FEYNA
Setiap wanita memiliki impian pernikahannya masing-masing. Temanku, Viona dia mendedikasikan dirinya untuk menemukan suami yang dapat mewujudkan cita-citanya guna melangsungkan janji setia di bawah guyuran hujan kota Paris, dan Alvin mampu mengabulkan itu enam bulan lalu.
Gadis-gadis bergerombol, saling berbicara mengenai betapa beruntungnya Cinderella yang diajak berdansa oleh Prince Charming. Atau sungguh indah jalan hidup Victoria yang mempunyai pasangan setampan juga setenar David Beckham.
Dan tidak satu pun wanita berdoa tiap malam demi menjalani kejadian seperti yang baru saja menimpaku.
Serius!
“Kita sudah setuju dengan caraku kan?”
Hari resepsi pernikahan Dion adalah hari terbodoh juga tersialanku. Bagaimana bisa semua itu bukan sekadar mimpi?
Menggigit keras bibir bawahku. Aku berharap Lucas bukan cuma menyeringai mengejek di bangku ujung kiri sana. Apa dia tidak tahu siapa yang akan menikahi—hanya bila ini bisa disebut dengan pernikahan, yang kapan-kapan akan kuceritakan secara rinci kronologi mengapa hal sinting ini bisa tiba-tiba terjadi—adik semata wayangnya? Aku tidak percaya, dia terkelabuhi oleh gaya berbicara sok manis dan tampang tanpa dosa milik pria ini.
“Caramu yang sangat mencederai harga diri wanita,” imbuhku menekan seluruh kata dengan amat sangat intens supaya dia mengerti jika maknanya itu sangat, amat, gila, luar biasa sekali!
“Hm,” dia menggumam tak setuju, dapat kulihat dari kernyitan yang timbul di dahi lebarnya. “Jangan gunakan frasa wanita sebagai tameng asa pribadimu, Miss Feyna.”
Oh Tuhan, pria jenis apa yang Engkau kirimkan kepadaku ini?
“Apa kita harus mempersulitnya?” katanya masih berdiri bersama hiasan senyum kelebihan kadar gula. “Ada Red Wang yang secara khusus meluangkan waktu di tengah jadwal sibuknya. Dia mestilah berada di London besok pagi. Lucas Gracio ... kertas yang mencuat dari balik jasnya itu, kau lihat? Itu tiket penerbangan PP Jakarta-Singapura. Nampaknya dia ada pertemuan penting. Keluargamu sungguh dikejar waktu. Dan kau akan tetap bertahan dengan emosi super bocahmu itu?”
Memicing garang kepada b*****t satu ini. Jadi, dia benar-benar memata-matai keluargaku?
“Aku tidak menempatkan dirimu dalam situasi terpaksa. Aku sebatas menawarkan pernikahan, kau sendiri yang memutuskan untuk jadi istriku.”
Andai aku tak patah hati kemarin. Andai Dion menepati janji-janji ala gentleman-nya demi berdiri di sisiku. Andai aku tidak pernah terlibat dengan pria ini. Andai dia tak mempunyai niatan untuk menghancurkan kehidupan keluarga angkatku. Andai Ayah dan Lucas cuma berpura-pura tidak tahu soal jati diri asli Gazander. Aku tentu bisa menikah di tepi laut, dengan semilir angin, suara merdu gulungan ombak bertabrakan, dan hangatnya pasir di kulit kakiku.
“Kau tahu Mr. Gama?” Aku berbisik rendah, seratus persen meyakini dia pun mungkin tak kuasa mendengarnya. “Kau benar-benar pria kelas teri.”
Mengambil sebuah cincin di atas meja, aku cepat-cepat memasangkannya ke jari manis tangan kanan kepunyaan Alejandro Gama atau Gazander. Entahlah, kuduga ini neraka sialan!
Suara tepukan dari segelintir manusia yang singgah bersaksi merambat tat kala Alejandro mendaratkan kecupan ringan di dahiku. Huh, haruskah hidupku berakhir seperti ini?
“Terima kasih atas pujian mengharukanya, Miss Feyna. Dan aku sungguh-sungguh minta maaf karena pernikahan ini tidak bisa mengabulkan harapanmu untuk menyandang sebaris nama belakang.”
Betul. Itulah penyesalan terbesarku. Dianggap putri oleh Ayah, tidak serta merta namaku jadi Feyna Wang. Terlalu riskan. Bahkan Lucas terlihat bagai orang asing untuk pria 67 tahun tersebut. Sialnya di era ini, semua wanita berlomba memamerkan nama keluarga yang dimilikinya. Kemudian, satu-satunya yang dapat kuandalkan agar mampu mendapatkan itu, Dion malah berkhianat. Dan cara Alejandro untuk tidak mendaftarkan pernikahan kami secara hukum, merupakan bom terakhir yang mengirim cita-cita tersebut ke lubang lahat.
Aku bersumpah, bahwa kemenangan akan di pihakku. Alejandro, harus kubunuh lebih dulu sebelum hantuku dirundung sesal akibat terdahului oleh tembakan dua pelurunya.
***
“Loh, kau masih di sini?” Ya ampun ini pertanyaan jahat sekali. Memangnya di mana tempatku harusnya? Peti mati? Dia ingin aku tewas secepat itu? Jangan berani-beraninya dia. Tidak masalah prosesi pernikahanku memakan waktu selama 20 menit. Tak apa, aku cuma menikah di halaman belakang kediaman keluargaku dengan total 5 orang tamu undangan. Semuanya baik-baik saja meski hatiku kecewa berat. Tapi, meninggal di hari pertama pasca melepas lajang tidak boleh ada di takdir hidupku. Jadi, kalau dia ingin melempar belati atau menusukku dengan pisau, sekuat tenaga akan kulawan. Enak saja, nasibku tak bisa senaas itu!
“Kenapa? Kau mau merebut napasku?” tuduhku mengabaikannya serta memilih mulai memainkan ponsel.
Satu menit kubiarkan bisu mengudara. Aneh, biasanya pria itu suka berbicara.
Tak tahan, aku melongok ke balik punggung. Em, bukannya ini kamarku, ya?
Jujur. Menyaksikan sesosok pria rapi nan perlente—di mana Ayah dan Lucas bahkan jarang atau malah tak pernah—terduduk di atas permukaan ranjang berseprai Frozen-ku, masih bisakah aku santai saja? Siapa yang memberi izin Alejandro masuk ke mari coba? Dan cengiran absurd-nya itu, pasti mengandung sesuatu kan?
“Aku pernah dengar jika kau anime-lovers. Tapi, aku tak kepikiran sampai sejauh ini. Sungguh kau jujur perihal umurmu kan?”
“Apa pedulimu mengenai seleraku? Suka-suka aku mau menggemari apa dan membenci siapa. Dan di atas semua itu, kenapa kau ada di sini? Ruangan ini milikku.”
“Sejujurnya aku pun cukup terganggu menempati tempat feminis macam ini. Tapi, aku harus menginfokan padamu bahwa kau mesti segera bersiap.”
Dia yakin ingin menghilangkan nyawaku secepat ini? Bersiap-siap? Apa aku akan diberi kesempatan untuk menulis wasiat?
“Kalau-kalau otakmu tidak sampai,” ujarnya buka suara sok sanggup membaca pikiranku atau memang bisa?
Oh! s**t!
Memungkinkan tidak bila dia tak usah ngomong apa pun? Suaranya sih enak, tapi kalimat-kalimatnya itu ibarat terompet kiamat.
“Kita telah jadi pasangan. Aku juga memperbolehkanmu untuk memamerkanku kepada teman-temanmu jika kau memang sangat perlu untuk melakukannya. Selain itu, kau pun bisa mencantumkan hubungan kita di akun-akun media sosialmu bila itu begitu penting bagimu. Em, kau akan tetap memperoleh sebagian hartaku.
“Ah, kita juga akan tinggal berdua di rumahku. Tentunya tidur di kamar yang sama. Aku sudah berupaya untuk mendekornya ulang agar sesuai seleramu. Namun, kau berhak menatanya kembali jika dirasa kurang pas.
"Lalu, mengenai pekerjaanmu. Kau masih kuizinkan untuk berkeliaran di METRIX. Walau secara pribadi aku lebih menyukaimu tinggal di rumah, mengingat bakatmu dalam bidang software tidak cukup mengesankan.”
“Oh betapa otoriternya makhluk-Mu ini Tuhan,” sindirku telak.
Bangsatnya, Si Sialan itu justru tersenyum santai. Dia bahkan masih sempat melayangkan pujian ala-ala, “Terima kasih istriku, aku merasa tersanjung untuk itu. Ada baiknya, kau bergegas menyiapkan diri. Aku akan tunggu di bawah, mengobrol sepatah dua patah kata bersama Kakak Ipar juga Ayah Mertua.”
Hoek! Ingin muntah! Sumpah. Semenit saja pria itu bertahan di sana lebih lama, aku mungkin bakal mengeluarkan kembali seliter air putih yang terus kuminum seharian ini. Untunglah, dia memilih untuk tak melakukan itu.
Pria itu beranjak dari atas ranjang menuju daun pintu, mata ini membuntutinya tiada henti hingga tiba-tiba ia berbalik spontan. “Ah, satu hal. Silakan tata rumah kita semaumu tapi, jangan pernah bermimpi untuk mengganti sprei kasur kita. Terasa berat bagiku untuk tidur di atas gambar wanita entah nyata atau kartun. Tolong, setitik kebijakan hatimu dalam urusan ini, oke? Aku menantimu bersama jutaan kerinduan di bawah, segeralah datang.”
Tidak. Tidak perlu satu menit actually! Aku ingin muntah sekarang! Bagaimana bisa ada orang sejenis Alejandro begitu? Semua kata-katanya bagai kelebat hantu! Yang tiap kali mendengarnya rasanya ada bulu kuduk yang meremang.
Haish!
Mendengus kasar, aku tidak menyangka kalau nasib ini betul-betul membawaku seumpama cerita serial-serial misteri televisi. Terkurung bersama Alejandro Gama? Aku sungguh tak dapat menaruh rasa percaya pada satu pun kata yang ia ucapkan. Agen rahasia … mulutnya itu receh. Penipu ulung yang seumur hidup aku wajib mematok waspadaku terhadapnya.
Yah. Benar. Siapa yang dapat menjamin apa yang sedang ia rencanakan di balik wajah sok ramah yang tentulah telah ditempa sedemikian rupa agar dapat secara mulus mengelabuhi orang-orang yang dia hadapi? Dia ... hanya jika Agen Rahasia itu bukanlah bualan pastilah bisa dengan mudah melenyapkanku. Misalnya dalam tidur? Oh, kudengar Lucas pernah melakukannya satu kali saat dalam misi.
Sial.
Masa tidur saja aku akan kesulitan? Hidup belangsak macam apa ini?!
Ayah, Lucas … kalian tidak mungkin berkhianat kepadaku kan? Mereka mustahil semudah ini ditipu Alejandro Keperat itu kan? Tolong katakan, jika mereka sudah punya ide dan membiarkanku jatuh ke tangan Alejandro adalah bagian dari ide itu.
Iya kan?
Sebab, jika aku harus sendiri ....
Menaklukan Alejandro, langkah mana yang harus kuambil duluan? Hanya bila Ayah dan Lucas tahu, sebenarnya aku takut sekali. Suami yang baru kunikahi bisa membunuhku tanpa jejak.
***