Ku susuri Kanal Amsterdam, berharap aku menemukan sosok yang ku cari. Setengah jam, Satu jam, Dua jam, Ku biarkan tubuhku untuk duduk, beristirahat dengan menatap tempat yang pernah aku datangi bersama Nabila. Dimana tempat ini jualah yang membuatku tiba-tiba menciumnya, dimana aku melihat ia marah, pergi meninggalkanku begitu saja, dan aku tau dia kecewa. Ku hembuskan napasku kasar. Aku masih ingat, bagaimana aku memperlakukannya dengan sangat buruk dihari pertama pernikahan. Mengacuhkannya, berpura-pura membencinya, menyalahkannya yang ikut masuk dalam pernikahan ini. Sebenarnya ia tidak salah sama sekali. Ia korban. Dan.... Yang sebenarnya salah disini adalah, aku. Juga kedua orang tuaku yang egois, melibatkan Nabila. Berharap ada keajaiban dari Tuhan untuk Lisa sadar, menunggu

