#4 Pagi Sekejap Bersama Loco

1005 Words
Oleh angin yang menusuk Najwa terbangun. Matanya membuka dan semuanya terlihat gelap. Tidak sanggup mengecek sekitar wanita itu kembali menutup matanya, rapat-rapat. Seperti ingin mengelem matanya sendiri. Dia yakin, Loco pasti sudah pergi. Tentu saja setelah menidurinya langsung pergi dari rumah tanpa pamit, dengan alasan sibuk. Wanita itu merapatkan selimut untuk menghalau hawa dingin. Yyaris saja menangisi Loco, sebuah lengan yang meraih pinggangnya dan mengeratkan pelukan membuat wanita itu terenyuh. “Kamu bangun?” Sebuah bisikan melambai hangat di daun telinga Najwa. Najwa menganggukkan kepala kuat. Membuat Najwa urung menangis. Loco menciumi punggung kepala dan tengkuknya, lalu memasukkan kepala ke ceruk lehernya. Membagi napas hangatnya ke ribuan pori-pori di kulit Najwa. “Pagi sayang.” Loco berbisik parau. Tubuhnya terangkat dan lengannya menahan tubuhnya agar tidak terhempas jatuh. Dengan tatapan yang berbeda, Loco memandangi wajah Najwa di dalam kegelapan ruangan karena semalam lampu dimatikan. Loco mengusap perut Najwa, lelaki itu mengkhayal. Di dalam sana akan lahir anak kecil yang sangat lucu dan menggemaskan. Loco sangat menantikan hal itu setelah berapa tahun pernikahan mereka berlangsung. Dulu Loco memang sama sekali tidak menginginkannya karena peran ganda yang tengah dia geluti sampai lupa waktu, tapi entah kenapa sekarang dia sangat merindukan peran seorang Ayah. “Aku mandi duluan.” Loco memerhatikan tubuh Najwa yang menggigil kedinginan karena semalaman tidak memakai pakaian. Lelaki itu menaikkan selimut yang membungkus tubuh Najwa lalu turun dari ranjang. Loco menarik sebuah handuk putih yang tergantung di balik pintu, melingkarkannya ke pinggang lalu masuk ke dalam kamar mandi. Lampu ruang sempit itu dinyalakan hingga terang-benderang, terdengar guyuran dan gemericik air dari dalam. Najwa ikut menurunkan diri dari ranjang besar, selimut masih membungkus tubuh rampingnya. Najwa mengambil beberapa langkah pelan, lalu menyusul Loco ke dalam kamar mandi. Kedua lengan mungil Najwa meraih punggung Loco yang basah oleh guyuran air, memeluknya erat, menggesekkan kepala ke punggungnya dan membawa tangan untuk mengusap ke bahu, punggung dan abs-abs keras di perut suaminya yang sempurna. “Kamu mau mandi juga?” Loco bertanya. Selimut yang membungkus tubuh Najwa jatuh ke lantai yang basah, wanita itu menganggukkan kepala sambil menginjak selimut yang digenangi air. Jujur saja Najwa sangat merindukan kebersamaan ini. Loco membalik badan membuat mereka berhadapan. Lelaki itu mengambil spon mandi yang sudah dituangkan sabun cair yang wangi. Menggosokkannya perlahan ke kulit Najwa, menyisakan banyak buih di mana-mana. Loco menghirup aroma rambut Najwa dalam-dalam, aromanya lembut dan harum sekali. Loco mendaratkan kecupan ke keningnya, lalu menggeser tubuh untuk memberikan tempat pada Najwa agar lebih bermandikan guyuran air shower dari atas. Loco mengambilkan sikat gigi dan mengoleskan pastanya untuk Najwa. Diberikannya pada wanita itu yang langsung membersihkan deretan giginya sembari menikmati semua guyuran air yang menjatuhi tubuhnya dari atas. Terlalu riang dengan pagi indahnya, Najwa menari-nari di bawah shower. Senandungannya terdengar asal tapi memanjakan telinga Loco. “Aku keluar duluan.” Najwa menoleh kecewa, tidak menyangka hal indah yang dia bayangkan berlalu begitu cepat. Loco selalu meninggalkannya lebih dulu. Membuat Najwa tidak bersemangat membersihkan diri. Loco segera memakai pakaiannya, kemeja dan celana senada membungkus tubuh kekarnya. Loco keluar dari kamar, Najwa tidak perlu khawatir karena Loco tidak membawa kunci mobilnya, masih tergeletak di atas meja. Berhenti menggosok tubuh sekalipun masih kurang bersih Najwa langsung keluar dari kamar mandi. Wanita itu mengambil pakaiannya asal-asalan, sesekali menengok ke pintu luar kamar yang terbuka. Penasaran apa yang Loco lakukan di luar sana. Setelah memakai baju seadanya, Najwa mencari-cari Loco yang tengah memasak sarapan di dapur. Lelaki itu membuat nasi goreng, semerbak aroma enaknya menusuk penciuman Najwa yang langsung mengambil posisi duduk di meja makan. Loco meletakkan dua piring nasi goreng ke atas meja, lalu mencari-cari kain untuk membersihkan kompor bekasnya memasak. “Makan dulu, sayang,” tegur Najwa setelah menyuap nasi ke dalam mulutnya. Wanita itu mengangguk-angguk, selalu suka dengan hasil tangan Loco. Selalu enak dan memanjakan lidahnya. Lelaki itu memang ahlinya. “Tunggu sebentar,” Loco melempar senyum yang jarang lelaki itu perlihatkan. Tangannya menggenggam sebuah tangkai sapu dan menyapu dapur agar lebih bersih. Jika Loco ada di rumah, ini memang kebiasaan lelaki itu. Masak, bersih-bersih, meringankan pekerjaan Najwa. Sayangnya, Loco jarang ada di rumah. Itu yang Najwa pikirkan. Saat Loco duduk di sebelah Najwa, piring wanita itu sudah habis tak bersisa. Najwa terlalu bersemangat menikmati sesuatu yang jarang dia dapatkan. Loco bangkit lagi, mengambil piring Najwa dan mencucinya. Setelah menyusunnya di rak, Loco menyodorkan makanannya ke arah Najwa, mengajak istrinya untuk menikmati sepiring itu berdua. Najwa tentu saja tidak menolak, wanita itu masih terlihat lapar. Seharusnya Loco memasak dengan porsi lebih banyak. “Kamu bakal berangkat kerja lagi?” Najwa menyayangkan hari yang nyaris Subuh, biasanya pagi-pagi begini Loco bersiap dan berangkat bekerja. “Ya,” Loco menjawab singkat, Najwa berusaha menahan desahan kecewanya. Andai bisa protes, Najwa ingin sekali mencegah sambil menjerit-jerit. “Kapan kamu ngambil libur, sayang?” Najwa berusaha membujuk. Dia bermanja-manja di tubuh jangkung Loco, agar lelaki itu luluh dan menuruti kemauannya. “Akan kuusahakan lain kali, jangan hari ini.” Janji palsu lagi! Najwa membuang napas. Wanita itu sudah sering dikelabui suami sendiri, dan Najwa hanya bisa mengangguk. Najwa terlalu mengenal suaminya yang suka berbohong tentang itu. “Nanti siang aku mampir ke rumah sakit, ya? Bawain makan siang?” tawar Najwa saat Loco bersiap hendak bangkit. Loco hanya mengangguk, meskipun lelaki itu keberatan. Melihat anggukan suaminya, Najwa sibuk mengkhayal di kepala, lauk apa dan makanan apa yang harus dia buatkan untuk Loco agar lelaki itu senang. Loco masuk ke dalam kamar, menyiapkan barang-barangnya, tidak lupa mengambil kunci mobil. Najwa mengintilinya dengan semangat. “Kamu mau aku masakin apa untuk makan siang?” Loco meliriknya lalu mengedikkan bahu. "Hem, terserah kamu. Apapun yang kamu buat, semuanya oke.” Kurangnya antusias Loco membuat Najwa cemberut. Rasanya ingin protes, tapi Najwa harus memaklumi tabiat suaminya. Loco yang seperti itu, harus Najwa maklumi setiap waktu. Najwa menerima kecupan dari Loco di pipinya. Padahal adzan Subuh belum berkumandang lelaki itu sudah bergegas memasuki mobilnya yang ada di halaman. Najwa kurang rela melepaskan kepergiannya, rasanya ingin mengambil studi kembali dan mengganti profesi menjadi perawat. Agar bisa selalu ada di sisi suaminya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD