bc

Dihina Sebagai Sampah, Ternyata Aku Pewaris Tunggal Terkaya

book_age16+
39
FOLLOW
1K
READ
revenge
love-triangle
family
forced
heir/heiress
blue collar
drama
lighthearted
city
office/work place
high-tech world
like
intro-logo
Blurb

**"Dua puluh tahun aku hidup bagai sampah. Dihina keluarga, diceraikan suami, dianggap tidak berguna oleh semua orang. Mereka tertawa melihatku jatuh, mereka berpikir aku akan mati dalam kemiskinan dan kehinaan selamanya. Namun, mereka tidak tahu rahasia besar yang selama ini tersembunyi… Aku bukan gadis biasa yang mereka injak-injak. Aku adalah PEWARIS TUNGGAL SATU-SATUNYA dari keluarga paling kaya, paling berkuasa, dan paling disegani di seluruh negeri. Kekayaan yang tak terhitung jumlahnya, kekuatan yang bisa menghancurkan siapa saja hanya dengan satu perintah. Saat topengku terbuka, saat jati diriku yang sesungguhnya terungkap… Dunia yang meremehkanku akan bertekuk lutut. Mereka yang menyakitiku akan menyesal seumur hidup. Karena saat aku bangkit, tidak ada satu pun yang berani berdiri di hadapanku. Aku bukan lagi gadis yang kalian kenal. Aku adalah Ratu yang kalian hina, dan kini aku datang untuk menuntut balas."**

chap-preview
Free preview
Bab 1: Dihina Bagai Sampah ✨
✨ Bab 1: Dihina Bagai Sampah ✨ Hujan turun deras sekali, membasahi seluruh tubuhku yang sudah basah kuyup. Aku berdiri di depan gerbang besar rumah keluarga Adhiguna, rumah yang selama dua puluh tahun ini aku sebut sebagai tempat tinggal, namun tidak pernah menjadi tempatku pulang. Tanganku gemetar memegang selembar kertas bertanda tangan basah. Surat cerai. Itulah yang diberikan suamiku, Darrell Adhiguna, tepat di hari ulang tahun pernikahan kami yang kelima. "Ayo pergi dari sini, Aurora! Jangan pernah lagi injakkan kakimu di tempat ini!" Suara lantang dan penuh kebencian itu keluar dari mulut Darrell. Pria yang dulu bersumpah akan menjagaku seumur hidup, kini menatapku dengan pandangan jijik seolah aku adalah kotoran yang menempel di sepatunya. Di sampingnya berdiri wanita cantik, berpakaian mewah, tersenyum penuh kemenangan. Itu Clara, wanita yang selama ini menjadi selingkuhannya. "Kau dengar apa yang dikatakan suamiku? Eh, bukan... mantan suamimu lagi, ya?" cibir Clara sambil merapikan rambut indahnya. "Sudah sadar kan sekarang? Kau itu cuma sampah, Aurora. Tidak punya apa-apa, tidak berguna, dan cuma menjadi beban bagi semua orang. Kau pikir pantas mendampingi Tuan Darrell? Lihatlah dirimu! Kain apa yang kau pakai? Bandingkan denganku!" Aku menunduk, menatap pakaian lusuh yang melekat di badan. Memang benar, aku selalu berpakaian sederhana, bahkan seringkali terlihat kumal. Selama menikah dengan Darrell, aku tidak pernah diberi uang sepeser pun. Aku hidup layaknya pembantu di rumah ini, memasak, membersihkan, melayani mereka semua, namun yang kudapat hanyalah hinaan dan cacian. "Kau gadis sial yang tidak tahu diri!" Suara nyaring terdengar dari balik pintu. Ibu tiri Darrell, Nyonya Elvina, keluar dengan wajah sinisnya. "Kami sudah terlalu lama menampungmu, memberi makan mulutmu yang tidak berguna itu. Sekarang Darrell sudah mendapatkan wanita yang pantas, wanita berkelas, wanita kaya raya! Kau pikir siapa dirimu? Kau anak yatim piatu yang tidak punya sanak saudara! Keluargamu saja membuangmu saat bayi, itu bukti kalau kau memang tidak diinginkan di dunia ini!" Kata-kata itu menusuk tepat di ulu hatiku. Benar, aku tidak tahu siapa orang tuaku. Aku dibuang di depan panti asuhan saat masih bayi, lalu diadopsi oleh keluarga miskin yang akhirnya menelantarkanku pula. Hingga akhirnya aku dijodohkan dengan Darrell karena keluarga kandungnya butuh uang. Dan sekarang, setelah tidak ada gunanya lagi, aku dibuang kembali ke jalanan. "Pergi! Jangan harap kau membawa barang apa pun dari sini! Semua yang ada di sini milik keluarga Adhiguna, dan kau tidak berhak sedikit pun!" bentak Nyonya Elvina lagi. Darrell hanya diam, menatapku dingin tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Sudah dengarkan? Pergi. Jangan sampai aku melihat wajahmu lagi. Melihatmu saja membuatku mual." Pintu besar itu ditutup rapat dengan bunyi yang sangat keras, seolah memisahkanku selamanya dari dunia yang dulu sempat aku harapkan akan memberiku kebahagiaan. Aku terduduk lemas di pinggir jalan, hujan masih terus mengguyur, bercampur dengan air mata yang tak henti mengalir. Dingin, lapar, dan hancur. Rasanya aku ingin mati saja saat itu juga. Dunia ini terlalu kejam untuk orang sepertiku. Orang yang tidak punya apa-apa, tidak punya siapa-siapa. Memang benar kata mereka... aku ini sampah. Tidak berguna, tidak diinginkan. Namun, di tengah keputusasaan itu, tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam besar dan sangat mewah berhenti tepat di depanku. Mobil itu berkilau, bersih, dan terlihat sangat mahal, jauh berbeda dengan kendaraan apa pun yang pernah ada di lingkungan ini. Pintu terbuka. Seorang pria paruh baya berpakaian rapi, berwibawa, dan tampak sangat hormat turun perlahan. Ia berjalan mendekat, lalu berlutut di hadapanku, membiarkan tubuhnya ikut basah terkena hujan. Matanya berkaca-kaca saat menatapku lekat-lekat. "Nona Aurora... akhirnya saya menemukan Anda." Suaranya bergetar, penuh haru. "Maafkan kami... maafkan kami karena membiarkan Anda menderita sendirian selama dua puluh tahun ini." Aku tertegun, bingung dan takut. "K... Kau siapa? Kenapa kau panggil aku begitu?" Pria itu tersenyum haru, lalu mengulurkan tangan dengan sangat hati-hati, seolah aku adalah barang paling berharga di dunia. "Saya Sevan, Nona. Asisten pribadi keluarga Arkanta. Dan saya datang ke sini... untuk menjemput Anda pulang." "K... Keluarga Arkanta?" Aku mengerutkan kening. Nama itu terdengar asing, namun sekilas aku pernah mendengarnya di berita. Itu adalah nama keluarga terkaya, paling berkuasa, dan paling disegani di seluruh negeri ini. Keluarga yang kekayaannya bisa membeli separuh negara. Pria itu mengangguk mantap, tatapannya penuh keyakinan. "Ya, Nona. Anda bukan gadis miskin yang dibuang seperti yang mereka katakan. Anda bukan sampah..." Ia menatap gerbang rumah keluarga Adhiguna yang tertutup rapat itu, lalu kembali menatapku dengan senyum bangga. "Anda adalah PEWARIS TUNGGAL SATU-SATUNYA dari Keluarga Arkanta. Dan mulai hari ini... dunia akan tahu siapa Anda sebenarnya." Jantungku berdegup kencang, sangat kencang. Dunia yang aku kenal selama ini seolah runtuh dan berubah dalam sekejap mata. Aurora Arkanta? Pewaris tunggal? Lalu apa yang selama ini mereka sebut sebagai sampah... ternyata adalah sang penguasa yang selama ini tersembunyi? Dan di balik pintu gerbang itu, Darrell, Clara, dan Nyonya Elvina tertawa puas, berpikir mereka sudah menyingkirkan wanita paling menyedihkan di muka bumi. Mereka belum tahu... bahwa mereka baru saja melepaskan dan menghina wanita yang nantinya akan menentukan hidup dan mati mereka semua. Balas dendam... baru saja dimulai. Air hujan masih terus turun membasahi wajahku, namun kali ini rasanya berbeda. Dingin yang tadinya menusuk tulang, kini terasa berubah menjadi aliran kekuatan yang entah dari mana asalnya. Aku menatap wajah pria paruh baya di hadapanku ini—Sevan, begitu ia menyebut namanya. Sorot matanya begitu tulus, penuh penyesalan namun juga penuh rasa hormat yang begitu dalam, sesuatu yang belum pernah kulihat dari siapa pun selama dua puluh tahun hidupku. "Maaf... saya tidak mengerti," suaraku bergetar, tanganku yang gemetar perlahan menyentuh bahunya, seolah memastikan ini bukan mimpi buruk lain yang harus kualami. "Kau bilang... saya pewaris? Keluarga Arkanta? Keluarga yang namanya saja membuat seluruh negeri tunduk?" Sevan mengangguk pelan, air mata haru mulai bercampur dengan butiran hujan di pipinya. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berbalut beludru hitam dari saku jasnya yang rapi. Dengan tangan bergetar, ia membukanya perlahan. Di dalamnya, tergeletak sebuah liontin berbentuk sayap elang yang terbuat dari emas murni, bertatahkan berlian biru yang berkilauan meski di tengah kegelapan dan guyuran hujan. Itu adalah lambang yang sangat kukenal, lambang yang sering kulihat di berita televisi, di gedung-gedung tinggi, dan di setiap properti milik keluarga terkaya di negeri ini. "Ini adalah lambang keluarga, Nona Aurora. Lambang Elang Arkanta. Hanya pewaris sejati yang memilikinya," ucap Sevan lembut, suaranya terdengar begitu sakral. "Dua puluh tahun lalu, terjadi perselisihan besar di dalam keluarga. Demi keamanan Anda, Tuan Besar—kakek Anda—memerintahkan agar Anda disembunyikan, dibesarkan dalam kesederhanaan agar tidak menjadi sasaran musuh-musuh keluarga. Kami mengira Anda aman, kami mengira Anda hidup bahagia... tapi kami salah besar. Kami tidak tahu bahwa keluarga yang kami percayai untuk merawat Anda justru membuang dan membiarkan Anda menderita seperti ini." Tanganku bergetar hebat saat Sevan menaruh liontin itu di telapak tanganku. Benda itu terasa hangat, seolah memiliki nyawa sendiri, seolah mengenali pemilik aslinya. Saat logam dingin itu menyentuh kulitku, sebuah rasa sakit namun juga rasa bangga yang aneh menjalar dari ujung jari hingga ke seluruh tubuhku. Kenangan samar-samar, bayangan wajah-wajah asing namun terasa begitu dekat, sekejap melintas di benakku. "Kakek...?" bisikku, air mata kembali menetes, kali ini bukan karena kesedihan, melainkan karena kebingungan yang mendalam. "Ya, Nona. Tuan Besar Arkanta sedang menunggu Anda. Beliau sudah menunggu selama dua puluh tahun ini, hidup dalam penyesalan karena harus memisahkan Anda dari keluarga demi keamanan. Namun sekarang, situasi sudah berubah. Beliau sudah tua, dan kesehatan beliau menurun. Beliau memerintahkan saya untuk menemukan Anda, membawa Anda pulang, dan mengembalikan segala sesuatu yang menjadi hak Anda. Segala sesuatu yang telah dirampas, dan segala sesuatu yang selama ini disembunyikan dari Anda." Sevan berdiri, lalu membukakan pintu mobil mewah itu dengan sikap yang sangat hormat, seolah aku adalah seorang ratu, bukan wanita yang baru saja diusir dan dihina bak sampah beberapa menit yang lalu. "Mari, Nona. Kita tidak boleh berlama-lama di tempat yang kotor ini. Tempat ini tidak layak untuk Anda. Istana Arkanta sedang menunggu kedatangan tuannya kembali." Aku menatap kembali gerbang besar rumah keluarga Adhiguna itu. Di balik besi kokoh itu, aku bisa melihat siluet Darrell, Clara, dan Nyonya Elvina yang masih berdiri di teras, menertawakan nasib burukku. Mereka berpikir aku akan pergi ke jalanan, mati kelaparan, atau menjadi gelandangan seperti yang selalu mereka katakan. Mereka tidak tahu, sama sekali tidak tahu, bahwa di saat yang sama mereka merasa menang besar, mereka baru saja melepaskan satu-satunya wanita yang memegang kendali atas nasib mereka semua. Aku mengusap air mataku, menarik napas panjang, lalu menatap Sevan dengan tatapan yang berubah total. Rasa sakit, rasa hina, rasa malu yang telah kuterima selama dua puluh tahun ini, semuanya kini berubah menjadi api dendam yang berkobar hebat di dalam dadaku. Tunggu saja... tunggu saja sampai aku kembali. Kalian bilang aku sampah? Kalian bilang aku tidak berguna? Kalian bilang aku anak buangan yang tidak diinginkan? Nanti akan kubuktikan, bahwa "sampah" yang kalian buang ini... adalah permata paling berharga yang pernah ada di dunia ini. Dan saat permata itu bersinar terang, cahaya itu akan membutakan mata kalian semua. Dengan langkah tegap, aku melangkah masuk ke dalam mobil mewah itu. Kulit kursi yang empuk dan dingin langsung menyambut tubuhku yang kedinginan. Di dalam, suhu udara terasa nyaman, beraroma wangi mahal, dan sangat bersih, jauh berbeda dengan apa pun yang pernah kualami seumur hidupku. Sevan duduk di kursi pengemudi, dan sebelum mobil itu bergerak, ia melirik ke arah kaca spion, menatapku dengan tatapan penuh pengertian. "Nona, mulai detik ini, tidak ada seorang pun yang berani menyakiti Anda lagi. Tidak ada yang berani menghina Anda. Dan tidak ada satu pun makhluk hidup di bumi ini yang berani menganggap Anda rendah," ucapnya tegas. "Segala sesuatu yang Anda inginkan, akan kami berikan. Segala sesuatu yang menyakiti Anda, akan kami musnahkan. Itu adalah sumpah setia kami kepada pewaris tunggal Arkanta." Mobil itu mulai melaju, meninggalkan rumah keluarga Adhiguna yang perlahan menjauh, semakin kecil, hingga akhirnya hilang dari pandangan. Namun, bayangan wajah-wajah mereka yang penuh kebencian dan kemenangan itu masih terpatri jelas di kepalaku. Aku akan mengingat setiap ekspresi itu, setiap kata-k********r itu, setiap tetes air mata yang kucurahkan karena mereka. "Pak Sevan..." panggilku pelan. "Ya, Nona?" "Beritahu aku... seberapa besar kekayaan keluarga Arkanta?" tanyaku, suaraku tenang namun penuh penasaran. Sevan tersenyum tipis, matanya berkilau bangga. "Seberapa besar? Nona, kekayaan keluarga Arkanta tidak lagi bisa dihitung dengan angka. Kami memiliki saham mayoritas di hampir semua perusahaan besar di negeri ini. Kami memiliki gedung-gedung pencakar langit, hotel-hotel bintang lima, pusat perbelanjaan, perusahaan pertambangan, perkebunan, hingga kepemilikan atas tanah-tanah strategis di seluruh wilayah. Banyak pengusaha besar, pejabat tinggi, bahkan pejabat negara pun harus menunduk dan meminta izin jika ingin bergerak sedikit saja. Nama Arkanta adalah hukum. Nama Arkanta adalah kekuasaan mutlak." Jantungku berdegup kencang mendengar penjelasan itu. Rasanya seperti sedang mendengarkan cerita dongeng, namun kenyataannya, aku adalah pusat dari semua kekuasaan itu. Aku, Aurora, gadis yang dianggap sampah, gadis yang diceraikan dan dibuang, ternyata adalah pemilik dari segalanya. "Dan Darrell Adhiguna? Perusahaan keluarga Adhiguna... bagaimana posisinya dibandingkan kita?" tanyaku lagi, rasa penasaran kini bercampur dengan niat yang mulai terbentuk. Sevan tertawa kecil, tawanya terdengar meremehkan. "Perusahaan Adhiguna? Itu hanya perusahaan kelas menengah, Nona. Perusahaan yang bertahan hidup karena sisa-sisa rezeki dari perusahaan besar lain. Tanpa disadari, sebagian besar bahan baku dan jalur distribusi mereka sebenarnya bergantung pada anak perusahaan Arkanta. Jika Tuan Besar menggerakkan jari kelingking saja, perusahaan Adhiguna bisa runtuh dalam semalam, menjadi debu tak berharga." Ucapan itu seolah menjadi bahan bakar yang menyalakan api di dalam dadaku. Jadi selama ini, pria yang kuberi cinta, pria yang kusayangi, pria yang merasa paling hebat dan kaya raya itu... ternyata hanya semut di hadapan kekuasaanku? Dia membuangku, menghinaku, dan mencampakkanku, padahal aku adalah tuan dari segala sesuatu yang ia banggakan? Lihat saja, Darrell. Lihat saja, Nyonya Elvina. Dan kau juga, Clara. Kalian akan tahu rasanya jatuh dari ketinggian. Kalian akan tahu rasanya berlutut dan memohon belas kasihan pada orang yang dulu kalian injak-injak. Perjalanan berlangsung sekitar satu jam lamanya. Hujan di luar mulai reda, berganti dengan langit yang perlahan cerah, seolah menandakan babak baru dalam hidupku. Pemandangan di luar jendela berubah drastis. Dari jalanan sempit dan kumal di pinggiran kota, kini kami memasuki kawasan yang sangat luas, bersih, dan hijau. Pohon-pohon besar berjejer rapi di kiri-kanan jalan, udara terasa segar dan dingin. Di kejauhan, tampaklah sebuah bangunan megah yang membuat mulutku hampir terbuka tak percaya. Itu bukan sekadar rumah, melainkan sebuah istana raksasa bergaya modern namun tetap mempertahankan nuansa klasik yang mewah. Dindingnya berwarna putih bersih dengan hiasan ukiran emas, dikelilingi taman yang luas, kolam-kolam air mancur, dan pagar besi tinggi yang dihiasi lampu-lampu indah. Di atas gerbang utamanya, terpasang lambang Elang Arkanta yang sama persis dengan yang ada di tanganku, berkilauan terkena sinar matahari sore. "Ini... Istana Arkanta," ucap Sevan bangga saat mobil kami melewati gerbang besar itu. "Rumah Anda, Nona." Mobil berhenti di halaman depan yang luas sekali. Sebelum aku sempat turun, pintu sudah dibukakan oleh dua puluh orang berpakaian seragam rapi, berdiri berbaris dengan sikap tegap dan hormat. Saat aku melangkah turun, mereka serentak menundukkan kepala dan berseru dengan suara lantang dan serempak: "SELAMAT DATANG KEMBALI, TUAN PUTRI AURORA! SEMOGA ANDA BERKUASA DAN BERBAHAGIA SELAMANYA!" Suara itu menggema di seluruh halaman, membuat kakiku sedikit gemetar namun juga membuat dadaku terasa begitu penuh. Di ujung tangga utama, berdiri seorang pria tua yang tampak sangat berwibawa, duduk di kursi roda namun sorot matanya begitu tajam dan berkarisma. Di sebelahnya berdiri seorang wanita paruh baya yang cantik dan anggun, matanya berkaca-kaca menatapku seolah melihat benda paling berharga di dunia. Sevan berbisik pelan di sampingku, suaranya bergetar haru. "Itu Tuan Besar Arkanta... kakek Anda. Dan itu Nyonya Ratna, bibik Anda yang selama ini merawat kakek." Aku melangkah perlahan mendekat, setiap langkah terasa berat namun penuh makna. Kakekku, orang yang selama ini kucari keberadaannya tanpa sadar, orang yang menjadi alasan keberadaanku di dunia ini. Saat aku berada tepat di hadapannya, tangan keriput itu terulur perlahan, menyentuh pipiku dengan lembut, menyeka sisa air mata yang masih ada di sana. Wajah pria besar ini, pria yang namanya ditakuti seantero negeri, kini terlihat rapuh dan penuh penyesalan. "Maafkan kakek, Nak..." suaranya parau namun terdengar begitu lembut. "Maafkan kakek karena membiarkanmu menderita sendirian selama dua puluh tahun ini. Kakek pikir itu cara terbaik melindungimu, tapi ternyata kakek salah besar. Kakek membiarkan bidadari kesayangan kakek hidup di lumpur." Air mata menetes dari sudut matanya, membuat hatiku yang tadinya keras membatu kini meleleh seketika. Semua rasa sakit, semua kebencian, semua kesepian yang kualami selama ini, seolah terbayar lunas hanya dengan sentuhan dan kata-kata itu. Aku berlutut di samping kursi rodanya, memeluk pinggangnya erat, menangis sejadi-jadinya seolah melepaskan semua beban yang selama ini kupikul sendirian. "Kakek... Aurora pikir tidak ada yang menginginkan Aurora... Aurora pikir Aurora memang sampah..." isakku di sela tangis. Kakek mengelus rambutku dengan penuh kasih sayang, mencium ubun-ubunku berulang kali. "Jangan pernah bicara begitu lagi, Nak. Kau bukan sampah. Kau adalah darah daging Arkanta. Kau adalah permata paling berharga, pewaris tunggal dari segala kekayaan dan kekuasaan ini. Mulai hari ini, tidak ada lagi yang boleh menyakitimu. Kakek akan pastikan itu. Siapa pun yang pernah menyakiti hatimu, akan kakek pastikan mereka membayarnya dengan harga yang sangat mahal." Wanita di sebelahnya—Bibik Ratna—juga ikut berlutut, memeluk kami berdua sambil menangis bahagia. "Syukurlah... syukurlah kau pulang, Nak. Rumah ini sudah terlalu lama sepi dan gelap tanpa kehadiranmu. Sekarang semuanya akan berubah. Segalanya akan kembali indah seperti semula." Setelah cukup lama saling berpelukan dan melepaskan rindu, Kakek mengusap wajahku, menatapku lekat-lekat dengan sorot mata yang kini berubah menjadi tajam dan penuh tekad. "Aurora, dengar kakek baik-baik. Kau sudah dewasa sekarang. Kau sudah tahu siapa dirimu. Dan kau pasti punya banyak pertanyaan, serta banyak rasa sakit yang ingin kau balaskan," ucap Kakek tegas. "Kakek akan serahkan segalanya kepadamu. Aset, kekuasaan, perusahaan, nama baik keluarga... semuanya akan ada di tanganmu sepenuhnya. Kau bebas menggunakannya untuk apa saja. Kau bebas menentukan nasib siapa saja yang pernah meremehkanmu." Ia menunjuk Sevan yang masih berdiri hormat di belakangku. "Sevan akan menjadi tangan kananmu. Ia tahu segalanya, ia setia, dan ia akan menuruti setiap perintahmu seolah itu adalah perintahku sendiri. Jangan ragu, jangan takut. Kau adalah pemimpin di sini. Kau adalah Tuan Putri Arkanta." Aku menarik napas panjang, mengusap sisa air mata di pipi, lalu berdiri tegak kembali. Tatapanku kini berubah, tidak lagi lemah, tidak lagi bingung. Di mataku kini terpancar cahaya kekuasaan dan tekad yang kuat. Aku menatap lurus ke depan, ke arah kota tempat aku disakiti, tempat aku dihina, tempat aku dibuang. "Terima kasih, Kakek," jawabku dengan suara tegas dan tenang, suara yang terdengar begitu berwibawa, jauh berbeda dari suara lirih gadis yang tadi tertekan di tengah hujan. "Aurora mengerti. Dan Aurora berjanji... akan membuat semua orang tahu siapa sebenarnya Aurora Arkanta. Dan Aurora akan pastikan, mereka yang pernah menginjak-injak harga diriku, akan berlutut dan mencium tanah tempat aku berpijak." Kakek tersenyum bangga, mengangguk puas. Itu senyum yang sama persis dengan senyum pemimpin besar yang selalu dikagumi orang. "Itu cucu kakek. Itu darah Arkanta sejati." Matahari mulai terbenam, menyinari istana megah ini dengan cahaya keemasan yang indah. Di dalam kamarku yang luas dan mewah, aku berdiri di depan cermin besar setinggi badan. Pakaian lusuh dan kotor yang kugunakan selama bertahun-tahun sudah diganti dengan gaun tidur sutra yang lembut dan wangi. Rambutku yang berantakan sudah disisir rapi. Wajahku yang pucat dan penuh luka batin kini terlihat bersinar, seolah ada aura kemewahan yang keluar dari dalam diriku sendiri. Aku menyentuh cermin itu, menatap pantulan diriku sendiri. Tunggu saja, Darrell. Tunggu saja, Ibu Tiri. Tunggu saja, Clara. Tiga hari lagi... aku akan kembali ke kota itu. Bukan lagi sebagai Aurora yang miskin, yang lemah, yang mudah diinjak-injak. Aku akan kembali sebagai Aurora Arkanta. Pewaris tunggal. Wanita paling berkuasa dan paling kaya raya di negeri ini. Dan saat aku kembali... aku akan mengubah seluruh hidup kalian menjadi neraka. Balas dendam ini baru saja dimulai. Dan aku pastikan... ini akan menjadi balas dendam terindah yang pernah ada.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
757.5K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
989.3K
bc

A Warrior's Second Chance

read
365.4K
bc

Not just, the Beta

read
351.3K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook