Gone

1023 Words
"Pak, Bu, Neng Illya tidak ada di kamarnya!" Ujar mbok Minah membuat mereka bertiga terkejut dibuatnya. Tanpa pikir panjang pak Hasan segera berlari ke kamar Illyana untuk memastikan. Kemudian diikuti oleh Naushad dan bunda Arumi di belakangnya. Mereka semua panik mencari keberadaan Illyana. "Yah, cepat cari Illyana. Dia pasti pergi belum jauh dari sini. Bunda takut dia melakukan hal yang nekat yah." Ujar Bunda Arumi dengan nada paniknya. Mbok Minah pun berusaha untuk menangkan atasannya itu. walaupun beliau juga khawatir dengan keadaan Illyana sekarang tapi beliau berusaha untuk tenang. Kalau beliau ikut panik, situasi pasti tak akan membaik juga. Naushad yang medengar hal itupun ikut cemas dengan keadaan Illyana. dengan sigap Dia langsung mengambil kunci mobil miliknya. "Aku akan cari keluar Yah." Ujar Naushad yang dijawab anggukan oleh pak Hasan. Lelaki itupun bergegas untuk mencari Illyana keluar rumah dan menyusuri setiap jalan yang mungkin dilewati oleh Illyana. Selama di perjalanan, Naushad berdoa didalam hati untuk keselamatan Illyana. Dia tahu betul bahwa Illyana adalah orang yang ceroboh dan dia juga belum terlalu hapal jalanan. Jadi dia takut terjadi hal yang buruk pada perempuan itu. "Yah, kita lapor polisi aja deh. Bunda takut Illyana kenapa-kenapa." Ujar Bunda Arumi lagi tidak tenang. "Bun, kita tunggu aja deh. Kita juga tidak bisa lapor polisi karena belum dua puluh empat jam. Bunda tenang dulu ya, Illyana gak akan pergi jauh-jauh kok." Ujar pak Hasan mencoba menenangkan istrinya itu. "Nah, nih dia di Mall." Ujar pak Hasan ketika membuka notifikasi yang muncul di ponselnya. Tentu saja itu bukan pesan dari Illyana melainkan notifikasi dari Bank yang digunakan Illyana saat ini. semua transaksi yang dilakukan oleh Illyana selalu dipantau oleh pak Hasan melalui ponselnya. "Syukurlah. Biarkan saja Yah, dia pasti stress dirumah. Beritahu Naushad saja Yah lokasi Illyana sekarang." Ujar Bunda Arumi yang sudah lebih tenang sekarang. Pak Hasan pun mengangguk mengerti mendengar perintah istrinya itu. beliau langsung menelpon Naushad dan memberitahku lokasi Illyana sekarang. tapi pak Hasan juga meminta agar Naushad mengawasi saja dari jauh dan membiarkan Illyana melakukan apa yang dia mau. Naushad menerima perintah itu dengan baik. dia pun langsung bergegas menuju Mall yang telah diberitahukan oleh Pak Hasan tadi. Tak butuh waktu lama dia pun sampai di Mall itu. tidak mudah ternyata mencari keberadaan Illyana di Mall yang sangat besar tapi sepertinya dia tahu dimana Illyana berada. Dia langsung menuju ke timezone, tempat permainan berada. Dia masih ingat bahwa Illyana sangat suka bermain untuk menghilangkan penatnya. Dan benar saja, perempuan itu ada disana. dia sedang asik menikmati waktunya memainkan segala permainan disana. bahkan dia tak malu untuk beradu permainan dengan anak-anak yang juga sedang bermain. Tanpa disadari Naushad tersenyum melihat Illyana begitu ceria disana. Dia senang Illyana kembali mendapatkan kebahagiannya. Naushad benar-benar mengikuti kemanapun Illyana pergi layaknya penguntit. Dia benar-benar tak percaya Illyana mengelilingi Mall itu tanpa henti. Kaki Naushad sudah hampir lepas satu persatu sedangkan Illyana nampaknya masih bersemangat untuk berkeliling lagi. kini perempuan itu mampir ke salah satu tempat makan disana. dia pasti sudah kehabisan energi setelah seharian bermain dan berbelanja. Setelah Kenyang perempuan itu keluar dari Mall dan nampak kebingungan mencari taksi. Naushad ingin sekali datang kesana dan mengantarkan Illyana pulang tetapi dia tak ingin membuat mood perempuan itu hancur lagi. dia tetap berada di tempat persembunyiannya dan memperhatikan Illyana dengan seksama. Illyana sudah masuk ke dalam taksinya dan Naushad juga sudah bersiap untuk mengikutinya. Dia terus menghapalkan nomor plat taksi itu, takut jika nantinya dia kehilangna jejak. Naushad pun tak lupa terus mengabari pak Hasan dan bunda Arumi tentang keberadaan Illyana sekarang. mereka merasa lega jika Illyana baik-baik saja. Naushad melihat taksi itu menepi, dia pun langsung sigap untuk mendekati taksi itu. Lelaki itu keluar dari mobilnya dan mendekati taksi yang ditumpangi oleh Illyana. Dia pun langsung bertanya pada sopir taksi itu tentang apa yang terjadi. "Ada apa ya pak?" Tanya Naushad perlahan pada sopir taksi itu. kemudian sopir itupun menjelaskan bahwa penumpangnya tertidur sebelum memberitahukan tempat tujuannya. Makanya sopir itu berhenti untuk membangunkan Illyana dan menanyakan kembali. Tapi sayangnya perempuan itu tidak terbangun dan membuat sang sopir kebingungan. "Kalau begitu biar dia sama saya saja pak. Dia adik saya." Ujar Naushad pada sopir itu. tentu saja lelaki yang masih duduk di balik kemudi itu menatap curiga kearah Naushad. Seakan mengerti tatapan lelaki itu Naushad pun langsung menelpon pak Hasan untuk memastikan bahwa mereka adalah keluarga. setelah sopir itu percaya, akhirnya Naushad pun menggendong Illyana menuju mobilnya. Naushad tak lupa untuk membayar sopir taksi itu dan mengucapkan terimakasih kepada beliau. Setelah semua selesai dia pun melajukan mobilnya menuju ke rumahnya. Naushad tersenyum melihat wajah polos milik Illyana. Dia merindukan momen dimana mereka bersama-sama lagi seperti dulu. Dia merindukan senyuman hangat Illyana padanya, bukan tatapan benci dan kata-kata kasar seperti yang dilakukan perempuan itu padanya sekarang. "My Lily, andaikan kamu tahu betapa aku merindukanmu selama ini." Ujar Naushad pelan sembari menatap dalam kearah Illyana. Yah, Lily adalah panggilan kesayangan Naushad pada Illyana. Dulu mereka membuat perjanjian kalau panggilan Lily hanya boleh diucapkan oleh Naushad. Tak ada yang boleh memanggil Illyana dengan panggilan itu selain dirinya. Naushad masih ingat jelas bagaimana senyum Illyana dulu padanya. begitu hangat dan menenangkan. Perempuan itu selalu menempel padanya. dia selalu mengandalkan Naushad untuk melakukan apapun. Gadis kecil yang begitu menggemaskan kini telah beranjak dewasa, tapi bagi Naushad dia tetaplah gadis yang sama. Gadis kecilnya yang penuh dengan tawa. Andai waktu bisa diputar kembali, Naushad pasti tak meninggalkan Illyana. Dia masih ingat air mata Illyana yang tak terbendung ketika melihat kepergiannya menuju pesantren. Dia terus memintanya untuk selalu berada disamping gadis itu, tapi Naushad tak bisa. Dia harus pergi meninggalkan Illyana untuk waktu yang lama. pada saat itulah Illyana merasakan kecewa. Ketika dia merasakan kesepian karena ketidakhadiran kedua orangtua di kehidupannya, disaat itu juga Naushad datang untuk mengobati rasa sepinya itu. dia begitu berarti untuk Illyana. Tapi masa lalu telah berlalu dan penyesalan tak ada gunanya lagi. Kini Naushad hanya ingin memperbaiki semuanya, terutama hubungannya dengan Illyana yang sekarang telah berjarak ini. Walaupun sampai detik ini Illya masih belum menerimanya kembali, tapi Naushad tak akan menyerah begitu mudahnya. Dia akan melakukan segala cara sampai gadis itu memaafkannya dan melihatnya lagi sebagai Naushad yang dulu dia kagumi. *** ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD