BAB 4

1157 Words
Ale jarang menelepon, jikalau ia berbuat sesuatu di luar rutinitasnya jelas ia mengantungi kepentingan. Menebak-nebak dalam lima deringan pertamanya, aku menyerah serta memilih mendengarnya langsung dari suara mencandukan milik pria kesayanganku itu. “Sepertinya kau menyiapkan kejutan untukku hari ini?” sambutku sewaktu ponsel keemasan ini telah bertengger nyaman di sisi cuping telinga kiriku. “Instingmu selalu memesona, Serena. Apa kau juga bisa menebaknya tanpa harus dengan gamblang kujelaskan?” Berat, tegas, menentramkan. Suara yang mungkin bakal membuat Kylie Jenner- Jordyn Woods rela kembali jambak-jambakkan untuk memperebutkannya. Huh! Bagaimana bisa Tuhan sangat berbaik hati kepada penjahat satu ini? “Terdengar seperti aku akan dikhianati," gumamku sinis sambil mengeluarkan satu decakan singkat. "Jadi, apa kau berubah pikiran?” Yang kumaksud di sini begitu universal. Dia punya sejilid rencana, landasannya tak gampang runtuh. Aku mengapresiasinya. Namun, sedikit menyayangkan keantipatiannya terhadap lawan jenis. “Entahlah. Tapi, aku mengabarimu bukan untuk bahasan itu.” “Lalu?” “Kau bisa membantuku memasuki Siri-miri?” Dia tak lagi menginjakan kaki di ibukota Maxima lima tahun terakhir. “Tergantung niatanmu. Bila membahayakan negaraku, tentu tidak akan kubiarkan kau lolos ke sana.” Aku mungkin tidak terlalu jujur dalam menangani orang ini bagi MEIA tapi, darah Maxima yang mengalir di tiap jengkal nadiku tetap akan bergejolak apabila terang-terangan ada yang ingin mengancamnya. “Setengah jam saja cukup. Zack sedang mengemban tugas genting. Dia mustahil meninggalkan Siri-miri dalam waktu dekat ini, dan ada beberapa hal yang harus kudiskusikan dengannya.” “Kalian tampak mencurigakan. Apa Nine Circle akan aktif kembali?” “Menurutmu sebuah lingkaran dapat utuh lagi setelah garis-garis yang menyempurnakan bulatannya digerogoti tikus? Eksistensi keyakinan sehabis tipu daya, jarang terjadi dalam kehidupan palsu ini, Serena.” Aku menggigiti ujung kuku polosku. Kelihatannya, polesan kuteks merah akan lumayan cocok di musim penghujan ini. “Baiklah. Kau butuh untuk kapan?” “Lusa.” “Tumben. Apa ada yang kulewatkan?” Ayolah, pria ini Alejandro Gama, tidak ada tahta tertinggi selain misi. Ketika saraf-saraf otaknya menyusun planning, otomatis dia siap tempur. Lusa? Motto-nya cepat bergerak, singkat terlaksana. Menunda-nunda tugas jauh dari gayanya. “Bisa jadi perlu semalaman untuk mendebatkannya denganmu. Dan kegiatanku hari ini lumayan padat. Hanya jika kau bersabar untuk tidak mencaritahunya menggunakan keahlianmu sendiri. Kita akan bicarakan ini sebelum aku berangkat.” “Kau tahu aku benci menanggung sensasi penasaran. Kau harus memberikan imbalan yang setara untuk pengorbananku ini.” “Seperti biasa kau akan dapatkan itu.” “Masih belum bisa lebih?” tawarku berupaya mengambil setiap detik berisi kemungkinan dan keajaiban. “Kau tahu pasti itu bukan ‘belum’. Aku tidak akan pernah bisa.” “Sangat mengecewakan. Tapi, datanglah tepat waktu, Mr. Gama. Aku akan membengkakanmu.” “Semoga aku masih bisa menggunakan mulutku untuk berbicara setelahnya.” Nada putus berbisik mengiringi senyum kecilku. Zack Morison serta Alejandro Gama. Pemikiran mereka tentu tidak terbatas layaknya manusia kebanyakan kan? Menipu, mengelabuhi, berperang, dan mengambil keuntungan. Mereka ahlinya. Merumuskan opsi-opsi dugaan juga tak semudah itu bila menyangkut otak-otak mantan anggota Nine Circle. Menyinggung soal Nine Circle, ialah sebuah kelompok persemakmuran. Dibangun oleh asas kepercayaan dan kebutuhan. Ketua Ivanov pernah membocorkan kepadaku bila CIA, MI 6, juga BND mengirimkan agen-agen terlatihnya guna mengisi perkumpulan yang bermarkas pusat di pinggiran kota Kiev. Mereka bubar sekitar 7 tahun lalu akibat pelanggaran asas. Beberapa anggotanya saling tusuk dari belakang. Kabar Nat Schooles yang dilimpahi tugas untuk menangkap Alejandro Gama oleh MI 6 merupakan berita terakhir yang kuikuti. Setelah hancur lebur, mereka tidak mungkin bersatu segampang itu ‘kan? Aku menekan dial number 1 serta memasrahkan telinga untuk terpenuhi oleh sebaris nada tunggu. Lumayan lama sampai suaranya berganti menjadi tersambung. “Privet!” sapaku tak sabar. “Tyolka?” Manusia ini tidak pernah terang-terangan sudi bersikap santun padaku. Tapi, sayangnya dia masuk ke daftar orang yang ingin aku pedulikan. “Apa kabar?” “Sedang menahan muntah karena harus meneleponmu.” “Uh. Kau sering sekali tidak sehat rupanya.” “Tidak juga,” ujarku tak menyetujui tudingannya. “Aku mau berlibur. Jadi, kondisiku tentulah super prima.” “Super? Kedengarannya akan cukup menyulitkanku.” Hal pertama dan terakhir yang tak kusesalkan mengenai keluargaku ialah Dimitry. Adikku satu ini mungkin sangat bodoh dalam menjaga bobot tubuhnya hingga dibanding seorang pria jenius, dia justru terlihat bagai karung beras pakan ternak. Tapi, syukurlah korteksnya amat berguna. “Kau ingat bandit yang merampas dua bag hot dog ekstra sosismu di Petrov street dulu?” cobaku mengembalikan ingatannya ke hari di mana aku mau repot melayangkan sepuluh tinjuku demi menumbangkan sampah masyarakat yang telah mengganggu adik tunggalku. “Tidak usah mengungkit-ungkit hutang budiku jika kau sedang sangat butuh bantuan. Kau tahu bahwa aku tak akan ikut campur masalahmu sekali pun aku hutang nyawa.” “Dimitry, aku selalu ragu bila dirimu adalah ahli IT yang hebat. Em, tidak melihat melalui mata kepala sendiri mustahil bagiku untuk mempercayai sesuatu.” “Aku tidak butuh kau percaya aku. Terserah padamu mau anggap aku bagaimana.” Bernegoisasi bersama Ale sudah susah namun Dimitry, aku bahkan tak bisa menyogoknya dengan ciuman. “Aku butuh akses bebas ke Maxima untuk dua orang lusa." Basa-basi tidak diperlukan lagi. Berlembut ria hanyalah bentuk kesia-siaan belaka. Dimitry memang harus dihadapi dengan cara seterang-terangan ini. “Omong kosong! Tak ada akses yang seperti itu. Dan kenapa kau meneleponku untuk ketidak masuk akalan ini?” “Komputer di hadapan wajahmu, terkoneksi langsung dengan sistem keamanan pusat. Bermain game-lah sejenak. Tidakkah mukamu mirip tua bangka gara-gara jarang bergerak dari sana? Ayolah, mau kurekomendasikan beberapa games atau tidak? Beberapa detik mematikan pemindai tak akan meloloskan penyusup, kok. Hm?” “Aku akan ditembak di tempat kalau ketahuan. Kau bisa membelikan jiwa baru buat ragaku memang? Gajimu mampu mewujudkan itu? Wahai titisan Cleopatra?!” Ingat! Seberapa pun tidak dekatnya kami, dia tetaplah keluargaku. Kami menghabiskan ribuan hari bersama-sama. “Aha! Jadi, akses bebas sungguh benar adanya ‘kan?” Jujur saja, aku bahkan tidak yakin Dimitry bekerja menggunakan komputer. Dia sering keliru meng-install antivirus dan virus itu sendiri. Tapi, baguslah kalau dia bukan cuma bertindak sebagai penggulung kabel di sana. “Kau ingin aku mematikan titik yang mana? Lebih dari 1000 alat anti teror tersebar di negara ini. Jangan, mengelilingi terlalu banyak tempat!” “Dimitry, aku sudah kira kalau kebaikan ayah akan menurun padamu.” “Diam saja! Kau perlu di mana?!” “Oke. Bandara. Nemophilis airport.” “Baiklah. Beritahu Si Gama itu, dia hanya punya waktu maksimal 30 detik. Dan sampaikan ini juga, jangan pernah meminta pertolongan lagi. Seperti orang gila aku bahu-membahu dengan penghianat negaraku!” “Oke. Terima kasih dan jaga dirimu.” “Jelas-jelas posisimu lebih rawan, Bodoh!” Tut. Selesai. Dimitry dan aku hanya dua bersaudara. Kami terpaut lima tahun. Keakraban jarang terjadi di antara kami setelah orang tua kami gugur dalam kisruh semenanjung Arabia. Menjadi mata-mata, memang wajib bersiap diri untuk balik diuntiti. Setidaknya ayah juga ibu tak mati bersama informasi. Dunia kelam ini, masih mungkinkah untuk kukeluari? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD