Bab 3. Ayo Kita Bercerai

1581 Words
Pria yang begitu dirindukan Ciara berdiri tegap dihadapannya. Namun balasan akan tindakan nekatnya ini justru berakhir dengan kekecewaan mendalam. Nafas Ciara tersengal hebat bahkan tubuhnya tidak mampu mengendalikan rasa gemetar yang menjalar. Pria yang selama ini selalu mengganggu hatinya begitu mudah mengatakan hubungan mereka harus berakhir. Dalam benaknya siapa juga yang memulai hubungan mereka sampai sudah sedalam ini dan sekarang seenaknya saja pria itu mengatakan pernikahan mereka harus berakhir. Jason dan yang lainnya diminta Karina untuk meninggalkan rumah dan tidak lagi ikut campur. Bahkan Jason terpaksa menelan pil pahit karena nantinya akan menerima hukuman dari sang daddy di rumah setelah ketahuan membantu Ciara menemui Adam. Untungnya saat Adam mengatakan perkataan menyakitkan itu, teman-teman Ciara sudah tidak ada. Kalau tidak sudah pasti Jason akan mengamuk dan memukuli Adam yang dinilai melepaskan tanggung jawabnya. Seperti daddy-nya yang mengagumi ayah Adam, Jason juga mengagumi Adam karena kegigihannya. Sifat Jason dan Adam pun tidak berbeda jauh, sama-sama dingin penampilan luar mereka namun hati mereka baik dan lembut sesuai ajaran dari kedua orang tua mereka. Hanya saja Jason belum tahu inti masalah dari kejadian kecelakaan yang menimpa Ciara sehingga ia gegabah membantu istri sahabatnya sekaligus sahabat pacarnya kabur dari rumah. Air mata Ciara sudah berjatuhan dihadapan Adam dan Karina. “Dam, kita bicara berdua dulu. Setidaknya kamu beritahu aku kalau memang aku buat salah sama kamu.” “Bicara di sini saja, kehadiran mommy justru untuk mengontrol emosiku agar tidak pecah dengan sikap keras kepalamu itu.” Sahut Adam begitu pedas. “Apa maksudnya emosimu pecah? Kamu benci sama aku? Kalau kamu benci, kenapa sampai memaksa aku nikah sama kamu, Dam?” “Karena sudah jadi takdir. Aku sendiri ngak bisa menjawab pertanyaanmu yang memojokkanku. Aku laki-laki tentu saja memiliki hasrat jika berdekatan dengan perempuan. Aku tidak suka apa yang menjadi milikku harus direbut orang lain makanya aku memaksa menikah denganmu. Tapi sekarang pikiranku berubah. Kuliahku masih lama dan aku perlu waktu fokus dengan sekolah dulu agar aku bisa memimpin Damian Corp.” Ciara terus menggelengkan kepalanya berulang kali. Perkataan Adam tidak masuk dalam akal logika Ciara. Semudah itukah membuat keputusan dan memutarbalikkan kenyataan. Semudah itukah menghilangkan perasaan dalam diri seseorang. “Aku ngak percaya, alasan kamu terlalu konyol, Dam.” Adam menyeringai tawa mendecih. “Kamu pikir kamu itu siapa? Putri bangsawan yang harus selalu aku sanjung?” Setelah mengatakan hal menyakitkan itu, Adam meninggalkan Ciara begitu saja di ruang tamu. “Adam! Adam! Kita harus bicara!” Teriakan Ciara tidak dipedulikan lagi oleh Adam yang berlalu begitu saja tanpa sedikitpun berhenti. Ciara tahu sekali kalau ini bukanlah Adam yang dikenalnya sejak dulu. Sisi lain dari Adam yang baru dilihat Ciara, sikap kejam dan acuh tanpa mempedulikan dirinya. Harga diri Ciara tertampar dengan sikap dingin Adam sekarang. Namun ia hanya bisa menangis meratapi hidup naasnya. “Pulanglah, Cia. Mommy sudah menghubungi Vina untuk menjemput kamu secepatnya kemari.” Sesak dalam diri Ciara semakin menjadi takkala Karina mengusirnya dengan halus. Ia menatap nanar wajah mertuanya yang enggan menatapnya saat ini. “Kenapa, Mom. Sebenarnya apa yang terjadi sampai aku yang harus dikorbankan. Kalau Cia punya salah seharusnya kalian bilang. Jangan bertindak semaunya semua. Aku salah apa!” Teriakan Ciara yang semakin kencang berhasil membuat mata Karina mengembun menahan kepahitan yang dipendamnya sedari tadi. “Pulang, Cia. Jangan sampai semua orang jadi semakin benci sama kamu.” Ucap Karina lirih. Ciara menegakkan kepalanya menatap tajam pada mertuanya, Ia tahu kalau Karina tidak sampai hati mengatakan hal-hal yang akan menyakitinya. “Benci? Memang apa yang sudah aku perbuat sampai harus dibenci, Mom. Mommy lihat sendiri kan sekarang aku di kursi roda, bahkan kecelakaan kemarin pun masih jadi pertanyaan yang belum di jawab semua orang.” Tidak lama kemudian Charles sudah datang bersama Vina ke rumah Adam. Melihat putrinya menangis, emosi Charles naik lagi kemudian menatap ke arah Karina. “Kalian bisa kan setidaknya memperlakukan anakku lebih manusiawi. Setega ini membiarkan putriku menangis meskipun dia sedang dalam pemulihan.” “Kami sudah bilang ke Cia tapi anakmu masih keras kepala tidak mau pulang. Dia datang kemari pun bukan kamu yang memintanya, Charles. Kenapa jadi menyalahkan kami?” Vina hanya bisa menggelengkan kepala tidak habis pikir dengan situasi tidak menyenangkan harus mereka hadapi dan Ciara sebagai korbannya. “Sejak permintaan nikah anakmu ke putri kami, aku sudah meminta kepastian Adam agar bisa membahagiakan Ciara. Aku tidak butuh harta warisan kalian, hanya menginginkan putriku diperlakukan baik. Apa jangan-jangan ini balasanmu karena kesalahanku di masa lalu, Karin!” Ucapan Charles tentu saja menyinggung perasaan Karina. Kenapa Charles jadi mengungkit masa lalu mereka yang sudah mereka simpan rapat-rapat. “Jangan mengungkit masa lalu untuk kejadian sekarang!” Tiba-tiba suara menggelegar terdengar dari arah pintu masuk. Brahm yang juga dikabari Karina baru tiba dan mendengar ucapan Charles pada istrinya. Tentu saja dirinya marah karena Charles mengatakan rahasia masa lalu mereka dan mungkin akan membuat masalah anak mereka semakin runyam. Charles tidak mempedulikan Brahm, malahan berteriak memanggil Adam untuk turun. “Adam! Turun kamu! Jangan jadi pengecut!” Semenit kemudian, Adam turun kembali, lagi-lagi pandangannya menatap ke arah lain enggan menatap wajah Ciara. Sedangkan Ciara memperhatikan mata sembab Adam seperti habis menangis. Sebenarnya Adam tidak benar-benar masuk ke dalam kamarnya. Ia hanya bersembunyi di balik tembok ruang tamu mereka mendengarkan istrinya mengeluarkan rasa kecewanya. Berulang kali dalam tiap tangisan Ciara, Adam terus mengucapkan permintaan maaf dalam hatinya dengan tangis lirih tanpa suara. Sampai mendengar pembicaraan para orang tua yang mulai melenceng dari permasalahan maka Adam harus segera keluar agar jangan terjadi pepecahan antara orang tuanya dengan orang tua Ciara. “Tidak perlu berteriak, Dad. Aku masih di sini.” “Ceraikan Ciara kalau memang kamu tidak mau lagi dengannya!” Bola mata Ciara melebar terkejut dengan ucapan sang daddy yang begitu mudahnya meminta keputusan sepihak tanpa memikirkan perasaannya. “Daddy! Siapa yang bilang aku minta cerai! Ini pernikahanku bukan pernikahan Daddy.” “Lebih baik begitu!” Seru Adam memberikan tatapan angkuhnya pada Charles. “Ngak, Dam. Aku ngak mau cerai dari kamu. Please, Dam. Jangan seperti ini sama aku. Kita harus bicara dulu, setidaknya kamu bilang ke aku apa kesalahan yang sudah aku perbuat. Aku bukan perempuan menuntut yang meminta selalu diperhatikan bak putri dalam dongeng. Kita sudah nikah dan aku tahu perasaan kamu sekarang pun bukan keinginan kamu. Iyah kan.” Tutur Ciara mencoba melunakkan hati suaminya. Inilah yang ditakuti Adam. Jiwanya selalu kalah jika harus menghadapi Ciara, bahkan keputusan berat yang diambilnya sekarang pun bisa berubah dengan cepat kalau Ciara terus-menerus dihadapannya. “Lebih baik kita bercerai. Aku sadar umur kita terlalu muda. Ternyata jalanku masih panjang dan aku ingin fokus dulu dengan kuliah dan karierku.” Lagi-lagi kepala Ciara menggeleng tidak terima. “Ngak, Dam. Cerai bukan solusinya. Kita sudah bahas juga kan setelah menikah dan kuliah, kita tidak akan mengganggu satu sama lain dari pagi sampai selesai kuliah. Kita sudah bahas semuanya kan. Trus apalagi salahnya.” “Karena aku sadar kalau aku tidak terbiasa dengan hidup yang terikat dengan pernikahan. Aku mau bebas tanpa ada yang merengek menyadarkanku kalau aku sudah menikah. Hanya itu saja. Terserah kalau kamu bilang aku egois.” Ciara menghampiri mendekat pada Adam. “Lihat mataku, Dam.” Adam masih berdiri tidak bergeming tanpa menunduk. “Lihat aku!” Teriak Ciara dengan segala amarahnya. Perlahan Adam menunduk, beradu mata dengan mata Ciara. “Katakan sekali lagi kalau kamu tidak mencintaiku dan ingin bercerai.” Tenggorokan Adam seketika terasa berat sekali mengikuti keinginan istrinya. Rasanya berat mengucapkannya jika harus menatap mata Ciara langsung. Dan Ciara tahu sekali Adam tidak akan bisa membohonginya. “Sudah aku katakan aku mau kita cerai!” Namun Adam mengatakan hal itu dengan mengalihkan tatapannya ke sembarang arah. “Bohong! Kamu bohong! Aku tahu itu!” “Jangan sok paling mengenal aku! Kamu tidak kenal aku semuanya, Cia. Bahkan kamu bukan Tuhan!” Cia menarik ujung kaos Adam, mengoyak tubuh Adam berteriak histeris merasakan duka mendalam. “Kamu jahat, Dam. Kamu tega, kamu udah hancurin hidup aku dan sekarang kamu mau ninggalin aku begitu saja!” “Aku tidak menghancurkan hidup kamu. Bahkan sampai sekarang kamu masih suci bukan? Jangan sok jadi perempuan yang martabatnya sudah dirusak!” “Brengsekk kamu, Dam!” Amarah Charles meledak sudah melihat Adam menginjak-injak harga diri putrinya. Pipi Adam terkena kepalan tangan Charles dan Adam tetap berusaha berdiri tegap tak bergeming sedikitpun, hanya menahan rasa pedih karena ujung bibirnya robek. “Daddy! Jangan pukul Adam, Dad! Jangan Dad, aku…” Saat Ciara berusaha melindungi Adam dari pukulan kedua Charles, gadis itu terjatuh dari kursi rodanya dan pingsan. Semua terkejut, terutama Adam. “Cia!” Charles mendorong Adam agar menjauh dari putrinya. Padahal Adam sudah menangis melihat istrinya terpukul hingga pingsan. “Jangan sentuh anakku lagi. Mulai sekarang kita masing-masing saja. Sudah cukup kesabaranku.” Sambil menggendong Ciara, Charles melangkah keluar dari kediaman Adam diikuti oleh Vina yang membawa kursi roda Ciara. Charles membawa Ciara ke rumah sakit dan langsung ditangani oleh tim dokter yang merawat Ciara kemarin. Adam dan keluarganya juga tiba di sana. Brahm meminta agar Ciara langsung dipindahkan ke ruang perawatan presidential suite. Charles tadinya ingin mengusir Adam namun ditahan Vina. Lagipula mereka ada di rumah sakit, tidak sopan membuat kegaduhan di gedung ini. Sore harinya, Ciara mulai siuman. Matanya membuka perlahan menatap ke depan. “Mom.” Vina segera menghampiri putrinya. “Iyah, Sayang. Kamu sudah sadar.” Adam dan kedua orang tuanya membisu dalam ruangan itu meskipun ia ingin sekali memeluk tubuh Ciara dan mengucapkan ribuan kata maaf kepadanya. “Kenapa semuanya jadi gelap? Kenapa aku ngak bisa melihat apapun, Mom!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD