Bab 2. Hubungan Kita Berakhir

1579 Words
Tidak ada yang lebih menyakitkan harus memisahkan diri dari orang yang kita cintai. Seperti halnya keputusan yang Adam ambil demi menyelamatkan istri yang begitu dicintainya sejak kecil. Wanita pilihan hidupnya yang sudah ia tentukan sejak dulu. Namun kenyataan ketika mereka dewasa tidaklah semanis cerita dalam dongeng percintaan yang berakhir manis. Baru saja mereka memulai bahtera rumah tangga namun malapetaka itu datang. Adam memutuskan untuk menikahi Ciara demi untuk mengikat gadis itu agar tidak berpindah ke lain hati saat mereka akan berpisah demi menuntut ilmu berpisah jarak yang begitu jauh. Adam harus berkuliah di Amerika sedangkan Ciara di Jakarta. Mereka sudah mencoba berpacaran jarak jauh selama setahun, namun hubungan keduanya selalu saja diwarnai dengan keributan yang tidak ada solusinya. Namun sekarang justru Adam harus memisahkan diri meskipun hatinya terluka berat. Perpisahan yang benar-benar terasa nyata dan menyakitkan bahkan entah sampai berapa lama. Di dalam kamar tidur Adam, lampu sengaja dimatikan sedemikian gelapnya hingga tidak ada satupun orang yang dapat melihat keberadaannya menangis di sana. Andaikan boleh di tukar lebih baik dirinya yang terluka dan mengalami kecelakaan tersebut daripada harus Ciara yang jadi korbannya. Rasa bersalah terus menghantui dirinya memikirkan kejadian itu. Belum lagi ucapan dokter yang mengatakan kalau Cia nya akan mengalami gangguan penglihatan dalam waktu dekat karena benturan di kepalanya mengganggu syaraf retinanya. Melihat Ciara tertidur panjang sampai melewati masa kritis saja rasanya sudah memporak porandakan jiwa Adam. Apalagi sampai Cia nya tidak dapat melihat. Bahkan Adam tidak berani bertatapan mata dengan ayah mertuanya yang sudah memberikan beberapa kali pukulan di wajahnya, sebagai tanda kemarahannya karena Adam tidak mampu melindungi putrinya. Ketukan pintu terdengar kemudian perlahan pintu kamar Adam terbuka. “Adam..” Karina memanggil lembut putranya. Ditangannya membawa nampan berisi semangkuk bubur yang sudah dua kali dipanaskannya. Karina menyalakan lampu kecil di sebelah ranjang Adam. Terlihat hanya punggung putranya sedang meringkuk membelakangi. “Mommy tahu kamu sudah bangun. Makan dulu, Dam. Setidaknya sedikit saja yah, kamu juga lagi sakit.” Putranya tidak juga menyahuti Karina. Tentu saja Karina merasakan kepedihan dan rasa sakit Adam saat ini. “Kalau kamu mau berperang melawan musuh, yang paling utama adalah kesehatanmu dulu. Baru ditimpa musibah mentalmu sudah down begini. Pantas saja musuh mu begitu mudahnya membuatmu kalah.” Sindir Brahm sang daddy menohok langsung pada harga diri Adam. Dua orang tua paru baya itu kemudian melihat tangan putra mereka bergerak naik mengusap wajahnya dari belakang punggung Adam. Sudah dipastikan Adam menangis dalam diam. Brahm melewati Karina kemudian duduk di sebelah Adam dan menepuk halus bahu putranya. “Ayo, makan dulu. Setelah itu tunggu kamu baikan lalu kita bahas di ruangan Daddy langkah apa yang harus kita lakukan.” Perlahan Adam bergerak dan mengubah posisinya duduk bersandar. Tubuhnya terlihat lemah, wajahnya sembab masih menyisakan air mata di sana. “Aku harus bagaimana, Dad?” Akhirnya suara Adam terdengar juga setelah dua hari dalam kebisuan. Brahm menyuruh istrinya untuk menyuapi bubur pada Adam dengan anggukan dagunya. Benar saja Adam menerima suapan dari Karina dan mengunyah buburnya. “Pesan ancaman itu berarti bukanlah ancaman biasa. Daddy sedang menyuruh Leon mencari tahu siapa dan apa maksud dari ancaman mereka.” Kemudian Brahm merasa tenggorokkannya tercekat berat sekali melanjutkan ucapan berikutnya. “Maafin, Daddy. Mungkin masa lalu Daddy dan almarhum Opa kamu yang membuat kamu harus mengalami penderitaan ini dan berakhir menyeret Ciara yang tidak bersalah sebagai korbannya.” Brahm ikut menyalahkan dirinya karena merasa semua malapetaka ini adalah bagian dari musuh di masa lalu dirinya ataupun almarhum sang papi, yang kini sedang membalaskan dendam mereka pada putranya. Adam menggeleng. “Bukan. Daddy ataupun Opa ngak buat salah. Kalian hanya mempertahankan apa yang menjadi milik keluarga Damian. Aku yang kurang persiapan dan terburu-buru, Dad. Tidak memperhitungkan semua ini bakalan membuat hidup Ciara menderita. Kalau boleh memutar waktu, aku memilih untuk menjauh dari Ciara sampai aku sendiri siap melindunginya. Aku yang gagal, Dad. Aku…” Tangisan Adam terdengar kembali meskipun begitu halus. Seperti inilah yang dirasakannya sekarang. Laki-laki bodoh yang hanya memikirkan kepentingannya sendiri tanpa memperhitungkan resiko di hari depan bila bersama Ciara. Adam lupa bahwa menjadi pewaris Damian Corp tentu saja hidupnya tidak sama dengan pria umum lainnya. Harusnya ia memperhitungkan kesiapan mental Ciara dulu. Tanpa Adam sadari bubur yang disuapi sang mommy akhirnya habis. Meskipun menyandang sebagai anak sulung dari keturunan Damian namun Adam memang semanja itu jika sedang bersedih. Jiwa tangguh yang dibangun Brahm sejak kecil pada kedua putra dan putrinya tidak menjadikan anak mereka jauh dari aksih sayang orang tua. Di saat seperti ini, Brahm dan Karina bekerja sama membujuk putra mereka yang sedang terpuruk untuk bangkit perlahan-lahan. “Dad..” “Hem.” “Apa dengan melepaskan Cia akan membuatnya lebih aman untuk sekarang ini?” “Kalau boleh egois, Daddy ngak pernah mau ada perceraian dalam keturunan Damian. Namun kalau keadaannya sudah separah ini dan membahayakan keselamatan Ciara maka Daddy akan menjawab memang lebih baik seperti itu sekarang.” Adam mengangguk dalam kepedihannya. Bagaimana tidak, ia harus melakukan hal yang diperjuangkan mati-matian beberapa bulan ini. Namun justru sekarang keputusannya justru harus merelakan sang istri lepas dari dirinya. Sedangkan jawaban atas kecelakaan kemarin masih menyimpan misteri akan siapa dalang dibalik kejadian tersebut. Adam menghapus air matanya sambil mendengus menetralkan rasa sesak yang sejak dua hari terus ia bawa dalam kesedihan. Menghela nafas panjang kemudian menatap kedua orang tua dihadapannya. “Ayo kita benahi semuanya, Dad. Beri aku waktu istirahat sampai besok.” “Good, that’s my son. Minum obatnya dulu lalu kamu istirahat lagi.” Setelah dirasa mood putranya membaik, Karina mengusap kening Adam sambil tersenyum. “Soal Ciara, sebisa mungkin Mommy akan bantu kamu mencari tahu soal dia. Kata Vina, besok Ciara sudah boleh pulang dari rumah sakit.” Mendengar nama istrinya disebut lagi, rasa pilu mengalir lagi dalam darahnya. “Apa Cia nanyain aku, Mom?” Karina mengangguk. “Kamu bisa cek HP kamu sendiri kan sudah berapa kali dia hubungin dan kirim chat ke kamu.” Adam mengangguk membenarkan. Kerinduan yang dirasakan semakin besar, inginnya datang ke rumah mertuanya dan memeluk erat Ciara. Hanya saja semua harus ditahan meskipun jiwanya terus memberontak. *** Memposisikan diri sebagai Ciara ataupun Adam tidaklah mudah. Keduanya sama-sama tidak bersalah bahkan dalam benak dikepala mereka masing-masing, tidak seharusnya mereka mengalami kisah tragis seperti ini. Penantian sejak masa kecil harus berakhir tragis dan harus dipisahkan oleh takdir. Perdebatan yang di dengar Ciara masih belum memberikan kepuasan baginya. Saat Ciara menanyakan langsung apa maksud dari Charles mengatakan lebih rela membuat putrinya sendiri menjanda daripada membuat masa depannya sengsara berakhir dengan kebungkaman Charles maupun Vina. ‘Aku mesti bisa keluar dari sini untuk bertemu dengan Adam. Kalau Mommy Daddy ngak mau bicara maka aku yang akan mencari tahu sendiri.’ Ciara berusaha kabur dengan berbagai cara. Namun selalu berakhir nihil. Charles sudah menyuruh pegawai di rumahnya untuk memperhatikan pergerakan putrinya. Mereka sudah menduga kalau Ciara pasti akan bertindak sendiri. Pagi itu, Lusi datang bersama Maria untuk menemani Ciara. Mereka bertiga sedang berada di dalam kamar gadis itu. Charles juga mengijinkan pikirnya agar pikiran putrinya teralihkan dengan kehadiran sahabatanya itu. Yang Charles tidak tahu adalah kehadiran dari Lusi dan Maria adalah bagian dari rencana Ciara agar bisa keluar dari rumah ini. “Gimana kita bantuin loe, Cia. Sedangkan keluar dari pintu gerbang dengan keadaan kaki loe gini ngak bisa cepat meskipun mobil standbye di depan.” Seru Maria. Ciara menatap Lusi mengharapkan jawaban dari sahabatnya yang lain. “Loe udah ngomong sama Jason kan?” Lusi mendesah kasar. “Udah, tapi Jason takut kalau rencananya gagal bukan cuma loe sama Adam aja yang kena imbasnya tapi gua sama Maria, terutama Jason. Dia bakalan habis sama bokapnya kalau ketahuan ikut campur.” “Tapi gua mesti ngomong sama Adam. Coba kalau loe semua jadi gua, gimana perasaan kalian digantungin gini.” “Iyah, gua lagi nunggu Jason dulu ngabarin.” Tidak lama kemudian Jason datang bersama Daniel ke rumah Ciara. Setelah memberitahu rencana menggelapkan Ciara keluar dari rumah maka semua mulai memainkan peranan masing-masing. Daniel mengalihkan perhatian satpam di depan rumah. Jason harus menggendong Ciara menuju mobil yang sengaja diparkir tepat di depan pintu balkon sehingga tidak terlihat dari rumah pos satpam di depan gerbang. Pembantu rumah yang ditugaskan menemani Ciara sengaja dibuat sibuk untuk membuatkan bubur kacang hijau. Ciara bahkan meminta dibuatkan lebih agar bisa berbagi dengan teman-temannya. Jadilah kini Ciara berada di dalam mobil dengan senyum lebarnya karena berhasil kabur dari rumah. Pembantu rumah dan satpam penjaga baru menyadar Ciara hilang setengah jam kemudian setelah Jason dan yang lainnya keluar dari rumah. Dengan panik memikirkan resiko dipecat, satpam rumah menghubungi Charles dan memberitahu majikannya itu. Di tempat lain, Brahm yang baru saja tiba di kantor mengernyit dahi ketika melihat siapa yang menghubunginya sepagi ini. Dengan cepat, Brahm menggeser tanda hijau untuk menjawab panggilan tersebut. Belum sempat Brahm menyapa, suara Charles lebih dulu menggelegar di telinganya. “Kamu kemanakan anakku!” “Apa maksudmu, Charles!” “Ciara menghilang. Dia kabur dari rumah. Pasti ini ulah anakmu, Brahm!” Ciara tiba di depan pintu kediaman Damian. Karina sang mertua terkejut melihat menantunya datang. Melihat kehadiran Jason dan teman lainnya Karina bisa menilai kalau merekalah yang membantu Ciara keluar dari rumah. “Mom.” Sapa Ciara tersenyum ramah pada Karina. “Kenapa kamu keluar dari rumah, Cia! Apa Daddy kamu tahu?” Tanya Karina terasa dingin di telinga Ciara. “Aku mau ketemu Adam, Mom.” “Ngak perlu kamu datang kemari, Cia. Aku rasa Daddy kamu sudah jelas sekali bukan memberitahu hubungan kita harus berakhir.” Wajah Cia memucat, otaknya kelu mendengarkan penuturan Adam yang baru saja datang menghampirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD