Pukul setelah lima pagi. Sehabis dari rumah sakit Loco memutuskan untuk pulang bukan menetap.
Wajahnya yang kepayahan membuat pandangannya kabur, berikut langkah sempoyongannya yang memasuki rumah.
Loco melirik tubuh Najwa, yang bertahan pada posisi layaknya bintang tapi sang pemilik tubuh sudah lama terlelap. Loco menjatuhkan diri di atas tubuh tersebut, menahan badannya agar tidak jatuh dengan kedua lengan, ditatapnya wajah lesu Nawja dari atas.
Loco menciumnya, perlahan. Ingin meredamkan amarah dan tangis di dalam sana.
Barusan, sebagai dokter dan tenaga kerja kesehatan terlebih selaku pemilik rumah sakit, Loco gagal menyelamatkan sebuah nyawa yang dia usahakan bertahun-tahun selama ini. Setidaknya usahanya selama empat tahun untuk memprioritaskan nyawa itu, bisa menjamin Loco untuk menghadiahkan kesembuhan pada pasiennya.
Pergerakan Loco membuat Najwa terbangun. Wanita itu terkesiap, bersiap-siap hendak menjerit, tapi saat diamatinya wajah Loco di dalam kegelapan sekali lagi, mulutnya bungkam wanita itu ganti membelalak. "Loco?"
Loco mengangguk, membuat Najwa terenyuh.
"Kamu pulang?"
Sekali lagi Loco mengangguk dengan jawaban singkat." Ya."
"Kenapa kamu baru pulang?"
Pertanyaan Najwa tidak dijawab. Loco kembali menciumnya, lalu diam.
"Loco?"
"Tidurlah," Loco membaringkan diri di sebelah Najwa. Diusapnya pipi dingin Najwa yang kini menghangat dalam tangkupan tangannya.
Najwa bisa merasakan pelukan Loco yang dingin. Kedua lengan yang mengungkung pinggulnya erat.
Najwa bersiap diri untuk tidur, Loco yang meletakkan kepala ke sela bahunya membuat Najwa menahan napas. Najwa selalu berpikir Loco tidak memerdulikannya, selalu menomorduakannya dan sering kali mengabaikannya. Tapi saat Loco memeluknya, semua pikiran Najwa berubah.
Najwa bisa merasakan sengatan rindu dan kedalaman cinta, hanya dalam rengkuhan.
Tapi berbeda dari kenyataannya, apakah ini cuma perasaan Najwa saja?
Tapi kali ini, pelukan Loco lebih berarti. Selain kedalaman cinta yang menggebu-gebu, Najwa bisa merasakan tubuh Loco sedikit gemetar. Seakan takut dan merasa bersalah? Najwa lebih merapatkan diri, bisa merasakan luka dalam pada batin suaminya. Bibir Najwa berbisik, tepat di pinggir telinga Loco. “Kamu kenapa, sayang?”
Loco menggeleng. Tanpa jawaban. Masih beku bak es.
Najwa mendaratkan kepalanya ke bahu Loco yang kokoh, tapi Najwa bisa merasakan dari dagunya, bahu Loco ikut gemetar.
Pukul 11.00, Najwa terbangun dari tidur panjangnya dari sehabis subuh.
Tak ada rengkuhan dingin itu lagi, Najwa menggeliat heran. Bertanya-tanya ... dimana Loco? Wanita itu mendesis samar. Jadi ... apakah dia ditinggalkan lagi?
Najwa menyembunyikan diri dalam selimut, menghalau diri dari terpaan sinar matahari yang menyengat kulit terbukanya.
Wanita itu mendesis, dengan tubuh mengendap, merundukkan punggung, dan berlalu ke kamar mandi.
Dihidupkannya shower, setelah melepas selimut yang membungkus tubuhnya langsung membersihkan diri. Mengusap badan dengan air dan sabun, menghapus semua aroma maskulin Loco dari sekujur tubuhnya.
Ketika pandangannya bertemu dengan wajah keruhnya di pantulan cermin. Najwa mendesis. Suaminya datang, setelah itu segera meninggalkannya. Tanpa pamit! Seharusnya Loco membangunkannya terlebih dahulu. Sekalipun Najwa ingin menahannya, tapi setidaknya Najwa bisa mengajaknya mengobrol sejenak. Membuatkan Loco sarapan dan bertanya, kapan Loco kembali pulang?
Setelah berpakaian dan bersiap membuat makan siang, Najwa mengirim pesan. Yang tak dijawab.
-Najwa-
Kapan kamu pulang lagi?
Tak ada balasan. Saat Najwa berusaha menghubungi Loco tubuhnya sudah terlonjak.
"Jangan hubungi aku dulu, aku ada operasi."
Satu kalimat itu menjadi awal dan penutup. Tut. Dan sambungan mereka terputus.
Najwa urung membantingnya saat Loco kembali menghubunginya. Kembali dengan satu kata, yang turut menjadi awal dan penutup.
"Nanti kuhubungi lagi."
Tut.
Sambungan terputus tanpa aba-aba.
"Apa-apaan?"
Najwa tertawa miris. Semenyenangkan begitu bagi Loco untuk mempermainkannya? Memperodak-adikkan hatinya? Dan selalu mengucapkan janji manis yang takkan ditepati?
Buktinya, sampai Maghrib Najwa menunggu. Loco tak kunjung menghubunginya.
"Penipu!" Najwa menjauhkan ponselnya dari telinga dan menonaktifkan ponselnya.
"Pembohong!" pekiknya.
Habis Isya', Najwa mengabaikan ponselnya yang tergeletak di atas nakas.
Dengan malas-malasan perempuan itu menonton layar televisi, menikmati sinetron malam hari yang bukan menyejukkan hatinya malah memanasi keadaan dengan bahan cerita yang ekstrem.
Di rumah sakit, dari pukul tujuh malam sampai setengah sembilan, Loco berusaha menghubungi istrinya. Tak diangkat, membuat Loco resah. Jarang-jarang istrinya tidak mengangkat telepon. Bukan amarah, yang mendominasi Loco adalah rasa panik.
Rasa panik yang mendadak esktrem itu membawa Loco untuk menumpangi kendaraannya, membanting tubuh ke setir dan melajukannya gila-gilaan.
Di perjalanan napas Loco tertahan kuat, lalu terhembus perlahan.
Bukan berarti Najwa kenapa-napa ... hanya saja, Loco mencemaskannya. Dan rasa cemar berlebihan inilah yang membuat Loco gelisah sepanjang waktu, meskipun pekerjaan sering menyita pikiran dan fokusnya.
"Najwa!"
Seseorang meloncat keluar dari mobil lalu melangkah terengah-engah.
Najwa yang mengecek kembali ponselnya pias. Tidak menduga Loco akan kembali menghubunginya berulang-ulang dan Najwa tidak sempat mengangkatnya.
Lelaki yang dipikirkan membanting pintu, membukanya dan menghadap Najwa. Tatapan khawatirnya membuat Najwa yang sempat kesal padanya langsung terenyuh.
"Kamu tidak apa-apa?" Suara dingin Loco berubah hangat. Bibir tipisnya terus menanyai. "Kenapa teleponku nggak diangkat? Kamu nggak kenapa-napa 'kan?"
Jalan pikiran Najwa-Loco itu berbeda.
Bagi Loco, jika Najwa tidak mengangkat telepon pasti ada masalah. Dan bagi Najwa, itu hal biasa. Karena Loco selalu memperioritaskan pekerjaan sampai-sampai dirinya ikut terlupakan.
"Nggak pa-pa, cuma nggak sempat angkat aja tadi ...."
Jawaban lirih wanita itu, membuat Loco mengulas senyum tipis.
Apakah dia akan marah? Tidak. Loco bukan sosok yang suka membentak dan main tangan. Dia hanya sedingin es batu dan begitu tak acuh. Yang bagi Najwa, lebih baik Loco menjadi lelaki kasar yang tempramen dari pada harus terus mendiaminya dan mengabaikannya, hingga tidak kunjung pulang.
"Kukira kamu kenapa-napa." Sapuan lembut bibir Loco di lengkungan bibirnya, membuat Najwa menikmatinya.
Sedetik kemudian, Loco menarik bibirnya menjauh dan menahan punggung kepalanya. Sapuan kedua, Najwa sesak napas saat dorongan tubuh Loco hendak membawanya ke dalam kamar.
"Kamu pernah bilang ingin punya anak 'kan ...." Loco berbisik.
Sebelum mendorong tubuh Najwa lebih dalam tangannya meraih handle dan membuka pintu secara perlahan. Dia melirik Najwa dengan senyum terulas.
"Kamu sendiri yang bilang ... kalau belum siap sibuk dengan peran ganda--suami, pekerjaan dan 'Ayah'?"
Tanggapan Najwa membuat wajah Loco mendekat. "Sekarang aku siap ...." bisiknya dengan napas terhembus perlahan.
Loco mungkin memang siap dengan predikat 'Ayah', tapi Najwa masih meragukan tanggung jawabnya dan kemampuan Loco dalam hal itu.
Menjadi Ayah ... tugas Loco sebagai suami saja nyaris terbengkalai? Loco hanya bisa menjadi 'suami' dan 'ayah' yang sibuk bekerja.
Tapi sekalipun tahu perkataan Loco hanya meyakinkan di bibir. Najwa mengangguk, membiarkan Loco menyelam dalam angan-angannya. Padahal Loco tak mampu mewujudkan angan-angan itu.