"iya sayang ku, daaaaah" kata terahirku sambil menekan tombol merah di ponsel dan mematikan panggilan telepon
. . .
keesokan paginya, aku dan Dinda bertemu di kantin kampus, karena terlalu penasaran aku berangkat pagi sekali sampai gak sempat sarapan, jadilah aku dan Dinda sarapan di kantin kampus
"udah ada bayangan belum Ri, siapa kira-kira pengagum rahasia itu?" tanya Dinda sambil menyuap nasi goreng yg di pesannya di kantin kampus
"gokk odoo Denn (gak ada din)" jawabku dengan mulut yg masih penuh dengan roti yg aku makan, tumben hari ini aku lapaaaaaaaar banget
"idiiih. . . pelan-pelan napa Ri, makan kayak orang kesetanan" kata Dinda yg merasa aneh dengan cara makan ku
"abis lapar banget aku Din" kataku masih terus melahap roti sambil mengelus perut, Dinda hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum
"terus Ri, soal kalung yg kamu ceritain di telepon, mana kalungnya kenapa gak kamu pakai?" lanjut Dinda bertanya
"ada ni di tas" kataku sambil membersihkan bekas roti di tangan dan bibirku dengan tisu, lalu setelahnya aku menyerahkan kotak berisi kalung pada Dinda. Dinda meraih kotak itu dan membuka untuk melihat isinya, saat Dinda membuka kotak dan melihat isinya, matanya langsung terbelalak
"bagus banget Ri" kata Dinda memuji kalung yg baru dilihatnya
"huum" jawabku singkat sambil menganggukkan kepala menyetujui pernyataan Dinda
"suratnya?"
kemudian aku menyerahkan surat yg dikirim bersama kalung itu kepada Dinda
saat Dinda membaca isi surat itu, beberapa kali dia tampak tersenyum dan mengibaskan tangan ke mukanya lalu wajahnya terlihat bersemu merah
"so sweet banget Ri" kata dinda mengagetkan ku yg sedari tadi memerhatikan dirinya
"maksudnya Din?" tanyaku belum memahami pernyataan Dinda
"isi suratnya romantis banget, coba aja aku yg dapet surat ini, tapi Adam gak seromantis ini" lanjut Dinda dengan raut wajah yg mendadak lesu
"tapi Adam juga kan baik banget Din ganteng lagi" kataku mencoba mengembalikan kondisi perasaan Dinda yg menurut perkiraan ku mulai memburuk
"jadi Ri?" pertanyaan Dinda yg tidak di teruskan
"jadi ya Adam itu juga laki-laki yg sangat baik" jawabanku mengira Dinda ingin mendengar pendapatku selanjutnya
"bukan itu Ri, jadi udah ada bayangan belum siapa yg kirim?" ucapan Dinda mengoreksi pertanyaannya
"hemmmmh" aku menghembuskan nafas panjang sambil menggeleng
"apa mungkin si Hendra?!" tanya dinda menebak-nebak
"ntar deh, aku punya tiga nama yg mungkin merupakan si Mr X" kata ku sambil menahan daguku dengan tangan yg bertumpu di atas meja dan mengetuk pipi dengan jari telunjuk
"Mr X?" tanya Dinda dengan mengernyitkan dahi
"ia kita sebut Mr X aja, biar kayak detektif yg di film-film" jawabanku seadanya
"Ririiiii Riri" cuma namaku yg diucapkan Dinda dua kali dengan nada berat seraya mencubit pipiku lembut
"aww" sakit tau Din kataku berbohong, karena cubitan Dinda memang tidak sakit
"duh kasihan maaf ya sayang, ok coba kasih tau siapa tiga nama itu" kata Dinda mengingatkanku kepada pernyataan yg belum ku selesaikan
"pertama Hendra, kedua Wahyu, dan yg ketiga Adit" aku menyebutkan nama-nama yg ada di kepalaku yg mungkin adalah Mr X
"Adit siapa Ri?" tanya Dinda yg tidak familiar dengan nama yg di dengar nya
"Adit anak om Ahmad dan bu Aminah tetangga deket rumahku" kataku memperkenalkan Adit
"owh ganteng gak?" tanya dinda dengan raut wajah centil
"emmmm. . . lumayan sih, tapi Adam?" kataku melirik Dinda dengan ekspresi jahil
"iya tau, bercanda kok, bagi aku Adam tetap one and only" tutup Dinda mantap
"cieeee yg sudah klop" aku mencoba menggoda Dinda lagi
"iya dong, eh tapi kok malah jadi bahas adam? nanti Mr Xnya gak ketemu-ketemu dong" kata Dinda meminta kami kembali ke topik utama
"oh iya ya, ok sekarang kita bahas satu-satu, kalau Hendra dia baik, perhatian, lucu, dan memang suka caper sama aku. kedua Wahyu sejak SMA kelas dua dia memang udah jujur kalau dia suka sama aku, tapi waktu itu aku tolak karena aku memang belum mau pacaran, akhirnya beberapa bulan setelah itu aku denger dia jadian sama Siska anak Dua IPS"
"Siska yg keturunan cina?" tanya Dinda memotong uraian ku
"iya Siska yg itu, tapi belakangan aku denger mereka putus pas lulus Siska kuliah di luar kota dan Wahyu gak mau LDR. terus kalau yg ke tiga si Adit dia dari kecil suka main sama aku orang tua kami juga akrab om Ahmad sering keluar sama ayah main bulu tangkis atau sekedar ngobrol di rumah, bu Aminah juga sering mampir ke rumah kadang kalau ikut pengajian suka jalan bareng sama bunda, terus kalau masak kebanyakan biasanya suka saling bawain, nah aku Sama Adit berteman dari kecil tapi pas SMP dia tinggal sama neneknya di luar daerah, pas libur waktu kelulusan SMP dia sempat pulang dan kami jalan-jalan terus dia nembak aku, tapi ya sama, aku tolak juga, tapi dia bilang gak apa-apa dia mau nunggu sampai aku siap, terakhir pas aku ketemu dia pas lulusan SMA kemarin dia udah pulang ngajak pacarnya katanya namanya Lala, jadi kayanya si Adit bukan deh" aku mengeluarkan semua hal yg aku rasa Dinda perlu tau
"jadi kalau gitu kemungkinannya tinggal dua ya Ri" Dinda menimpali dengan serius pernyataan ku
aku mengangguk dan memegang kepalaku dengan dua tangan
"aduh pusing" kataku seraya meremas rambutku
"udah jam delapan nih masuk kelas yuk, mikirnya kita sambung lagi nanti" kata Dinda sambil menunjukkan jam tangannya kepadaku
"ayok lah" jawabku malas karena sejujurnya aku masih sangat penasaran dengan identitas si Mr X itu
tapi kemudian kami pun berjalan dan mengikuti kelas pagi itu
. . .
setelah kelas terakhir selesai aku dan Dinda keluar sama-sama, aku sempat melirik jam dinding yg masih menunjukkan pukul tiga, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan kembali obrolan kami di kantin kebetulan juga kami belum makan siang, kami duduk di kursi kosong lalu mulai memesan makanan dan minuman
"jadi Ri udah ada solusi belum buat pecahin misteri si Mr X?" tanya dinda yg sekarang sudah seperti detektif
"kayaknya kita mesti selidiki satu-satu deh Din tapi kita mulai dari mana ya?" tanyaku bingung
"gimana kalau dari Wahyu!?" seru Dinda
"kok Wahyu dulu?" tanyaku dengan ekspresi datar karena memang tidak ada apapun yg terpikirkan di kepalaku
"iya Ri pertama kita selidiki Wahyu, kalau soal Hendra nanti aku minta tolong Adam buat selidiki" lanjut Dinda mengemukakan pendapatnya
"iiiiiiiihhh. . . jangan dong, masak minta tolong Adam nanti dia cerita ke Hendra atau anak-anak lain kan malu Din, nanti dikiranya aku sok ngartis, sok kecakapan gitu" kataku tidak setuju dengan merengek manja pada Dinda
tapi dinda tidak mendengarkan perkataan ku dan hanya mengatakan
"kamu tenang aja pokoknya serahin sama aku, pasti semuanya beres" kata dinda sambil membusungkan d**a dan menepuknya
aku hanya memasang ekspresi bingung dan bilang
bersambung. . .
sekian dulu update kali ini, semoga para pembaca gak bosen ya!!! kritik dan saran bisa di tulis di kolom komentar, dan kalau suka cerita ini jangan lupa like dan share ke teman-teman, terimakasih semuanya, sampai jumpa di episode 5