Hatiku merasa senang sekaligus berdenyut perih disaat bersamaan. Disatu sisi senang dan bahagia karena dapat melewatkan malam-malam berduaan saling berbincang dengan Ciara yang adalah istriku. Namun aku juga harus terluka melihat bagaimana Ciara membuka dirinya dan mudah sekali jatuh ke dalam pelukan King. Tanganku memeluk erat pinggang Ciara, menyesap rakus harum rambutnya di saat kami berdansa menikmati alunan musik dari ponsel Ciara. Tidak dapat membayangkan bagaimana hancurnya perasaanku jika saat ini Ciara dekat dengan laki-laki selain King dan aku. Sungguh aku tidak akan rela melihat istriku bersikap manja pada laki-laki lain. “Terima kasih karena kamu sudah mau jujur mengatakan perasaanmu padaku si pria asing pengagummu.” Ucapku saat kami sedang berbaring di sofa lebar di ruang ta

