"Hentikan!" ucap Mas Andrew pelan. Ku tatap wajah Mas Andrew yang mengeras menatap tajam ke arahku. "Kamu tahu Nabila? Pengakuanmu sangat memalukan. Jika aku menjadi kamu, harusnya kamu tahu diri untuk tidak mengatakannya!" ucapnya tegas. Ku kepalkan tanganku erat, kuku-kuku panjangku terasa menekan kuat telapak tanganku. "Aku sudah punya istri, dan istriku itu Kakak kamu sendiri". "Oh, tidak.. Kamu bukan ingin mempertahankan pernikahan kita...." "Kamu melakukan ini demi kepetingan kamu sendiri". "Berusaha terlihat rapuh dihadapanku, menarik simpatiku.." Kepalan dikulit telapak tanganku makin dalam, kuku-ku yang panjang dan sedikit tajam itu, ku yakin sudah melukai kedua telapak tanganku. Napasku memburu menahan emosiku yang membuncah. "Itu hanya akal licikmu" ucapnya tertawa data

