             Tiba-tiba, pintu kamar inap Ine terbuka pelan. Seorang dokter masuk kedalam dengan seorang suster di belakangnya. Rizan menoleh dan mengerutkan kening karena mendapati dokter yang baru saja masuk ini berbeda dengan dokter yang menangani Ine saat gadis itu dibawa ke rumah sakit.             “Permisi... saya dokter Veno... dokter Lukas kebetulan sedang mengurus pasien lain,” ucap Veno ramah dan mengangkat kepalanya dari data yang baru saja dibacanya. “Bagaimana keadaan An—“             Suara Veno terhenti di udara ketika dia bertatapan langsung dengan Ine. Laporan di tangannya jatuh begitu saja. Badannya perlahan terhuyung ke belakang, membuat Rizan dan Ine yang memaksakan diri untuk duduk mengerutkan kening. Semakin dalam Veno menatap wajah Ine, terlebih kedua mata gadis itu, semakin sulit bagi Veno untuk bernapas.             “LALA?!” @@@  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD