Mengaku sebagai pemain saham kepada ayah dan kakakku, Alejandro Gama tidak diragukan merupakan milyuner muda. Saking kayanya manusia ini, mungkin dia kebingungan memilah mobil yang berjajar bagai antrian penonton konser Super Show dalam garasinya. Merah, merah kekuning-kuningan, merah semi cokelat, merah bata, merah darah, merah kehijauan, pink dicampur putih yang jadinya merah membara. Sebegitu pusingnya ia mengurusi sewarna saja sampai-sampai dia memboncengku di sepeda motor metic yang dari ukurannya pun sudah kekecilan baginya.
“Padahal kita bisa pakai mobilku saja loh,” teriaku terbawa angin hasil berkendara di ibukota yang entah mengapa sanggup selancar ini tanpa titik macet.
“Aku tidak bisa menyetir.”
APA?! Untungnya mulutku tak sealay pelaku dialog sinetron kejar tayang. Sehingga dibanding mengkoarkan kata tersebut aku lebih memilih menyumpahinya di dalam hati. Mampus kau!
“Tinggal menggenggam kemudi. Bannya empat tak akan terguling. Eh? Tumben lenggang sekali yah?” ujarku tersadar jua bahwa arus lancar ini bukanlah kebetulan belaka. Sedari tadi tidak ada kendaran berkeliaran. Saat 17 Agustus dan libur hari keagamaan saja tidak sampai semelompong ini.
“Hei, Alejandro Gama! Trik apalagi kini?” teriaku menggelegar seolah tergema oleh toko-toko yang kami lewati.
“Suaramu lebih kencang dari klakson motor ini, tahu. Jangan menyebut namaku di semua tempat, Sayang!” responnya sambil membelokan arah kemudi ke pendopo perumahan. “Dan kau menikahi Javier Sebastian, bukan Alejandro Gama.”
Apa istimewanya? Entah Javier, entah Alejandro Gama wujudnya kan sama-sama dirinya. “Masa bodohlah! Bagaimana bisa kau mengatur semua ini?”
“Maksudmu?” tanyanya balik seraya menghentikan laju motor unyilnya. Hash, total timbangan kami mungkin melebihi kapasitas beban maksimal matic tersebut. Seandainya tidak sedang kesal, aku tentu telah terbahak menyaksikannya menaiki ini. Sumpah dia sirkus sekali!
“Apa kau Pangeran William dan aku ini Kate Midelton?” tanyaku terdengar cukup ambigu sih, Alejandro malah mengernyitkan dua belah alis tebalnya. Hei, tapi kan dia Agen Rahasia, katanya. Jadi, umumnya pandai membaca keadaan. Bagaimana mungkin ia tak menangkap kodeku? Di film-film tidak serumit ini kok kelihatannya.
“Tidak usah memajang tampang macam itu bila petunjukku payah,” usulku kesal, celingak-celinguk menyesuaikan diri dengan tempat baru ini. “Ehem! Jalan yang kita gunakan tadi, katakan padaku apa kau menyogok atau melakukan perusakan sistem keamanan lalu lintas? Atau apa? Hah? Di kota ini ambulans saja harus bermacet-macetan. Dan kita? Melenggang bagai anak Raja? Kau berbuat sesuatu kan?”
“Dan kau yakin kita tidak salah tempat? Ini hutan atau apa? Masa cuma ada satu rumah sejauh ini?!” lanjutku tambah gemas. Ya ampun, aku sama sekali buta perihal orang ini!
“Bercerocos bak beo memang hobimu, ya? Dengar, Sayangku! Aku tidak melakukan apa pun untuk tuduhanmu soal jalanan itu. Lalu, aku membayar untuk tinggal di sini. Rencana awal mereka akan membangun 12 hunian untuk kawasan ini, tapi aku memutuskan untuk bertanggung jawab menangani kerugian atas pembatalan berdirinya 11 rumah lainnya. Kau mengerti?”
“Wow. Kau penjahat berdompet tebal toh! Kupikir kau buronan yang hanya sanggup makan mie instan. Kau kabur dengan membopong harta rupanya.”
“Boleh aku jujur?”
“Penipu temannya hanya kebohongan. Bahkan sampai mulutmu berbusa, kau mustahil bisa berkata benar.”
“Pujian yang sangat manis, Istriku. Aku akan menyanjungmu juga sebagai imbalan. Miss Feyna, selamat kau baru saja menikahi milyader! Semua wanita patut iri akan nasibmu!”
“Aku akan memindah tangankan takdir ini secara cuma-cuma kepada mereka. Baguslah kalau ada yang mau menggantikanku untuk mati olehmu!”
“Sttt. Tidak baik mengungkit kematian di hari pertama hidup berumah tangga. Ayo, masuk?” pintanya, lantas bergegas membuka handle pagar besi sambil mempersilakan aku melangkah duluan. Uh, di balik segala fakta jika Alejandro adalah penjahat, setidaknya dia lebih menangkap konsep menghargai seorang wanita dibanding Dion. Namun, dia tetap pembunuh dan prinsipku ia sama bobroknya dengan tukang fitnah!
Hijau.
Mataku membulat kaget, dirambahi bias-bias kehijauan pada 360 derajatnya. Gerbang besi bercat hitam tadi tampak sederhana, tidak menjulang pula. Siapa duga yang terlindungi di belakangnya bisa semencengangkan ini? Rumput-rumput teki membalut habis seluruh permukaan tanahnya. Bukan tanaman bunga-bunga, empat batang beringin besar bergaya, memamerkan dahan-dahan berdaun rimbunnya. Dan tepat di porosnya, sebuah rumah candy bar hijau lumut tampak memerankan sesosok karakter utama dengan ciamik.
“Ini … Jakarta versi green screen?” gumamku merasa tengah dikelabuhi. Tentu, ini tipuan mata apa itu bahasa kerennya? Sulap?
“Just green house,” ralatnya sembari tiba-tiba meraih telapak tanganku, menggenggamnya hangat dan mulai menelusuri kerikil yang tersebar membentuk jalan setapak.
Sedari lahir aku tumbuh dan berkembang di kota ini. Keluarga yang merwatku sejak aku berusia 9 tahun pun memiliki rumah mewah, berdeklarasi melalui bangunan itu bahwa kami menggenggam derajat dalam masyarakat. Namun, aku baru tahu ada tempat yang dengan melihatnya saja terasa damai. Luasnya mungkin ada sekitar lima ratus meter persegi, rasanya lain lagi. Tempat ini, membentang seolah tidak terbatas.
“Ta-da, welcome to our home.” Sibuk menghayal, aku sempat membayangkan seindah apa ruangan dalam bingkai kaca ini. Alejandro memang pria, tapi dari caranya berbusana dia nampak cukup bersih dan terampil soal membereskan kekacauan. Ekspektasiku setinggi bintang.
“Kau serius? Rumah?” Dan dia menghempaskanku dari pucuk bintang sana, menjebol lapisan ozon, merenangi gravitasi, lalu pecah bagai serbuk debu di awang-awang dekat solokan.
“Yep. Akh, aku punya banyak kegiatan belakangan,” jelasnya seraya menendang ke sembarang arah gundukan gelas kertas bekas kopi. “Sepertinya terakhir aku makan pizza seminggu lalu, kenapa bungkusnya masih ada di sini, ya?”
Alejandro menggerakan pangkal kakinya guna menyingkirkan sampah-sampah berbau apek nan busuk. Melayangkan ke situ dan kemari, membuat gerombol kekacauan itu tambah menyebar ke semua penjuru. Tidak sadarkah pria sok pintar ini, perilakunya justru menyulap kapal yang telah pecah jadi tak berbentuk?
“Hei!” tegurku mencoba menghentikannya yang terus menambah kekaucauan hingga bisa-bisa menyulap green house ini menjadi layaknya Bantar Gebang.
“Hm? Kau suka rumah kita?” sahutnya.
“Tikus pun tidak akan betah tinggal di sini,” komplenku terus terang. “Apa kau tidak mempekerjakan asisten rumah tangga?”
“Mereka bisa saja salah satu dari agen MI 6 atau FBS. Jikapun bukan keduanya, kemungkinan mereka dimanfaatkan oleh agen-agen tersebut terbuka lebar. Aku memperkecil ancaman keburukan yang ada. Tinggal sendiri jalan keluar terampuh.”
“Betul-betul terbukti ampuhnya,” cibirku, lalu mencomot sehelai kemeja yang sudah sama fungsinya dengan lap pel.
Berjalan lurus aku menjumpai dapur bersih yang masih didominasi merah-putih-transparan. Memutar keran wastafelnya, pancaran dingin air membasuh kulit tanganku. “Transparansi macam ini, kau tidak khawatir ada agen yang sedang mengawasimu? Bukankah mereka bisa mudah mengetahui aktivitasmu dengan pemilihan tampilan ini?”
“Sengaja.”
“Apa?”
Alejandro berbelok ke loring kiri. “Kau mau lihat kamarnya?”
Alejandro Gama, aku memaklumi segudang rahasia yang ia apit. Tapi, keterbukaannya dalam menyembunyikan hal-hal itu di depanku terasa sedikit mengganggu.
***
“Jadi, sudah berapa lama kau menetap di sini?” Kami sedang duduk sambil meminum soda, melepas letih juga penat gara-gara menguras energi demi memperbaiki rumah persis kapal karamnya.
“Sebelas.”
“Woah sudah selama itu? Pantas bahasamu semulus pribumi,” tanggapku takjub.
“Jangan memaksakan diri bila otakmu kembali tak sampai untuk mencerna. Aku baru 11 bulan lalu dapat visa di negara ini, singkirkan kebiasaan tebak-tebak buah manggis yang sama sekali tidak berguna itu. Hm?”
“Dusta,” simpulku singkat. Tidak mungkin! Berbicara tanpa tersendat, cepat, berlogat lokal. Dia mengaku baru di Indonesia kurang dari setahun? Mabuk atau sok pamer manusia ini?
“Oke tidak sepenuhnya benar.” Tuh kan, dasar tukang kibul!
Menenggak tandas cola dalam kalengnya, Alejandro memutar bola matanya entah atas alasan apa. “Sebelas bulan. Dua minggu aku terbang ke Boston, satu bulan aku ada pekerjaan di Chicago, kadang aku menetap 3-4 hari di Manila. Aku terbang ke kota A, pindah ke kota B. Kadang jika jadwalku terlalu padat satu minggu aku bisa bepergian ke 5 tempat berbeda. Singkatnya, aku lupa kalkulasi pasti soal berapa lama aku tinggal di sini.”
Seratus persen ia sedang berlaku congkak. “Menurutmu aku akan percaya bualanmu?”
“Aku tak begitu berharap,” Alejandro mengangkat dua belah bahunya yang justru terlihat agak imut. Oh Tuhan, dia dianugerahi sisi seperti itu juga?
“Tapi, aku serius saat mengakui diri sebagai pelaku transaksi dalam bursa saham. Kau bisa memasukan kata kunci Javier di google, kalau kau benar-benar ingin mengimingi para pesaingmu. Miss Feyna, suami yang kau bandroli kelas teri ini bercita rasa kakap.”
Lihat, guntur belum datang, hujan tak singgah, dia malah menyombong lagi. Kalau dia sungguh terlibat dalam pasar modal, tempatnya tidur malam ini tentu jeruji Pengadilan Internasional. Terlibat skala mancanegara, bagaimana bisa dia anteng tanpa tertangkap basah?
“Apa kau sangat bangga dengan hartamu, Mr. Gama?”
“Aku hanya mencoba memompa harga dirimu, Miss Feyna. Kau akui atau tidak, perasaan terkalahkan sebagai sesosok wanita terus menghantuimu kan? Menikahi musuh keluargamu, gagal mencapai impianmu, harus hidup bersama orang yang kau benci, merasa terancam oleh kematian di setiap hela napasmu. Bukankah baik jika kau mendapat secuil keberuntungan? Kebanyakan wanita berharap bisa ungkang-ungkang kaki pasca menikah, dan kau bebas lakukan itu sebab suamimu kaya raya. Hm?
“Ah, biar kujernihkan. Suami konglomeratmu Javier Sebastian. Tolong berhenti memanggilnya Gama. Karena nama yang kau panggil-panggil itu, kau tak kan suka mengobrol atau bahkan dekat dengannya semenit pun.”
Membalas tatapannya yang setajam kuku kucing. Dia mulai berani memberlakukan aturan terhadapku. Menggolongkanku ke dalam jajaran gadis matrealistis. Dia pikir, aku tersanjung akan harta bendanya? Mati saja dia, dicakari oleh kuku-kuku beringas wanita mata duitan!
Bangkit berdiri, aku mendengus ke arah wajahnya. “Rumah sejumbo ini sayangnya cuma ada satu kamar. Aku tidak tertarik tidur dengan orang mabuk. Ada bagusnya kau waraskan dulu otakmu di sini. Sepoi angin mujarab sekali untuk meluruskan pola pikirmu. Perkataanmu pasti akan lebih masuk akal besok. Jadi, nikmati sofamu Javier … Gama?”
Kalah kau. Kau pasti akan kalah!
***